Reading Vibes

She Loved Books So Much That She Wrote One

Book Review + Giveaway: Online Wedding - Vicantika

On
Monday, 13 March 2017

Judul Buku: Online Wedding
Penulis: Vicantika
Penerbit: Elex Media
Jumlah Halaman: 276
ISBN: 9786020400518
Harga: 54.800
Rate: 3 out of 5
"Selamat datang di onlinewedding.com! Sudah dikejar target menikah tetapi belum menemukan pasangan yang cocok? Jangan khawatir, kami siap membantu anda untuk menemukan pasangan yang tepat. Kami juga akan membantu anda dari perkenalan hingga prosesi pernikahan. Tunggu apa lagi? Segera bergabung dengan onlinewedding.com dan temukan pengantinmu."
Kalian-kalian yang umurnya dinilai sudah matang untuk menikah, pernah dikejar-kejar pertanyaan 'kapan nikah?' khususnya dari orangtua? Kalau pernah, kalian senasib dengan Nara dan Arya. 

Kanarya Arfando Auriga adalah seorang lelaki muda berusia 30 tahun yang sudah sukses secara finansial. Dirinya menjabat sebagai manajer R&D di perusahaan milik ayahnya. Arya adalah lelaki yang sangat boros, hingga ibunya berpikir bahwa dia perlu kehadiran seorang perempuan sebagai teman hidupnya untuk mengatur keuangannya. 

Selain itu, ibu Arya yang sudah setengah mati ingin menimang cucu, semakin semangat ketika akhirnya Arya mau dipaksa untuk cepat-cepat mencari calon istri sebelum dirinya meluncurkan ultimatum-ultimatum selanjutnya agar Arya cepat menikah. Sebenarnya Arya tidak terlalu pusinh dengan pernikahan. 
"Kamu tahu kenapa kamu harus menikah? Supaya ada yang mengontrol keuangan kamu yang amburadul itu. Lagipula, sudah saatnya kamu memikirkan hal lain selain riset-riset kamu itu. Mami nggak habis pikir sama kamu, gimana bisa kamu lebih milih proyek dan riset sana-sini daripada perempuan cantik di luar sana."
Belum lagi, dirinya masih dibayangi oleh sosok Silvana, mantan pacarnya yang dulu pernah meninggalkannya.

Hingga dia bertemu Kaynara Asheeva Risfandi

Arya mulanya dibantu oleh Reifar, yang prihatin dengan kefrustrasian Arya untuk mencari calon istri. Lelaki itu berbaik hati mendaftarkan Arya pada biro jodoh online (onlinewedding.com), yang pada akhirnya malah mempertemukan dia dengan Nara, perempuan cantik pemilik biro jodoh sekaligus wedding organizer terkenal di Jakarta.

Nara juga sudah lama sendiri. Semakin terbebani dirinya ketika Lana, adiknya, berencana untuk 'melangkahi'-nya dengan menikah terlebih dahulu dengan Reifar. Hingga akhirnya dia menemukan sosok Arya, yang dinilainya sebagai Orlando Bloom KW. Dia terpesona, dan berharap Arya pun merasakan hal yang sama. 
"Aku juga berharap suatu hari nanti kebahagiaan seperti itu akan datang menghampiriku. Masa pemiliki biro jodoh malah belum punya jodoh?"
Ketika akhirnya mereka mengetahui bahwa keluarga mereka saling mengenal, dan telah merencanakan sesuatu kepada hubungan mereka, Arya dan Nara tak tahu, bahwa seorang dari masa lalu ingin kembali membawa masa-masa indah yang dahulu pernah ada, berusaha merebut kembali yang pernah menjadi miliknya. 

Mengancam cinta Arya dan Nara yang lambat laun perlahan timbul... 
"Aku sempat merasa bahagia karena hatiku dipenuhi dengan Arya. Bahkan ketika dia bilang dia juga mencintaiku, aku sangat merasa bahagia. Tetapi kenapa pada akhirnya dia menyakitiku? Bukankah dia bilang dia mencintaiku? Apakah mencintai harus selalu satu paket dengan rasa sakit? Tidak bisakah aku mendapatkan cinta saja?"

