Reading Vibes

She Loved Books So Much That She Wrote One

Book Review: Love in City of Angels - Irene Dyah

On
Wednesday, 22 February 2017

Judul: Love in City of Angels
Penulis: Irene Dyah
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 220

Aku jamin, kalian akan banyak menemukan sosok perempuan seperti Ajeng di belahan dunia ini. Cantik, tubuhnya molek, memiliki pesona yang mampu membius laki-laku manapun, hidupnya bebas, karirnya bagus, mungkin beberapa dari kalian bisa jadi iri kepada Ajeng. Tapi jangan salah, dia juga punya sisi kelam dalam kehidupannya.

Meski menganut prinsip 'hidup bebas', Ajeng selalu menjaga keperawanannya. Namun kali itu dia tercenung, mendapati Earth, seorang laki-laki yang ditemuinya saat pesta perkenalan Presdir perusahaan tempatnya bekerja, mengakui bahwa mereka pernah bermain-main dengan lingerie hitam dan celana dalam Calvin Klein. Ajeng menyadari, dia belum juga datang bulan.

Hingga, ketika dia mencoba menjauhkan diri dari Earth, dia malah berjumpa dengan Yazan Khan, salah satu petinggi perusahaan. Perempuan itu tak habis pikir, semenjak pertemuan pertamanya dengan Yazan, laki-laki itu tak bosan-bosannya berbuat baik kepadanya. Menawarinya sesuatu yang baru, yang jauh dari apa yang selama ini dia jalani dalam hidupnya.

Tetapi Ajeng tetaplah Ajeng, perempuan yang mengaku realistis dan mencoba tidak naif. Yazan adalah sosok imam yang hampir sempurna, dia tidak akan mau menerima Ajeng, apalagi bersama masa lalunya. Ketika melihat ayahnya yang dengan tega meninggalkan ibunya, namun ibunya dengan polosnya mau memaafkan ayahnya, Ajeng semakin membenci cinta dan pernikahan.

"Pernikahan itu jebakan betmen. Seremonial yang mengubah manusia dari sepasang individu asing, berevolusi jadi satu tim (yang seharusnya) solid bernama keluarga. Semua orang melek ilmu tahu dong

***

Karya Irene Dyah kedua yang kubaca. Dan aku sangat puas dengan hasilnya, sama seperti Complicated Thing Called Love. 

Gaya menulisnya tetap sama, memukau. Mengalir. Entah apa sebutan yang tepat. Aku paling suka ketika Kak Irene menulis tentang random thoughts yang dikaitkan dengan apa yang dialami si tokoh. Semacam analogi. Misalnya, dari tokoh film apa, yang kisahnya sama dengan kisah Ajeng dalam novel ini. 

Tokoh-tokohnya, dengan dunia glamour khas para pekerja-pekerja di kota besar. Akrab dengan pakaian minim, suara musik yang memekakan telinga dari klub-klub di malam hari, hook up sana sini dengan stranger, ketika status perawan atau tidak, tidak dipermasalahkan.

Bangkok. The Sin City. The City of Angels, yang analoginya dipakai untuk menggambarkan kehidupan Ajeng, dengan itu pertama kali novel ini dibuka. Dengan pengalaman Kak Irene yang pernah 4 tahun tinggal di Thailand, dengan sukses Kak Irene mendeskripsikan latar cerita dan suasana di kota itu. Tempat-tempat wisata, kafe-kafe, bahkan suasana festival, digambarkan dengan sangat baik. 

Heroine kali ini adalah Ajeng. Seperti yang Kak Irene bilang, karakternya unik. Perempuan metropolitan, nggak mau terikat dengan komitmen. "Free" mungkin akan tercetak jelas di dahinya jika setiap orang harus menuliskan satu kata yang menggambarkan dirinya. Ajeng sadar dirinya cantik, maka dia hobi flirting

Meski nggak menggeneralisir, tapi perempuan serupa Ajeng kebanyakan lebih mementingkan duniawi. Dia nggak pernah sholat, nggak mementingkan mana makanan halal mana yang haram, padahal dia adalah muslim. Tetapi, dia masih menjaga prinsip perawan sampai mendapatkan yang pas, walau nggak harus dengan cara menikah, tapi dia nggak sembarangan memberikan keperawanannya kepada laki-laki.

Ajeng yang seperti itu, sangat kontras dengan Yazan. Laki-laki pendiam, pembersih kekacauan, pencari solusi, memiliki beribu jalan keluar. Si Master Yoda. Laki-laki berkebangsaan India yang rajin shalat, nggak pernah benar-benar menyalurkan nafsunya kepada perempuan. Dia menahannya. See? Percayakah kalian ada orang seperti itu? Pasti ada.

Somehow, takdir mereka bertabrakan. Aku awalnya bingung kenapa Yazan tiba-tiba muncul dengan sifat posesifnya mengatur-atur Ajeng. Tapi ternyata dia menceritakan juga mengapa dia selalu mengekori Ajeng, selalu mengiriminya berkotak-kotak coklat. 

Meski aku berharap dideskripsikan lebih banyak mengenai pandangan Yazan terhadap Ajeng pertama kali, aku sudah cukup mengerti mengapa Yazan bersikap seakan Ajeng adalah miliknya. Eits, meski begitu, dia nggak terlihat seperti laki-laki gila yang mengaku-ngaku sebagai pasangan Ajeng. Dia masih punya wibawa, respekku meluncur mulus mengetahui prinsip teguh yang dipegangnya. 

Sementara Earth, si laki-laki tengil, jujur aku benar-benar penasaran dengan laki-laki ini. Tapi dia hanya muncul di awal, sedikit di bagian pertengahan, lalu muncul cukup banyak di akhir dengan memberikan penjelasan. Sebenarnya apa yang terjadi antara Ajeng dan dirinya? Kalian nggak akan bisa menebaknya, meskipun Kak Irene dengan cerdasnya sudah menebarkan clues di beberapa halaman. Setidaknya, twist itu berhasil untukku. 

Side story, kisah ayah dan ibu Ajeng. Miris melihat ibu Ajeng yang mau kembali kepada suaminya yang diklaim telah meninggalkannya, membuat Ajeng benci setengah mati. Tapi seperti kata orang-orang, walk into their shoes and walk the life they're living, baru kalian tahu mengapa orang bisa begini-begitu. 

Terkadang, yang terlihat belum tentu menampilkan apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia-rahasia akan selalu ada, seperti iceberg. Dan kisah orangtua Ajeng menyadarkanku akan pentingnya kebersamaan dalam keluarga.

Yang paling kusuka, the best part of the story, adalah nilai moral yang kudapat dari Yazan dan Ajeng. Kalau kalian merasa diri kalian kurang baik, temukan orang yang lebih baik dari kalian, lebih bagus lagi yang kalian cintai. Karena apa? Lambat laun kalian akan mengikuti kebiasaannya, sadar atau tidak. Ajeng dan aku mungkin sudah membuktikannya. Dalam kasus Ajeng, meski Yazan sedikit banyak bikin sebal ketika menguliahi Ajeng nggak henti-henti, tapi dia bermaksud sangat baik. Yazan mencintai Ajeng, dengan ingin menjaganya, bukan merusaknya. Dan aku sangat menyukai hal itu. Sangat. 

