Follow Us @soratemplates

Saturday, 10 February 2018

Book Review, Blog Tour, Giveaway: SIlence - Akiyoshi Rikako

11:41 17 Comments



Judul Buku: Silence

Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 326 
ISBN: 9786026383389
Harga: 69.000
Rate: 3,5 out of 5

Blurb:
Kenapa aku tidak bisa keluar dari pulau ini?

Miyuki dibesarkan di Yuki-no- Shima, sebuah pulau terpencil yang konon dilindungi oleh Simatama-san, dewa penjaga pulau. Miyuki yang bermimpi menjadi artis akhirnya keluar dari pulau itu dan tinggal di Tokyo, meskipun ditentang oleh kedua orangtuanya.

Setelah lama tidak pulang, akhirnya tahun ini Miyuki akan pulang bersama dengan Toshiaki, kekasihnya. Meski awalnya Miyuki tidak menyadarinya, tapi sepertinya Simatama-san tahu ada yang tidak beres dengan Toshiaki.


Apa pun yang terjadi, Shimatama-san pasti melindunginya, kan?

***

Silence bercerita tentang kehidupan Miyuki, seorang gadis yang tinggal di desa kecil di sebuah pulau yang berpenghuni sedikit. Yuki-no-shima nama pulau tersebut, pulau misterius yang ditutupi salju tebal, namun kecantikannya terpancar dari mana-mana. Miyuki mempunyai mimpi besar menjadi seorang idola dan bisa pergi ke Mainland Jepang, namun keluarganya yang konservatif tidak merestui cita-cita Miyuki, terutama ayahnya. Miyuki akhirnya gagal mencapai cita-citanya, meski begitu ia dapat tetap bekerja di industri hiburan Jepang di Tokyo sebagai manajer idola, Kaori. Di Tokyo pula, ia dapat bertemu seorang laki-laki yang menjadi idamannya, yaitu Toshiaki, yang akhirnya ia ajak untuk menemui orangtuanya di pulau itu. Walaupun Miyuki juga sedikit enggan untuk kembali, mau tidak mau mereka harys kesana untuk mengurusi rencana pernikahan mereka. Akankah hubungan Miyuki dan Toshiaki diterima oleh orangtua Miyuki dan seluruh kerabatnya?


My Thoughts:
Mungkin kalau kalian hanya membaca tulisan diatas kalian akan berpikir bahwa Silence adalah kisah romansa biasa, atau bahkan malah cerita haru tentang kehidupan seseorang yang berusaha mencapai berbagai impiannya. Lantas, apa hubungannya dengan kovernya yang didominasi warna hitam, dan sosok seorang perempuan yang menampakkan ekspresi yang sulit ditebak?

Silence lebih dari itu semua.

Aku tahu bagi kalian penyuka Akiyoshi Rikako akan paham alur novel ini akan dibawa kemana dan setiap lembarnya akan bertabur nuansa apa. Misteri, thriller, yang seperti itu. 

Sebelum disuguhi hal-hal yang "Akiyoshi Rikako" banget, aku diajak menyelami kehidupan seorang gadis desa yang memiliki mimpi untuk keluar dari sana, merasa tidak ingin terjebak sampai akhir hayatnya untuk tinggal di pulau itu. Wajar ya, namanya remaja, pasti akan ngiler melihat hal-hal baru yang sama seklai belum pernah ia rasakan. Begitu juga dengan tokoh utama kita ini, Miyuki, gadis yang terkenal cantik seantero pulau, memiliki mimpi menjadi idol Jepang. Aku diberikan gambaran kehidupan Miyuki di desa, dan kemudian gambaran kehidupan Miyuki dewasa di Tokyo. Penulis dengan apik memberikan ilustrasi sangat baik perihal perbedaan hidup di desa dan kota besar, mulai dari budayanya, kepraktisannya, cara mereka bersosialisasi, tindak tanduk dan semua sikap mereka. Itu poin plus yang menjadi keseruan sendiri, aku sebagai pembaca jadi bisa menerka-nerka dan membayangkan, apa jadinya seperti itu jika aku tinggal di desa? Apakah memang seperti itulah perbedaannya? Dan apakah sekeras itu kehidupan seorang idol di kota? Penuh larangan ini dan itu.

Aku menyukai penceritaan kisah hidup Miyuki yang sedikit miris, yang mungkin kalian para pecinta kisah romansa akan geregetan melihat tingkah Miyuki dalam memperlakukan kekasihnya, Toshiaki, yang diterpa banyak masalah dan terlihat seperti tidak layak untuk gadis itu, terlepas dari ketampanan, nama besar, dan kekayaan yang ia miliki. Tetapi justru dari sinilah semua cerita Silence dimulai. 

Poin kedua yang kusukai dari Silence adalah banyaknya istilah yang bukan hanya ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jepang, namun juga budaya Jepang, mulai dari perayaan, makanan, sampai kepercayaan dewa-dewa penjaga pulau yang disuguhkan oleh penulis disini. Dibantu juga dengan footnote yang cukup banyak tentang penjelasan-penjelasan istilah tersebut. Terjemahannya juga sangat baik, dan minim sekali kesalahan pengetikan, bahkan mungkin kalau aku tidak terlewat, aku tidak menemukan satu pun. Good job, Penerbit Haru!

Sudut pandang penceritaan Silence berpindah-pindah dari tokoh satu ke tokoh yang lain dan menceritakan segala macam hal melalui pikiran tokoh tersebut, mulai dari Miyuki, dan seterusnya. Hal ini membuat kita dapat melihat petunjuk-petunjuk untuk menjelaskan suatu kejadian yang kemungkinan didapatkan dari berbagai pengakuan para tokohnya. 