Aku bahagia banget ketika tahu novel yang harus ku-review dan kubuat postingan blog tour-nya adalah dari seri Le Mariage. Karena percayalah, seri ini bagus-bagus banget ceritanya, dan membuat pembaca terutama yang perempuan jadi ingin cepat menikah. XD

Keunikan kisah dalam seri Le Mariage: Online Wedding ini bermula ketika aku melihat judul buku ini. Online Wedding. Hingga akhirnya aku mengetahui, Nara, si tokoh perempuan punya situs biro jodoh online. Aku sebenarnya berharap Kak Vicantika lebih banyak mengeksplorasi dunia biro jodoh online dan mengaitkannya dengan takdir Arya dan Nara. 

Aku cukup menyukai cara Kak Vicantika menggambarkan dalam beberapa paragraf, kesuksesan biro jodoh milik Nara agar tidak hanya menjadi tempelan saja.

Aku menyukai ketika Kak Vicantika memberikan kisah-kisah calon pengantin yang merupakan klien Nara. Bagaimana rumitnya mereka meminta ini itu agar pernikahan mereka sempurna, bagaimana polanya ketika ingin menggelar sebuah pesta resepsi, bagaimana pusingnya wedding organizer mengatur pernikahan sesuai mau klien. Semua digambarkan dengan baik. 

Bahkan Kak Vicantika berbaik hati memberikan sedikit informasi tentang harga sewa gedung dan katering. Jadi bagi pembaca yang benar-benar ingin cepat menikah, bisa dipertimbangkan berapa budget yang harus dikeluarkan.

Kemudian masuk ke dalam karakternya. Hero kita kali ini adalah Arya. Menurutku, Arya adalah tipe cowok metropolitan, yang boros namun cukup untuk dikatakan sebagai pekerja keras, melihat komitmennya terhadap tugas yang dimilikinya. Namun, Arya bukanlah seorang lelaki yang bisa aku cintai karakternya. 

Meski digambarkan sangat mencintai pasangannya, namun sedikit banyak aku merasa bahwa Arya terlalu agresif, posesif, dan sedikit menggebu-gebu (when it comes to sex, lol) hingga tidak menggambarkan umurnya yang sudah kepala 3 Ingat, usia tidak menunjukkan kedewasaan.
"Jadi begini: hampir semua lelaki itu menyukai wanita cantik. Wanita cantik itu banyak, meski begitu, setiap lelaki pasti punya seorang wanita yang ingin dia lindungi."
Dengan Nara sebagai heroine, aku cukup menyukainya, ketika mengetahui bahwa dia adalah seorang bussiness woman yang mandiri. Tetapi, Nara terlalu mudah cemburu, dan egonya sangat besar. Dia sangat emosional, dan tidak bisa berpikir jernih when it comes to love. Persis dengan remaja jaman sekarang, yang mudah marah dan menangis ketika mendapati pasangannya melakukan hal-hal yang dituduhkan, yang belum tentu benar terjadi.

Dari semua itu, aku justru jatuh cinta dengan Zarocca, adik Arya yang.. ya Tuhan.. sangat-sangat cool. Aku suka dengan apa yang dikatakannya kepada Arya, ketika dia nggak sengaja melakukan kontak fisik dengan Nara di pesta pernikahan. Responnya itu nggak berlebihan dan bikin cringey, dan nggak bikin sebal juga karena terlalu cuek. Pokoknya, aku berharap semoga Kak Vicantika menulis novel lagi tentang kisah Zarocca. XD

Keunikan lainnya dalam novel ini adalah, nama kedua tokoh yang bisa dikatakan merupakan anagram dari nama satu sama lain. Kanarya dan Kaynara. Yang juga nantinya akan dijelaskan mengapa dua tokoh utama kita ini punya nama serupa. Tentunya nggak dibuat seperti itu tanpa alasan yang jelas, dong.

Ilustrasi laman onlinewedding.com, dan ilustrasi tampilan chat ketika para tokoh sedang berkirim pesan juga merupakan hal yang menjadi favorit-ku. Simple, sih. Tapi aku jarang menemukannya di novel lain.

Novel ini ditulis dengan POV 1, yang berpindah-pindah, terkadang dari sudut pandang Arya, lain lagi adalah Nara. Aku paling suka membaca kisah dengan POV 1, karena aku sedikit banyak bisa merasa sedang menjadi 'dia'. 

Hanya saja, aku sulit menemukan perbedaan berarti ketika aku menjadi Arya dan Nara dalam beberapa adegan. Saranku, mungkin Kak Vicantika bisa menggunakan kata 'gue' ketika cerita digelontorkan dari POV Arya, dan 'aku' untuk Nara. 

