What If - Morra Quatro | Book Review


Judul: What If
Penulis: Morra Quatro
Penerbit: GagasMedia
Tebal Buku: 280 halaman
Harga: Rp56.000

Kamila Rasyidseorang mahasiswa Antropologi tingkat akhir. Kamila Rasyid, si gadis mungil yang berani memotong rambutnya menjadi pendek sekali agar mendapat perhatian pada Pekan Raya BEM. Kamila Rasyid, si mahasiswa yang terkenal sebagai si anal, super kritis. What if berkisah tentangnya juga Jupiter Europa, mahasiswa Administrasi Publik tingkat dua, si pemalas itu, suka terlambat datang kelas, yang tubuhnya penuh harum sabun mandi saat baru duduk di kursinya yang seperti sudah ditakdirkan untuknya--duduk berjajar dengan Finnigan dan Steven

Mereka berdua dipertemukan oleh semesta di tengah lapangan basket pada siang hari. Piter yang playboy, bergerak cepat meminta nomor ponsel Kamila setelah terpesona oleh gadis itu, diawali dengan pembicaraan tentang aksi gadis itu pada forum diskusi Ali Akbar--seorang mahasiswa tingkat akhir dengan banyak penggemar. Kamila ternyata adalah asisten dosen, Bu Miranda, pada mata kuliah Pengantar Ilmu Sosial yang didatangi Piter, Finn, dan Steven--tiga sekawan itu. Piter yang sinting dan jail itu semakin gencar berkenalan dengan Kamila sampai akhirnya Kamila menyerah juga dan memberikan nomor ponselnya kepada Piter--bersamaan dengan tragedi ditolaknya esai Piter oleh Ali Akbar. 

Piter dan Kamila akhirnya dekat lalu mulai menjalin hubungan. Tetapi jalan mereka berdua tidak semulus itu. Perbedaan yang begitu kentara di antara mereka menjadi penghalang. Piter dengan salib-nya, dan Kamila dengan salat-nya. Piter begitu yakin perbedaan tidak akan menjadi masalah, namun Kamila tidak. Tidak setelah perlakuan Helena, ibu Piter, yang menunjukkan ketidaksukaannya terhadap hubungan Piter dan Kamila. Tidak setelah kemarahan ayah Kamila saat melihat Piter. Tidak setelah janjinya untuk menjauhi Piter ketika Piter dapat sembuh dari sakitnya.
"Aku berusaha mencari laki-laki yang lebih baik, lebih pantas. Laki-laki yang mungkin akan membanggakanmu. Dan, kau tahu? Dia menolakku. Bila mengenalmu dia mungkin akan menolakmu dua kali."
*** 

Berkisah tentang cinta beda agama yang biasa, Morra Quatro membungkus What If dengan luar biasa. Entah ada apa dalam setiap novelnya, tiap kalimat yang ditulis saja punya kelebihan tersendiri. Dialog yang nggak kacangan, bahkan kelakar yang garing (memang sengaja dibuat garing sepertinya) punya nilai plus bagiku dan mungkin bagi fans Kak Morra yang lain. Setting perkuliahan nya begitu real, seakan saya bisa ikut berada bersama Kamila di kelas Pengantar Ilmu Sosial nya, ikut menyaksikan ramai nya Pekan Raya BEM dan panasnya orasi Pemilwa, ikut merasakan serunya berteman dengan Piter, Finn, dan Steven yang begitu berbeda. Piter yang pemalas dan agak sinting--begitulah yang disebut dalam novel. Steven yang rajin dan jadi tujuan mahasiswa lain untuk memfotokopi catatan, dan Finn walau tidak serajin Steven tapi manis, tampan, santun, juga rajin dan penuh perhatian. Kampus fiksi itu seperti benar-benar ada, dan saya tidak keberatan untuk mengunjunginya. Penggambaran dunia kampusnya juara.

Saya jatuh cinta dengan gaya penulisan Morra Quatro sejak membaca Notasi. Nggak pernah berubah. Selalu memukau. Membuat tulisan saya seperti nggak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengan tulisan Kak Morra. Ini nggak berlebihan, saya hanya mencoba jujur. Segala hal dalam What If adalah kelebihan, saya nggak menemukan kecacatannya, mungkin karena saya terlalu menikmati kisah Kamila, Piter, dkk.