Hal ini pula yang membantu menjalankan alur cerita sampai menemui akhirnya, dan membawaku kepada twist yang disediakan oleh Akiyoshi Rikako. Jujur, kemungkinan beberapa dari kalian akan berpikir bahwa twistnya memang tidak se-menggelegar Girls in The Dark atau Holy Mother. Tetapi entah mengapa, meskipun sebenarnya twist dan ending-nya tidak benar-benar dijelaskan secara gamblang, tetapi mungkin beberapa orang masih dapat menarik kesimpulan pasti dari situ, justru itulah yang membuat menarik. Seakan-akan pembaca diharuskan untuk menebak sendiri, apakah benar akhir ceritanya terjadi seperti yang dipikirkan? Atau malah tidak? Selama membaca, aku hanya memikirkan satu jawaban yang seperti paling memungkinkan, namun ternyata penulis memberikan alternatif lain yang sepertinya lebih menjelaskan segalanya, termasuk kenapa ada tokoh ini dan itu yang ikut menjadi tokoh utama yang bercerita selain Miyuki. Yang paling aku sukai adalah halaman paling akhir yang benar-benar menegaskan bahwa memang ada "sesuatu" yang terjadi disana, meski sebenarnya sudah cukup jelas apa tujuan hal-hal tersebut terjadi dengan melihat berbagai interaksi dan kondisi yang ada di pulau tersebut. Dan aku menganggap akhir cerita ini adalah sesuatu yang sangat keren, inilah yang membuatku menyukai J-lit.

Akhir kata merekomendasikan novel ini kepada penggemar Akiyoshi Rikako, penyuka kisah-kisah berlatar Jepang, dan kepada siapapun yang simply menyukai tulisan keren!


Sebelumnya, aku mau berterima kasih kepada Penerbit Haru, yang telah berbaik hati memilihku menjadi salah satu host Blog Tour ini (yay!), memberiku kesempatan untuk membaca buku ini.

Nah, pada kesempatan kali ini, aku juga diberikan tugas untuk berbagi kebahagiaan dengan teman-teman semua melalui giveaway! Tugasku sebagai host disini hanyalah memberikan sebuah clue yang nanti akan kalian jadikan sebuah paragraf (minimal satu paragraf, maksimal empat paragraf), bersamaan dengan clues lain yang dapat kalian temukan di blog host lain. Nanti kalian bisa menyimpan jawaban tersebut dalam hati dan tulis jawabannya pada final giveaway di facebook page penerbit Haru yang akan digelar setelah event blog tour ini selesai. Wajib, loh! Hohoho.

Syarat lanjutannya dapat kalian simak di bawah ini ya:
1. Follow akun Instagram @penerbitharu (wajib) dan @lalabook.land (opsional)
2. Like fanpage Penerbit Haru (sangat wajib, karena giveaway final diadakan disana), follow twitter @penerbitharu
3. Mengumpulkan clues di setiap blog host, dan menyusunnya menjadi sebuah paragraf (maksimal 4 paragraf)
4. Meninggalkan komentar di blog ini dengan mencantumkan nama akun Facebook teman-teman.


Selain Silence, ada juga loh blog tour Hyouka dan Realize! Cek jadwal dan juga alamat blog-nya di bawah ini ya :D 

Semoga beruntung, teman-teman! ^^



Saturday, 13 January 2018

Book Review: Twinwar - Dwipatra

00:58 0 Comments


Judul: Twinwar
Penulis: Dwipatra
Penerbit: GPU
Jumlah Halaman:296

Ini pertama kalinya lagi aku membuat ulasan setelah berbulan-bulan nggak membaca buku dan menulis ulasannya di media apapun. Twinwar ini mungkin satu-satunya buku yang berhasil selesai kubaca akhir-akhir ini. Buku karya Dwipatra ini merupakan pemenang dari lomba menulis GWP3 tahun lalu.

Twinwar berkisah tentang Gara dan Hisa, sepasang saudara kembar identik yang secara fisik membuat orang-orang hampir tidak dapat membedakan keduanya sama sekali, kecuali orang-orang terdekatnya. Hampir tidak ada ciri fisik yang menjadi pembeda mereka berdua, kecuali kemampuan mereka masing-masing. Gara memiliki kemampuan akademis yang sempurna, namun dia sangat bobrok dalam bersosialisasi, berkebalikan dengan Hisa yang merupakan jagoan olahraga dan cukup populer di sekolahnya. Mereka berdua menuntut ilmu di sekolah yang berbeda, maka wajar tidak ada yang tahu jika Hisa memiliki saudara kembar bahkan sebaliknya. Pun teman-teman dekat Hisa, mereka juga tidak tahu bahwa Hisa punya Gara.

Mungkin di dunia ini, tiga perempat saudara punya permasalahan pelik yang membuat mereka terus bertengkar, sementara seperempat lainnya adalah yang disebut-sebut sebagai #SiblingGoals. Jangan harap kalian akan melihat kesamaan pakaian, gaya, dan lainnya dari Gara dan Hisa, terlepas dari mereka yang sudah remaja dan malu jika masih harus berkostum sama dengan kembarannya, mereka juga ogah menyamai satu sama lain. 

Ada permasalahan yang menjadi akar konflik Hisa dan Gara beberapa tahun sebelumnya, yang juga membuat mereka saling bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik dan membanggakan orangtua mereka. Mereka, tepatnya Gara, berusaha mungkin menjadi anak baik-baik dan penurut di depan orangtuanya, termasuk mematuhi larangan kedua orangtuanya untuk tidak berpacaran sebelum lulus sekolah jika tidak mau segala fasilitas yang mereka punya ditarik.

Sayangnya, Gara diam-diam melanggar peraturan tersebut, dan Hisa yang sudah seperti musuh dalam selimut menggunakan foto Gara dan Dinar, kekasihnya, sebagai alat untuk memeras Gara agar mau melakukan hal-hal yang Hisa inginkan. Termasuk bertukar peran dan memalsukan nilai-nilai Hisa yang payah secara akademis.

***

Secara keseluruhan aku dapat menikmati dengan baik novel ber-genre teenlit yang menjadi pemenang utama ini. Namun sejujurnya, terutama di halaman-halaman awal sampai setengahnya, aku belum bisa menemukan sesuatu yang membuatku berpikir bahwa buku ini sangat spesial dan punya sesuatu yang sangat menarik. Ya, memang, bukunya ringan, permasalahannya pun juga familiar di kehidupan kita. But i still need that "something". 