Book Review: The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu) - Mitch Albom

On
Monday, 6 February 2017

Judul: The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis: Mitch Albom
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 312
ISBN: 9786020307145
Harga: 58.000
Rate: 4 out of 5
"Tetapi sang Penjaga Waktu benar-benar ada. Dan, sesungguhnya, dia tak pernah bertambah tua. Dibalik jenggotnya yang awut-awutan dan rambutnya yang terurai—itu tanda-tanda kehidupan, bukan kematian—tubuhnya ramping, kulitnya tidak keriput, kebal terhadap unsur yang menjadi wilayah kekuasaannya."
Waktu.
Dor sangat suka menghitung. Menyusun ranting-ranting, kerikil-kerikil, apa saja yang bisa dihitungnya. Apa pun dia ukur untuk tahu. Dari dulu, itu lah keahliannya. Alli dan Nim, teman-teman sepermainannya pun tahu. Hingga ia dewasa, hingga Nim yang sangat mengagungkan kekuatan telah menjadi penguasa, Dor masih suka menghitung jarak siang dan malam.
Dor akhirnya menikah dengan Alli dan memiliki beberapa anak, hingga akhirnya dia diasingkan sebab menolak permintaan Nim yang berkuasa. Nim telah membangun menara yang menjulang tinggi ke langit, agar nanti ia dapat membunuh dewa-dewa dan memerintah disana.
"Tunjukkan belas kasihan pada mereka, seperti kita ingin orang lain berbelas kasihan pada kita."
Ketika akhirnya Alli terjangkit penyakit dan meninggal, Dor dengan kemarahan dan kekecewaan memanjat menara yang kemudian runtuh. Tapi ia tidak mati, justru itu adalah awal mula ia dapat hidup abadi.
Dor menetap di sebuah goa, dihukum oleh seorang pria tua berjenggot untuk mendengarkan permintaan manusia-manusia akan waktu. Selama 6000 tahun, Dor sendirian hingga akhirnya ia bisa turun ke bumi sebab ditugaskan untuk menemukan dua manusia yang meminta waktu.
Ialah Sarah Lemon dan Victor Delamonte. Remaja jenius yang sedang menyukai seorang cowok, dan seorang pengusaha—orang terkaya ke empat belas di dunia—yang sedang menghadapi mautnya.
"Hanya manusia yang mengukur waktu. Hanya manusia yang menghitung jam. Itu sebabnya hanyamanusia yang mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lainnya. Takut kehabisan waktu."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
Mitch Albom selalu mengisi karya-karyanya dengan makna kehidupan. Kali ini ia memilih tema waktu. Pernah terpikir, mengapa Tuhan membatasi bergulirnya suatu hari? Mengapa Tuhan memberi waktu sebagai penanda?
"Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat. Semuanya terjadi pada waktu yang telah ditetapkan."
Kisah ini disebutkan sebagai fabel orang pertama yang menemukan konsep jam (waktu). Yang nantinya, penemuan itu akan digunakan manusia-manusia selanjutnya untuk menciptakan berbagai jenis jam. Novel ini tentunya sarat akan filosofi waktu, tetapi tidak 'berat' alias mudah dipahami.
Awalnya, aku belum menyadari kisah ini tentang apa, bahkan hingga menuju 50 halaman terakhir pun, aku belum menangkap inti cerita ini. Aku dibawa berputar-putar dalam kisah masa kecil Dor, Alli, dan Nim, serta kehidupan mereka setelah dewasa.
Di sisi lain, aku disuguhi kisah hidup Sarah Lemon, remaja SMA yang pintar IPA, tetapi sangat insecure dengan fisiknya, dan merasa kesepian. Ayah dan Ibu-nya bercerai, dan dia harus ikut ibunya yang cerewet. Sampai, saat Ethan, seorang cowok populer, mendekatinya, ia begitu merasa diperhatikan. Segalanya ia lakukan demi Ethan.."
Kemudian, kisah Victor Delamonte yang mengidap penyakit kanker dan ginjal yang sudah kronis. Ia merasa belum dapat meninggalkan dunia. Maka, dengan uangnya ia memutuskan untuk meng-krionik tubuhnya hingga suatu saat nanti, ada ilmu pengetahuan yang dapat menghidupkannya kembali.
Barulah aku menyadari bahwa Sarah dan Victor-lah orang yang dicari-cari Dor Sang Penjaga Waktu. Mereka saling terhubung. Apa yang kudapat dari kisah mereka sungguh besar. Mengapa Dor ditugaskan untuk bertemu dengan mereka, membantu mereka di saat kesulitan. Dengan waktu. Dor membantu mereka dengan memutar balikkan jam pasir yang dapat mengontrol waktu. Dor memperlihatkan, apa dampak yang akan diperoleh atas keputusan-keputusan yang mereka buat.
Akhirnya aku menyadari, bahwa Mitch Albom ingin kita sebagai manusia, tidak usah memusingkan waktu. Tidak usah menghitungnya hanya untuk tahu. Tidak usah mengukur berapa lama. Tidak usah terbebani dengan waktu. Cukup jalani hari-hari yang ada, nikmati selagi masih ada waktu. Jangan menghitung, jika kamu tidak mau seperti Dor yang melewatkan masa-masa paling bahagia dalam hidupnya.
Mitch Albom membuka mata kita lewat kisah Dor, Sarah, dan Victor. Betapa kita manusia terkadang tidak berpikir panjang. Ingin bunuh diri, ingin mempercepat waktu. Ingin memperpanjang kehidupan, ingin memperlambat waktu. Tak tahu bahwa orang-orang yang ditinggalkan akan merana. Tak tahu apa yang menunggu di luar sana. Tak tahu bahwa hidup lama bisa saja menyiksa, seperti yang dimiliki Dor.
A meaningful story. Book that everyone should read at least once.
"Ketika manusia semakin terobsesi dengan jam-jamnya, kesedihan akibat waktu yang telah hilang menciptakan kekosongan permanen di hati manusia. Orang-orang menyesali kesempatan-kesempatan yang terlewat, hari-hari yang terbuang sia-sia; mereka terus-menerus mencemaskan berapa lama mereka akan hidup, sebab mau tak mau dengan menghitung momen-momen kehidupan, mereka jadi menghitung waktu yang tersisa."
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500

