Book Addict is The New Sexy?? How Come?! | Article


Semua orang tentu punya hobi, walau terkadang hobi itu semacam guilty pleasure. Menyesal karena terlalu boros, mengeluarkan uang untuk membeli hal itu, namun rasanya malah menyenangkan. Seperti ayah saya, beliau suka pelihara burung dan mengoleksi batu cincin, ya, kayak bapak-bapak kebanyakan, lah. Ibu saya, suka mengoleksi kalung-kalung batu. Adik saya? entahlah dia mengoleksi apa, mungkin kaset game atau apapun yang dikoleksi oleh anak-anak jaman sekarang. Nah, saya sendiri sudah semenjak SD punya hobi mengoleksi dan
membaca buku.


Koleksi buku saya. :D
Saya lupa bagaimana tepatnya saya bisa jatuh cinta sama buku. Yang saya ingat, dulu ketika masih SD saya lagi senang-senangnya mengoleksi kumpulan cerpen terbitan Pustaka Ola dkk. Oh ya, saya baru ingat! Sepertinya minat membaca saya mulai tumbuh ketika ibu saya membelikan saya majalah Bobo. Lalu juga berlangganan koran kompas dimana edisi hari minggu-nya selalu terdapat cerpen-cerpen yang selalu saya gunting lalu saya tempel di buku tulis untuk sebagai koleksi. Saya sudah mulai senang membaca sejak itu. Ketika akhirnya ibu saya mengenalkan saya pada seri Lima Sekawan, itu loh, karya Enid Blyton. Belia mengatakan bahwa seri itu adalah buku favoritnya sewaktu beliau masih kecil. Saya tentu sangat tertarik mendengar cerita beliau tentang bagaimana lima sekawan itu berpetualang dan mengungkap misteri-misteri. Malah, setelah itu saya tertular 'virus' yang disebarkan ibu saya, lalu menjadi salah satu pengoleksi seri Lima Sekawan! 

Lalu tibalah saat saya menduduki bangku SMP. Seiring dengan bertambahnya usia, mulai berubah juga minat membaca saya. Yang tadinya hobi banget membeli seri KKPK-nya Mizan, lalu komik-komik Power Puff Girls, saya mulai menyukai novel romansa remaja. Akhirnya sampai sekarang, salah satu genre yang biasa saya baca adalah romance. Tapi bukan berarti cerita romance-lah yang paling saya sukai. Berhubung semakin kesini banyak romance yang terlalu menye-menye dan agak lebay, saya jenuh juga. Mulai lah saya beralih membaca novel-novel horor, misteri, thriller, slasher, dan sebagainya. Mengikuti selera nonton film saya, yang anehnya nggak begitu menyukai romance, malah lebih menyukai horor, slasher, dan fantasy

Luckily, tiga sahabat saya punya hobi yang sama seperti saya. Memang, sih, saya nggak punya klub membaca, tapi kami bertiga kalau bertemu salah satu rutinitasnya adalah ngobrolin buku baru, atau buku yang lagi booming, atau bahkan tokoh cowok terganteng dalam buku. Layaknya klub membaca, saya dan sahabat-sahabat saya seringkali membicarakan hal-hal itu dalam setiap kesempatan. Mereka juga punya koleksi buku, walau diantara kami saya-lah yang berperan sebagai gudang buku. Jadi sahabat-sahabat saya sering meminjam buku-buku saya untuk dibaca, saya tentunya senang, as long as itu buku nggak dirusak sama mereka, ya. Hahahaha xD

Saya ingat dulu sempat merekomendasikan buku Remember Paris-nya Icha Yuz terbitan Stiletto Book. Karena memang sahabat saya waktu itu ingin meminjam novel-novel ber-setting luar negeri yang bagus. Langsung saja saya pinjamkan buku itu. Buku-buku Stiletto Book yang saya miliki juga punya kenangan tersendiri. Contohnya, Geek in The High Heels yang saya dapatkan setelah saya ikut kuis mengajukan pertanyaan kepada penulisnya, yang waktu itu nggak terpikirkan sama sekali oleh saya akan menang. Ternyata pertanyaan sederhana saya tentang, "kalau bukunya tidak disukai pembaca, bagaimana?" dapat menarik hati Mbak Octa NH.


Koleksi Stiletto Book saya, memang baru dua, dan semoga akan bertambah. :)
Koleksi saya memang lumayan banyak, karena saya nggak pernah menargetkan bujet untuk membeli buku. Nggak ada bujet bulanan, jadi kalau saya kebetulan ada uang nganggur, saya akan pergi ke toko buku untuk membeli satu atau dua buah. Nah, sialnya, saya suka maksain ada uang, jadi keseringan membeli buku. Habis saya nggak bisa kalau berkunjung ke toko buku tanpa membawa pulang apapun. Rasanya aneh, sudah meninggalkan mereka sendirian di belakang sana. Sedangkan, ke toko buku itu sudah semacam jadi refreshing menurut saya, apalagi sekarang kampus saya dekat banget dengan toko buku besar. 

