Coppélia - Novellina A. | Book Review



Judul: Coppelia
Penulis: Novelinna A.
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 192 halaman

Setelah kabur ke Santorini, si Kota Surga selama beberapa bulan, mengenal Angeliki serta anaknya Theos, membuat perasaan Nefertiti sedikit lebih baik. Tetapi beban yang ditanggungnya takkan hilang begitu saja. Mempunyai darah seni yang mengalir kental dalam keluarganya, membuat Nefertiti kerap menyalahkan dirinya yang sulit menemukan kecintaannya terhadap dunia seni. Tidak seperti ayahnya yang seorang arstitek, apalagi ibunya, seorang pelukis terkenal yang juga menyandang nama besar kakeknya, Nefertiti tidak menemukan bakatnya dalam bermain piano ataupun melukis. 

Hal ini membuat sang ibu sempat menyerah, sampai suatu hari Nefertiti menemukan ketertarikannya dalam dunia tari. Kedua orangtuanya pun sepakat memasukannya dalam sanggar balet. Namun, Nefertiti hanyalah penari balet rata-rata tanpa kemampuan menonjol yang tidak cukup membanggakan ibunya. Itu lah yang kerap membebani dan menghantui Nefertiti sepanjang hidupnya. Ia begitu mencintai ibunya, tetapi ibunya seperti tidak menerima cinta yang diberikannya.

Nefertiti tak merasakan adanya kehangatan dalam keluarganya dan kasih sayang terutama dari ibunya yang menurutnya selalu dikecewakan olehnya. Hanya Mia, si gadis bisu yang tinggal di kampung yang berada di belakang kompleks rumahnya dapat memahaminya, menjadikan dua gadis itu bersahabat baik dan mengerti satu sama lain. Mia lah yang menjadi penyemangat Nefertiti. Mia-lah yang menjadi alasan Nefertiti untuk terus menari.

Setelah dewasa, sifat Nefertiti masih sama seperti saat ia kecil, pendiam dan tak punya banyak teman. Padahal dirinya cantik serta pintar. Nefertiti melanjutkan pendidikannya dengan bersekolah balet di Berlin, dengan harapan ibunya yang kini tinggal di Hamburg akan sering mengunjunginya, namun nyatanya nihil. Bersama Brian, kakak tirinya, Nefertiti akhirnya berangkat ke Hamburg untuk menemui ibunya yang sudah sekian tahun tidak ditemuinya. Bukan sosok cantik dan berkelas ibunya yang ditemui Nefertiti, tetapi lukisan ibunya yang belum terselesaikan, serta Oliver, tetangga dan teman satu SMA-nya sewaktu dulu, yang membawa kabar bahwa ibunya telah meninggalkan rumah tanpa kabar dengan penyakit mematikan yang sedang dideritanya.

***

Coppélia. Dengan judul yang unik dan cover yang cantik, novel ini dengan mudahnya menarik perhatian saya. Ditambah lagi denganreview beberapa pembaca yang merekomendasikan buku ini. 

Berlatar di Jerman, Yunani, serta Jakarta. Menurut saya yang cukup berhasil adalah penggambaran Santorini dan Jakarta. Saya kurang bisa merasakan feel berada di Jerman-nya. Novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, yaitu dari Nefertiti dan Oliver sendiri yang merupakan dia tokoh utamanya. Saran saya, lebih baik font dibedakan atau diberi penanda bahwa sudut pandang sudah berganti, agar tidak membingungkan pembaca. Saya lebih menyukai penceritaan dari sisi Nefertiti sendiri karena memang kehidupannya yang sangat menarik untuk digali. Nefertiti, seorang yang cantik, pintar, dan dari keluarga yang terkenal, namun ia malah sering diejek dan tidak punya teman banyak. How come? Rasanya agak mustahil terjadi di jaman ini. Tetapi semua punya alasan. Merasa dirinya tidak bisa membanggakan siapapun, memunculkan pribadinya yang seperti tidak percaya diri. Penulis sudah cukup baik menjabarkan kehidupan Nefertiti dan segala perasaannya, cukup membuat saya dapat merasakan apa yang dirasakan Nefertiti, sedihnya, putus asanya saat ia menyandang nama besar seseorang namun tak bisa mengimbanginya, bagaimana ia butuh kasih sayang namun mencoba kuat dan mandiri karena tak kunjung
mendapatkannya. 

Sedangkan Oliver, dulunya anak yang biasa-biasa saja (tidak populer) namun tampan, tetapi kini telah menempuh program doktoral pada bidang psikologi. Ia penuh harapan dan rela berkorban bagi seseorang yang berarti untuknya. 

Begitu banyak konflik-konflik yang tercipta dalam novel ini. Setiap tokohnya punya sekelumit kisah tersendiri, yang hampir semuanya adalah dark side, berbanding terbalik dengan desain covernya yang cantik. Mulai dari asal-usul Theos, masa kecil Nefertiti, persahabatan Nefertiti dengan Mia, asal usul Brian dan ibunya, sampai masa lalu ibu dan ayah Nefertiti. Kisah masing-masing tokoh punya pesona tersendiri. Semuanya memang nyata, memang semua orang punya kisah sedihnya tersendiri, namun entah mengapa saya merasa beberapa kisah seperti kurang real dan terasa sedikit dipaksakan. Beberapa hal tentang seni musik dan balet dijelaskan disini, seperti sebutan peran penari balet dalam suatu pentas, itu dapat menjadi pengetahuan baru bagi pembaca awam.

Penulisan kisahnya yaitu alur maju mundur. Penceritaannya dilakukan pelan-pelan, diungkap sedikit demi sedikit tentang kehidupan para tokoh terutama Nefertiti sebagai spotlight. Tetapi bagian kemunculan Brian menurut saya terlalu tiba-tiba. Pada awal cerita tidak disinggung tentang Brian sedikitpun, namun di bagian selanjutnya malah langsung dikejutkan oleh penjelasan Brian dan asal usul keluarganya, yang sebenarnya sangat menarik, tetapi terkesan hanya 'memenuh-menuhi' jalan cerita yang sebenarnya sudah rumit. Jika dibuat lebih simple saja dan disinggung di halaman awal sedikit dialog antara Nefertiti dan Brian, mungkin kehadiran Brian tidak akan terasa tiba-tiba dan hanya sebagai penambah rumit cerita saja. Karena saya merasa seperti itu.

Di bagian akhir penulis menyinggung bahwa novel ini ditulis memang untuk membahas peran seorang ibu yang walaupun memang harus mencintai anaknya, tetap saja ibu adalah seorang manusia yang tidak sempurna dan terkadang punya banyak kekurangan. Novel ini memang menomorsatukan konflik keluarga dibandingkan percintaan.  Malahan, kisah cinta Nefertiti mulus-mulus saja. Novel ini seakan meminta pembaca untuk memahami perasaan para tokohnya (apalagi di bagian menuju ending yang merupakan plot twist), pembaca diharapkan memosisikan diri sebagai salah satu tokoh, walau tidak begitu berhasil pada saya.

Kisah Nefertiti-Oliver juga salah satu hal yang menarik. Pendekatan mereka berdua memang terkesan cepat dan buru-buru, tapi saya malah merasa memang seperti itu lah seharusnya. Saya menyukai dialog-dialog yang tercipta antara Nefertiti dan Oliver, apalagi adegan saat meteka melontarkan beberapa pertanyaan terhadap satu sama lain yang membuat pembaca dapat mengenal mereka berdua lebih dalam. 

Share:

0 comments