Untuk konflik yang tercipta, aku mungkin tidak terlalu puas, tetapi aku menyukai hal-hal lainnya berupa perjalanan cinta Arya dan Nara. Kedekatan-kedekatan yang dituliskan Kak Vicantika tentang kedua orang tersebut, hingga ending-nya yang menurutku sangat manis. 

Dan, sebagai bocoran, kalau kamu pernah mendengarkan lagu Brian McKnight yang berjudul Marry Your Daughter lalu baper, siap-siap baper untuk kesekian kalinya selesai membaca novel ini! 
"Pernikahan lebih rumit daripada segala tetek bengek wedding organizer yang sudah menjadi profesiku. Aku tidak pernah belajar bagaimana menghadapi gugup saat seorang pria akan mengambil alih tanggung jawab papa terhadapku seutuhnya. Aku tidak pernah mendapat ilmu bagaimana meredakan letupan emosi yang membuncah saat statusku akan berubah menjadi seorang istri. Dan... aku sama sekali tidak mendapat pengalaman bagaimana cara berjalan di hadapan penghulu."
***

GIVEAWAY!


Sebelumnya aku mau berterimakasih kepada Kak Rizky Mirgawati dan Kak Asri atas ajakan blog tour-nya kepadaku. :D 

Karena kami baik, hihihi, Kak Vicantika dan aku punya 1 (satu) eks novel Online Wedding untuk kalian yang beruntung. Yay! Mau? Mau? Mau?

Simak caranya dibawah ini ya.

1. Peserta berdomisili di Indonesia
2. Follow blog ini via GFC, Google +, atau email (wajib!)
3. Follow twitter @elexmedia, penulisnya di @Vicantika_ dan follow twitter saya di @fazidaa_. Untuk instagram, follow akun instagram @elexmedia, penulisnya di @vicantika, serta instagram-ku di @lalabook.land. Pilih salah satu, ya, bagi kalian yang mau share info blog tour ini lewat twitter atau instagram. Mau follow dua-duanya juga boleh. ^^
4. Di Twitter, bagikan info tentang blog tour dan giveaway ini ke sosial media teman-teman (twitter/instagram), sertakan link menuju postingan ini dengan me-mention @elexmedia, @Vicantika_ dan @fazidaa, disertai hashtag #OnlineWedding

Di Instagram, repost gambar tentang pos giveaway ini yang kuposting di instagram, mention @vicantika dan @lalabook.land  yaaa. Jangan lupa hashtag #BlogTourOnlineWedding

5. Tinggalkan komentar di postingan ini berupa nama, akun twitter/instagram, dan link share, dan jawaban dari pertanyaan dibawah ini:

"Berikan aku dua nama tokoh perempuan dan laki-laki dari anagram masing-masing (contoh: Kanarya dan Kaynara, yang menurut kamu bagus. Sertakan alasannya juga ya mengapa kamu memilih nama itu!"

Sekadar info, anagram itu adalah permainan kata yang jika suatu kata (biasanya kalimat) dibolak balik susunan hurufnya, bisa membentuk kata lain. Contoh: Tom Marvolo Riddle (I am Lord Voldemort)

6. Giveaway ini akan berlangsung selama lima hari, terhitung dari hari ini, tanggal 13 Maret - 17 Maret 2017
7. Pengumuman pemenang akan dilakukan paling lambat 3 hari setelah giveaway ditutup melalui akun twitter saya dan update blog setelah giveaway ditutup. 

Semoga beruntung!


Ask Author + Giveaway: Then She Smiles - Makna Sinatria

On
Tuesday, 7 March 2017


Holaa!

Pada blog tour kali ini, aku berkesempatan untuk memberikan tiga pertanyaan kepada Kak Makna Sinatria, penulis Then She Smiles. Setelah membaca review-nya disini, ada banyak hal yang bercokol dalam pikiranku mengenai Then She Smiles dan penulisannya. Syukurlah aku mendapatkan kesempatan ini. Bagi kalian yang penasaran, bisa disimak transkrip pertanyaanku dibawah ini ya. :D

Kenapa Kak Makna memilih setting di Bandung? Apa ada alasan khusus? Dan apa sebelumnya pernah terpikir untuk membuat latar fiktif? Sebab aku nggak pernah lihat rumah-rumah model Hexa dan Alena dengan balkon berdekatan di sini (atau mungkin aku yang norak :D)

Aku pernah main ke Bandung selama beberapa hari, waktu itu bulan Desember, dan sering hujan. I just really really love rain. Aku langsung jatuh cinta sama nuansa Bandung, entah kenapa rasanya adem dan romantis (nggak tahu kalau sekarang), dan setting kotanya itu lhooo, vintage banget nggak sih?

