Perfect Pain - Anggun Prameswari | Book Review


Judul: Perfect Pain
Penulis: Anggun Prameswari
Penerbit: Gagas Media
Tebal Buku: 315 halaman
"Karena menikah itu untuk bahagia. Dua orang yang saling cinta, pasti akhirnya akan menikah. Dengan begitu, mereka akan lebih bahagia."
Apakah cinta saling menyakiti? Semua orang tentu akan berkata tidak. Namun bagi Bidari, pikiran-pikiran itu dienyahkannya. Pernikahannya dengan Bramawira Aksana penuh luka, secara kiasan juga harfiah, kontras dengan apa yang dahulu diharapkannya. Bi selalu berpikir bahwa Bram hanya sedang tersulut emosinya karena masalah pekerjaan, dan dirinya, sebagai seorang istri yang baik, wajib melayani Bram dengan sempurna, tanpa cela, agar pria itu tidak menatapnya nyalang dengan tangan terkepal siap menghantamnya tanpa ampun. Luka yang disebabkan Bram terpeta pada tubuh kurus Bi, mulai dari pipi, rahang, punggung, lengan,
dan yang terparah; hati. Luka fisik memang dapat disembuhkan, namun tidak dengan luka yang terpatri di jiwa.
Tak peduli secantik apa aku berdandan, sebersih apa rumah kami, selicin apa kemeja Bram tuntas kusetrika, seenak apa pun hidangan makan malam, Bram selalu menemukan celah untuk marah.
Nyeri yang tak henti merajam itulah pertanda bahwa ini nyata.
Karel adalah satu-satunya alasan Bi tetap bertahan. Wanita itu tak sampai hati jika melihat anak semata wayangnya harus hidup tanpa kasih sayang lengkap dari kedua orangtuanya. Meskipun harus mengorbankan tubuhnya, meskipun harus menahan sakit tiap kali Bram meluapkan amarah kepadanya, Bi tetap kuat. Demi Karel. Demi anak yang sangat disayanginya. 
Tubuh perempuan memang diciptakan untuk menampung duka.
Masa kecil Bi punya peran besar dalam perkembangannya. Dia menjadi seorang gadis yang pendiam, tidak percaya diri, lantaran sang ayah selalu melontarkan kata-kata tak pantas padanya. Bi yang bodoh. Bi yang lemah. Bi yang tidak cantik. Bi yang tidak berguna. Bi yang selalu berbuat kesalahan. Semua yang dilakukan Bi tidak pernah cukup di mata ayahnya. Sementara, ibu Bi hanya bersembunyi dibalik suara lantang pria itu. Wanita itu terlalu penurut untuk membantah ayah Bi, terlalu takut untuk membela anaknya.
Orang lain akan mencintaimu persis seperti caramu mencintai diri sendiri.
A father is every girl's first love. Relasi ayah dan anak perempuannya akan selalu memengaruhi bagaimana anak perempuan memilih pasangannya.
Guru Karel--Elena, dan sang kekasih, Sindhu Soediro, yang adalah seorang pengacara, menaruh simpati besar terhadap kisah Bi dan Karel. Karel punya tekad kuat untuk melindungi ibunya, tak ingin lagi ibunya kembali pada ayahnya. Anak laki-laki itu memaksa Bi untuk menerima bantuan Sindhu meski awalnya yang wanita itu berikan adalah penolakan. Namun kebaikan Sindhu dan peristiwa terakhir yang Bi ingat, saat Bram berani menyakiti Karel, membuat Bi yakin bahwa kali itu adalah waktu yang tepat untuknya lepas dari cengkeraman Bram.
Kesepian adalah senjata paling mematikan yang ampuh membunuh siapa saja.
Perhatian yang diberikan Sindhu kepada dirinya dan Karel membuat Bi merasa dihargai. Sindhu selalu bilang padanya bahwa Bi tidak seperti yang dikatakan ayahnya. Bahwa Bi sangat berharga dan pantas untuk dicintai. Bi akhirnya mau untuk tinggal di Rumah Puan, sebuah rumah penampungan bagi perempuan-perempuan seperti dirinya, korban kekerasan. Bi pun akhirnya mencicipi bagaimana rasanya punya teman, punya orang-orang peduli di sekelilingnya. Tetapi ulah Bram yang bersikap lemah, tak berdaya tanpanya, serta meminta dirinya dan Karel untuk kembali, mampu meruntuhkan dindingnya. Tak tega, dia kembali, dan pada saat yang sama, Bi merasa sebagian dirinya mulai menyukai aroma parfum Sindhu. Bidari menyadari bahwa dirinya mulai menaruh rasa pada lelaki itu, yang terus dia coba kubur dalam-dalam.
"Naluri keibuan, naluri merawat. Naluri itu yang mendorong kalian lebih emosional. Merasa selalu dituntut untuk mengalah demi kedamaian, demi memperbaiki keadaan."
***

Ada novel yang menarik untuk dibaca karena jalan ceritanya, ada novel yang menarik karena gaya penulisan sang penulis. Termasuk kategori manakah Perfect Pain? Saya pribadi lebih merasa Perfect Pain masuk kategori kedua. Tulisan Kak anggun itu sangat, sangat, menyenangkan untuk didalami. Padanan kata-kata dan deskripsinya membuat saya seringkali terhanyut, sampai lupa menandai kutipan-kutipan tiap halaman. 