Dan akhirnya, aku baru bisa menemukan "sesuatu" itu di halaman-halaman menuju akhir buku.

Menurutku, buku ini cukup berani mengangkat topik tentang: Kesalahan orangtua. Dalam kasus-kasus yang sering kutemui dan juga pernah kualami, orangtua hampir tidak pernah salah, tidak boleh diganggu gugat, dan selalu melakukan hal yang benar. Namun bagaimana jika ceritanya seperti yang ada di sinetron yang suka ibuku tonton? Seorang ibu tega "menjual" anaknya secara tidak langsung dengan cara menjodohkannya kepada remaja kaya yang manja, dan tetap kekeuh memaksa anaknya untuk jatuh cinta meski seringkali terlihat perlakuan kasar laki-laki itu kepada si anak bahkan si ibu! Si anak perempuan yang merupakan anak baik-baik dan penurut bahkan tidak punya keberanian untuk sekadar protes dan sedikit tegas menolak permintaan ibunya. Emosi nggak bacanya, apalagi aku yang ikutan nonton sinetronnya.

Nah, di Twinwar sih memang kasusnya nggak semenyeramkan itu. Cuma disini penulis sedikit "mematahkan" dan mengkritisi larangan dari orangtua si kembar yang ternyata malah membuat keduanya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, berbohong dan menjadi penipu. Bahkan penulis menggambarkan bahwa larangan orangtua bisa saja tidak begitu diperlukan jila tidak berdasar dan tidak terbukti, dimana hasilnya malah memiliki kontradiksi dengan hal-hal yang ditakutkan oleh orangtua tersebut. Penulis dengan terang-terangan menyatakan hal ini sebagai salah satu pesan yang ingin disampaikan. Sebagai seorang anak, aku cukup setuju dengan hal ini sebab memang larangan malah seringnya membuat anak semakin penasaran ingin "melanggar", dan ujung-ujungnya malah membohongi orangtua. Yang terbaik adalah, ketika memberikan suatu larangan, mungkin seharusnya orangtua memberikan wejangan atau penjelasan mengapa hal tersebut sebaiknya tidak dilakukan, membuat anak itu benar-benar mengerti dan tidak ingin melakukan suatu hal dari hatinya yang terdalam. Atau mungkin, mengenalkan anak tersebut kepada hal-hal yang tidak diinginkan orangtua untuk disentuh oleh sang anak, dan menjelaskan panjang lebar apa efek hal tersebut untuk sang anak. 

Lanjut, untuk plot-nya, kupikir ada sesuatu yang harus aku komentar terkait semacam twist yang aku dapatkan buku ini. Menurutku, twist yang diberikan datangnya agak tiba-tiba dan mungkin sedikit nggak masuk akal, kurang penjelasan, dan bisa dipatahkan oleh argumen-argumen dan pertanyaan pembaca yang kepo sepertiku. Memang sih, twist tersebut berguna untuk menjelaskan salah satu sumber permasalahan dalam war of the twins ini, tetapi kenapa harus begitu? Kenapa caranya harus begitu? Aku merasa yang dibeberkan penulis, sebuah side story yang ujug-ujug dimunculkan hanya untuk menambah kompleksitas cerita.

Udah sih gitu aja. Eh, eh, tunggu dulu. Aku cuma kesal aja sih dengan tokoh Hisa, dan aku mau mengungkapkan kekesalanku padanya lewat paragraf ini. Tokoh Hisa dan sifatnya menurutku menggelikan banget, playing victim, nggak mau mengerti keadaan orang lain. Berbeda jauh dengan Gara yang menurutku sangat tertindas. Menurutku pribadi, bahkan sampai buku ini aku tamatkan, masalah mereka belum benar-benar selesai karena salah satu pihak ada yang belum benar-benar menyadari bahwa dia sangat menyebalkan. Akar permasalahan mereka-lah yang menurutku sangat berlebihan dan nggak seharusnya dimaklumi untuk dijadikan alibi bahwa seorang anak bisa membenci habis-habisan saudaranya bahkan setelah kejadian itu udah kedaluwarsa alias udah lama banget.

Dan satu lagi, menurutku untuk orang secerdas Gara dia cukup bodoh untuk mempertimbangkan alternatif lain dari masalah yang dia hadapi instead of menuruti Hisa dan membuat dirinya terlibat dengan masalah-masalah yang lebih besar bahkan hukumannya juga jauh lebih besar. Untuk Gara yang jago matematika, "perhitungannya" ternyata bisa meleset. 

I'll give three stars out of five buat keberanian penulis untuk "mengkritisi" larangan orangtua dan rasa kekeluargaan yang dipancarkan oleh penulis lewat buku ini. 

Saturday, 13 May 2017

Book Review: Black - Ruth Priscilia Angelina

16:54 7 Comments


Judul: Black
Penulis: Ruth Priscilia Angelina
Jumlah Halaman: 304
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: 75.000
ISBN: 9786020346038
Rate: 4 out of 5
"Orang senang menyembunyikan kenyataan untuk keindahan sementara tanpa sadar itu hanya persoalan waktu. Pada akhirnya realita akan menghantam dan rasanya akan ribuan lebih sakit karena kau sudah mencicipi kebahagiaan sebelumnya."
Karya pertama Ruth Priscilia yang aku baca ini mengisahkan tentang Inka dan kehidupan muramnya. Gadis yang berusaha 'lari' dari kenyataan yang menghantuinya, gadis yang nekat pergi ke Oxford untuk bersekolah disana demi meninggalkan mimpi buruk yaitu pengkhianatan ibunya dan rasa sakit ayahnya. Gadis yang selalu mengenakan pakaian serba hitam.

Sialnya, dia malah menghadapi kenyataan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bertemu kembali dengan Chesta Sentanu, seseorang yang sangat berusaha dihindarinya. Chesta, tetangganya yang botak di masa lalu, yang sewaktu kecil pernah Inka paksa untuk nikahi. Chesta yang kerap memandang Inka dengan tatapan kesal. Kini telah menjelma menjadi sosok tampan dengan tubuh menjulang.

