Last Forever - Windry Ramadhina | Book Review




Judul: Last Forever
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: GagasMedia
Tebal Buku: 378 halaman
Dia tidak berhubungan serius dengan perempuan, dia sebatas berkencan, bercumbu, dan bercinta.
Menjadi salah satu perempuan yang dikencani Samuel Hardi tidaklah sulit. Kau hanya butuh 'daging segar'--dalam hal ini berarti tubuh bagus disertai kerlingan nakal dan senyum yang menggoda--untuk memancing lelaki itu datang. Lalu, dia akan mendatangimu bagai singa jantan yang kelaparan. Setelah selesai denganmu, dia akan pergi begitu saja mencari mangsa yang lain.

Namun tidak dengan Lana Lituhayu Hart. Perempuan ini berbeda, setidaknya menurut Samuel. Tujuh tahun mengenal Lana membuat perempuan itu menjadi perhentian Samuel setiap kali ia menginginkan kehangatan. Mereka berhubungan selama sekian tahun, antara Jakarta-Washington, namun tidak menjalin ikatan apapun.

Samuel adalah sineas yang genius. Diumurnya yang ke 19, ia berhasil memenangi IDFA (International Documentary Film Festival Amsterdam). Ia punya kontrak jutaan dolar dengan National Geographic yang memakai jasa Hardi--rumah produksinya--untuk merekam film-film dokumenter yang akan ditayangkan. Wajahnya tanpa cela, sifatnya dingin seperti es. Kata Lana, Samuel punya masalah dengan kepribadiannya, seringkali bersikap tak acuh, dan kalimat yang paling mulus yang keluar dari bibirnya ialah makian. Menikah adalah hal terakhir yang ia harapkan terjadi dalam hidupnya. Ia selalu berganti-ganti pasangan. Ia senang bermain-main dan tak akan pernah membangun komitmen. 
"Percayalah, menikah cuma akan menghilangkan keasyikan. Begitu terikat, lelaki dan perempuan berubah membosankan. Segala hal, bahkan seks, mereka lakukan semata-mata karena rutinitas dan kewajiban. Lalu, salah satu atau keduanya mulai menginginkan pasangan baru. Ujung-ujungnya, mereka berpisah. Kalaupun tidak, mereka saling membenci sampai mati. Nah, katakan, kenapa aku harus membuat kebebasanku untuk itu?"
Sementara Lana, tidak jauh berbeda dengan Samuel. Peranakan Amerika-Jawa, perempuan ini mandiri dan tidak mau dianggap lemah, apalagi didepan lelaki. Harga dirinya sangat tinggi. Lana tidak mudah terbawa perasaan, dirinya tidak sentimental. Satu hal lagi, pernikahan dan mempunyai keluarga kecil tak pernah terlintas dalam benaknya. Berbeda dengan ibunya, Ruruh Rahayu, seorang penari yang memegang teguh nilai Jawa dan ketimurannya. Ia kerap menanyakan kapan Lana menikah, padahal seharusnya ia sudah tahu apa jawaban Lana. Selalu sama. Tidak akan. 
"Kami bukan makhluk super. Kami tidak akan bisa menjalani dua peran. Ujung-ujungnya, kami harus memilih: pekerjaan atau pernikahan. Dan, seringnya, karena telanjur terikat, kami terpaksa memilih pernikahan. Katakan bagian mana yang adil?"
Semuanya berjalan mulus selama beberapa tahun belakangan. Samuel selalu memastikan semuanya aman sebelum menuangkan rasa rindunya yang menggebu kepada Lana. Namun manusia seringkali ceroboh, satu malam, saat hasrat dua insan itu tak mampu lagi terbendung, kesalahan fatal pun tercipta tanpa kesengajaan. Lana hamil. Ia mengandung anak dari seorang Samuel Hardi.
Memiliki anak tidak ada dalam rencana hidup Lana. Dia tidak pernah membayangkan dirinya berperut buncit, senam yoga menjelang bulan ketujuh, menata kamar berwarna pastel, menyusui bayi yang masih merah, mendorong kereta, membuat jus pisang, pergi ke taman bermain, atau mengantar dan menjemput sekolah. Yang seperti itu bukan rencana hidupnya.

