The Unbroken Vow - Kezia Evi Wiadji | Book Review



Judul: The Unbroken Vow
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: GPU
Tebal: 232 halaman
Buntelan dari @KeziaEviWiadji

Semua yang dimiliki seorang Ivy Sutedja terasa sempurna. Ia cantik, masih muda, mempunyai usaha bridal yang sukses, memiliki Ethan sebagai suaminya, serta putri kecil yang lucu bernama Cindy. Namun semuanya terusik setelah kehadiran seorang perempuan bernama Sally--yang tak lain adalah guru putrinya sendiri--di tengah-tengah keluarga kecil mereka. Lalu apa yang dilakukan Ivy setelahnya?

Sudah pasti ia sakit hati, namun ia tidak berhak untuk marah. Mengapa? Jawabannya adalah kejutan pertama dalam novel ini.


***

Membaca The Unbroken Vow, seakan-akan membuat saya merasakan jadi Ivy. Sosoknya yang kuat dan cantik sangat saya kagumi, berharap kelak saya bisa meniru semangatnya dalam menjalankan sebuah usaha. Saya sangat pro-Ivy dan sangat kontra dengan Sally. Kenapa Kak Kezia selalu bisa membuat tokoh perempuan yang menyebalkan semacam Sally? Serupa dengan Silvia dalam Sweet Winter, saya ingin sekali menjambak rambutnya saat ia kesal melihat Ethan bermesraan dengan Ivy dan memanggilnya dengan sebutan Babe. Tetapi setelah membaca kelanjutannya, akhirnya saya tahu mengapa. 

Mengenai Ethan, saya merasa Ethan sangat-sangat childish, cemburunya ia saat melihat Ivy bersama laki-laki lain dan di sisi lain ia malah sudah berhubungan lebih jauh dengan Sally sangat membuat saya berapi-api. Cemburu itu manis, tapi jika ia tidak bisa melihat kesalahannya sendiri, cemburu jadi terasa pahit. Saat Ivy beradu mulut dengan Ethan tentang Max (read this book and you'll find out who's Max) dan Ivy yang memenangkannya adalah salah satu adegan favorit saya. Ivy's words and actions really show her power! 

Membaca keseluruhan cerita dalam The Unbroken Vow, seperti saat saya memakan kue klepon untuk pertama kalinya--tidak tahu jika akan "meletus" saat dilahap. Saat membacanya, ada beberapa bagian yang tidak tertebak--yang bisa menjadi kejutan bagi pembacanya. Menurut saya, itu menjadi salah satu kekuatan dari novel ini, membuat pembaca yang mungkin tadinya ingin menaruh novelnya dan melanjutkan besok, malah membalik kertas ke halaman selanjutnya saat itu juga.

Dibandingkan dengan novel Sweet Winter yang dulu saya baca, saya lebih suka The Unbroken Vow, walau lininya dewasa dan membahas pernikahan, saya lebih bisa menikmatinya dibandingkan dengan Sweet Winter yang tema nya lebih ringan. Saya cukup menyukai jalan ceritanya, terlebih lagi bagaimana akhir ceritanya tertulis.


Share:

0 comments