Bergabung di klub yang sama: Harry Potter Society. Hari bergulir demi hari, membuat Inka selalu bersinggungan dengan Chesta, sang ketua. Chesta tetap sinis minta ampun, dan Inka tetap berusaha mengatur kesabarannya dalam menghadapi Chesta. Hingga Chesta melontarkan sebuah hal yang tak akan pernah mampu Inka percayai selama hidupnya, meminta Inka untuk menikah dengannya. 

Pernikahan kontrak yang akhirnya disetujui dengan berbagai syarat, diyakini mampu menarik gadis itu dari bayang kehidupan lama. Tetapi, gadis itu tidak paham betul bahaya yang mengancam, bahwa ternyata dia benar-benar telah kembali jatuh hati kepada Chesta untuk yang kedua kali. Chesta yang sepertinya tidak akan mampu menyelamatkannya dari trauma yang terpatri dalam kehidupan cinta ibu dan ayahnya.  
"Lo tahu luka-luka yang gue simpan karena luka-luka lo sama busuknya dengan punya gue. Kita nggak bisa saling mneyembuhka. Kita sama-sama jatuh ke jurang, kejebak di dasar yang sama, menunggu ada yang menyelamatkan."

Inggris, Harry Potter, warna hitam, semua hal komplit yang mampu menarik perhatianku di awal-awal membaca. Serius, aku sudah sangat mengimpikan untuk bisa menuntut ilmu di Inggris, di mana pun itu apalagi di Oxford atau London. Dan ketika menemukan karakter di novel yang berkuliah disana, terlebih jurusannya creative writing pula. Bayangkan betapa senang sekaligus irinya aku.

Dibuka dengan perseteruan antara Inka dan ibunya, aku dibuat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedikit gambaran mengenai apa yang dirasakan Inka terhadap ayahnya. Hingga selanjutnya, berganti dengan Inka yang cukup gembira, yang telah terbang ke Inggris dan melanjutkan pendidikan di University College. Uniknya, disebutkan tentang Harry Potter Society, yang awalnya jujur saja aku kurang percaya apa memang ada klub seperti ini? Ternyata setelah googling, memang ada di universitas itu. Tambah iri nggak sih sama Inka?

Narasi masam mengenai Oxford yang menjadi setting sangat membuatku tertarik. Meski menurutku pribadi London memang identik dengan hujan dan aura dingin (dan aku menyukainya), cara Ruth Priscilia mendeskripsikannya (lewat sudut pandang Inka) sangat berhasil untuk mengembuskan napas sendu pada kota tersebut tepat seperti apa yang dirasakan Inka. Intinya, dari setiap halaman, Ruth Priscilia sukses membuat aura Black benar-benar terasa 'Black', padahal di awal aku cukup skeptis dan mengira dinamai Black hanya karena si tokoh utama menyukai warna hitam. Namun setelah mengetahui kisah hidupnya, aku mengapa akhirnya diberi judul 'Black'.

Untuk karakterisasi, sebenarnya aku nggak begitu teringat dengan Inka si tokoh utama, kecuali fakta dimana dia adalah seorang gadis yang mencoba menata hidup di Inggris untuk meninggalkan masa lalunya di Indonesia, dan apa yang dia rasa terhadap hubungan cinta. Gadis yang begitu mendambakan kehidupan normal seperti dulu ketika ayah dan ibunya masih tetap bersama. Yang paling kuingat adalah Chesta, yang merupakan karakter terfavoritku.
"Aku tidak menangis ketika Mama pertama kali memberitahu dia akan meikah lagi. Aku juga tidak menangis saat tahu Papa sudah pindah tanpa memberitahuku. Jadi mengapa pemuda asing ini, yang hanya kukenal di masa lalu tanpa kenangan indah, membuatku ingin menangis?" 
Sungguh, dia adalah tipe cowok unik. Nggak sok ganteng, sok dingin, tetapi memang itulah dia. Dia adalah cowok yang meski sinis, dingin, jarang tertawa, tetapi terkenal playboy, ketika dia telah mencintai seseorang, dia melakukannya dengan sepenuh hati meski sikapnya agak sedikit bossy, menuntut, dan cenderung suka memerintah. Seperti si gadis adalah pihak yang teropresi sementara Chesta sangat mendominasi alias pemegang kekuasaan. 


Cowok yang sangat menarik menurutku ketika di sisi lain, dia begitu rapuh dan sangat membutuhkan seseorang untuk menguatkannya. Cenderung mengambil sikap yang didasari pengalaman traumatisnya dalam memperlakukan orang. Protektif namun tidak membuat jengah. Mencintai tetapi tidak memaksa. Terlebih lagi, Chesta sangat mencintai sosok ibunya. Justru hal-hal itulah yang membuatku menaruh perhatian lebih padanya, bukan karena dia adalah calon CEO, populer, pintar, serta kaya raya.

Interaksi yang terjalin antara Inka dan Chesta sangat natural dengan kedekatan yang lambat laun tercipta yang dibumbui oleh alasan masuk akal. Cara Ruth Priscilia meramu masa lalu mereka berdua dan mengaitkan benang merahnya cukup unik. 

Plot dari awal hingga akhir ditata dengan cukup rapi dan membuatku betah membacanya. Side character juga dapat dimanfaatkan dengan cukup baik oleh Ruth Priscilia; Ella, Owen, Christianlovely Kiran, Om Ben, Patricia, mama Inka, dan Sigi, meski aku masih sedikit penasaran dengan apa yang terjadi antara Inka dan sahabat cowoknya, Sigi serta cukup kurang puas dengan keberadaan Ezra yang kupikir awalnya punya peran lebih dari itu. 

