Cinderella Teeth - Sakaki Tsukasa | Book Review



Judul: Cinderella Teeth
Penulis: Sakaki Tsukasa
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal Buku: 272 halaman
"Sesuatu yang tertanam di waktu kecil memang sulit hilang."
Memasuki masa liburan musim panas, Sakiko Kano dan temannya, Kakio Hiromi, mulai mencari pekerjaan paruh waktu untuk bekal liburan mereka nanti. Di tengah-tengah kebingungan itu, ibu Saki-chan, menawarkan pekerjaan yang sangat menguntungkan Saki. Tanpa berpikir dua kali, Saki pun bersedia datang ke calon tempat kerjanya. Awalnya Saki tidak punya kecurigaan apapun karena ibunya mengatakan kantor yang akan menjadi tempat kerjanya adalah "Shinagawa Guchi Clinic", Saki berpikir bahwa itu adalah klinik tempat penyakit dalam atau luar dan berharap ditujukan untuk anak-anak. Namun ternyata,
ibu Saki sengaja menyamarkan nama asli tempat kerja Saki karena tahu bahwa gadis itu punya pengalaman tidak menyenangkan dengan dokter gigi. Ibu Saki ingin Saki-chan perlahan terlepas dari kenangan buruk itu, maka dari itu, sang ibu merekomendasikan Shinagawa Dental Clinic (SDC). Paman Saki adalah salah satu dokter gigi yang bekerja sana, dan sialnya, hal tersebut membuat Saki mudah dikenal. Dia pun langsung diterima bekerja sebagai resepsionis. 

Bekerja beberapa hari di Shinagawa Dental Clinic, Saki sudah dapat mengenal masing-masing pekerja di klinik itu. Ada Kano Tadashi, tentunya, paman Saki yang bekerja sebagai dokter gigi di sana. Shinagawa Yuki, kakek-kakek pemilik Shinagawa Dental Clinic yang kalau bicara kadang pedas, perawat-perawatnya yaitu; Minowa Utako, Nakano Kyoko, Kasuga Yuri, Kasai Mizue, Naruse Yoshihito, dan Yotsuya Kengo, si teknisi gigi maniak yang tertutup dan dingin. Saki mulai merasakan perbedaan di Shinagawa Dental Clinic, bahwa kesan dingin dan mencekam yang dulu dia dapatkan di dokter gigi mampu dipatahkan oleh SDC. Anggota-anggota SDC saling mengenal satu sama lain, sering melontarkan candaan di waktu senggang, dan menyebarkan aura kebersamaan dalam dental clinic yang selalu horor bagi Saki. 

Beberapa masalah mulai berdatang. Dimulai dengan seorang laki-laki yang datang ke Shinagawa dengan kemarahan yang meledak-ledak. Laki-laki itu menyalahkan perawatan Shinagawa Dental Clinic yang menurutnya menyita waktu liburan pacarnya. Saki tentu bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tidak hanya itu, masalah-masalah lain yang berupa teka-teki bagi Saki pun muncul, menunggu untuk dipercahkan. Bersama dengan para anggota Shinagawa lainnya, Saki mulai mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bercokol di kepala mereka, serta membuat analisis dari hipotesis mereka, lalu membantu para pasien melewati masalah-masalah pribadi mereka. 
Kita tidak ingin berpisah dengan cara yang tidak menyenangkan terhadap orang yang tidak akan kita temui lagi. Apalagi kalau membayangkan tidak memiliki kesempatan untuk minta maaf.
Karena semakin sering berinteraksi dengan pekerja di SDC, Saki pun menjadi lebih dekat dengan salah satu anggotanya, yaitu Yatsuya. Yatsuya-san, walaupun perawakannya seperti tidak bersahabat, ternyata dia punya cara yang aneh untuk menujukkan rasa kepeduliannya terhadap orang-orang. Bahkan, rata-rata, pemecahan masalah datang dari analisa Yatsuya. Saki mulai tertarik karena pendekatan yang dilakukan laki-laki itu padanya, yang seringnya menimbulkan pertanyaan di benak Saki. Lama-kelamaan, Saki mulai menganggap jari-jari Yatsuya adalah jari-jari yang cantik dan lihai, apalagi saat sedang melakukan pekerjaannya. Sampai-sampai, Saki terpikir suatu saat nanti dia ingin giginya ditangani oleh jari-jari Yatsuya. Tetapi, percintaan Saki pun tak luput dari masalah. Munculnya Chika-chan dan kabar mengejutkan dari Yotsuya-san menjadi bukti yang nyata. 
Sedikit demi sedikit ketakutanku pada dokter gigi mulai sembuh. Itu adalah lubang yang tidak bisa dimasuki siapa pun dalam waktu yang lama. Yotsuya-san memasuki lubang itu, seperti seorang pahlawan.
***

"Uwaaah!" 
Beberapa kali saya menemukan ungkapan orang Jepang itu dalam buku ini dan saya sangat menyukainya. Terdengar imut. ^^