Dalam rencana hidupnya, dia bepergian ke tempat-tempat paling tersembunyi di dunia hingga tubuh dan sepasang kakinya tidak sanggup berdiri dan melangkah lagi. Dia membuat film hingga bahu dan tangannya tidak kuat memanggul kamera. Tidak ada keluarga yang menahannya di kota besar. Tidak ada anak yang menuntut tanggung jawabnya.
Patrick, seorang ABC--American Born Chinese, kamerawan Lana di Nat Geo sempat dicurigai Samuel sebagai ayah dari bayi Lana. Tetapi Lana bukanlah seseorang seperti Samuel. Lana hanya menyerahkan dirinya pada Samuel. Ini lah satu-satunya hal yang membuat mereka berbeda. Lana kalut. Sempat terpikir olehnya untuk menggugurkan calon bayinya. Namun setelah melihat detak jantung bayinya yang masih sebesar biji wijen, ia tersentuh. Ia tak sampai hati merebut kehidupan dari anak yang tak bersalah itu. 
Sungguh, dia tidak memahami jalan pikiran lelaki dan perempuan muda zaman sekarang. Mereka kelewat skeptis. Seakan-akan, dunia ini telah menjelma minpi buruk dan mereka tidak berani mengambil risiko menderita. Atau, barangkali, mereka semata-mata tidak berani percaya bahwa di balik risiko tersebut ada harapan meskipun setitik.
Lambat laun Samuel dan Lana dilingkupi perasaan yang semakin lama semakin dalam. Kekhawatiran Samuel terhadap kondisi Lana, serta rasa sakit hati Lana di kala Samuel tak bisa menemaninya di saat-saat terbawahnya, membawa mereka berdua kepada keputusan untuk menjalani semuanya bersama. Keputusan Samuel yang tiba-tiba itu, membuat Lana tak mampu menolaknya. 
Tujuh tahun mereka saling mengenal. Ini kali pertama pula Samuel menciumnya dengan lembut. Lelaki itu memagut bibirnya perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian, seolah dia benda paling berharga sekaligus paling rapuh di dunia.
***

Last Forever ini tipe buku yang akan mudah disukai pembaca, adanya lelaki tampan dan perempuan sempurna serta kekusutan hubungan mereka, serta munculnya guest star yang disebut dalam sampul depan Last Forever, Rayyi, tokoh utama dalam Montase yang membuat penasaran. Jujur saja, tokoh Rayyi mengalami perkembangan kali ini. Jika dulu di Montase dia sama sekali tidak menarik--bagi saya--kali ini ia sama menariknya dengan Samuel Hardi di mata seluruh perempuan. Komentarnya yang asal dan pedas serta sering menyindir Samuel membuat saya seringkali menaikkan alis dan menerbitkan senyum di ujung bibir. Boleh juga anak ini. 

Cukup dengan Rayyi, mari membahas main character-nya.

Samuel Hardi, cukup kuat untuk diimajinasikan sebagai lelaki kelas atas yang angkuh dan superior, ketus pula. Tetapi mungkin karena pribadi seperti itu beberapa kali dipakai di berbagai cerita, membuat saya hanya cukup mengetahui Samuel Hardi pada lapisan awal saja, tanpa adanya rasa penasaran di otak saya. Saya tahu tipe lelaki seperti ini, meski fisiknya menawan, saya pribadi kurang menyukai sikap ketus yang keluar dari seorang lelaki. Sangat sok, membuat ilfeel saja. Saya tidak peduli setampan apa dia. Jika attitude-nya nol besar, maka big no. Maka dari itu saya kurang simpati dengan Samuel Hardi. Jika banyak yang tergila-gila dengan dia, tetapi saya tidak semudah itu. Kecuali saat bagian dia berubah menjadi penuh perhatian, itu pengecualian.