Bercerita tentang KDRT yang terjadi dalam rumah tangga tokohnya, Kak Anggun sukses menggambarkan berbagai penyiksaan yang diterima Bi. Sukses menyalurkan rasa sakit Bi kepada pembaca. Sukses mengantarkan aura gelap dari rumah keluarga kecil Bi. Sukses mengirimkan dengan baik rasa ketakutan Bi dalam melakukan sesuatu dengan tidak sempurna. Sukses membuat pembaca merasakan kebimbangan Bi dikala Bram tiba-tiba menjadi lembut dan menyadari kesalahannya. Semua kejadian seputar kekerasan rumah tangga Bi menjadi favorit. 

Saya merasa karakter yang paling kuat adalah Bram. Terasa aura Dr. Hyde dan Mr. Jekyll dalam diri Bram. Laki-laki itu bisa berlaku menyeramkan layaknya monster, namun suatu waktu dia dapat berubah semanis pangeran. Tetapi tidak berhasil dengan Bi. Saya sangat tidak menyukai karakternya. Oke ini bisa bersifat subjektif ataupun objektif, dia memang wanita yang tidak berani menyuarakan apa yang ada di pikirannya, tidak percaya diri dengan segala macam pola pikir yang didapatkannya dari masa kecilnya. Saya mencoba memosisikan diri saya sebagai Bi, tetap saja ada yang janggal. Karena apa? Karena Bi itu juga manusia. Tak ubahnya manusia pada umumnya, harusnya tak akan diam saja ketika ditindas dan diinjak, selemah apapun dia.

Karel, si laki-laki kuat, saya menyukai bagaimana dia ingin melindungi ibunya, yang bahkan tak ingin dilindungi olehnya. Ibunya terlambat menyadari bahwa anak kecil juga bisa melakukan hal besar, dan nggak usah takut dia dewasa terlalu cepat. Bersyukurlah karakter Karel digambarkan sebagai anak yang pengertian, mengerti keadaan. Bukannya malah tidak berdaya dan cengeng. Saya menyukai segala inisiatifnya dalam menyelamatkan ibunya, terlepas dari usianya yang masih sangat belia. 

Sementara Sindhu, figur laki-laki itu terpatri sebagai seorang yang hampir sempurna, kecuali kenyataan bahwa dia punya 'lubang hitam' bernama masa lalu. Tapi tokoh dia nggak berhasil menarik simpati saya walaupun dia punya sifat heroik yang begitu kentara. Saya sempat bertanya-tanya, apa semua perempuan yang dia selamatkan diperlakukan se-spesial Bi? Kalau iya, pesonanya benar-benar tidak mempan pada saya. Terungkapnya masa lalu Sindhu juga tidak membuat saya menaruh simpati padanya, apalagi setelah kejadian dia putus dengan Elena.
"Pernikahan itu sekali seumur hidup. Pasangan yang kamu pilih adalah pasanganmu sampai mati. Salah atau benar, itulah pasanganmu."
Kau tahu, perempuan memang boleh dianggap lemah secara fisik. Hati lebih berkuasa. Menjadikan kami lebih emosional. Namun, kami dianugerahi intuisi. Perempuan dan intuisinya, bukan sesuatu untuk diremehkan.
Walau begitu, saya banyak mendapatkan pesan-pesan dalam novel ini. Apalagi cerita-cerita serupa dari Rumah Puan. Jujur tema KDRT memang sangat menarik. Saya jadi tahu, jangan pernah bergantung dan bersandar kepada orang lain sepenuhnya, walaupun sedang berada di titik terbawahmu. 
"Kebanyakan kasus KDRT terjadi karena perempuannya dibuat lemah, ketergantungan, dan merasa sendiri. Dengan begitu, korban akan merasa tergantung pada pelaku. Begitu korbannya tidak bisa mandiri, pelaku akan memperoleh kekuasaan lebih besar untuk terus mendominasi. Semakin korban lemah, maka pelaku semakin kuat."
Harga yang pantas dibayar untuk lelaki yang tak mencintaimu, adalah meninggalkannya.
"Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru, kalau kita nggak memotong mata rantainya."
Ada luka-luka yang tak mudah sembuh. Bahwa waktu adalah penyembuh terbaik.
 

Share:

2 comments

  1. Readable ^^
    Makin booming aja nih buku ya, Good

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang readable apanya nih? Bukunya atau reviewku? =D
      Iya emang lagi booming apalagi karena ada book tour, dan bukunya emang bagus

      Delete