Adegan favoritku adalah ketika Chesta dan Inka pertama kali berkeliling Oxfordshire dengan kondisi keduanya yang masih seperti anjing dan kucing, lalu ketika momen Inka bersinggungan dengan sang ayah. Berkomentar sedikit, aku suka keunikan cerita ini yang terletak pada pilihan cara kedua tokoh untuk berlarut-larut dalam kesedihan, yah, meski itu negatif. 
"...Tapi aku bisa mengisap ratusan batang rokok dalam semalam bersamanya, meneguk berbotol-botol tequila, dan memberikannya Alka-Seltzer di pagi hari. Aku akan menemaninya hancur."
Overall, kalau kamu sedang berjuang untuk menyembuhkan kesedihan dan mencari teman untuk menikmati warna hitam bersama, mungkin Black dapat menjadi jawabannya. Sebab dari yang kutangkap, novel ini mungkin akan memberikan secercah harapan bagi kita bahwa suatu saat nanti ada yang akhirnya mampu menerima sekaligus menyelamatkan kita dari keterpurukan, terlebih lagi dalam menerima kenyataan yang tak sesuai harapan. 😉
"Mungkin justru karena itu. Karena tahu pada ujungnya akan merasa sakit, beberapa orang memilih mencicipi kebahagiaan lebih dulu."

Saturday, 6 May 2017

Pengalaman Nonton Premiere Critical Eleven + Movie Review! | Movie Adaptation

00:33 10 Comments

Kali ini aku dapat kesempatan untuk nonton premier Critical Eleven. Seperti yang kalian tahu, tanggal 25 April kemarin, PO tiket premier Critical Eleven dibuka. Dan aku yakin, timeline kalian pasti ada satu-dua bahkan mungkin lebih dari itu, yang ribet-ribet live report tentang crash-nya GO-TIX karena fans-fansnya Aldebaran dan Harris Risjad yang pada ngamuk. Dan aku termasuk salah satu dari fans-fans itu, lol. 

Luckily, i got the ticket! Meski harus nungguin ada kali setengah jam, harus pusing-pusing nge-refresh hape, harus panik-panik karena jam 1 nya harus berangkat ngampus sementara jam setengah 1 belum muncul juga tuh banner nontonnya. 

Btw, kalau klaim panitia Critical Eleven tiketnya sold out dalam 22 menit itu salah besar. Boong, sob. Soalnya kalau yang ikut 'perang', ngerasain deh kalo itu kelamaan di crash-nya, dan kalo aku boleh bilang, itu 555 tiket cuma sold out dalam waktu kurang dari 5 menit. Bayangin aja, sekalinya bisa kebuka, tiket jam 7 booking-nya gagal terus, eh percobaan ketiga tiba-tiba sold out :") Pas aku buka yang jam 5 untungnya masih ada, langsung aja check out. Daaaan, beberapa detik setelah itu langsung dong ngecek lagi tiket jam 5, eh udah sold aja, men. #ikanikananmagnetganas



Long story short, akhirnya sampai juga di hari H (Harris maksudnya, lol, nggak deng). And you know what? Aku telat. Huft. Karena dosennya ganti, dan dosennya rada galak jadi aku nggak berani buat izin cabut duluan dari kelas. Aku nunggu aja dengan gelisah karena yang presentasi ada 3 kelompok aja, dong. :)) Akhirnya jam 4 kelar, daaan, aku kelupaan nge print tiket. Akhirnya mampir dulu di tempat print fakultas. Sialnya, harus nunggu setengah jam karena rame banget lagi pada nge print skripsi. Sempet mau cari tempat print lain tapi udah mager pindah, dan kondisinya udah banyak petir kan serem ya kalo jalan. 

Akhirnya di 4:30, aku bisa naik kereta dari Stasiun UI ke Stasiun Sudirman. Sampe sana udah jam 5:05 gitu, langsung gercep naik grabbike ke Plaza Indonesia. Btw, aku nggak pernah ke Plaza Indonesia dan ampuuuun, nyari eskalator aja susahnya minta ampun. :") Pas aku sampe, lagi pada prescon semua cast CE dan Kak Ika-nya. Berhubung aku nonton yang jam 5 dan saat itu udah 5:20, aku nggak bisa nontonin prescon-nya dong dan langsung tancap gas ke XXI. 

Sampe sana, yang jam 7 udah pada ngantri. Aku udah siap-siap mau ngotot kalo nggak dibolehin masuk karena jam registrasinya udah tutup, lol. Tapi Alhamdulillah, kakak-kakaknya baik banget ❤❤❤️ Aku langsung nukerin e-ticket dan dapet goodie bag, lalu dapet kursi sisa di pojok atas. Alhamdulillah sih nggak di depan dan duduk harus mendongak. Leher pegel, boook. Tapi in the end nyesel juga, ternyata ada wefie bareng casts dan karena aku nun jauh disana, aku nggak bisa liat mereka dengan jelas, hanya bisa melihat brewok si Ale. :((

Masuk ke review filmnya. Ada banyak hal yang wajib digarisbawahi dalam novel ini. Pertama, storyline-nya agak-agak beda dengan yang ada di novel. Tapi entah kenapa, ini adalah salah satu film adaptasi yang berhasil banget dieksekusi. Film ini bisa dibilang penyempurna isi novel yang luput dari riset Kak Ika Natassa, misalnya dengan kondisi fisik Anya selepas kematian janinnya yang nggak digambarkan di novel, namun di film dihadirkan. Kayaknya Kak Ika belajar banyak dari komentar ibu-ibu di Goodreads yang pernah aku baca, tentang kritik dia mengenai novel Critical Eleven dan kondisi yang dialami Anya. 



Lalu alasan mengapa ada masalah antara Ale-Anya, lebih realistis dan dapat dimengerti. Aku serius. Film ini sangat mengalir, seakan-akan memang ketika aku ada di posisi mereka berdua, aku akan melakukan hal yang sama. Dan apa yang Kak Ika suguhkan untuk menyelesaikan konflik Ale-Anya, agak sedikit berbeda menurut apa yang tangkap. Berbeda in a good way, aku suka banget cara Kak Ika membuat kedua karakternya 'rujuk' kembali dalam film itu.

Kedua, really, apa pun yang kalian lihat di trailer, jangan cepat menyimpulkan bahwa ceritanya seperti itu. Ingat, trailer hanya potongan-potongan adegan. Aku sempat teringat, ada some part yang bikin aku kecewa dengan isi trailer

Salah satunya ketika dalam hati aku bertanya-tanya, 'ini kenapa sih kata-kata pedas Ale-nya dibikin lebih nggak make sense untuk Anya baperin sedemikian lama?'

