Secret Identity - Riz Amelia | Book Review


Judul: Secret Identity
Penulis: Riz Amelia
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 226 halaman
"Sejak kecil aku harus hidup di antara orang-orang yang memakai topeng di wajah mereka. Aku tak bisa membedakan mana orang yang benar-benar tulus menyayangiku, atau mana orang yang hanya mengambil keuntungan dariku."
Dua tahun yang lalu, sebuah penculikan telah mengubah hidup seorang gadis. Semua orang meyakini sikap dingin yang ditunjukkannya adalah representasi dari rasa trauma, namun tidak dengan Kim Seun Yong. Sebagai kakak dari gadis itu, dia tidak mempercayainya begitu saja. Dia mengenal gadis itu lebih dari siapapun. Seun Yong menganggap ibu dan ayahnya telah menutupi sesuatu darinya.
Terlebih lagi, kenyataan bahwa mereka berdua adalah putri dari pemilik perusahaan berbasis teknologi dan komunikasi canggih di Korea Selatan, Widmer Corporation. Semua identitas yang berhubungan dengan keluarga Kim--pemilik Widmer--dirahasiakan, termasuk dirinya dan adiknya, Eun Jung. Tidak ada yang dapat mengenali mereka kecuali orang-orang kepercayaan ayahnya.
"Semua orang akan berubah, bukan? Kau, aku, ayah, dan juga ibu. Jadi anggap saja sebagai peralihan. Seperti waktu, yang akan terus berjalan sekalipun semuanya musnah." 
Mawar merah berduri, indah dan cantik, namun juga menakutkan. Eun-jung tersenyum simpul, merasa dirinya tak jauh berbeda dengan mawar merah berduri itu.
Berbekal pengetahuan yang didapatkannya dari negeri Paman Sam, Seun Yong bersikeras menjadi salah satu karyawan di Widmer. Hal tersebut dilakukannya untuk mengungkap kebenaran dibalik penculikan adiknya yang ditutupi demi kebaikan perusahaan. Widmer bukanlah satu-satunya perusahaan besar di Korea Selatan, tentu ada perusahaan-perusahaan lainnya yang menjadi rival. Cara apapun kerap dilakukan perusahaan lain untuk menjatuhkan Widmer yang bekerja dengan bersih, termasuk meneror sebagian besar pemegang saham Widmer dan keluarga Kim. Atas dasar itu, Kim Sung Jin membentuk sebuah pasukan khusus bernama KSA (Korean Secret Agency), untuk melindungi para petinggi perusahaan.
Ia sudah terbiasa bertemu orang-orang seperti ini, menyembunyikan sesuatu untuk menutupi identitas mereka yang sebenarnya.
"Kau tahu, dunia ini dipenuhi oleh orang-orang jahat yang mengincar kekuasaan."
Sebagai atasan, Seun Yong otomatis dihormati semua orang. Gadis itu berusaha bersikap ramah namun tetap tegas. Sikapnya hampir berhasil diterapkan jika saja Lee Jin Soo, salah satu pekerja di Widmer, tidak mengacaukan mood Seun Yong di hari pertamanya resmi bekerja. Lelaki itu sangat urakan, tampilannya berantakan--seringkali ada noda makanan terjejak di kemejanya. Jin Soo malah dengan berani mengedipkan sebelah matanya kepada Seun Yong dengan maksud menggoda gadis itu. Yang paling parah, lelaki itu kecanduan merokok, dimanapun, kapanpun. Seun Yong tentu gerah melihat Jin Soo terang-terangan telah melanggar aturan Widmer yang tidak memperbolehkan pekerja merokok di tempat kerja. Namun gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa, mengingat lelaki itu adalah salah satu pekerja paling jenius di Widmer, aset yang berharga. Seun Yong perlu mengalah.
Ketampanan saja tidak cukup untuk membuat seseorang layak untuk dipandang.
Tidak hanya Seun Yong, paman Seun Yong, Kim Jun--yang menjabat sebagai general manager di Widmer--juga berusaha mengungkap rahasia penculikan keponakannya. Pria itu sudah punya satu nama, tempat dia menuangkan seluruh kecurigaannya. Dia yakin bahwa ada orang dalam yang membantu para peneror bekerja, itu lah mengapa keamanan dan proteksi canggih Widmer dapat ditembus. Dia bahkan memberitahu hipotesa-nya itu kepada pimpinan KSA, yang malah meragukan dugaannya. Satu nama itu, Luftwaffe, adalah organisasi sejenis dengan KSA namun beroperasi dengan cara kotor. Organisasi itu telah lama mati setelah pimpinan mereka dihabisi oleh pimpinan KSA. Mereka menerima perintah apapun dari siapapun asal ada uang dan kekuasaan, termasuk pekerjaan keji, yaitu membunuh. Terbukti dengan terbunuhnya Kim Jun secara misterius dengan peluru yang bersarang di dada dan perutnya. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Kim Jun memberikan petunjuk kepada Jin Soo, tentang peristiwa penculikan itu. Dua kata kunci yang menjadi petunjuk kepada segalanya. Phoenix dan Luftwaffe.
Ia tak tahu sampai kapan dirinya akan membahayakan semua orang yang berusaha melindungi dirinya. Rasanya ini tak adil, karena pada kenyataannya nyawa mereka sama berharganya untuk orang-orang terdekat mereka.
Setelah kematian Kim Jun, penjagaan terhadap Widmer dan keluarga Kim semakin diperketat. Tetapi selalu ada celah bagi para peneror untuk melancarkan aksinya. Sebagai mantan agen rahasia tingkat satu, Jin Soo diutus untuk menjaga Seun Yong. Membuat gadis itu berulang kali merasakan letupan hangat di hatinya setiap kali Jin Soo melindungi dan menjaganya. Namun letupan itu perlahan-lahan meredup, seiring kesadarannya bahwa itu semua hanyalah kewajiban Jin Soo sebagai seorang agen rahasia. Apa lagi, gadis itu tahu bahwa Jin Soo sudah menyimpan kekaguman dan rasa suka kepada adiknya sendiri.
Ketika hal yang begitu kau inginkan harus kau relakan demi membahagiakan orang lain.
"Itulah takdirku. Aku tak bisa memungkirinya, atau bertindak seolah-olah aku adalah gadis dari keluarga biasa. Banyak hal yang harus kupertaruhkan demi keluargaku dan Widmer."
***