Tapi kalau daerah perumahannya Hexa-Alena dan rumah pohon Alena itu fiktif.    

Riou sang lelaki supergans! *.*

Saat proses menyelesaikan Then She Smiles, apa Kak Makna pernah mengalami kesulitan untuk mengarang adegan-adegan apalagi yang harus ditulis? Karena kebanyakan penulis pemula itu paling bingung untuk nulis adegan-adegan yang mengisi 'celah' antara adegan awal dan endingnya. 

Hmm… menurutku yang paling susah ada menjelaskan secara detail gerakan karakter-karakternya di tiap adegan. Kalau nggak detail, pembaca susah buat bayangin adegannya, tapi kalau terlalu detail juga bakalan bertele-tele. Aku suka baca novel dan komik, tapi pas baca kita nngak merhatiin gimana penulis jelasin gerakannya, rasanya udah otomatis ada di kepala (yang padahal dijelasin sama penulisnya). Nah bagian itu yang paling susah. Aku jadi harus baca novel-novel yang pernah aku baca lagi dan merhatiin gimana penulis mendeskripsikan gerakan karakter. 

Di antara Hexa, Alena, Altair, dan Riou, Kak Makna sendiri paling mengagumi karakter siapa? Dan kenapa? 

Hexa. Ada filosofi di balik karakter dia (dan Altair juga sebenernya, tapi dia nggak begitu kelihatan karena adegan ini ada di bab-bab terakhir). Pas baca pernah kepikiran nggak kenapa dianggak langsung lapor ke Altair atau polisi sekalian? Hexa ada di samping Alena buat mempertegas agency-nya Alena. Dia mendorong Alena buat mengambil keputusan sendiri dan mau berdiri buat menyuarakan perasaannya.

Tapi, personally, aku paling suka Altair sih, husband-material bangetx DD

Ini nih yang namanya, Altair. Cakep, ya? xD

***

GIVEAWAY!


Sebelumnya, sudah baca review Then She Smiles belum? Sudah? Nah, di giveaway kali ini teman-teman bisa mendapatkan versi mini Then She Smiles berupa notes cantik persembahan Penerbit Haru gratis loh! Simak caranya di bawah ini ya:

1. Peserta berdomisili di Indonesia
2. Follow blog ini via GFC, Google +, atau email 
3. Follow twitter @penerbitharu, penulisnya di @maknaKookie dan follow twitter saya di @fazidaa_. Boleh juga follow akun instagram @penerbitharu dan @maknakookie. ^^
4. Bagikan info tentang blog tour dan giveaway ini ke sosial media teman-teman, sertakan link menuju postingan REVIEW BUKU dengan me-mention @penerbitharu dan @fazidaa, disertai hashtag #ThenSheSmiles

Contoh: "Hola, mau ikutan blog tour dan giveaway #ThenSheSmiles nggak? Yuk klik link ini >> http://readingvibes.blogspot.co.id/2017/03/book-review-fanart-then-she-smiles.html (link review buku)"

5. Tinggalkan komentar di postingan ini berupa nama, akun twitter, dan link share
6. Giveaway ini akan berlangsung selama lima hari, terhitung dari hari ini, tanggal 7 Maret - 11 Maret 2017
7. Pengumuman pemenang akan dilakukan keesokan harinya melalui akun twitter saya dan update blog setelah giveaway ditutup. Semoga beruntung!

Book Review + Fanart: Then She Smiles - Makna Sinatria


Judul: Then She Smiles
Penulis: Makna Sinatria
Penerbit: Penerbit Haru
Jumlah Halaman: 244
ISBN: 9786026383105
Harga: 59.000
Rate: 3,5 out of 5
Intip giveaway-nya disini: 

Alena, gadis cantik yang rapuh. Setidaknya seperti itulah yang Hexa Rosseau pahami. Alena dan Hexa pertama kali dipertemukan oleh lembaran foto dan siluet Alena dari balkon kamarnya. Kala itu, Hexa merupakan tetangga baru Alena. Hexa, laki-laki blasteran Prancis dan fasih berbahasa Prancis, memutuskan untuk tinggal di Bandung bersama Riou, sepupunya. Hexa sangat menyukai dunia fotografi. Dia sangat menekuninya hingga telah menorehkan beberapa prestasi dalam bidang tersebut. Kini, dia bekerja di agensi iklan milik RiouR&Hsebagai fotografer. 