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, kenapa saya segitu niatnya mencari bahan bacaan? Padahal bagi sebagian orang membaca itu membosankan dan bikin capek mata. Bahkan, teman-teman cowok saya semasa SMA seringkali malas membaca bahkan untuk membaca soal ulangan mereka sendiri, khususnya bahasa indonesia yang panjangnya kayak koran. Adik saya pun sama saja, disuruh membaca buku pelajaran, dia bahkan nggak membaca sedikitpun, malah hanya melihat gambar-gambar yang ada di buku itu. Saya bertanya-tanya, sebenarnya apa yang salah dari kegiatan membaca? Padahal apa yang mereka baca itu lekat sekali dengan urusan pendidikan mereka? Mengapa orang-orang begitu rendah minat membacanya bahkan yang ujung-ujungnya akan berguna bagi diri mereka sendiri?

Kemudian saya berspekulasi, menarik kesimpulan sendiri, bahwa mereka yang nggak berminat membaca buku belum merasakan manfaat buku bagi mereka secara langsung. Karena faktanya, kebanyakan orang nggak akan mengakui sesuatu hal bermanfaat, kalau mereka nggak bisa merasakan esensi hal tersebut, dan hanya dengar-dengar dari mulut ke mulut.

Mengenai hal tersebut, tentu berhubungan erat dengan alasan dibalik rendahnya minat membaca masyarakat Indonesia. Selain belum menyadari manfaat membaca secara langsung, ada beberapa faktor lain yang terpikirkan oleh saya secara matang. 

1. Generasi anak muda sekarang adalah generasi instan

Tidak diragukan lagi, mentalitas bangsa Indonesia yang sekarang kadang nggak mau ribet-ribet untuk mencapi sesuatu alias dengan cara instan. Terbukti dari sistem pembelajarannya yang sedikit banyak menjadi pemicunya. Menurut saya, pengajar belum mampu mendorong siswanya untuk mencari tahu hal sendiri, hanya mengandalkan ilmu yang didapatkan di pendidikan formal. Sepengalaman saya, sekolah terkadang suka memberikan soal ulangan yang jawabannya sama persis seperti yang ada di catatan yang diberikan, atau sekolah saya bahkan soal yang sama persis dengan tahun lalu. Hal itu akan membuat para siswa mendapatkan ilmu dan jawabannya dengan sangat mudah, hanya menghafal jawaban tanpa berniat untuk mencari tahu lebih lanjut dari banyak sumber seperti referensi buku lain.

2. Pengaruh globalisasi tanpa adanya filter

Dengan banyaknya hal baru yang masuk, seperti internet, dan teknologi, yang tidak disertai dengan sikap bijak saat menggunakannya, akan membuat kegiatan membaca semakin tertinggal. Contohnya, banyak yang menganggap dengan menonton akan lebih mudah menyerap informasi dibanding membaca, tetapi yang banyak kita temui sekarang adalah penyalahgunaan teknologi. Tayangan televisi banyaknya memberikan hal-hal yang kurang bermanfaat, dan sayangnya, itu-lah yang lebih disukai anak-anak jaman sekarang. 

3. Banyak yang menganggap buku masih mahal dan susah dicari

Saya sekarang sedang menggeluti dunia kuis yang sering berhadiah buku. Dan saya amati, banyak sekali teman-teman saya sesama pecinta buku slash book hunter yang suka mengeluhkan ketidakberadaan toko buku di daerah mereka yang jauh dari pusat kota. Juga, harga buku yang masih dianggap mahal bagi sebagian orang, membuat mereka agak ragu untuk membeli sebuah buku. Jika orang tersebut punya internet, dan bisa membeli e-books, tidak begitu masalah. Nah, kalau yang tidak bisa? Akan sangat disayangkan keinginan membacanya tidak dapat tersalurkan.

Mengenai hal itu, menurut saya kinerja pemerintah dalam hal meningkatkan minat membaca masyarakatnya sudah cukup baik, walau terkadang belum maksimal. Kita bisa melihat berita dibuatnya perpusatakaan keliling di berbagai pelosok daerah, dibangunnya taman membaca, dibagikannya buku-buku gratis oleh para aktivis yang mungkin juga sudah mendapat dukungan pemerintah, tetapi hanya selentingan. :( Biasanya berita seperti itu hanya akan mendapat porsi sedikit di media massa, sehingga nggak banyak orang yang tahu. Sosialisasi membaca yang mungkin seringkali digalakan diberbagai daerah namun tidak mendapat sorotan lampu kamera. Hanya tinggal dimaksimalkan pengadaan fasilitas-fasilitasnya, dan distribusinya harus merata ke segala penjuru. Agar semua orang bisa merasakan manfaat buku. Harus lebih tegas dan transparan digalakan, supaya banyak yang menyadari, banyak yang peduli dengan kegiatan membaca. Saya tidak akan berkomentar banyak karena bukan porsi saya untuk berkomentar tentang kinerja pemerintan dalam postingan membaca kali ini. 

