Perfect Scenario - Kezia Evi Wiadji | Book Review



Judul: Perfect Scenario
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: GPU
Tebal: 280 halaman
Buntelan dari @KeziaEviWiadji


Finda Arletta dan Farel Juventus adalah musuh bebuyutan semenjak mereka masih kanak-kanak. Dahulu, Farel sering mengusili Finda, menyebabkan gadis itu seringkali membalasnya sehingga muncullah garis permusuhan di antara mereka. Garis tersebut sepertinya permanen karena di bangku SMA pun permusuhan itu belum juga usai. Di tambah lagi, Farel menunjukkan sikap ketusnya setiap kali berbicara dengan Finda. Namun semuanya berubah semenjak ajakan mengejutkan yang keluar dari bibir Farel bahwa..

Farel meminta Finda untuk menjadi pacarnya!

Tepatnya, memaksa Finda untuk menerima ajakan yang jauh dari kata manis itu. Farel meminta Finda menjadi pacarnya, semata-mata agar orangtua mereka berdua tidak jadi menikah. Farel maupun Finda sama-sama tidak ingin menjadi sepasang saudara. Apalagi, Farel juga sudah memiliki Novi, si primadona sekolah yang kekanakan serta posesif terhadap hubungannya dengan Farel. Ternyata, Finda juga dari dulu telah menaruh rasa kagum terhadap Niko, sahabat Farel. 

Untuk menjalankan misi mereka, Farel dan Finda membuat perjanjian, mengakibatkan putusnya Farel dan Novi untuk sementara. Walaupun Novi sudah mengetahui rencananya, ia selalu curiga dan membuat Farel pusing. Farel bahkan seakan lebih senang berada di dekat Finda; dengan cara mengganggu gadis itu. Finda pun mulai merasakan ketidaksukaan saat mengetahui Farel masih berhubungan dengan Novi--entah karena perjanjian mereka atau karena hal lain? Di saat itu pula, Niko telah melancarkan aksi untuk mendekati Finda perlahan namun pasti. Lantas, apa yang selanjutnya akan terjadi pada Farel dan Fina? Akankah skenario mereka tetap berjalan sesuai rencana dan pernikahan kedua orangtua mereka dapat dibatalkan? Atau malah tetap dilanjutkan?

***
Membaca novel berlini teenlit mengharuskan saya untuk bersikap wajar saat membaca kalimat-kalimat gaul, tidak lagi dapat mengharapkan kalimat menyentuh nan puitis seperti yang sering ada dalam novel berlini young-adult. Saya jarang sekali membaca teenlit, bahkan bisa dihitung jari. Walau begitu, saya tetap bisa menikmatinya karena dapat dengan mudah memahami tiap-tiap kalimatnya, apalagi banyak istilah kekinian yang digunakan. Jarang teenlit yang membuat saya ingin membacanya. Biasanya kalau menawarkan premis yang menarik hati, baru saya ingin membacanya. Perfect Scenario adalah salah satu novel yang masuk dalam kualifikasi karena konsep 'pacar bohongan' yang ditawarkan penulis membuat saya penasaran.

Perfect Scenario bukanlah novel teenlit yang perfect--pastinya terdapat kekurangan--namun setiap hal pasti tetap punya kelebihannya tersendiri. Plotnya memang sederhana. Tetapi tokoh-tokoh yang diciptakan Kak Kezia cukup membekas di pikiran. Saya masih teringat sifat polos dan cerdasnya Finda, jutek dan ketusnya Farel, charming nya Niko, serta bitchy nya Novi (well, walaupun saya membencinya, tetapi saya cukup menyukai kata-kata dramatisnya di halaman 260-an). Menurut saya, salah satu kekuatan ada di penokohan tersebut.

Hal kedua yang berhasil disampaikan dengan baik adalah pengembangan jalan cerita. Penulis menggambarkan hubungan antara Farel dan Finda secara detail. Pertengkaran mereka terkesan lucu sewaktu kecil dan adu mulut khas anak remaja dengan ego masing-masing yang tidak mau kalah. Begitu juga liburan mereka di Puncak yang menimbulkan perubahan signifikan bagi mereka berdua, serta acara prom sebagai akhir masa sekolah yang berkesan. Awalnya, kata-kata pedas dan kecuekan Farel membuat saya langsung menandainya sebagai tokoh yang saya tidak sukai selain Novi. Tokoh favorit saya adalah Niko, tentu karena pesonanya. Tetapi malah Farel, tokoh yang pada mulanya tidak saya sukai, akhirnya mampu mengalahkan rasa suka saya terhadap Niko. Mengapa? Semua akan terjawab di novel ini.


Cerita mengalir dengan tempo pas dan cukup tebal untuk ukuran novel teenlit yang ringan. Secara keseluruhan, Perfect Scenario adalah cerita yang manis. Sampai di lebih kurang pertengahan cerita, jujur saya belum bisa menemukan letak kenyamanan saat membacanya, tetapi selanjutnya, saya menemukannya dan dapat menikmati sisa cerita sampai kepada ending yang begitu pas. 

Bagi penyuka teenlit, novel ini bisa menjadi salah satu bacaan yang menarik. 


Share:

0 comments