Selain itu, kesan yang saya dapatkan saat membaca buku ini adalah; Cinderella Teeth sebelas-dua belas dengan Nazod/The After Dinner Mysteries. Cerita yang ditawarkan terkonsep dengan pembagian kasus dalam tiap bab yang berbeda-beda, jadi setiap berganti bab pun kasusnya berbeda lagi. Tetapi, kalau Nazod itu banyaknya memecahkan misteri yang berhubungan dengan hal-hal seperti pembunuhan dan kekerasan, kalau Cinderella Teeth lebih kepada penyelesaian teka-teki yang berkaitan dengan dunia dental dan kedokteran. Istilah-istilah di dunia kedokteran gigi juga dijelaskan dalam buku ini. Bahkan, saya jadi tahu penyebutan untuk benda-benda yang sering digunakan sewaktu saya perawatan ke dokter gigi, yang awalnya sama sekali tidak saya tahu. Maka dari itu, buku ini bisa jadi salah satu bacaan wajib bagi orang-orang yang tertarik dengan dunia kedokteran khususnya kedokteran gigi. Informasi-informasi yang dapat kita serap, dijelaskan dengan cara yang menarik, sehingga tidak membosankan. Contohnya saja:
Padahal stres dan kelelahan mengurangi produksi liur dan menjadi salah satu penyebab gigi berlubang
Bite wax adalah benda basah yang digigit saat mengambil bentuk gigi.
Di dalam mulut ada banyak pembuluh darah kecil. Makanya, saat berdarah akan terlihat banyak karena tercampur air liur.
Karena orang Jepang ini agak kaku, terjemahannya memang dibuat terasa seperti itu. Tetapi tetap mengalir dengan baik. Namun, masih ada beberapa kalimat yang artinya tidak tersampaikan dengan baik kepada pembaca. Sehingga saya beberapa kali harus membaca ulang, seringnya saya jadi berhasil memahami. Namun, tidak jarang juga saya menyerah dan saya abaikan menuju halaman selanjutnya.

Saya sangat menyukai interaksi yang terjadi antara para pekerja di Shinagawa Dental Clinic. Mereka dapat bekerja secara profesional saat sedang menangani pasien, tapi di backstage, mereka dapat menjadi teman yang sangat dekat. Adanya acara makan kue dan makan siang yang rutin diadakan, menjadi tempat mereka bercanda dan berdiskusi tentang apapun termasuk tentang masalah-masalah terkait dengan pasien yang mereka hadapi. 

Yatsuya berhasil menarik hati saya untuk menjadikan laki-laki itu sebagai karakter favorit saya. Sifatnya yang dingin serta cenderung tertutup, tetapi tetap peduli dengan orang lain dengan cara yang sedikit unik, membuat siapapun pasti akan mudah menyukainya jika sudah mengenalnya lebih jauh. Sedangkan Saki, si tokoh utama perempuan dalam novel ini, digambarkan sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Dia memang cukup manis, tetapi tidak menonjol dalam hal lain. Saki adalah tipe gadis baik-baik yang polos, sopan, dan cukup mudah membaur. Tetapi, dia adalah orang yang sulit memutuskan suatu hal dengan pertimbangan sendiri, dengan kata lain, selalu bergantung pada orang lain. Dia percaya apa yang dikatakan orang lain, itu lah yang harus dilakukan olehnya. 

Karakter para pekerja di SDC juga cukup membekas di benak saya. Terutama tokoh Paman Saki, Tadashi, yang kisahnya menjadi salah satu twist dalam novel ini dan cukup mencengangkan. Begitu juga dengan Pak Kepala Shinagawa yang bicaranya cukup menohok hati karena memang sudah kakek-kakek disana rata-rata banyak bicara,  Utako-san yang cantik, dan memiliki bibir tebal yang seksi, dan Kasuga-san yang seringkali beraksen Anime-ish. Mungkin karena porsi mereka sedikit lebih banyak dibanding yang lain, atau mungkin dialog-dialog dan gestur mereka lebih 'menonjol' dibanding yang lain. 
Gigi berlubang yang sakit itu bukan salah dokter. Bagaimanapun, rasa sakit di gigi itu berbeda dengan rasa sakit biasa. Pasien juga merasa cemas ketika dokter melakukan sesuatu di bagian yang tidak bisa mereka lihat sendiri. Ironisnya, banyak pasien yang mengeluh giginya malah tambah sakit gara-gara pergi ke dokter. Apalagi, gigi berlubang itu ditemukan ketika mereka tidak memiliki keluhan apa-apa.
Seperti Saki yang takut dengan dokter gigi, kita juga pasti punya ketakutan terhadap sesuatu. Namun kadangkala, ketakutan terhadap suatu hal perlu dilawan. 
"Kecemburuan bisa memunculkan kekuatan aneh." 
"Kalau suasana hati terus buruk begitu, prestasi kerja pun menurun." 
"Ada hal-hal yang tidak kita mengerti sampai kita melompat ke dalamnya." 
Tidak akan ada yang dimulai jika tidak dicoba.
"Menjalani begitu saja tanpa tahu apa-apa itu tidak baik." 
Perasaan dibawa naik turun seperti jet coaster, lalu  merasa tak tenang setiap kali ada sesuatu. Itu karena jatuh cinta. 
Aku bukan Cinderella. Aku tidak bisa diam saja menunggu pangeran.

Share:

0 comments