Tak disangka, gadis yang mampu mencuri perhatiannya pun menyukai fotografi. Bedanya, Alena, si gadis, menyukai fotografi instan. Hexa tertarik untuk ikut mempelajarinya, sekaligus ingin mengenal Alena lebih jauh. Alena yang tertutup dan hanya memiliki Ira sebagai sahabatnya. Meski begitu, Alena memiliki Altair, kakak tirinya yang sangat disayanginya, ibu kandung yang merupakan seorang wanita karir, serta ayah tiri. Namun, ada satu hal yang disembunyikan Alena tentang hubungannya dengan ayah tirinya.

Hexa, perlahan-lahan juga mengenal keluarga Alena melalui Altair. Hingga suatu ketika, Altair berhasil mengetahui rahasia yang disembunyikan Alena sejak lama, yang membuat gadis itu begitu tersiksa dalam hidupnya. Apa yang diketahui Hexa pada akhirnya, membuat laki-laki itu semakin ingin melindungi sosok Alena yang rapuh. 


Then She Smiles adalah karya Kak Makna Sinatria. Aku belum pernah mendengar nama Kak Makna, dan memanglah dia seorang penulis baru. Untuk penulis baru, tulisannya sudah cukup matang menurutku.

Novel ini mengisahkan tentang Hexa dan Alena, dengan segala kompleksitas kisah hidup yang mewarnai hubungan mereka berdua. Hexa yang merupakan setengah bule, adalah seorang fotografer handal yang terkenal. Dia dikisahkan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang fotografer. Melalui passion Hexa ini, Kak Makna memberikan beragam informasi tentang dunia fotografi mencakup jenis kamera, teknik memotret, dsb. 

Kak Makna juga mampu memanfaatkan unsur fotografi tersebut sebagai perekat yang menghubungkan karakter satu dengan lainnya. Kak Makna mampu membuat fotografi tidak hanya sebagai tempelan, sebab aku menemukan banyak kutipan-kutipan yang menunjukkan alasan kecintaan para tokoh terhadap dunia ini, dan itu nggak cuma asal lewat.

Alena. Kalau dalam sinetron, dia mungkin dapat diibaratkan sebagai gadis pendiam yang tertindas. Dia menyembunyikan lukanya, hingga orang terdekatnya pun tidak mengetahui bahkan kakaknya sendiri. Aku cukup menyukai alasannya untuk menyimpan luka, meski sedikit gemas karena semakin ke belakang, semakin menyedihkan keadaan yang dialami Alena. Tetapi dia punya sesuatu yang dapat menjustifikasi keputusannya, yang sedikit banyak dapat kupahami.

Potret Alena

Salah satu yang membuat Then She Smiles menarik adalah konsep rumah dengan balkon ini. Kita biasanya hanya menemui orang-orang yang saling berhubungan lewat balkon rumah dengan tetangganya lalu terlibat suatu kisah, di film luar negeri. 

Namun Kak Makna memasukkan konsep seperti ini dalam Then She Smiles yang menurutku membuat novel ini jadi sangat manis. Ditambah, dengan latar Bandung yang mungkin saja masih dapat ditemui rumah-rumah dengan balkon yang berdekatan seperti milik Hexa dan Alena. Kalau di Jakarta, agak nggak mungkin, kan?

Side character adalah Riou yang sangat sangat talkative dan Altair yang cukup mencuri perhatianku. Riou merupakan 'mak comblang' antara Alena dan Hexa. Dan Riou merupakan pemberi warna bagi kisah Then She Smiles yang narasi-narasinya cukup serius. Sementara Altair adalah kakak tiri Alena yang hampir sempurna. Dia tampan dan sepertinya pekerja keras mengingat dia punya usaha sendiri berupa bistro bernama La Cuisine. 

Sayangnya, kemunculan Riou dan Altair kurang dimanfaatkan dengan baik oleh Kak Makna. Padahal, dua karakter tersebut kalau digali lebih jauh akan mampu mencuri hati para pembaca perempuan.