Seri PSA3 dan novel-novel Grasindo lainnya punya suatu kelebihan yang tak terbantahkan, desain kovernya. Selalu cantik dan eye-catching. Alasan ini lah yang membuat saya, tanpa berpikir dua kali, membeli Secret Identity.

Secret Identity bergenre romance-action, tentang perusahaan besar, kemewahan, ahli waris, pengkhianatan, dendam, pembunuhan, dan percintaan yang rumit. Semua bercampur menjadi satu, menghasilkan kisah yang menarik untuk diikuti. Jujur, saya lebih tertarik dengan agen rahasia, persaingan bisnis kotor, teror itu daripada kisah cinta Seun Yong dah Jin Soo. 

Kim Seun Yong, gadis cantik juga cerdas, pewaris perusahaan raksasa ayahnya. Dia tidak terlena dengan semua itu, gadis itu malah mau merendah dengan menjadi pekerja di Widmer, bukan pewaris. Seun Yong adalah tipe gadis sempurna namun tidak pandai bersosialisasi. Hanya Eun Jung lah teman terdekat yang dimilikinya, rasa sayangnya terhadap gadis itu melebihi apapun. Dia tidak punya banyak teman, tidak seperti Eun Jung yang cantik dan mudah berbaur dengan lingkungan. Kekurangan Seun Yong hanyalah sifat suka meremehkan orang lain yang menurutnya pantas untuk direndahkan. Dia hanya menilai orang dari tampilan luar. 