Book Review: Critical Eleven - Ika Natassa


Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 344
ISBN: 9786020318929
Harga: 79.000
Rate: 3,5 out of 5
"In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that."
Tiga menit pertama, Tanya Laetitia Baskoro yakin bahwa dirinya terpikat dengan Aldebaran Risjad, lelaki duduk bersebelahan dengan seat-nya di pesawat. Mereka berbincang-bincang, diawali dengan kecanggungan, berakhir dengan senyum dan tawa. Delapan menit terakhir, Ale tahu, bahwa dirinya menyukai Anya. Dia tahu bahwa dia harus memiliki Anya.
Setelah mengenal Anya selama tujuh hari, Ale mantap menjadikan Anya sebagai kekasihnya. Begitu pun dengan satu tahun yang bergulir setelahnya, kalimat 'marry me?' berhasil meluncur mulus dari bibir Ale, disambut dengan kebahagiaan Anya.
"I've burned my bridges. There's no turning back. There's only going forward, with you. So, marry me?"
Tahun-tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta dan rasa sayang yang tak terhingga, hingga akhirnya Aidan Athahillah Risjad pun tercipta. Sayangnya, sebelum sempat Ale dan Anya menciumi buah hati mereka, Aidan tak bernapas lagi saat dilahirkan.
Kini, yang terjadi adalah sebaliknya. Tidak ada lagi kata cinta, hanya kekosongan dan kesedihan yang berusaha mereka tutupi di depan keluarga besar masing-masing. Itu semua berkat Ale, yang tanpa aba-aba, berhasil menggores luka di hati terdalam Anya, menyalahkan perempuan itu, karena telah membiarkan anak mereka pergi sebelum sempat mereka temui..
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
Critical Eleven. The most hyped book in 2016, am i right? 
Sungguh nggak terhitung sudah berapa kali aku bolak balik membaca kesan orang tentang buku ini, namun aku nggak kunjung membacanya. Aku pernah membaca Antologi Rasa, once. Aku terkesan dengan karakternya. Namun hanya itu aja.
So, aku baru memberanikan diri mencoba lagi kali ini dengan Critical Eleven. Masih dengan gaya menulis yang sama, Ika Natassa sangat deskriptif. Kalimat berbahasa inggris ada di sana sini, and i was happy with that. Nothing's wrong. I love Ika Natassa's english quotes. 
Then, Critical Eleven (sangat) banjir analogi. Analogi meracik kopi milik Pak Jenderal, misalnya, yang dihubungan dengan tanggung jawab seorang pria. Analogi bulan-bintang. Dan analogi-analogi lainnya yang kuakui sangat keren.
"Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami—yang membuat kopi—memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar."
Hampir di setiap pergantian POV atau bab, pembukanya selalu diwakili dengan narasi panjang lebar tentang hal-hal random. Opini karakter tentang kota Jakarta, atau kutipan orang terkenal—dan yang lainnya—, diolah menjadi narasi menarik, lalu dipadukan dengan nostalgia-nostalgia Ale dan Anya, hingga menghasilkan kata 'setuju' dan 'aah i feel you' yang muncul begitu saja di otakku, bahwa fenomena-fenomena tersebut cocok dengan keadaan Anya dan Ale.
Ketika ada beberapa orang yang terganggu dengan ini, aku justru menikmatinya. Sangat. Bisa kubilang Kak Ika ini jenius dalam memainkan kata-kata. Sebagai pembaca, aku sangat menikmati. Dan karena narasi-narasi dalam lamunan kedua tokohnya, terutama Anya, aku jatuh cinta banget dengan perempuan itu. Pandangan dan penilaiannya terhadap sesuatu itu, cerdas.
Novel ini dihiasi dengan kenangan Ale-Anya yang diceritakan kembali lewat narasi dari POV masing-masing. Beruntungnya menulis novel dengan POV 1 dan alur maju mundur. Nostalgia mereka membantu pembaca untuk lebih mudah memahami segala yang terjadi dalam kehidupan mereka, mendalami perasaan mereka. Anya dengan 'aku'-nya, Ale dengan 'gue'-nya.
"You just cannot exist without memory. Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan."
Apa yang mereka kisahkan hampir serupa, tentang bagaimana perasaan mereka tentang kenangan-kenangan manis di masa lalu, yang mau tak mau harus mereka relakan. Bedanya, Anya selalu sigap dengan denial statement-nya, mencoba untuk tidak terbawa kenangan. Sementara Ale, sangat-sangat hopeless. Lelaki itu begitu merindukan Anya, tapi nggak bisa memperbaiki semuanya. Simply karena Anya nggak 'mengijinkan'.
Ini juga yang membuatku bisa menarik suatu kesimpulan. Anya dengan segala kelebihannya sebagai seorang pekerja wanita yang tangguh, pesona fisiknya yang bahkan memukau Harris—adik Ale—, berbeda dengan apa yang ditampilkannya ketika masalah menerpa rumah tangganya.
Oke, aku berusaha menempatkan diriku sebagai Anya. Aku juga akan tersinggung, but i dont get it. Too much baper-nya. Too much. Seriously,  Nya? Enam bulan mendiamkan suami sendiri? Ego mengalahkan keinginannya untuk memeluk Ale, ego berhasil memaksa dirinya untuk nggak memberi Ale kesempatan menjelaskan, ego sukses membuat dirinya harus melukai diri sendiri. I know, that hurts you so much. I know, that Ale's just too stupid. He better keep his mouth shut. I know, but at least, give him a chance. Let him explain it all to you, Nya. Let him fix it for you. For both of you. 
"Aku pernah baca ekspektasi bisa membunuh semua kesenangan. It's even said that expectation is the root of all disappointments. Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspektasi apa-apa. Whatever happens is neither good or bad. It just happens."
Meanwhile, let's get along with Ale, lelaki yang hampir mendekati sempurna, kalau aja mulutnya nggak jahat. Dia keliatan sangat-sangat memuja Anya, and i love him for that. Please, dimana bisa aku menemukan cowok yang bahkan masih memuja pasangannya meski sudah bertahun-tahun bersama seakan mereka baru bertemu kemarin? Nggak terhitung berapa banyak kata 'cinta', 'perempuan cantik', dan 'istri gue' di dalam buku ini yang sangat mewakili bagaimana perasaan Ale terhadap Anya.
But, he's right. His move is totally right. He didnt force Anya to listen to him. But, perhaps it could be his biggest mistake as well. Yup, karena dia terlalu lembut dan mencintai, karena dia memberikan Anya kesempatan besar untuk membiarkan pernikahan mereka penuh dengan kesunyian selama berbulan-bulan. Don't get me wrong, but laki-laki harus tegas, bukan? Meski in other side, aku suka cara pilihan Ale untuk memperbaiki rumah tangga mereka. (thanks to petuah Pak Jenderal). Somehow, aku hanya merasa Ale itu agak mustahil, nggak punya emosi karena bisa sesabar itu. But, maybe its because he's already found his queen. I accepted that.
But still, im a little bit bored of all Anya's logic. Aku merasa kalau perasaan sakit Anya itu dideskripsikan berulang-ulang sampai aku jenuh juga. Fortunately, karena alurnya maju-mundur, selipan-selipan nostalgia Anya tentang Ale membantuku mengembalikan semangat membaca lagi. The truth is, the best part of the story is Anya & Ale's romantic memories.
"Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit. It never gets easier."
Then, here comes the one and only Harris Risjad! Kemunculannya adalah yang paling kutunggu-tunggu setelah aku naksir dia di Antologi Rasa. Okay, sebelum review ini berubah jadi surat cintaku kepada Harris, lebih baik diakhiri aja bahasan Harris ini dengan satu kalimat, "balikin hati gue bisa, Ris?Okay, okay, I'm sorry, that sounds cheesy. But what am i, sih? Just a girl standing in front of Harris, asking him to love her. Ewwh, stop it!
Dengan segala kutipan dan analogi keren yang diciptakan Kak Ika, karakter-karakter yang sangat kuat (ditambah sekarang udah ada official cast-nya, bikin aku makin mudah membayangkan mereka), kompleksitas, perang antara hati dan otak milik Anya dan Ale, kenangan manis dan 'nakal' mereka (i can and cant imagine Reza Rahadian and Adinia Wirasti doing those), adanya keluarga Risjad, yang mau aku sambangi rumahnya setiap hari kalau mereka tetanggaku, aku akui aku cukup menyukai Critical Eleven.
Mungkin tidak sebesar Ale dan Anya menyukai satu sama lain, tapi cukup untuk membuat mereka tahu bahwa aku juga menyukai mereka berdua dan segala kerumitan kisah hidupnya.
"Berani menjalani hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali  atas perasaan kita terhadap orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita. That you're only as happy as the least happy person in a relationship."
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500