Yang aku sukai adalah, interaksi antara Alena dan Hexa yang tercipta berdasarkan kesukaan mereka terhadap fotografi. Mereka boleh saja mengunjungi tempat-tempat wisata, ataupun kafe-kafe untuk nongkrong santai, tetapi kegiatan memotretnya itu nggak bisa dilepaskan dari kekhasan hubungan mereka. 

Bahkan, ending kisah ini pun juga berhubungan dengan fotografi. Dan percayalah, salah satu adegan termanis dari seluruh novel yang pernah kubaca dalam hidupku ada dalam Then She Smiles. Aku menyangka bahwa akhirnya akan seperti itu, namun apa yang dilakukan Hexa kepada Alena itu benar-benar tidak tertebak dan sangat unik, membuat gadis itu merasa sangat spesial.

Alena dan Hexa

Namun, ada beberapa hal yang cukup menjadi concern-ku, salah satunya adalah aku merasa bahwa alur cerita ini cukup lambat, meski jumlah halamannya tidak terlalu banyak. Aku juga agak sedikit terganggu dengan dialog Riou yang terlalu formal dan sangat kontradiktif dengan Hexa. Kalau dibayangkan, agak sedikit aneh kedengarannya. 

Satu lagi, aku agak bingung mengapa aku kesulitan membayangkan Hexa dan Alena adalah dua orang dewasa. Di pikiranku, mereka adalah dua remaja SMA, bukan gadis yang telah duduk di bangku akhir kuliah dan seorang laki-laki berusia 27 tahun. Mungkin, Kak Makna kurang mengeksplorasi karakter-karakternya lebih jauh, hingga aku sebagai pembaca kurang bisa mengenal para karakter.

Then She Smiles banyak menyelipkan kutipan-kutipan berbahasa Prancis yang tak lupa diberikan footnote berisikan arti bahasa Indonesia-nya oleh Kak Makna. Aku yang sempat mempelajari bahasa Prancis, tentu sangat senang melihat kalimat dalam bahasa Prancis yang bertebaran. Dan juga dapat menjadi pengetahuan baru bagi pembaca secara umum. 

Tema besar yang coba diangkat Kak Makna dalam novel ini, yang juga merupakan konflik utama, menambah daya tarik novel ini. Aku mengharapkan Kak Makna dapat membahas lebih lanjut mengenai apa yang dialami Alena sebab hal itu sangatlah menarik. Namun, aku sudah cukup puas dengan apa yang kudapatkan pada bab-bab terakhir. 

Meski bukan fenomena yang baru, tetapi hal-hal seperti ini justru sangat sering terjadi dan luput dari pandangan orang-orang. Ketika seseorang terdekat kita mengalaminya, kita harus menjadi seseorang yang lebih peka, agar tidak ada penyesalan pada akhirnya. 


P.s. bonus ilustrasi dalam novel ini keren banget! Kak Makna benar-benar jago membuat sketsa, fanart diatas adalah salah satu contohnya. :D

Book Review: Love in City of Angels - Irene Dyah

On
Wednesday, 22 February 2017

Judul: Love in City of Angels
Penulis: Irene Dyah
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 220
ISBN: 9786020334912
Harga: 58.000
Rate: 4 out of 5
"City of Angels, kota-kota yang berisi keindahan, kebaikan, dan jiwa-jiwa yang terlindungi..."
Aku jamin, kalian akan banyak menemukan sosok perempuan seperti Ajeng di belahan dunia ini. Cantik, tubuhnya molek, memiliki pesona yang mampu membius laki-laku manapun, hidupnya bebas, karirnya bagus, mungkin beberapa dari kalian bisa jadi iri kepada Ajeng. Tapi jangan salah, dia juga punya sisi kelam dalam kehidupannya.

Meski menganut prinsip 'hidup bebas', Ajeng selalu menjaga keperawanannya. Namun kali itu dia tercenung, mendapati Earth, seorang laki-laki yang ditemuinya saat pesta perkenalan Presdir perusahaan tempatnya bekerja, mengakui bahwa mereka pernah bermain-main dengan lingerie hitam dan celana dalam Calvin Klein. Ajeng menyadari, dia belum juga datang bulan.

