Kita & Rindu yang Tak Terjawab - Dian Purnomo | Book Review


Judul: Kita & Rindu yang Tak Terjawab
Penulis: Dian Purnomo
Penerbit: GagasMedia
Tebal Buku: 280 halaman

"Kadang, orang takut mewujudkan mimpinya karena mimpi itu mungkin tidak seindah yang dibayangkan. Atau takut ketika mimpinya terwujud, mereka tidak menemukan lagi alasan untuk hidup. Di sini, aku tidak bertemu keduanya, Nai."

Tantra dan Naiza merupakan sahabat sedari kecil. Sedemikian dekatnya mereka berdua, Naiza sudah mengenal baik Tantra dan segala mimpinya, salah satunya menjadi diplomat, laki-laki itupun kemudian mengejar mimpinya dengan menempuh pendidikan di Belanda.
Naiza berharap bisa seperti Tantra, yang dengan bebasnya melakukan apa yang ia mau dan mengejar mimpinya. Sedangkan pada kenyataan, Naiza Rosauli Situmorang, si Batak yang penurut, baru lulus kuliah dan diharapkan untuk segera menikah oleh kedua orangtuanya yang merupakan suku Batak sejati.
Keluarga Naiza sangat memegang teguh adat Batak yang menganggap pernikahan dengan sesama Batak adalah sesuatu yang mahapenting agar dapat melanjutkan keturunan darah Batak mereka. Tetapi Naiza selalu beralasan ia ingin meniti karir terlebih dahulu baru memikirkan pernikahan, sampai pada titik dimana ia tak lagi bisa mengindar, karena sang ayah yang tiba-tiba jatuh sakit.
"Sekarang kamu lagi di gunung itu, Nai. Mungkin kamu udah keluar dari Kandang Badak dan sedang memulai pendakian ke puncak Gunung Gede. Ini Tanjakan Setan kamu, Nai. Berat. Capek. Kamu harus ingat puncaknya. Bayangkan bahwa kamu sudah tinggal sepuluh meter dari puncak. Itu saja."
Untuk memenuhi keinginan ayahnya yang berharap agar Naiza segera menikah dan mempunyai cucu, Naiza akhirnya berpikir dua kali untuk mengenal Sidney, seorang lelaki Batak yang mapan dan cukup tampan. Tetapi Naiza malah mersakan hal yang berbeda, ia semakin merindukan Tantra dan merasakan ada debaran aneh setiap mengingat Tantra. Tetapi ia tahu ia tidak boleh dan tidak bisa merasakan kasih sayang dalam bentuk lain selain persahabatan kepada Tantra. 
"Mungkin, kamu memang jatuh cinta. Tapi, kamu nggak mau mengakuinya."
Karena desakan ibunya dan janjinya kepada Tuhan untuk membahagiakan ayahnya, Naiza terpaksa bersedia menikah dengan Sidney. Namun ternyata, Sidney punya sesuatu lebih dari sekadar yang terlihat mata. Ia punya banyak hal yang tidak diketahui Naiza serta keluarganya.
"Will i give him a chance now?"

***

Novel ini sungguh menghibur saya. Dari awal membacanya saya sudah tertarik dengan kisah Tantra yang mimpinya sama dengan saya, dapat tinggal di luar negeri, keliling dunia, serta bekerja di Kemenlu menjadi Diplomat atau Duta Besar. Hal itu membuat saya semakin semangat membalik halaman berikutnya. Dan akhirnya mendapati perkenalan pertama saya dengan keluarga Naiza yang kolot namun lucu. Serius, beberapa kali saya tertawa membaca dialog ceplas ceplos berlogat Batak antara Naiza atau orangtuanya. Nilai plus novel ini.

Konflik dalam novel ini cukup biasa namun tetap memiliki sesuatu yang menarik bagi pembaca. Segala istilah penyebutan bagi anggota keluarga dalam bahasa Batak begitu juga penggalan kalimat dalam bahasa Batak bertaburan, membuat saya hanya membaca sambil lalu karena tidak begitu memahami. Juga adat-adat Batak yang hanya saya ketahui lapisan luarnya, dalam cerita ini dibahas cukup mendalam. Itu jadi satu pengetahuan baru yang saya dapatkan. 

Saya menyelesaikan novel ini dalam sekali duduk. Saya menikmati gaya bercerita Dian Purnomo yang bebas dan kadang kala mengundang senyum dan tawa. Saya tidak bisa lepas membacanya meski mata saya sudah berat. Apalagi diceritakan tentang perjalanan Naiza dan Sidney yang naik Gunung Gede. Lama-lama saya merasa seperti Naiza, gadis yang dikekang orangtua nya dan mengimpikan bisa keliling Indonesia atau setidaknya bisa mendaki gunung. Ya, kurang lebih saya kondisinya seperti itu. Oh ya, saya pikir Tantra itu perempuan. Di awal halaman tidak jelas terdeskripsikalau dia laki-laki, saya pikir ini akan jadi semacam novel dengan tema LGBT. Tetapi, akhirnya saya tahu juga bahwa Tantra adalah laki-laki. 

Mungkin karena terlalu larut membaca saya tidak menemukan kekurangan yang jelas dalam novel ini. Hanya saja saya ingin mengetahui apa benar se strict itu adat Batak, ya? Kalau sekarang? Kasian sekali kalau benar seperti itu, orang-orang yang punya masalah seperti Naiza sama sekali tidak punya kesempatan untuk merasakan kebebasan memilih dan jujur pada perasaannya. Saya juga kurang simpatik dengan Sidney yang pada awalnya tidak setuju dengan adat Batak namun di pertengahan cerita ia meyakinkan Naiza untuk secepatnya meresmikan hubungan mereka. Walau nantinya akan terjawab alasan dibalik tindakannya, tetap saja menurut saya dia tidak tegas dan bijak. 

Saya juga awalnya berpikir kalau novel ini menceritakan tentang keindahan alam Indonesia, di sini khususnya Batak, tetapi ternyata, malah isu adat yang diangkat, walaupun juga ada bagian yang menceritakan tanah Batak walau tidak spesifik. Tapi akhirnya bisa menjawab pertanyaan saya mengapa teman-teman saya yang Batak terlihat sangat bangga dengan sukunya dan marganya. Ternyata memang orang-orang Batak sudah ditanamkan rasa cinta terhadap suku dan budaya sendiri sedari dulu. 

Secara keseluruhan, ending-nya merupakan penyelesaian yang mungkin sudah bisa ditebak beberapa orang. Tetapi concern nya bukan itu, walau terdapat beberapa twist, yang perlu diperhatikan adalah bagian 'proses' mengantarkan pembaca kepada ending. 


Share:

0 comments