Book Review: Cress (The Lunar Chronicles #3) - Marissa Meyer


Judul: Cress (The Lunar Chronicles #3)
Penulis: Marissa Meyer
Penerbit: Penerbit Spring
Jumlah Halaman: 576
ISBN: 9786027150584
Harga: 115.000
Rate: 4.5 out of 5
"...jika ada yang diketahui Cress soal pahlawan, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak menyelamatkan seorang gadis yang sedang dalam kesulitan. Dan dirinya sedang dalam kesulitan."
Cress (The Lunar Chronicles #3), kali ini bercerita tentang kisah Crescent, seorang shell yang terperangkap dalam satelit canggih berisi berbagai teknologi internet. Cress adalah peretas andalan Sang Ratu Levana, setelah Sybil Mira, ahli sihir Bulan menyelamatkan Cress dari hukuman mati yang dijatuhkan pada seluruh shell.
Setiap harinya selama tujuh tahun, kehidupan Cress hanya berada dalam satelit itu. Dia tidak pernah keluar. Fasilitas internet yang dimilikinya pun dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi dari bumi dan melacak keberadaan Cinder Linh. Sampai suatu ketika, Cress berhasil mengirimkan titik koordinat satelitnya, dan meminta Cinder untuk menjemputnya, membawanya menuju kebebasan.
Sialnya, usaha itu digagalkan oleh Sybil yang menyandera Scarlet Benoit—salah satu kru Rampion—bersamanya. Dan membuat Cress serta Carswell Thorne, terkurung dalam satelit yang dijatuhkan ke bumi. Meski Scarlet dan Thorne akhirnya selamat, mereka harus bertahan hidup di sebuah gurun di Afrika. Berjuang untuk menghubungi Rampion agar Cinder tahu mereka baik-baik saja.
"...aku akan mati sendirian, tidak pernah dicium, tidak sekali pun."
Sementara itu, Cinder, Iko, dan Wolf yang terluka, mempercayai bahwa Thorne telah tewas. Mereka melanjutkan perjalanan ke Afrika untuk menyembuhkan Wolf, serta memikirkan kembali strategi agar gadis itu berhasil menghentikan pernikahan Kaisar Kaito dengan Ratu Levana yang dilakukan Kai demi aliansi dan vaksin Letumosis. Kai tidak tahu, bahwa bagi Ratu Levana, pernikahan itu punya maksud tersembunyi...
"Aku melakukan ini karena aku lah satu-satunya yang bisa. Aku akan menggulingkan Levana dari kekuasaannya. Aku akan memastikan dia tidak bisa melukai siapa pun lagi."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
Aku dulu membaca Cinder, dan kisahnya sangat mengesankan. Aura dystopia, fantasi, dan science-fiction yang begitu kental, serta orang Bulan, virus Letumosis, CyborgAndroidHover, yang dipadupadankan dengan dongeng-dongeng, sangatlah orisinal dan brilian. Begitu juga dengan Cress.
Cinder adalah re-telling story CinderellaScarlet adalah Red Riding Hood, dan Cress adalah Rapunzel, lengkap dengan rambutnya yang panjang dan pengandaian kurungan satelit sebagai menara yang tinggi. Serta Sybil sebagai penyihir jahat yang mengurungnya, dan Thorne sebagai pangeran tampan. Tetapi, Thorne sangat kontradiktif dengan pangeran Rapunzel. Thorne adalah buronan dalam novel ini.
Menurutku, porsi dalam cerita dibagi dengan rata. Jika di bab awal terpisah, hanya dari sudut pandang Cress kemudian kru Rampion. Setelah insiden dengan Sybil, mereka terpecah, cerita berlanjut dari sudut pandang Cinder, Cress, dan Scarlet. Berulang-ulang seperti itu, hingga akhirnya garis mereka bertubrukan lagi.
"Dia membenci Levana. Dia membenci dirinya sendiri karena menyerah kepada wanita itu."
Kisah dalam Cress lebih kompleks, sebab ketambahan banyak karakter yang bahkan baru aku ketahui (aku belum membaca Scarlet). Meski begitu, aku masih bisa mengikuti ceritanya sebab rentang waktu yang terjadi antara novel Cinder dan Cress tidak terlalu jauh dan peristiwa di dua novel sebelumnya banyak disebutkan kembali dalam Cress.
Cress punya banyak kelebihan. Concern novel ini tetap pada cara bagaimana mengakhiri kekuasaan Levana dan menghentikan penyebaran Letumosis. Yang membuat seru adalah perjalanan mencapai tujuan tersebut, serta adanya plot twist di pertengahan novel yang berujung kesedihan.
Kru Rampion yang menjadi buronan, tentu harus bergerak secara sembunyi-sembunyi, meskipun telah berusaha tidak terlihat, ada saja hal-hal yang menjegal mereka. Dan itu ikut membuatku harap-harap cemas mengetahui bagaimana nasib mereka selanjutnya. Mereka dihadapkan dengan hal-hal yang membuat nyawa mereka terancam. Luka-luka dan rasa sakit sudah seperti makanan sehari-hari.
"Itu untuk kebaikan semua orang, bukan? Pengorbanan harus dibuat."
Cress sangat unik. Dirinya seperti orang yang baru keluar dari goa. Tentu saja, karena dia tidak pernah bersentuhan langsung dengan apa-apa yang ada di bumi. Polosnya, naifnya, rapuh dan hopeless romantic-nya diimbangi dengan kemampuannya menguasai sistem telekomunikasi yang canggih. Karena itu, karakternya jadi lovable.
Bayangkan, tokoh dengan sifat seperti Cress, dipersatukan dengan Thorne yang pemberontak yang punya skill berbohong cukup baik; Cinder yang bersikap layaknya pemimpin namun dia tahu dia tidak bisa melakukan semuanya seorang diri; Wolf, mantan pasukan spesial kerajaan Bulan yang begitu romantis hanya kepada Scarlet. Sementara, Scarlet adalah gadis bermulut tajam. Dia kuat.
Alur Cress berjalan sangat lambat, maka wajar tebal novel ini mencapai 500+ halaman. Adegan-adegan dideskripsikan dengan sangat detail oleh Marissa Meyer. Hingga adegan dalam satu tempat dan satu waktu pun bisa menghabiskan satu bab tersendiri.
"Tidakkah pernah Anda merasa dia bisa menjadi bagian dari keluarga Anda? Tidak pernahkah Anda menganggapnya sebagai salah satu putri Anda?"
Tentu, novel dystopia memerlukan penjelasan yang panjang agar pembaca dapat terbawa suasana dan dapat memproyeksikan tiap kata ke dalam gambaran yang ada di benak masing-masing. Hanya saja, di beberapa bagian, bahasa yang digunakan terlalu sulit meski itu adalah bahasa Indonesia.
Terjemahannya sangat bagus, tidak kaku, dan membuat aku nyaman membacanya. Typo pun hampir nol.
Untuk kalian yang menyukai genre dystopia, fantasy, science fiction, dan young adult, untuk kalian para perempuan yang cinta dengan tokoh-tokoh putri dongeng, untuk kalian yang mengagumi hasil imajinasi seseorang yang hebat, untuk kalian yang menyukai hal berbau futuristik. Cress dan Lunar Chronicles yang lainnya (Cinder, Scarlet, dan Winter). Kalian sangat, sangat, dan sangat wajib mengoleksi seri ini!
"Semuanya selalu kembali pada cinta.  Lebih dari kebebasan, lebih dari penerimaan—cinta. Cinta sejati, seperti yang mereka nyanyikan di era kedua. Cinta yang mengisi jiwa seseorang. Cinta yang membawa dirinya ke tindakan-tindakan dramatis dan pengorbanan. Cinta yang tidak bisa ditahan dan meliputi segalanya."
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500