Lana (Lituhayu) Hart. Nama yang cantik. Perempuan dengan sifat seperti ini sepertinya jarang ditemui. Yang banyak terdapat di novel, jika tidak manja, imut serta kekanakan, atau enerjik tetapi tetap emosional, juga perempuan yang digambarkan rapuh dan menyedihkan. Tetapi yang seperti Lana jarang. Lana punya kualitas perempuan mandiri, dirinya juga punya prinsip bahwa perempuan itu tidak seharusnya banyak berkorban untuk lelaki. Ia punya prinsip kesamaan dan kesetaraan. Lana tidak mau dikuasai lelaki. Lana dapat mengontrol perasaannya walau hanya di awal cerita. Siapa perempuan yang tidak sakit hati jika pasangannya berkencan dengan perempuan lain? Tidak ada, kecuali Lana. Mungkin karena jaraknya dengan Samuel. Atau mungkin juga karena memang perjanjian mereka yang mengharuskan tidak terlibatnya perasaan yang mendalam. Lana tipe perempuan alpha. Saya sedikit banyak punya pemikiran sama dengan Lana mengenai pernikahan dan juga lelaki. Jadi, dengan mudahnya saya sudah jatuh hati dengan karakter ini sejak bab awal Last Forever. 

Seingat saya, saya baru kali ini membaca novel yang membahas hubungan tanpa ikatan secara mendalam seperti ini. Hal tersebut jadi base cerita ini, yang mengantarkan Samuel-Lana pada konflik-konflik dalam hidup mereka. Saya menyukai hubungan Samuel-Lana, yang walaupun tidak terikat, mereka masing-masing secara tidak langsung menyadari bahwa ada kecocokan diantara mereka. Walau mereka sering denial terhadap apa yang sebenarnya sedang bertumbuh dalam hati mereka, secara tidak sengaja, bahasa tubuh dan ekspresi mereka menunjukkan bahwa mereka peduli dan tidak ingin terpisah dari satu sama lain. Menurut saya itu hal yang manis. 

Perasaan mereka yang awalnya hanya dipermukaan, perlahan-lahan dibawa menuju dasar melalui proses yang bertahap alias tidak tiba-tiba. Realistis. Juga, ketika tumbuhnya rasa asing yang masuk ke dalam hati Lana ketika melihat anak kecil, perlahan-lahan namun rasa itu ada. Ia mulai menyukai anak kecil, dipicu oleh kehamilannya. Padahal pada awalnya, Samuel & Lana sama-sama tidak menyukai anak kecil, yang membuat mereka menyebut diri sendiri sebagai orang yang tidak pantas menjadi ayah & ibu. 

Tentunya, yang lebih banyak dibicarakan adalah dunia perfilman, khususnya perfilman dokumenter. Kalau saat membaca Montase saya langsung tertarik untuk membuat sebuah film dokumenter, kali ini tidak. Mungkin karena bahasannya tidak semenarik dan semenyenangkan Montase. Dunia perfilman dokumenter di Last Forever digambarkan sangat membosankan. (dan melelahkan jika bosmu adalah Samuel Hardi.)

Cerita berjalan dalam tempo yang pas tetapi banyak kisah lain yang dibahas, mengingat buku ini lumayan tebal yaitu sekitar 377 halaman. Banyak hal-hal yang menjadi pengisi cerita atau hanya sekadar selipan karena saya tidak begitu menikmatinya seperti saat kegiatan syuting di Flores yang sangat dielu-elukan Lana. 
"Kukira, aku tidak bisa melihatmu lagi," katanya, "kukira, aku kehilangan dirimu."
Last Forever mengingatkan saya kepada sesuatu. Satu hal yang paling berbahaya dalam suatu hubungan dan apapun itu. Prasangka, menebak-nebak. Menyimpulkan sesuatu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

Ini kali kedua saya benar-benar menjadi hard shipper dua tokoh utama dalam novel-novel Windry Ramadhina, setelah sebelumnya Kai-Hanna yang menjadi favorit saya. Kali ini mereka harus mengalah untuk Samuel-Lana. :)
"Kau akan kehilangan semua itu. Duniamu. Tapi, aku ingin kau percaya. Aku akan memberimu dunia baru. Mungkin tidak sempurna. Tidak seperti yang kau inginkan. Tapi, dunia itu milik kita. Berdua. Aku... akan ada... untukmu. Selalu."

Share:

0 comments