"I love New York", 
"...more than Aidan." 

Aku pikir cuma karena itu Anya baper, kalau gitu aku semakin sebal dengan Anya di film dibandingkan di novel. Tapi tapi tapi, ternyata konfliknya lebih daripada itu. Dan sangat sangat natural. Aku bisa relate dengan kondisi Anya yang nyaman tinggal di New York dan sangat mencintai pekerjaannya. 

Mungkin sebagian perempuan independen yang nggak suka diem dirumah nggak ngapa-ngapain, akan bisa memahami perasaan Anya, tapi beda dengan Ale, yang sangat family oriented. Dari film ini rasanya aku dapat mengambil sesuatu yang nggak berhasil aku simpulkan dari novel; Anya itu sendirian, sementara Ale punya keluarga yang sangat besar, dan cara pandang serta cara merasa yang dimiliki mereka berdua pun berbeda.

Ketiga, tentang Ale alias Reza Rahadian. Kalo dulu aku sama sekali nggak excited dan rada bodo amat ketika dia yang jadi Ale, dan lebih peduli those who play the role of Anya, Harris, dan Keara (Adinia Wirasti, Refal Hady, dan Anggika Bolsterli). Sekarang aku jadi kayak nelen ludah sendiri. Betapa kagumnya aku sama seorang Reza Rahadian, terlebih aktingnya. 

Dan aku mengerti sekarang kenapa para producer dan director pada berlomba-lomba menggaet Reza sebagai main cast-nya dan menjadikan bioskop Indonesia penuh dengan muka Reza Rahadian. Serius deh, kalian yang protes kenapa Reza Rahadian melulu dan marah-marah kenapa nggak pake aktor lain. Tolong dong, sodorin aku aktor yang aktingnya sebagus Reza, yang seumuran Reza juga tapi. Aku mau tau sih. Soalnya akting Reza sebagus itu, senatural itu



Pernah bertanya-tanya nggak, kenapa bule itu kalo akting nggak kayak akting, tapi kebanyakan orang Indonesia itu kalo akting keliatan banget aktingnya? Aku nggak pernah nemu jawabannya, tapi yang pasti Reza Rahadian berhasil mematahkan asumsiku itu. 

Setelah nonton CE, aku kayak otomatis berbalik jadi kagum sama Reza gitu loh. Wajar Kak Ika bilang Reza itu berhasil banget bawain karakter Ale, bring his character alive. Karena emang seperti itulah kenyataannya. 

Reza Rahadian itu kayak bisa jadi siapa aja. Dulu sempat dibuat kagum ketika dia memerankan Pak Habibie dalam Habibie dan Ainun, sekarang ketika memerankan Aldebaran Risjad pun sama kagumnya. Dulu, ketika melihat sosok Reza, aku nggak bisa membayangkan Ale, harus dipaksa dulu baru bisa. Berbanding terbalik dengan Adinia Wirasti, yang dimana ketika aku melihat dia, physical appearance-nya di otakku itu udah Anya banget. Sekarang malah aku lebih merasa Reza yang Ale banget. Pembawaannya itu loh. Bener-bener langsung pengin cari pacar kayak Ale, lol.

Keempat, no awkward moment. Terkadang, film Indonesia itu banyak awkward moment-nya, entah itu karena kelemahan dialog; terlalu kaku, terlalu cringey. Atau cast-nya yang kurang bisa memainkan peran dengan baik; akting kaku, nggak natural, kurang ekspresif; kebingungan mau ngapain ketika harus akting diam. Di film ini, hampir nol tuh hal-hal kayak gitu. 

Aku sangat mengapresiasi akting para cast, terutama lagi-lagi Reza Rahadian, daaaan Om Slamet Rahardjo serta Tante Widyawati. Kedua senior dalam perfilman itu tentu udah nggak diragukan lagi kecakapannya dalam bermain film. Aku merasa beliau itu seakan benar-benar Pak Jenderal dan Ibu Jenderal, orang tua dari Risjad bersaudara. 

Setiap adegan yang melibatkan Om Slamet dan Tante Widyawati serta Reza dan Asti, dan petuah-petuah dari beliau merupakan salah satu adegan favoritku. Dan satu lagi, ketika keluarga Risjad ngumpul, itu bener-bener kayak keluarga asli. Ya Tuhan, rasanya pengin jadi Tini kedua nemenin Aci Resti supaya bisa masuk ke keluarga itu. Walau sebenernya lebih pengin jadi simpenannya Harris Risjad gitu. :")



Kemudian, yang kelima, visualnya, mantap banget. Cara pengambilan gambar yang dramatis dan ditambah dengan backsound-nya yang mendukung berhasil membuat penonton terbawa suasana. Hampir selalu sih, ketika Ale dan Anya lagi stres karena kehilangan Aidan, aku ngerasa mataku udah berair terus. Mau nangis malu, karena sendirian dan nggak bawa tisu, lol. Jadi ditahanin aja tuh. 

Suka banget sih ketika pengambilan gambar Ale di oil rig. Perpaduan warna langit dan lautnya👌🏻 Sayangnya, aku terlambat 30 menit dan melewatkan banyak adegan New York Ale-Anya, jadi nggak bisa berkomentar banyak huhuhu. Yang paling parah, aku melewatkan adegan meet cute-nya Ale-Anya di pesawat. Sedih nggak tuh? :((

Selanjutnya, keenam. Cukup banyak kejutan kecil yang dihadiahkan Kak Ika dan tim produksi film kepada kita para pembaca. Kemunculan Donny, peran Renata, adegan 'panas' Ale-Anya, lol lol lol. Aku nggak bisa berhenti senyam senyum tiap lihat keromantisan dua orang itu. Kalian yang nunggu-nunggu adegan setelah ulang tahun Ale, siap-siapin mental aja lah ya. Kalian harus nonton sendiri untuk melihat seberapa kuat chemistry Reza-Asti dalam film ini. Serius deh, rasanya aku pengin ngeship mereka gitu.... 😟

Psst.. celetukan genit Ale ke Anya juga banyak banget, bikin para penonton teriak-teriak. :))



Ketujuh, hmm, i need more Harris Risjad, Kak Ika. Udah gitu aja. Please aku request Antologi Rasa tetap si Refal, dan Keara-nya tetap si Anggika. Soalnya si Refal ini kayaknya cocokan dapet peran tengil dibanding serius. 