Book Review: Deessert - Elsa Puspita

Judul: Deessert
Penulis: Elsa Puspita
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah Halaman: 324
ISBN: 9786022911982
Rate: 4 out of 5
"Tidak ada rasa sakit atas kehilangan yang akan sembuh secepat kilat. Dia sudah merasakan sendiri bagaimana luka itu seperti tidak pernah mau mengering. Tidak bia disembuhkan, hanya bisa diabaikan. Kadang, dia meluapkan sakitnya sejenak. Namun, ketika disenggol, perihnya kembali."
Naya memutuskan untuk berhenti dari dunia presenting di layar kaca, setelah tahu bahwa rating acara yang dibawakannya anjlok. Perempuan itu kembali ke Palembang, kampung halamannya, untuk beristirahat. Naya kembali bertemu dengan Lulu, sahabatnya yang selalu menetap di Palembang.
Sejak lulus kuliah dulu, Lulu hanya membantu usaha katering ibunya. Tak ada yang berubah dari Lulu, selain kenyataan bahwa perempuan itu akan menikah dengan calonnya yang bernama Arfan, seorang head chef yang juga baru berhenti dari pekerjaannya.
Selain jenuh dengan pekerjaannya, Naya sebenarnya tergiur dengan tawaran Lulu yang ingin membuka usaha tempat makan sendiri, dengan Arfan sebagai head chef mereka. Naya tentu setuju karena ia cinta sekali dengan kuliner, meski sebenarnya mimpinya dulu adalah membangun toko pastry bersama Dewa, adik Lulu, yang juga mantan pacar Naya.
Dewa kini telah bekerja sebagai chef pastry profesional di Australia, bekerja di restoran berbintang, dengan kehidupan nyaman dan kekasih yang selalu menemani. Ava namanya. Namun setelah Dewa memergoki Ava selingkuh, semakin yakin keinginannya untuk meninggalkan karirnya di Australia, selain karena masa kontraknya sudah habis.
Naya kembali dipertemukan dengan Dewa lewat Dapoer Ketje, restoran yang dibangun oleh dirinya, Lulu, dan Arfan. Ketika melihat wajah Dewa, rasa benci Naya kembali memuncak, teringat bagaimana dulu cara Dewa 'menggantung' hubungan mereka. Naya dan Dewa kini layaknya anjing dan kucing.
"Mereka tidak sadar, semua kisah harus memiliki akhir, termasuk kisah mereka. Tidak peduli sebanyak apa pun ruang kosong yang disisakan."
Sikap ketus Naya selalu dibalas dengan sikap acuh Dewa, hal itu pun membuat Naya semakin memendam kekesalannya, terlebih lagi ketika Dewa diminta Arfan menjabat sebagai head chef pastry untuk sementara. Namun, kebencian itu mulai mereda seiring dengan intensitas pertemuan mereka. Naya sudah mau membuka diri untuk Dewa, hingga tiba-tiba Ava, mantan Dewa, menyusul Dewa untuk meminta penjelasan, tentang cincin lamaran yang tertinggal di apartemen mereka dulu...
"Semua yang dipendam dan diabaikan pada akhirnya akan layu dan mati."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
First Impression
Aku nggak pernah membaca karya Elsa Puspita sebelumnya, meski aku tahu namanya. Sampai ketika ada seri YummyLit ini. Percaya atau nggak, kovernya yang bikin aku tertarik. *tetep, ya.* Kovernya manis, semanis nama makanan-makanan yang tersebar dalam tiap serinya.
Aku pun nggak baca sinopsisnya. Aku memutuskan baca Deessert terlebih dahulu dibandingkan yang lain karena aku melihat rating-nya di Goodreads cukup bagus. Beberapa review singkat dari teman-teman reviewer juga membuat makin yakin.
Plot
Di awal halaman, Deessert dibuka dengan perkenalan singkat mengenai siapa Naya, Lulu, dan Dewa ketika mereka masih duduk di bangku sekolah. Kemudian dilanjutkan dengan melompat ke beberapa tahun kemudian dimana Naya telah berumur 27 tahun dan bekerja sebagai presenter acara Pekan Kuliner di televisi.
Cerita mengalir dengan baik, memperlihatkan sedikit kehidupan dari Naya di Jakarta, juga kehidupan Dewa di Australia. Kemudian mereka sama-sama pulang ke Palembang. Penulis mulai menyajikan clue bahwa hubungan Naya dan Dewa dulu nggak berhasil dan masih menyakiti hati Naya hingga kini.
"Satu hubungan harus beralan dua arah. Nggak bisa cuma kamu, atau cuma dia. Harus dua-duanya."
Di halaman-halaman selanjutnya, semakin jelas mengapa hubungan Naya dan Dewa yang awalnya manis, malah kandas di tengah jalan. Aku diajak mengintip sedikit bagaimana kehidupan cinta mereka dulu melalui flashback Naya. Itu cukup meyakinkanku dan membuatku merasa hubungan Naya dan Dewa sangat dalam. Yang aku sukai adalah background story-nya Dewa yang cukup unik.
Konflik-konflik kecil antara Naya dan Dewa membuat aku gemas. Kemudian disusul dengan perkembangan hubungan mereka yang meski nggak melaju drastis, setidaknya nggak stagnan. Mereka nggak forever remain silent. Kemudian, di tengah-tengah, muncullah dua ujian dalam bentuk mantan pacar masing-masing yang bisa jadi menguji kepercayaan mereka yang masih sangat kecil.
Meet The Hero/ine
Naya, aku anggap adalah perempuan yang cukup naif, dimulai ketika ia merasa bahwa keputusannya memacari Dewa yang fisiknya dulu sangat jauh dibawah standar Naya, akan membawa perubahan besar. Kemudian, Naya dideskripsikan sebagai perempuan yang cantik dengan kulit putih, mata bulat, dan hidung mancungnya. Satu sifat Naya yang paling saya ingat adalah, kekanak-kanakan, emosional, dan cenderung mengedepankan ego dibandingkan akal sehat.
"...sejak kapan logika dan hati berjalan dalam satu garis lurus?"
Terbukti ketika setelah sekian lama tidak melihat Dewa, sekali bertatap yang dilakukannya adalah meninju pipi laki-laki itu. See? Emosional banget, kan? Nggak mikir di depan mereka ada kakaknya Dewa.
Rasa sakit Naya seharusnya nggak bisa dijadikan pembenaran untuk perempuan itu agar bisa melampiaskan emosi semaunya. Apalagi di usianya yang dewasa itu. Tapi, memang usia nggak mencerminkan kedewasaan, sih.
Naya juga tipe orang yang denial. Ya wajar lah perempuan juga banyak yang kayak gitu, di hati mah masih suka, tapi tingkahnya malah menunjukkan sebaliknya. Lalu, Naya juga terlalu ramah menurutku, ketika ia mau diajak bertemu dan makan malam dengan Dipati Ary, mantannya. Terlepas dari apa maksud Naya.
