Happiness - Fakhrisina Amalia | Book Review


Judul: Happiness
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Ice Cube KPG
Tebal Buku: 223 halaman
Buntelan dari @IceCube_Publish
"Kenapa rasanya hidupku tidak sesempurna miliknya?"
Kuliah di jurusan Matematika tidak pernah menjadi salah satu rencana dalam hidup Ceria Dandelia. Tetapi, tekanan yang didapatkan dari kedua orangtuanya, mau tidak mau, memaksa gadis itu untuk melakukan apa yang tidak dikehendakinya. Kontras dengan namanya, hidup Ceria jauh dari kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.

Ceria ingin menjadi pemandu wisata atau penulis profesional, yang bermimpi dapat menjejakkan kaki mungilnya di seluruh dunia. Dengan kemampuannya dalam bidang bahasa inggris, serta segenap prestasinya yang kerap kali memenangi lomba debat bahasa inggris, bahkan ikut studi banding ke Canberra, semua dapat dengan mudah untuk terwujud. Tetapi semua itu tidak cukup berhasil membahagiakan ibunya,
seorang dosen matematika yang mengimpikan anaknya mengikuti jejaknya.

Ceria tumbuh menjadi seorang gadis yang berjiwa kompetitif, bukan dalam arti yang positif. Ia selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menguasai matematika--yang menjadi kelemahan terbesarnya--bukan karena gadis itu menyukainya, tetapi agar dia mendapatkan kebanggan dari orangtuanya, yang selalu membandingkannya dengan Reina, si anak tetangga dan ketua kelas dengan status sebagai genius matematika di sekolahnya. Ibunya selalu mengatakan hal-hal yang menyakiti hati Ceria, menganggap sempurnanya nilai bahasa inggris Ceria tidak dapat disandingkan dengan nilai matematika Reina yang tanpa cela. 

Ceria tidak ingin mengecewakan ibunya, dia berusaha setengah mati untuk belajar mencintai matematika, meskipun Farhan--abangnya--sangat mengetahui bahwa adiknya itu hanya akan menyiksa diri sendiri. Tetap saja, sebagai seorang kakak, Farhan terus membantu Ceria untuk belajar dan terus belajar, sambil terus meyakinkan Ceria untuk memilih jalan hidupnya sendiri, karena dia berhak, punya kuasa untuk menentukan masa depannya tanpa campur tangan orang lain.
"Kalau kamu nggak suka, nggak usah dipaksa. Nggak usah nyiksa diri kamu sendiri."
Kemudian, seorang cowok bermata coklat dengan penampilan berantakan namun menawan kembali menyita perhatian Ceria. Doni, cowok itu mencoba mendekatinya setelah sekian lama. Setelah perasaan suka Ceria terkubur untuknya, karena dia merasa tak mungkin akan bisa mengenal Doni. Tetapi gadis itu salah, Doni menjadi salah satu teman terdekat Ceria, selalu mengajarinya matematika untuk persiapan ujian masuk kuliah, bahkan, Doni dengan berani menyatakan apa yang dia rasakan terhadap Ceria. 
"Aku emang nggak ngerasa butuh bersosialisasi dan aku nggak pandai berkomunikasi dengan orang lain."
"Kamu bisa. Kamu cuma membatasi diri kamu sendiri dari orang lain."
"Semua orang bisa menjadi berbeda saat di dunia maya, termasuk aku."
Ceria begitu yakin dengan pilihannya kuliah di bidang matematika, dipicu keinginan untuk terus mengalahkan Reina, membuktikan bahwa dirinya dapat lebih baik dari gadis itu, dan kekesalan terhadap Farhan yang malah meminta Reina menjadi pacarnya. Ceria semakin benci dengan keadaan yang seakan tidak pernah berpihak kepadanya, seakan semua hal di dimilikinya telah direbut oleh Reina, seakan di dunia hanyalah Reina yang berhak untuk dikagumi--bukan dirinya. Seolah dalam dunianya, angka seribu kali lipat lebih tinggi derajatnya dari huruf dan kata. 
Ia merasa Reina memiliki terlalu banyak. Sementara Farhan adalah satu dari sedikit yang Ceria punya.
Ada banyak sekali harapan dalam hatinya, seperti benih-benih dandelion yang beterbangan di udara, lepas dari induknya.
***

Novel ini membuat saya menjadi seorang yang sangat emosional. Dapat dikatakan, saya dan Ceria tidak jauh berbeda. Kami sama-sama membenci matematika. Kami sama-sama pernah ditentang saat mencoba memilih jalan hidup kami sendiri. Kami pernah punya rival yang dikagumi semua orang, yang hanya akan membuat kami kesal setengah mati saat dia malah mencoba mendekati kami saat kami bersikap defensif dan memberi perlawanan, bukannya ikut membenci kami. Rival yang seperti itu lebih 'berbahaya', karena apapun hal baik yang coba mereka lakukan hanya akan membuatmu muak.

Jangan tertipu dengan sinopsis yang tertera, yang harus saya akui bahwa sinopsisnya tidak cukup menarik, tapi ternyata kisah Ceria jauh lebih dari itu. Pergulatan batin Ceria tentang tetap mempertahankan mimpinya atau mencoba membanggakan orangtuanya, ikut membuat saya merasakan apa yang dirasakannya--terlepas dari kejadian yang saya alami. Membahagiakan orangtua tentu tidak salah, namun jika hal itu sudah dirasa tidak benar dan bertentangan dengan mimpimu apa kamu masih mau mempertahankannya? Jawaban yang sangat sulit bagi bagi Ceria.