Waktu 1 Mei aku nonton ftv Refal-Anggika, sekilaa aja sih, tapi ketika ngebandingin akting serius Refal yang berantem sama bapaknya dengan akting Refal pas lagi ketawa-ketawa sama keluarga Risjad, itu aku jauh lebih menikmati akting kedua. Oh ya, tentang si Donny, hahahaha. Aku baru pertama kali ngeliat akting Hamish Daud dan ternyata... Minta dipeluk, ya, Mas? Adorable banget sih, apalagi pas adegan....... 😆😆

Setengah jam lebih dikit yang aku lewatkan itu sepertinya berisi kebahagiaan Ale-Anya, sementara sisanya didominasi oleh kesedihan Anya dan Ale, sama seperti di novel. Dan menurutku Kak Ika jahat banget sih, bikin orang ada kali ya, sejam pertama adegan sedih, kepengin nangis terus. :( 

Aku bisa bilang, ini adalah salah satu film romance Indonesia yang terbaik di masanya. Dengan pemilihan cast dan proses produksi yang nggak lepas dari campur tangan si penulis novel, si pemilik imajinasi, rasanya itu yang paling tepat demi mewujudkan sebuah film adaptasi yang sukses dari segala sisi. :))

And last but not least, aku serius bakal nonton ini, sekali atau dua kali atau tiga kali lagi, sih. :)) 

Wednesday, 19 April 2017

Book Review + BlogTour: I Want to Eat Your Pancreas - Sumino Yoru

20:16 30 Comments
Judul: I Want to Eat Your Pancreas
Penulis: Sumino Yoru
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 309
ISBN: 0001027212
Harga: 79.000
Rate: 4,5 out of 5
"...makanya, aku mau makan pankreasmu."
Apa yang akan kamu lakukan jika kamu divonis penyakit kronis dan waktumu tinggal sebentar lagi?

Yamauchi Sakura hanya bisa tersenyum bahagia dan menjalani hari-harinya seperti biasa. Bahkan hingga tidak ada seorangpun yang mengetahui sebenarnya dia mengidap suatu penyakit. Pankreasnya rusak. 

Sakura tak pernah ingin menceritakannya kepada siapa-siapa, termasuk sahabat dekatnya. Karena gadis itu tidak mau sahabatnya berubah menjadi sekhawatir keluarganya. Sampai tak sengaja, seseorang membaca halaman pertama buku diarinya...
"...Yang mempertemukan kita adalah pilihan yang telah kau buat. Juga pilihan yang kubuat sampai saat ini. Kita bertemu atas keinginan kita sendiri."
'Aku'. Seorang cowok pendiam yang tidak memiliki teman. Cowok itu tidak sengaja membaca halaman pertama buku catatan Sakura sewaktu mereka berdua sedang berada di rumah sakit. 'Aku' sebenarnya tidak ingin berbicang dengan orang lain, namun sifat ceria Sakura, ditambah lagi permintaan gadis itu agar dirinya mau menjadi teman baik gadis itu sampai mati, membuat 'Aku' menjadi ingin lebih mengenalnya. 

Keduanya memiliki sifat yang sangat bertolak belakang hingga teman-teman dan sahabat Sakura yang populer kerap memandang sinis 'Aku' dan menggosipkan dirinya. 

'Aku' dan Sakura semakin dekat. Butuh waktu kurang lebih setahun lagi hingga Sakura menemui kematiannya. 'Aku' menduga, Sakura sebenarnya takut mati. Semakin Sakura sering bersamanya, 'Aku' semakin tidak ingin kehilangannya. Mereka melakukan hal-hal yang diinginkan Sakura sebelum gadis itu mati. Bahkan 'Aku' menyadari, bahwa ia telah menjadi seseorang yang berbeda, hingga saat yang dinanti Sakura akhirnya datang...
"Kalau ada hal yang bisa kusyukuri karena berhadapan dengan kematian... adalah hal itu. Setiap hari, aku menjalani hidup sambil berpikir bahwa aku masih hidup." 

"I want to eat your pancreas."

Siapa sih yang nggak kaget ada orang yang berkata seperti itu padamu tiba-tiba? 

Sakura pernah mengatakannya kepada 'Aku'. Permulaan ini membuatku menebak-nebak akan seperti apa genre cerita. Aku mulai berpikir, 'wah jangan-jangan ini thriller atau misteri atau detektif.' Ternyata.. Sesuatu yang lebih daripada itu.
"...Cerita fiksi dan kenyataan berbeda. Kenyataan tidaklah seindah dan semurni sebuah cerita fiksi."
Aku pernah bilang bahwa aku sangat menyukai J-Lit. Menurutku, J-Lit itu unik. Komplit gitu, kadang bikin baper, bingung, kesal. penasaran, sedih apalagi. Lihat saja judul novel ini. Sudah cukup unik dan berbeda, kan?

Sejauh ini, J-Lit yang diterbitkan Haru memiliki sesuatu yang membuatnya 'berbeda', yang membawaku sebagai pembaca ingin membaca lagi dan lagi J-Lit yang diterbitkan. Salah satunya, ya, I Want to Eat Your Pancreas ini.

I Want to Eat Your Pancreas cukup menguras emosiku. Berkisah tentang gadis yang memiliki penyakit yang menyerang pankreas-nya, dan divonis hanya memiliki waktu setahun lagi. Selama itu dia hanya bisa memperlambat perkembangan penyakitnya agar tidak memburuk dengan obat-obatan medis. 
"Yang merasa kasihan terhadap hidup gadis itu pasti memiliki rasa percaya diri yang terlalu tinggi. Angkuh, karena orang tersebut terlalu yakin tidak mungkin mari terlebih dahulu daripada gadis itu.
Sakura, gadis itu, hidupnya hampir sempurna. Temannya banyak. Sifatnya ceria. Berbeda jauh dengan 'Aku' yang suram. Tidak ada yang berteman dengannya. Itu pun juga yang diinginkan 'Aku'. Hingga suatu ketika takdir mempertemukan mereka. Yang tadinya tidak saling mengenal, menjadi mengenal dengan sangat baik.