Sementara Dewa. Dulunya dia cupu banget. Kacamataan, kurus cungkring, nerd, nggak ada lah cewek populer semacam Naya yang mau dekat-dekat dengan dia. Tapi, beberapa tahun kemudian dia bertransformasi jadi cowok hot. Badannya proporsional, rambutnya gondrong, sesekali dipakaikan headband agar nggak menganggu kerjaannya saat memasak. Tapi sifatnya tetap pendiam, dingin, cuek, nggak ekspresif.
Dia juga penganut prinsip "perjaka sampai nikah", dan menganggap tinggal bersama cewek yang bukan muhrimnya adalah hal tabu. Disitu aku bisa menaruh respek mendalam kepadanya.
Tetapi, ketika dia akhirnya memutuskan untuk berniat melamar Ava, di saat sebelumnya dia tahu bahwa mungkin Ava bukanlah the one, aku mulai kehilangan respekku. Menurut logikaku, ketika seorang cowok sampai berniat melamar cewek, dia sudah yakin cewek itu yang terbaik dan (seharusnya) keyakinannya nggak akan goyah sekali pun cinta lama datang lagi.
"Rasa rindu yang tidak bisa terlampiaskan selalu bisa membuat siapa pun tidak mau berpikir logis."
What I Like The Most
Dapoer Ketje dan Deessert! Aku suka setiap adegan yang berlatar di Dapoer Ketje, apalagi ketika persiapan membuka restoran itu. Aku ikut merasakan kesibukannya, keseruan mereka saat menentukan menu yang unik yang sesuai dengan konsep makanan tradisional yang berpadu dengan makanan modern Barat. Sumpah, bikin ngiler! Membaca ini sukses membuatku langsung memesan spageti, pudding, serta sate Jepang dan memakannya saat itu juga. :))
Beberapa makanan unik, berhasil diciptakan oleh Arfan dan Dewa. Yang paling kusukai adalah cemilan-cemilan yang berbentuk bahan dasar makanan, seperti jahe dan bawang, tapi aslinya itu adalah pastry-pastry manis. Ini ide yang cukup orisinil kalau memang diciptakan sendiri oleh Elsa Puspita, dan aku salut. Menu-menu yang aneh-aneh itu pun dan deskripsi dari apa menu-menu itu dibuat dan bagaimana disusunnya pun sangat menarik. Contohnya Tenderloin Steak Saus Rendang, dan masih banyak nama makanan lainnya yang serupa.
Aku juga suka karakter Damar sebagai kakak Naya yang overprotektif. Aku suka pertimbangannya tentang pernikahan dan pola pikirnya tentang tanggung jawab, hingga akhirnya ia mengambil satu keputusan penting. Itu manis. Kepeduliannya pada keluarga sangat besar.
Nama-nama karakter yang dikarang Elsa Puspita pun punya keunikan sendiri. Di saat penulis lain berlomba-lomba membuat nama yang kebarat-baratan, atau nama yang modern. Nama tokoh yang ditawarkan penulis berbau lokal namun susunannya pas dan indah. Contohnya, Kinara Gayatri Adiharja, Sadewa Banyu Sastrawirya, Dipati Ardajsyah Putra, dan Damara Saka Adiharja.
Karena beberapa faktor-faktor itu, Deessert yang memiliki tebal 324 halaman, dapat aku habiskan dengan sekali baca dan aku nggak berasa sudah membalik halamannya berkali-kali hingga halaman terakhir. Kalau boleh jujur, jarang aku bisa membaca tanpa ada rasa jenuh begitu. Biasanya, alur lambat itu yang membuat aku capek membacanya, tapi Deessert seakan membuat kejutan-kejutan kecil yang memaksa aku tetap 'melek' hingga halaman terakhir. Adanya makanan-makanan itu-lah yang paling menarik minatku.
What I Don't Like
Selain sifat Dewa tadi, hal lain yang nggak kusukai adalah keberadaan Dipati, yang menurutku nggak lebih dari sekadar angin yang lewat. Aku rasa, kehadiran Ava harusnya lebih dari cukup. Biar nggak semakin banyak kebetulan yang ada dalam novel ini. Kebetulan Naya dan Dewa sama-sama berhenti dari pekerjaan, kebetulan mantan-mantan mereka datang menganggu mereka lagi.
Critics
Kepopuleran Dipati agak menggangguku. Walaupun followers-nya 900 ribu-an, kayaknya artis di Indonesia seterkenal apa pun nggak perlu pakai kacamata hitam atau memakai apapun untuk menyamarkan identitas, deh. Sebab, di Indonesia jarang banget ada wartawan yang mau mengikuti kegiatan artis yang cuma makan atau nonton walaupun sama pacarnya. Paling, kalau ada acara premier film, baru banyak wartawan.
Di Palembang juga, Dipati ini agak berlebihan pakai kacamata hitam, toh di Indonesia kan wartawannya nggak semengganggu itu. Nggak kayak paparazzi di Amerika sana, atau Dispatch di Korea Selatan yang mengintili artisnya kemana pun. Bahkan di Barat, sampai rumahnya pun diintai. Dan di Korea Selatan, yang mengabadikan momen artis-artis yang dating diam-diam.
Kemudian, kalau aku nggak salah. Di bab Opening, tertulis 'Palembang, 2004' sebagai tempat dan tahun. Dan disitu dikisahkan Naya dan Lulu masih SMA. Sementara di bab berikunya, tempat dan tahunnya tertulis 'Jakarta, 2004', sementara Naya telah bekerja dan berumur 27 tahun. Mungkin itu kesalahan kecil yang terlewat oleh penulis.
Sekadar saran, kalau bisa penulis menjelaskan mengapa Kinara dipanggil Naya. Sebab ketika nama lengkap Naya muncul, kemudian langsung berganti dengan Naya tanpa penjelasan, aku agak bingung. Malah, awalnya aku pikir Kinara itu karakter baru hingga aku membacanya lagi. Bukan sesuatu yang penting sih, tapi memang Kinara dan Naya itu dua nama yang cukup berbeda.
Ada juga kesalahan pengetikan pada halaman 302. Di halaman itu tertulis 'Naya memanggut bibirnya', seharusnya penulisannya adalah memagut menurut KBBI. Lalu pada halaman 280, ada kalimat 'Everyone can be replace', seharusnya adalah 'everyone can be replaced'.
Ending
Ending-nya sesuai ekspektasi, meski aku rasa Dewa seharusnya bisa lebih dewasa lagi dalam menjelaskan sesuatu untuk menyelesaikan masalahnya. Ending-nya memang mudah ditebak, tapi proses menuju ending-nya itu yang membuat kisah ini seru. Aku rekomendasikan Deessert bagi orang-orang yang merasa antara passion dan pekerjaan nggak sesuai, mungkin disini ada jawabannya. Lalu, bagi para pencari kisah manis dan makanan lezat serta kue-kue manis tentunya, yang dibalut dengan kehangatan keluarga, Deessert punya semua yang kamu cari!
tumblr_mp6icgbVr81rm6jd7o1_500.png
"If you make a girl laugh, she likes you, but if you make her cry, she loves you. But, the real gentleman never wants to make his girl cry, doesn't he?"