Hingga, ketika dia mencoba menjauhkan diri dari Earth, dia malah berjumpa dengan Yazan Khan, salah satu petinggi perusahaan. Perempuan itu tak habis pikir, semenjak pertemuan pertamanya dengan Yazan, laki-laki itu tak bosan-bosannya berbuat baik kepadanya. Menawarinya sesuatu yang baru, yang jauh dari apa yang selama ini dia jalani dalam hidupnya.
"Ini.. Aku tidak tahu apa namanya. Kadar romantisme yang belum pernah kujamah sebelumnya. Pekat dan membuat lututmu lemas. Dunia yang sama sekali baru."
Tetapi Ajeng tetaplah Ajeng, perempuan yang mengaku realistis dan mencoba tidak naif. Yazan adalah sosok imam yang hampir sempurna, dia tidak akan mau menerima Ajeng, apalagi bersama masa lalunya. Ketika melihat ayahnya yang dengan tega meninggalkan ibunya, namun ibunya dengan polosnya mau memaafkan ayahnya, Ajeng semakin membenci cinta dan pernikahan.
"Pernikahan itu jebakan betmen. Seremonial yang mengubah manusia dari sepasang individu asing, berevolusi jadi satu tim (yang seharusnya) solid bernama keluarga. Semua orang melek ilmu tahu dong, evolusi itu tidak selamanya berjalan mulus. Ada cacat genetika, kegagalan, berkurangnya fungsi, dan hal-hal mengerikan lainnya. Jadi tidak heran dalam pernikahan pun muncul perceraian, perselingkuhan, ribut-ribut urusan anak dan harta, berantem sama mertua, kehilangan privasi."


Karya Irene Dyah kedua yang kubaca. Dan aku sangat puas dengan hasilnya, sama seperti Complicated Thing Called Love. 

Gaya menulisnya tetap sama, memukau. Mengalir. Entah apa sebutan yang tepat. Aku paling suka ketika Kak Irene menulis tentang random thoughts yang dikaitkan dengan apa yang dialami si tokoh. Semacam analogi. Misalnya, dari tokoh film apa, yang kisahnya sama dengan kisah Ajeng dalam novel ini. 

Bagiku, salah satu gaya menulis yang asyik, contohnya adalah tulisan Ika Natassa. Beliau memasukkan hal-hal apapun yang membuat penulis terlihat memiliki pengetahuan luas, kemudian dijadikan pembuka untuk mengaitkannya ke dalam adegan yang akan dituliskan berikutnya. Kak Irene, menurutku juga demikian di beberapa pembuka paragrafnya. 

Tokoh-tokohnya, dengan dunia glamour khas para pekerja-pekerja di kota besar. Akrab dengan pakaian minim, suara musik yang memekakan telinga dari klub-klub di malam hari, hook up sana sini dengan stranger, ketika status perawan atau tidak, tidak dipermasalahkan.
"Justru pria-pria itu yang sering kubuat kosong otaknya, tiap kali aku sengaja menundukkan tubuh saat berbicara, menyodorkan belahan dada... Pria! Sesederhana itu cara otaknya bekerja. Percaya tidak percaya, di depan wanita, otak kaum pria lebih sering pindah ke celana."
Bangkok. The Sin City. The City of Angels, yang analoginya dipakai untuk menggambarkan kehidupan Ajeng, dengan itu pertama kali novel ini dibuka. Dengan pengalaman Kak Irene yang pernah 4 tahun tinggal di Thailand, dengan sukses Kak Irene mendeskripsikan latar cerita dan suasana di kota itu. Kampung Jawa, kios-kios makanan di Thonglor, Taman Benjasiri, pertunjukan Siam Naramit, Ancient City, kunjungan masjid-masjid di Bangkok.digambarkan dengan sangat baik. 

Heroine kali ini adalah Ajeng. Seperti yang Kak Irene bilang, karakternya unik. Perempuan metropolitan, nggak mau terikat dengan komitmen. "Free" mungkin akan tercetak jelas di dahinya jika setiap orang harus menuliskan satu kata yang menggambarkan dirinya. Ajeng sadar dirinya cantik, maka dia hobi flirtingPOV 1 yang dipakai Kak Irene memudahkan aku sebagai pembaca untuk lebih memahami karakter Ajeng yang kompleks. 
"C'mon, don't be too stiff. This is Bangkok. The sin city. Orang-orang tidak peduli pada satu-dua pelukan atau ciuman. You can have a one night stand with anyone and nobody cares! Even you can hire gorgeous prostitute girls easily, and still nobody cares!
Meski nggak menggeneralisir, tapi perempuan serupa Ajeng kebanyakan lebih mementingkan duniawi. Dia nggak pernah sholat, nggak mementingkan mana makanan halal mana yang haram, padahal dia adalah muslim. Tetapi, dia masih menjaga prinsip perawan sampai mendapatkan yang pas, walau nggak harus dengan cara menikah, tapi dia nggak sembarangan memberikan keperawanannya kepada laki-laki.

