Out of the Blue - Indah Hanaco | Book Review


Judul: Out of the Blue
Penulis: Indah Hanco
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 289 halaman
Buntelan dari @IndahHanaco
"Trauma memang kejam, membelenggu jiwa korbannya."
Sejak mengalami trauma akan kenangan pahit dalam hidupnya terutama yang berhubungan dengan lelaki, membuat Sophie Lolita tidak lagi menaruh harapan berlebih pada apapun. Dia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Ibunya mengalami gangguan mental setelah melahirkan gadis itu, mengakibatkan ibunya tak menyari bahwa dia punya malaikat kecil yang membutuhkan kasih sayangnya. Sejak kecil, Sophie dirawat oleh Rima, neneknya, yang sangat disayangi gadis itu. Sophie kini tumbuh menjadi gadis yang berusaha ceria dan bahagia,
seakan tak ada kesedihan yang tertanam jauh di lubuk hatinya. 
"Bagaimana bisa hatinya demikian tawar? Apakah perasaan duka sudah menerkamnya lebih kuat dibandingkan yang diperkirakan? Hingga dia bahkan tidak punya kekuatan untuk menangis/bahagia?"
Tidak jauh berbeda dengan hidup Sophie, kisah hidup sahabat gadis itu, yaitu, Amara dan Brisha juga menyakitkan. Amara pernah diperkosa, sampai hamil lalu keguguran. Sedangkan Brisha, telah mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pacarnya. Kini keadaan sudah lebih membaik dengan kehadiran Ji Hwan di sisi Amara, dan kenyataan bahwa kejadian yang menimpa Brisha tidak menimbulkan trauma yang mendalam bagi gadis itu.
Sophie menyayangi kedua sahabatnya. Dia tidak ingin ada yang terluka lagi.
Sebuah pertemuan telah direncanakan oleh Amara dan Brisha antara Austin dan Sophie, mantan kekasih Sophie sewaktu SMA. Hubungan Austin dan Sophie dahulu kandas begitu saja karena kesibukan Austin yang telah menjadi publik figur dan menurut Sophie, Austin tak lagi menjadikannya prioritas. Pertemuan tersebut membawa kedekatan yang mulai terjalin kembali antara mantan kekasih tersebut. 
Sophie kemudian menyadari bahwa hati tidak pantas dititipkan pada siapapun. Terlalu besar risiko yang harus ditanggung. Gadis itu tidak mau merasakan kehilangan lagi. Mungkin itu yang disebut patah hati.
Namun hidup tentu tidak akan berjalan semulus itu. Pertengkaran antara Sophie dan Brisha telah memicu kerenggangan persahabatan mereka. Brisha tidak lagi memercayai Sophie sebagai sahabat terbaiknya, hal tersebut sangat membuat Sophie terluka, padahal Sophie hanya berniat menyelamatkan hati Brisha dari sakitnya patah hati. Belum lagi, kenyataan tiba-tiba yang menghantam kesadaran Sophie bahwa Rengga--pria yang tiba-tiba datang ke hadapannya--ternyata adalah pria yang telah memperkosa ibunya yang mengakibatkan lahirnya gadis itu ke muka bumi sebagai buah cinta mereka. 
Kadang kebetulan datang dan mengejutkan, mirip bola pantul yang menghantam wajah dengan kecepatan menakjubkan.
Sophie awalnya melakukan penolakan dengan tegas atas tawaran Rengga yang ingin mengenal Sophie--anaknya--lebih jauh. Sophie merasa tidak ingin memperburuk hidupnya dengan kenyataan-kenyataan yang menyakitkan lagi dan hanya ingin menikmati hidupnya saja. Namun kebaikan hati Joanna, istri Rengga, sedikit demi sedikit dapat mengubah pandangan Sophie. Walaupun Joanna tidak dapat menggantikan sosok ibu yang sesungguhnya, serta sebaliknya, namun hubungan dua perempuan itu terus menunjukkan kesan yang positif. Karena itu, juga atas desakan Rima, Joanna serta Rengga, ditambah permasalahan pelik yang tanpa ampun menghampiri hidupnya, Sophie pun berhasil menjejakkan kaki di tanah impiannya, Nyhavn, Skandinavia. Bagi seorang gadis yang menganggap rumah adalah satu-satunya tempat terbaik untuk melarikan diri, persetujuan Sophie kali ini sangat tak terduga.