Book Review: Insecure - Seplia


Judul Buku: Insecure
Penulis: Seplia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 240
ISBN: 9786020327662
Harga: 60.000
Rate: 4 out of 5
"Beberapa orang nggak siap jadi orang tua, yang lainnya stres karena beban hidup. Orang baik bisa berubah jahat kapan pun itu kalau dia terjepit oleh keadaan yang nggak menguntungkan."
Apa jadinya jika kamu adalah satu-satunya orang paling pendiam di kelas? Mungkin yang kamu alami sama seperti Zee Rasyid. Anak perempuan itu tidak punya teman lain selain teman sebangkunya, Sam Alqori, yang merupakan berandalan kelas. Sam pun duduk sebangku dengan Zee hanya karena butuh sontekan dan ingin tidur dengan bebas di kelas. Sam sering terlambat, pemalas, sering beradu mulut dengan guru. Tingkahnya berbanding terbalik dengan Zee yang pendiam, penurut, dan pintar. Tidak ada yang yang menghubungkan keduanya kecuali sontekan dan memar-memar yang ada di tubuh Zee.
"Ternyata kita tidak bisa belajar untuk mencintai, sebab hati kita akan mencintai dengan sendirinya. Jauh dari dalam lubuk hati ini, kita tahu sebenarnya kepada siapa hati kita memilih jatuh."
Sudah beberapa kali Sam menunjukkan sikap ingin tahunya, tapi melihat reaksi Zee yang tak mau menjawab. Sam urung melanjutkan niatnya, apalagi, teman dekat slash saudaranya, Vini, juga melarangnya. Meski begitu, Sam jadi memberikan perhatian lebih kepada Zee, terlebih setelah dia menemukan gadis itu seorang diri di depan ruang BK. Setelah itu, Sam berkeinginan untuk mengantar Zee, lalu mengajak Zee main ke kedai mi ayam ibunya. Mereka juga semakin dekat sejak Sam meminta bantuan Zee untuk mengajarinya tes untuk masuk Polri.
"...Kamu harus menyelami dirimu sendiri dari sekarang. Tanya hatimu. Jangan dengar bisikan orang lain. Mereka cuma setan yang memberatkan kita. Percayalah."
Zee menyimpan rahasia. Di rumahnya, tak ada yang tahu ia suka ditampar dan didorong ibunya. Zee tidak tahu mengapa, tapi yang ia tahu, kemiripannya dengan sang ayah yang membuat emosi ibunya selalu bangkit. Meski Zee tidak salah, meski Zee tahu dirinya tidak melawan ibu, tubuh Zee tidak pernah lepas dari lebam-lebam. Zee juga tidak pernah tahu dimana ayahnya sekarang, yang diketahuinya hanyalah kenyataan bahwa sang ayah telah kembali ke mantan pacarnya dan menikah lagi. Rasa-rasanya Zee tak sanggup meninggalkan ibunya sendirian, apalagi ketika sang ibu kerap memohon agar Zee tetap tinggal, meski Zee harus berhadapan dengan mautnya sendiri...
"Begitulah kalau sudah cinta dan sayang sama seseorang. Logika jadi tumpul."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
First Impression
Wow. Kata itu tepat untuk menggambarkan apa yang aku temui dalam buku ini. Penyiksaan dan kekerasan yang diterima Zee saya pikir sangat parah. Aku bahkan sampai ikutan menahan napas saat membaca klimaks yang melibatkan ibu Zee dan Zee di rumahnya. Gila.
Dari gambaran diatas, tentu teman-teman sudah tahu novel ini berkisah tentang kekerasan. Ada kekerasan yang dialami anak yang dilakukan ibunya, ada juga kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh ibu Sam. Pembuka novel ini sangat tepat, ketika Seplia membawa serta KPAI dalam tulisannya, kemudian gelagat Zee yang aneh. Mulai dari situ aku semakin serius mengikuti kisahnya.
Baca juga: Replay - Seplia
Meet The Hero/ine
Zee sebagai karakter utama, punya sifat yang terbilang sangat pasrah. Di awal, aku merasa Zee begitu bodoh nggak bisa berbuat apa-apa bahkan nggak mau cerita ke siapa-siapa meski dia tahu kemana harus melapor. Alasannya simpel; dia menyayangi ibunya. Dia nggak bisa meninggalkan ibunya. Dia nggak mau merasa sebagai anak kurang ajar karena melaporkan ibunya sendiri.
Tapi lama-lama aku agak bisa menerima juga. Namun, kalau aku memposisikan diri sebagai Zee, mungkin iya aku akan bertahan, tapi tetap aku akan bercerita. Makanya, saya pikir Zee orang yang sangat pasrah bisa bertahan setelah diperlakukan sedemikian rupa. Pikirannya nggak panjang. Manusia selemah apa pun, seharusnya bisa bertindak jika ditindas. Semut yang kecil diinjak saja gigit.
Kemudian Sam. Ini dia pahlawan kita dalam Insecure. Anak berandalan yang tingkahnya rada kurang ajar walau ke orang yang lebih tua. Dan benar adanya, kok. Banyak teman-teman aku di sekolah dulu yang seperti itu. Potret anak-anak seperti Sam ini kadang membuat miris. Dia tentu akan tidak disukai banyak orang, akan dinilai rendah. Tetapi biasanya, orang seperti ini rasa kepedulian, solidaritas dan rasa perhatiannya sangat tinggi.
unnamed
Dan terbukti juga pada Sam. Tingkah Sam ini natural, dia masih remaja, dan belum bisa berpikir panjang apa akibat dari tindakan yang dia ambil. Main asal jotos, main asal menyumpah, main asal jeplak kasar. Tapi itu-lah remaja. Aku suka Sam yang responsif terhadap apa yang dialami oleh keluarganya. Aku suka pada Sam yang bertransformasi jadi anak pemberani. Tingkahnya itu nggak lebih dari pembelaan diri atas apa yang dialaminya selama ini, meski lagi-lagi itu nggak patut dicontoh.
What I Like The Most
Aku juga suka keputusan Seplia karena nggak mendeskripsikan Sam sebagai cowok berandal dengan fisik menawan. Satu lagi, aku suka cita-cita Sam dan keinginannya, untuk bangkit dari keterpurukan.
Di novel ini, semua fenomena yang terjadi di masyarakat diungkap dengan jelas. Semuanya realistis, blak-blakan. Seperti misalnya tes masuk Polri yang ternyata begini, lalu Sam dan Vini yang sangat jujur-jujuran tentang kehidupan menengah kebawahnya.
Feelings
Aku agak sedikit related dengan novel ini karena aku punya teman dekat, yang berasal dari kalangan kurang mampu juga, mirip banget Sam keadaan keluarganya (minus bapaknya tukang gebuk), hobinya nyontek! Sampai-sampai pas UN pun masih nyontek. Maunya kerja aja, atau nggak ngambil jurusan olahraga karena jago gulat. Tapi pas disuruh daftar SNMPTN dia nggak mau, simply karena nggak ngerti caranya dan nggak mau tahu. :)) Terus dia maunya jadi polisi, eh nggak lulus di tes psikologi, dan akhirnya sekarang kerja. Jadi aku lumayan bisa memahami tingkahnya Sam ini karena mirip banget dengan teman dekatku. Solidnya juga sama.
Ending
Ketika memasuki bagian klimaks hingga penyelesaian konflik, aku pikir sudah baik terlepas dari sikap Zee yang masih kekeuh itu. Aku salut kepada Seplia yang memberikan ending seperti itu, yang berhasil berpengaruh pada kehidupan semua pihak. Nggak ada yang menderita sendirian, nggak ada yang bahagia sendirian.
Mungkin realistisnya begini, karena pun kata orang, kalau belum bahagia, berarti itu bukanlah akhir. Meski ending yang aku harapkan bukan seperti itu, pilihan penulis mampu membuka mataku tentang pentingnya berada di sisi orang lain yang membutuhkan.
Critics
Ada beberapa hal yang menurutku sedikit kurang pas. Seperti ketika Sam bertemu dengan polisi yang sedang mengintai buronan dan memakai seragam lengkap. Di pikiranku, kenapa kalau polisi sedang mendekati target begitu malah harusnya menyamar, ya? Biar targetnya nggak kabur.
Lalu juga, ada dokter yang kemana-mana pakai jas putihnya, sampai ke mall pun dan ke jalanan pun dipakai. Ya, agak gimana gitu. Kemudian, adegan si Vini sedang baca novel sementara di depannya ada adegan mengharukan. Apa nggak awkward? Apa masih bisa konsentrasi, ya?
Ya sudahlah itu cuma beberapa koreksi kecil dan aku tetap suka dengan novel ini. Baca ya, bisa meningkatkan awareness kita terhadap pentingnya keberadaan Komnas perlindungan dan kepada orang sekitar yang bisa saja mengalami kejadian serupa Zee. :))
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500
"Hidup bukanlah susunan kalimat teratur yang sesuai dengan kaidah. Akan ada hal-hal yang terjadi di luar prediksi. Tidak selalu terang, dan tidak selalu kelam. Kadang rapi, kadang berantakan."