'Aku' banyak belajar dari Sakura untuk menjadi orang yang sama sekali baru. Sejak bersimpati kepada Sakura yang berpenyakit dan meminta gadis itu untuk melakukan apapun yang ia sukai sebelum ia mati, 'Aku' berhasil menjadi salah satu orang terdekat Sakura. Sifat gadis itu yang ceria, mampu membuat 'Aku' perlahan luluh dan membuka diri. 

Lihat saja ketika Sakura berulang kali mengajak 'Aku' makan di resto dan kedai. Sedikit berkomentar, sumpah, novel ini membuatku lapar. Banyak makanan soalnya. Ketika mereka berdua makan yakiniku all you can eat, makan mochi, dan lain-lain, sambil mengobrol layaknya teman dekat. Aku seakan merasa menjadi orang ketiga diantara mereka.
"...Tunas bunga sakura yang berikutnya itu muncul kira-kira tiga bulan setelah sakura gugur. Tetapi tunas itu tertidur. Menunggu cuaca menjadi hangat, lalu mekat serempak. Dengan kata lain, sakura menunggu waktu yang tepat untuk mekar. Indah, kan?"
Diantara adegan-adegan makan itu, favoritku adalah ketika mereka makan mochi dan Sakura dengan berani membela nenek pemilik warung mochi dari serangan tante-tante yang menyebalkan. Rasa respekku terhadap Sakura menumpuk terus sejak ia berusaha untuk selalu bahagia meski ia tahu umurnya tak lagi lama. Walau sebenarnya kesal juga, karena Sakura sering kali membawa-bawa kata 'mati', seakan novel ini merupakan novel horor atau misteri. 

Perkembangan katakter 'Aku' juga sangat mengisi cerita ini. Aku menyukai bagaimana Sumino Yoru menulis tentang 'Aku'. Apalagi dimana ketika namanya tidak pernah disebutkan dari awal, hanya berupa julukan-julukan, dan baru di belasan halaman menuju ending, namanya diungkap. Aku cukup penasaran dengan sosok 'Aku' ini, hingga teman-teman sekelasnya, termasuk sahabat dekat Sakura, yaitu Kyoko, selalu menatapnya tajam. Saking curiganya anak sependiam 'Aku' bisa dekat dengan anak paling ceria di sekolah
"Aku tidak tahu bahwa menumpahkan amarah kepada seseorang ternyata bisa melukai hati orang yang bersangkutan. Aku pun juga ikut merasakan luka tersebut."
Akhir kisah ini membuatku sangat tersentuh. Sumino Yoru berhasil membawakan alur cerita dengan sangat baik, hingga meski ending-nya sama, tetapi proses menuju ending itu sama sekali di luar dugaan. Dan hal itu berhubungan dengan salah satu pesan yang ingin disampaikan penulis dalam buku ini. Yang membuatku dan aku rasa banyak pembaca akan sadar lalu merenungi. 

Terjemahan yang cukup baik tanpa typo yang berceceran (hanya satu, lho!) membuatku sangat menikmati novel ini. Ditambah, kovernya yang luar biasa cantik

Meski tidak membuatku sampai menitikkan air mata, tapi novel ini sangat-sangat pantas kuberi dua jempol! Penulis memberi warna haru yang berbeda, yang berhubungan dengan kehidupan, juga kematian. 
"Mengenal seseorang, menyukai seseorang, membenci seseorang, merasa senang saat bersama seseorang, merasa jenuh saat bersama seseorang, berpegangan tangan dengan seseorang, memeluk seseorang, berselisih dengan seseorang. Itulah hidup. Kalau hanya sendirian saja, kita tidak akan tahu bahwa kita ada."

BLOGTOUR!



Sebelumnya, aku mau berterima kasih kepada Penerbit Haru, yang telah berbaik hati memilihku menjadi salah satu host Blog Tour ini (yay!), memberiku kesempatan untuk membaca buku sebagus ini. :') 

Kali ini, sistematika blog tour-nya agak berbeda dari yang sebelumnya. Tugasku sebagai host disini hanyalah memberikan sebuah pertanyaan, yang bisa kalian cari jawabannya pada review-ku diatas (So, dibaca ya!). Nanti kalian bisa menyimpan jawaban tersebut dalam hati dan tulis jawabannya pada final giveaway di fanpage Haru yang akan digelar setelah event blog tour ini selesai. Wajib, loh! Hohoho.

Simak caranya dibawah ini ya:

1. Peserta berdomisili di Indonesia
2. Follow blog ini via GFC, Google +, atau email (opsional)
3. Like fanpage Penerbit Haru (sangat wajib), follow twitter @penerbitharu (wajib) dan follow twitter saya di @fazidaa_ (opsional).
4. Di Twitter, bagikan info tentang blog tour ini ke sosial media teman-teman, sertakan link menuju postingan ini dengan me-mention @penerbitharu dan @fazidaa, disertai hashtag #IWantToEatYour

5. Tinggalkan komentar di postingan ini berupa nama, akun twitter, dan link share:

Ini dia pertanyaanku:

"Siapa nama sahabat dekat Sakura selain 'Aku'?"

Gimana? Mudah, kan? Baca review-ku baik-baik yaaa. Semoga beruntung! ^^

Ini daftar host Blog Tour I Want to Eat Your Pancreas lainnya untuk kamu intip pertanyaannya:




Reading Vibes (you're here.)


Widy Bookie

***

BONUS:

Aku bahkan baru tau kalau novel ini difilmkan, dan yang main si Oguri Shun! (kyaaa!

Bagi teman-teman yang masih ragu se-sweet dan semengharukan apa novel ini bisa coba baca review-ku lalu baper-baperin deh, tuh, sambil liat trailer-nya. Aku aja sampe pengin nangis, huhuhu :')

Trailer I Want To Eat Your Pancreas. Enjoy! ^^