Kisah Finn dan Anjani yang sebelas dua belas dengan Piter-Kamila menjadi side story yang cukup menarik untuk diikuti. Kisah hidup Kamila juga sedikit disinggung disini. Adegan Kamila berbohong kepada ayahnya demi Piter cukup emosional. Segala konflik yang disebabkan perbedaan mereka berdua memang melibatkan emosi pembaca. Persahabatan antara Piter, Finn, dan Steven juga tidak main-main. Saya bisa menjadi orang yang berbaris paling depan jika novel selanjutnya bercerita tentang persahabatan tiga laki-laki ini.

Bahkan, beberapa adegan favorit saya adalah dialog yang dilakukan tiga laki-laki itu, dan apapun yang membuat saya bisa nyengir saat membacanya.
"Cewek lo ngapain di situ, Bul? kata Steven dari belakang meja dosen, sambil menggunting-gunting selotip di dalam dua inventarus BEM. 
"Jualan jamu." kata Finn.

"Dia jomlo ya?" desis Finn, menunjuk keluar dengan dahu.
Steven melirik keluar lagi. "Anak semester atas, Bul. Mau diembat juga? Kacau, lo?"
"Heh, bukan buat gue, gue nggak ngembat cewek. Enak aja. Gue udah punya, sori, ye."
"Terus?"
"Ya buat lo."
"Berenti ngejodohin orang, Bul. Gue kasih ceban, deh."
Finn terkekeh. "Niat gue baik, bro. What is wrong with you. Nanti diembat lagi ama si Piter, nyesel lo. Cewek kayak Kamila nggak ngejomblo lama-lama. Akan ada selalu Piter-Piter lain, di sekelilingnya, dengan susuk pemikat mereka yang mematikan itu, yang--"
"Yang lo omongin itu teman kita, Finn."
"Ya justru karena dia teman kita, gue berani ngomong. Sob, gue kasih tahu nih," lanjutnya masih tertawa. "Kaum perempuan itu rata-rata cuma busa masuk maksimal dua dari tiga kategori ini; pintar, menyenangkan, atau cantik. Yang pintar dan nyenengin, biasanya nggak cantik. Yang nyenengin dan cantik, biasanya agak beloon. Yang cantik dan pintar, biasanya jutek. Dan, kalaupun ada yang cantik, pintar, dan nyenengin, kalaupun ada, mereka pacarannya sama bajungan. Ya, yang semacam Piter. Ini kata Piter sendiri, wisdom dari sang ahli."
"Kamu masih datang minta nomor telepon?"
"Kalau boleh."
"Oke," kata Kamila. "Kalau saya kasih nomorny, memangnya kamu mau nelepon buat apa?"
"Ya ngobrol dong, masa pesan ayam goreng."
Kamila tidak tertawa. "'Hai, kamu lagi ngapain? Lagi di mana? Udah makan belum?' Gitu?"
Piter-lah yang tertawa.
"Nggaklah, itu sih, semua orang bisa."
"Terus, mau ngobrol tentang apa?"
"Ya mungkin kurs valuta asing."
Alur ceritanya, menurut saya, semua pas, dan memang paling cocok, khas Kak Morra. Ending yang dibiarkan terbuka, yang biasanya membuat saya kesal, tetapi tidak untuk novel ini. Mungkin saya juga nggak rela kalai Piter mati, lagian siapa yang rela, sih? Satu-satunya yang kurang disini adalah covernya. Saat poling saya sama sekali nggak melirik gambar yang dipilih menjadi cover saat ini. Nggak sreg, kurang bagus. Lebih bagus yang saya pilih waktu itu sepertinya. 

Saya penasaran Kak Morra sebenarnya lulusan mana dan dari jurusan apa? Novel-novelnya banyak diselipi pengetahuan baru bagi pembaca. Di Notasi, diceritakan pemberontakan tahun 1998. Pada Forgiven, pelajaran fisika itu--sepertinya jika saya tidak salah mengingat. Di What If, pengetahuan tentang ilmu sosial, politik, dsb. Penggambarannya tentang dunia politik kotor yang direpresentasikan oleh Pemilwa memang benar adanya. Riset tentang teori ini-itu yang dilakukan tentunya nggak main-main dan pastinya konsisten. Saya ingin tahu bagaimana Kak Morra menyelesaikan novel ini, apakah ada saat-saat menyerah untuk mencari bahan penulisan novel-novelnya? Karena kalau saya mungkin memikirkan apa yang mau saya tulis saja sudah nggak kuat. Semacam buku pengetahuan merangkap novel fiksi saja karya Kak Morra ini. Salut.

Oh, ya. Terimakasih sudah membuat saya menangis karena What If.

Share:

0 comments