Ajeng yang seperti itu, sangat kontras dengan Yazan. Laki-laki pendiam, pembersih kekacauan, pencari solusi, memiliki beribu jalan keluar. Si Master Yoda. Laki-laki berkebangsaan India yang rajin shalat, nggak pernah benar-benar menyalurkan nafsunya kepada perempuan. Dia menahannya. See? Percayakah kalian ada orang seperti itu? Pasti ada.
"Kadang merasa peduli dan merasa sayang saja tidak cukup. Kita harus menunjukkannya, dengan kata-kata, dengan perbuatan. Tidak semua orang bisa membaca apa yang kamu pikirkan di sini, kamu rasakan di sini..."
Somehow, takdir mereka bertabrakan. Aku awalnya bingung kenapa Yazan tiba-tiba muncul dengan sifat posesifnya mengatur-atur Ajeng. Tapi ternyata dia menceritakan juga mengapa dia selalu mengekori Ajeng, selalu mengiriminya berkotak-kotak coklat. 

Meski aku berharap dideskripsikan lebih banyak mengenai pandangan Yazan terhadap Ajeng pertama kali, aku sudah cukup mengerti mengapa Yazan bersikap seakan Ajeng adalah miliknya. Eits, meski begitu, dia nggak terlihat seperti laki-laki gila yang mengaku-ngaku sebagai pasangan Ajeng. Dia masih punya wibawa, respekku meluncur mulus mengetahui prinsip teguh yang dipegangnya. 

Sementara Earth, si laki-laki tengil, jujur aku benar-benar penasaran dengan laki-laki ini. Tapi dia hanya muncul di awal, sedikit di bagian pertengahan, lalu muncul cukup banyak di akhir dengan memberikan penjelasan. Sebenarnya apa yang terjadi antara Ajeng dan dirinya? Kalian nggak akan bisa menebaknya, meskipun Kak Irene dengan cerdasnya sudah menebarkan clues di beberapa halaman. Setidaknya, twist itu berhasil untukku. 

Side story, kisah ayah dan ibu Ajeng. Miris melihat ibu Ajeng yang mau kembali kepada suaminya yang diklaim telah meninggalkannya, membuat Ajeng benci setengah mati. Tapi seperti kata orang-orang, walk into their shoes and walk the life they're living, baru kalian tahu mengapa orang bisa begini-begitu. 

Terkadang, yang terlihat belum tentu menampilkan apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia-rahasia akan selalu ada, seperti iceberg. Dan kisah orangtua Ajeng menyadarkanku akan pentingnya kebersamaan dalam keluarga.


Ketika sisi religius sepertinya merupakan kunci dalam novel ini, cara memunculkan sisi itu juga nggak maksa. Kak Irene berhasil membawa tokoh Yazan dan membuat karakternya sewajar mungkin menjadi seorang muslim yang taat, salah satunya dari asal usul Yazan. Kemudian, kehidupan ibu Ajeng yang tradisional di Solo juga menjadi salah satu cara yang dipakai Kak Irene. 

Sedikit berkomentar, aku merasa kemunculan tokoh-tokohnya agak sedikit tiba-tiba. Malah, di awal aku agak sedikit bingung tentang siapakah yang akan menjadi tokoh utama laki-laki, Yazan ataukah Earth? 

Yang paling kusuka, the best part of the story, adalah nilai moral yang kudapat dari Yazan dan Ajeng. Kalau kalian merasa diri kalian kurang baik, temukan orang yang lebih baik dari kalian, lebih bagus lagi yang kalian cintai. Karena apa? Lambat laun kalian akan mengikuti kebiasaannya, sadar atau tidak. Ajeng mungkin sudah membuktikannya. 

Dalam kasus Ajeng, meski Yazan sedikit banyak bikin sebal ketika menguliahi Ajeng nggak henti-henti, tapi dia bermaksud sangat baik. Yazan mencintai Ajeng, dengan ingin menjaganya, bukan merusaknya. Dan aku sangat menyukai hal itu. Sangat. 
"Bila Allah saja bisa menerima tobat dari dosa-dosa besar, apakah manusia ciptaan-Nya punya pilihan untuk angkuh? I know every story does matter. But we have to move forward. Jangan biarkan dirimu terpenjara masa lalu."