Pasti sudah dapat ditebak bahwa karakter favorit siapapun adalah Lee Jin Soo. Tampan, jenius, kaya, badboy, siapapun pasti akan mudah jatuh hati padanya, termasuk saya. Jin Soo punya sifat tidak suka menanggapi dengan serius suatu hal. Selain keahliannya dalam bidang teknologi, sepertinya dia juga ahli dalam membuat orang kesal setengah mati padanya. Walaupun begitu, dia tetap pembuat onar yang menawan. Tingkah lakunya yang suka menggoda Seun Yong membuat saya gemas. Bahkan saat gadis itu mengomelinya panjang lebar, dia malah tidak peduli. Menyebalkan, kan?

Persaingan bisnis menjadi isu utama yang diangkat dalam novel ini, yang mengantarkan cerita menuju berbagai konflik yang muncul. Saya nggak tahu bagaimana tepatnya dunia bisnis di Korea sana apa memang ala-ala mafia seperti itu, tetapi sungguh menarik jika memang melibatkan pembunuh bayaran, agen rahasia, dan sebagainya. Semua yang terjadi dalam novel ini saling berkaitan satu sama lain. Kamu akan menemukan alasan mengapa Eun Jung bersikap berbeda semenjak penculikan itu. Kamu akan menemukan alasan mengapa sistem keamanan Widmer Corporation dapat ditembus, padahal teknologinya begitu mutakhir. Kamu akan menemukan alasan siapakah dalang dibalik penyerangan terhadap Widmer dan apa motifnya. Kamu akan menemukan gambaran, seperti apa jika teknologi tidak digunakan semestinya. Kamu akan menemukan kenyataan bahwa tidak semua orang pantas mendapatkan kepercayaan. Semua akan terjawab sebagai twist cerita. Semua yang ada dalam novel ini hanyalah pengecoh. Semua baru akan terlihat jelas, sampai kamu tiba di halaman akhir. Jadi nikmati saja kejutan-kejutan kecil yang akan kamu dapatkan ketika membaca Secret Identity. 
"Satu hal yang diperlukan adalah kepercayaan. Hanya itulah kekuatan terbesar dalam suatu organisasi."
Walaupun menyangkut teknologi canggih, tidak banyak informasi tentang hal itu dalam novel ini. Tidak banyak istilah rumit tentang teknologi yang disisipkan. Mungkin karena memang teknologi canggih yang ada di novel ini murni rekaan dari penulis, sehingga belum ada penyebutan pastinya. Penulis hanya mendeskripsikan seperti apa teknologi itu, dengan harapan pembaca akan memahaminya. Tetapi disini disebutkan beberapa jenis senjata api, karena memang agen rahasia sangat berhubungan erat dengan senjata dan semacamnya. 

Disini dijelaskan bahwa perusahaan-perusahaan semacam Widmer juga bekerja sama dengan pemerintah dalam bidang ketahanan. Mungkin karena kontribusinya, perusahaan-perusahaan semacam Widmer bebas mengurus urusan 'rumah tangga'-nya sendiri. Tetapi saya ragu jika pemerintah malah benar-benar lepas tangan saat konflik antar bisnis besar ini muncul, apa lagi saat peristiwa kejar-kejaran di jalanan dan baku tembak di perusahaan, yang katanya hanya diserahkan kepada personil KSA. Apa benar-benar seperti itu? Padahal apa yang terjadi dapat membahayakan keselamatan warga sipil juga. Saya merasa itu adalah hal ganjil yang dapat terjadi di Korea Selatan, yang notabene-nya bukan negara penuh kejahatan seperti Rusia atau Kolombia. Bukankah pemerintahan tetap lebih punya andil dalam mengatur negaranya? Korea Selatan kan bukan hanya tentang Widmer, Sunrise, KSA, dan Luftwaffe, tetapi ada warga lain yang tidak tahu apa-apa, yang perlu dilindungi oleh pemerintah dan jajaran polisi.
"Bukankah lebih baik jika setiap orang bisa melindungi dirinya sendiri?"
 

Share:

0 comments