Book Review: The Chronicles of Audy: O2 - Orizuka

On
Sunday, 29 January 2017

Judul: The Chronicles of Audy: O2
Penulis: Orizuka
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 364
ISBN: 9786027742864
Harga: 71.000
Rate: 5 out of 5
"Keluarga memang lebih baik saat berkumpul. Tapi walaupun tidak berkumpul, keluarga tetap keluarga."
Buku keempat dari Kronik kehidupan seorang Audy Nagisa. The Chronicles of Audy: O2 merupakan lanjutan dari buku sebelumnya—4/4. Audy kali ini dipusingkan dengan pernyataan Rex Rashad yang sangat tiba-tiba.
Cowok itu sebentar lagi akan berangkat ke MIT untuk mengejar gelar sarjana s1-nya, dan dia meminta Audy untuk menunggunya selama dua tahun dan dia bilang akan kembali untuk menjemput Audy! Sementara, Audy juga sudah geram dengan keberadaan Ajeng yang sangat cocok jika disandingkan dengan Rex. Sama-sama anggota Team Elite.
"Aku pernah tidak melihatnya selama beberapa hari dan itu rasanya menyakitkan. Sekarang, bagaimana bisa aku menunggunya selama empat tahun tanpa melihatnya sama sekali?"
Belum puas rasanya semesta membebani Audy dengan pengerjaan skripsinya yang tidak kunjung selesai, permasalahan internal keluarga 4R juga menyita perhatiannya.
Maura yang selalu murung tiap kali selesai berinteraksi dengan Rafael yang masih menganggapnya asing; Rafael yang cenderung takut dengan Rex hingga Audy dan Romeo berusaha sangat keras untuk mendekatkan mereka berdua.
Sialnya lagi, kini Romeo, si R3, yang selalu bertingkah konyol dan jenaka, mulai menunjukkan sisi lainnya kepada Audy, keseriusannya. Romeo seperti meminta perhatian lebih Audy, ketika dia bertanya, apakah dirinya tidak cukup dibandingkan dengan Rex?
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
Keempat buku dari seri Audy ini sukses membuatku jatuh cinta. Itu kesimpulannya. Perasaan yang kudapat setelah membaca O2 tidak jauh berbeda dengan apa yang kurasakan setelah menamatkan 3 buku sebelumnya.
Seri Audy ini lebih menitikberatkan pada kehangatan keluarga, yang sangat mendominasi isi cerita. Tanpa adanya romans berlebihan dan drama kacangan, cerita ini sudah sangat 'ramai'.
Bermodal proses pendekatan antara orang-orang yang berkarakter jauh berbeda, novel ini berhasil memberikan sensasi keseruan yang sama ketika aku membaca novel lainnya dengan masalah yang lebih kompleks. Misalnya pembunuhan, perselingkuhan, kematian, kekerasan.
"Kamu nggak perlu menjanjikan apa pun. Kamu cuma harus percaya sama aku. Kamu harus percaya kalo di dunia ini, kamu adalah orang yang paling aku butuhkan."
O2 punya caranya tersendiri untuk menghibur pembaca. Narasi-narasinya yang ringan dan kocak, karakter-karakter yang sangat mudah dicintai, dan ide cerita yang unik, membuat buku ini sangat digemari.
Regan yang sabar dan bijak, Romeo yang tengil dan kekanakan, Rex yang dingin dan jenius, dan Rafael, balita 'ajaib' yang kadang kurang sopan, tapi bisa mencuri hati siapa pun hanya dengan tingkah polosnya. Audy adalah salah satu orang paling beruntung dengan menjadi baby sitter Rafael.
Siapa yang nggak tersentuh melihat interaksi manis yang terjadi dalam satu keluarga yang anggotanya bertolak belakang seperti itu? Kehadiran Audy ini sangat memberi warna baru bagi 4R.
"...jika mereka berharap dan berusaha, hal-hal indah mungkin menunggu mereka."
Aku suka bagian dimana Audy dan Romeo menyusun rencana untuk menciptakan bond antara Rex dan Rafael. Aku suka kenyataan dimana dibalik ketidakpedulian atau diamnya para tokoh, ternyata dibaliknya ada rasa peduli yang luar biasa besar.
Untuk kisah Audy sendiri, aku suka perkembangan karakter Audy yang (thank, God) bisa menyelesaikan skripsinya setelah 4 buku lamanya! Aku suka akhirnya dia tahu apa yang mau dikejarnya.
Aku suka motivasi yang diberikan karakter lain kepada Audy tentang cita-cita. Personally, itu cukup membantuku juga untuk optimis menggapai cita-cita. Kutipannya ngena banget.
"Katakanlah, ini adalah batu pijakanmu. Setelahnya, togamu. Setelahnya, buku-buku dan lebih banyak buku-buku. Kamu akan sampai juga di langit."
Kisah romansa Audy dan Rex tentunya juga mendapat spotlight. Meski perubahannya nggak melonjak-lonjak, meningat Rex kan kaku banget orangnya, tapi hubungan mereka nggak diam di tempat.
Yang bikin kagetnya, ada tokoh yang juga meminta perhatian Audy. Dan juga dia-lah yang menimbulkan twist yang sulit ditebak sekaligus sangat menyentuh.
Begitu banyak rasa yang aku dapatkan setelah membaca O2. Naik turun. Kadang lempeng (because somehow, di awal-awal halaman aku ngerasa Kak Orizuka bingung mau ngebawa cerita kemana, tapi setelah misi bonding Rex-Rafael, hal itu udah nggak berasa), kadang merinding, kadang berbinar-binar, kadang mau nangis, kadang ngakak (thanks to Romeo), campur aduk rasanya.
"Ketika saat itu datang, apa mereka akan menyesali apa yang tidak terjadi? Menyesali momen-momen yang seharusnya bisa terjadi jika mereka mau membuka diri?"
Novel ini kayak paket komplit. Kamu cuma dikasihtau kisah satu keluarga, tapi kamu bisa dapat pelajaran tentang kebersamaan, pentingnya mengetahui sisi luar dalam satu sama lain, perlunya optimis mengejar mimpi, cara biar nggak end up jadi orang yang selalu merasa dirinya inferior, dan bagaimana tetap bertahan meski masalah datang silih berganti.
Big thumbs up untuk Orizuka yang sudah menulis seri Audy. Aku cukup sedih karena hanya sampai disini pertemuanku dengan 4R1A. Mereka itu membekas banget. Terutama Rafael, karena aku sampai ingin punya adik kayak dia. Dan Romeo, sebab aku sampai halu punya pacar kayak dia.
Percaya nggak sama yang aku paparkan diatas tadi? Kalau nggak percaya, buktikan sendiri, ya. Aku jamin kalian bakal hangover setelah baca seri Audy. Semuanya.
Karena itulah yang aku dan pembaca lainnya rasakan. Rasa nano-nano setelah membaca buku ini-lah yang bakal bikin susah move on ke buku lain.


"Seperti oksigen, keluarga ada di sekitarmu, di setiap tarikan napas, mengalir dalam darahmu. Walaupun kamu nggak bisa lihat, kamu tahu keluarga selalu ada bersama kamu."
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500