Kenapa, ya, kebanyakan orangtua sekarang senang memaksakan kehendaknya kepada anaknya? Membebankan hal yang belum tentu dikuasai dan disukai anaknya? Mungkin kembali lagi pada tujuan mereka yang tidak mau anaknya tidak punya masa depan cerah--begitu juga yang dikatakan Mama Saskia (teman Ceria). Tetapi tetap saja, kemampuan setiap individu itu berbeda, tidak bisa disamakan dengan alat ukur berupa kecerdasan ilmu eksakta. Ini lah yang menjadi masalah, bahwa stereotip anak IPA lebih prestisius daripada anak IPS atau Bahasa, sampai kapanpun akan terus berlaku, dan kasus-kasus seperti Ceria akan terus terjadi. 
"Apa pun yang kita lakukan, kalau sesuai dengan kemauan dan kemampuan, pasti hasilnya lebih maksimal."
"Boleh saja kamu iri dengan kemampuan orang lain, tapi bukan berarti kamu harus menjadi seperti dirinya atau membuat dirinya terlihat buruk di mata orang lain. Kita punya kelebihan masing-masing. Bersyukurlah."
Saya akan membahas beberapa tokoh yang menyita pikiran saya disini. Tentunya yang pertama adalah Ceria. Ceria ini karakter gadis yang sebenarnya brilian--in her own way, not in her mom's. Dia anak yang pantang menyerah dan selalu melakukan usaha terbaiknya. Dia punya banyak kualitas yang menunjukkan bahwa dirinya mampu, tetapi karena dalam keluarganya tidak dihargai, Ceria menjadi tidak percaya diri dengan ability-nya, selalu mencari cara untuk membuktikan kecerdasan otaknya dengan cara mengalahkan orang lain agar mendapat pengakuan. Tidak salah, Ceria adalah karakter yang paling realistis. I feel her
"Kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri, melakukan apa yang kita suka, yang memang diperuntukkan untuk kita."
Farhan. Cowok ini semacam second mother bagi Ceria, yang tidak mendapatkan cukup kasih sayang dari orangtuanya. Sejak kecil Farhan-lah yang men-support Ceria bahkan mengenalkannya pada hal yang menjadi passion-nya kelak. Farhan ini sosok kakak idaman bagi siapapun, hal yang perlu di iri-kan oleh pembaca terhadap Ceria. Karena Ceria selalu punya sandaran di saat-saat terbawahnya.
Ada satu hal yang kadang tidak dipahami oleh logika. Bahwa persaudaraan, seperti apapun kondisinya adalah ikatan yang tidak akan pernah terberai sampai kapan pun juga.
Lalu, Doni. Ah, saya sudah terpesona dengan cowok ini saat penulis mendeskripsikan tentang fisiknya. Saya suka saat dia tidak sakit hati meski mendapat penolakan dari Ceria yang tidak mudah didekati. Saya suka usahanya untuk mendekati gadis itu, saya suka saat dia mau 'direpotkan' oleh Ceria padahal Ceria bukan apa-apa bagi dia selain teman. Terlebih lagi, saya suka luapan kemarahannya terhadap Ceria, namun tetap berada di sampingnya alih-alih meninggalkan gadis itu.
Perasaan yang kembali sebenarnya adalah perasaan yang tidak pernah pergi.
Dan Reina. Maaf, tapi saya benci sekali dengan karakternya. Tipe gadis pintar, rendah hati, dan everybody's darling. Cukup satu kata. Menyebalkan! 

Banyak yang dapat saya dapatkan dari Happiness, bahwa memang pendengki itu tidak akan hidup bahagia, maksud saya, dia akan terus berusaha mengalahkan orang lain dan mengabaikan kemampuan dirinya sendiri. Orientasinya hanya mendapatkan pengakuan dari orang-orang. Pujian orang itu terkadang seperti racun, kalau kamu begitu menginginkannya, akan membuatmu 'terbunuh' perlahan-lahan. 

Satu hal yang cukup 'menganggu' saya. Saya tahu kedekatan Farhan dan Ceria sangat dekat, sedekat itu. Tetapi saya tidak tahu kalau anak umur empat tahun bisa memberikan nama Ceria Dandelia dengan segala filosofi bunga Dandelionnya yang menyentuh itu. Mereka berbeda empat tahun, dan tentu saja saat Farhan memberi nama kepada Ceria dia sedang berusia empat tahun, kan?

Semenjak ikut giveaway yang gagal itu, yang mengharuskan membaca cerpen Kak Fakhrisina, saya langsung tertarik untuk membaca salah satu karyanya, tetapi belum ada kesempatan. Kali ini saya punya, dan Happiness adalah novel pertama Kak Fakhrisina yang saya baca, yang mengesankan bagi saya. Untuk kalian-kalian yang punya masalah sama dengan Ceria, kalian wajib baca buku ini, siapatau kalian akan menemukan jalan keluarnya! 
"Tuhan selalu memberi lebih untuk setiap syukur yang kita miliki terhadap hal-hal kecil."
 

Share:

0 comments