Di Nyhavn, Sophie tidak sengaja terlibat suatu insiden dengan Jamie Keegan, seorang mantan pesepakbola yang banting setir menjadi seorang aktor. Peristiwa itu mengakibatkan Jamie menjadi travel partner Sophie tanpa direncanakan sebelumnya. Jamie berlibur ke Copenhagen untuk menghindari kejaran wartawan dan masalah rumit yang sedang dihadapinya, yang berkaitan dengan profesi serta kehidupan cintanya. Jamie dan Sophie kemudian menyadari timbulnya kekaguman dan letupan hangat di hati masing-masing. Sampai akhirnya, Sophie merasa tersakiti oleh Jamie yang dianggapnya tidak memberinya kepercayaan sebanyak yang dia berikan, dengan menyembunyikan identitasnya. 
"Popularitas itu nggak nyata, Sophie. Itu mirip dunia lain yang membuat orang-orang di dalamnya kadang gagal menilai dengn objektif. Banyak hal yang kabur. Imbalannya memang materi, membuat hidup lebih mudah. Tapi apa yang harus dikorbankan kadang terlalu besar. Tapi memang begitu risikonya."
"Nyatanya, para pengkhianat selalu orang-orang yang mengenal “korban” dengan baik, kan?"
***

Out of the blue (idiom.) when something happens randomly and unexpected.

Sesuatu dalam novel ini memang terjadi secara tiba-tiba dan tidak diharapkan, yaitu kepergian Sophie ke Skandinavia yang membawanya bertemu dengan Jamie. Mungkin karena saya juga belum membaca novel sebelumnya yaitu Heartling, saya jadi merasa bahwa tokoh-tokoh dalam novel ini seperti petasan yang meledak tanpa dapat diprediksi waktunya. Permasalahan hidup mereka diceritakan tiba-tiba dan terburu-buru. 

Sebenarnya tema yang ditawarkan dalam Out of the Blue ini sangat menarik. Trauma terhadap sesuatu yang menimbulkan pola pikir serta mengubah sudut pandang seseorang tentang suatu hal. Tetapi entah mengapa saya merasa kurang bisa simpati dengan tokoh-tokohnya, terutama Sophie. Untuk penegasan trauma Sophie saja perlu konflik sekian banyak yang sayangnya diceritakan hanya sampai kulit luarnya, padahal jika hanya satu saja namun dibahas secara lebih sensitif dan mendalam, akan membuat pembaca lebih paham dan dapat menempatkan diri di posisi Sophie. Konflik yang sekian banyak, tetapi penulisannya terburu-buru dengan alur cepat, terkesan ingin cepat-cepat sampai ke inti cerita yaitu kisah Sophie-Jamie. 

Cukup dengan komentar di sana-sini. Saya akan membahas hal yang saya sukai di buku ini. Benar bahwa pesona Skandinavia yang menurut pembaca lain menjadi daya tarik novel ini, saya juga merasakannya. Deskripsi tentang segala hal yang ada di Nyhavn, Copenhagen, Stavanger, Bergen, Oslo, Stockholm, dsb, mampu menjadi pemanis dalam buku ini. saya paling menyukai bagian food tour dan saat Sophie dan Jamie mengunjungi Tebing Preikestolen. Lebih dari itu, saya menyukai interaksi yang terjadi antara Sophie dan Jamie yang diceritakan secara perlahan-lahan, dengan proses dan tidak tiba-tiba begini begitu seperti yang sebelumnya sudah dibahas. 

Persahabatan Sophie, Amara, dan Brisha sangat menarik untuk diikuti. Dialog-dialog mereka sangat menggambarkan betapa dekatnya persahabatan mereka. Saat membacanya, saya seperti sedang berada di tengah-tengah mereka, menjadi salah satu sahabat mereka, saya sangat menikmati kehangatan persahabatan mereka. Saya dapat mengetahui bahwa Sophie itu adalah cewek yang riang dan ceria, tetapi itu hanya kedoknya saja. Amara yang kaku dan mulanya susah didekati, selalu membangun tembok pertahanan yang sulit dimasuki. Serta Brisha yang memang cewek manis yang bahagia namun terlalu polos dan cepat mengambil keputusan, terlalu larut dalam perasaannya saat mengalami suatu hal dalam hidupnya. Tiga sahabat dengan karakter yang sangat berbeda. Benar-benar unik, kan?
"Hidup kadang lucu, Sophie. Masalah justru bisa membuat kita mengenal sisi nggak teduga dari seseorang."
Cinta di antara mereka begitu besar, membuat kata-kata kadang tidak dibutuhkan.
Saya salut dengan kekuatan tokoh perempuan dalam novel ini, dan berharap perempuan-perempuan lain akan sekuat mereka dalam mengadapi masalah, termasuk saya. 
"Bukankah cinta sejatinya mampu mencukupkan semua?"
 

Share:

0 comments