Seperti yang kita tahu, dari membaca, padahal hanya satu kegiatan yang kita lakukan, tapi apa yang kita dapatkan terasa berjuta-juta. Sebenarnya apa sih yang akan kamu rasakan saat membaca, wahai para book lovers? Kebanyakan dari kami akan menjawab seperti ini:

1. Membaca adalah penghiburan diri sendiri paling tidak memakan biaya

Nyatanya, banyak buku-buku termasuk novel yang mengangkat latar di luar negeri, bahkan di negara-negara impian. Saat membaca, percaya atau nggak, kamu sedikit banyak akan merasa sedang berada di sana bersama para tokoh, berkat deskripsi dan riset sang penulis. Apa lagi jika penulis jago dalam bercerita, sehingga latar tempat itu nggak hanya jadi tempelan belaka. Mengapa saya sebut paling murah? Karena 'hanya' dengan membayar 50 ribu sampai 100 ribu rupiah, kamu bisa berkeliling ke mana pun yang kamu suka, tanpa berpindah dari kasur atau pun kursimu. Cukup hidupkan saja deskripsi penulis di pikiranmu, maka kamu akan berada di sana dalam sekejap mata.



2. Dengan membaca buku, bertambah juga wawasan tentang dunia

Menurut saya, salah satu cara belajar paling asyik adalah membaca. Mengapa? Karena buku nggak hanya sebatas buku pelajaran, buku bervariasi dari novel, komik, biografi, dsb. Jika dari buku pelajaran yang setumpuk itu kamu sudah pasti akan mendapatkan wawasan baru, bagaimana dengan jenis buku lainnya? Saya akan mengambil satu contoh, novel adalah jenis buku yang paling sering saya baca. Percaya atau tidak, yang saya temui dalam novel-novel itu bukan sekadar love thingy menye-menye yang membuat pembaca hanya bisa menjadi penghayal. Banyak sekali hal baru yang saya temui dari membaca buku, seperti fenomena-fenomena sosial yang ada dunia, yang nggak akan kita sadari tanpa mencari di internet. Misalnya, ada novel yang bercerita tentang Hikkikomori, ada novel yang bercerita tentang peristiwa '98, ada novel yang bercerita tentang sejarah pahlawan. Mereka menyelipkan informasi itu dengan cara yang menyenangkan, bercerita, diselingi dengan kisah cinta ringan antar para tokoh. Jadi kita dapat menyerap informasi itu secara menyeluruh tanpa merasa bosan dan mengantuk.

3. Sering membaca buku, meningkatkan perbendaharaan kata

Nggak dipungkiri, tugas editor benar-benar patut diacungi jempol. Selain mengoreksi naskah, dan diksinya. Mereka juga mengedit jika ada penulisan kata yang tidak sesuai dengan KBBI. Dengan membaca, kamu akan tahu arti dari kata 'menghidu' yang nggak akan kamu dapatkan tanpa membolak-balik KBBI, dengan membaca, kosa katamu akan terus terbaharui, seiring bertambahnya tumpukan buku yang selesai kamu baca. 

4. Membaca, mempertajam daya ingat

Sedikit penjelasan ilmiah, membaca dapat mengasah memori otak untuk mengingat, karena saat membaca, otot-otot memori meregang untuk meningat informasi dari halaman per halaman. Mungkin sedikit menjelaskan juga, mengapa kamu masih bisa mengingat jalan cerita dalam novel yang sudah kamu baca bertahun-tahun lalu.

5. Berkembangnya kemampuan menulis kita

Kamu mau jadi penulis, tapi nggak doyan membaca? Nggak bisa! Ini sudah nggak bisa terbantahkan lagi. Untuk menulis, kita harus memperbanyak referensi bacaan agar tahu bagaimana cara menulis yang baik walau nggak sering ikut workshop penulisan. Semakin banyak buku yang kamu baca, akan semakin bertambah penilaian kamu tentang kriteria tulisan yang bagus. Dengan membaca juga, kamu bisa mengerti jenis naskah seperti apa yang kemungkinan penerbit yang kamu incar akan terima. Dengan membaca, akan meningkatkan kemampuan menulismu, dan bukan nggak mungkin kamu akan jadi salah satu calon penulis sukses di masa depan.

Bahkan, menurut saya pribadi, membaca ada fungsi latennya. Selagi stres dan pusing dengan realitas yang dihadapi, membaca dapat menjadi suatu 'pelarian' diri. Hah? Gimana, gimana? Jadi gini. Saat membaca, khususnya novel, kamu akan merasa menjadi orang lain walau hanya sebentar, ikut merasakan kehidupannya, bahkan merasakan apa yang dirasakannya. Kamu jadi nggak merasa sebagai orang yang paling punya masalah, karena nyatanya, apa yang dialami para tokoh novel juga terinspirasi dari apa yang dialami oleh orang di luar sana. Bahkan nggak jarang kamu menemukan jawaban atas masalah hidup kamu dalam sebuah novel. Kamu akan menjadi lebih rileks dan tenang saat membaca.


Itu lah beberapa hal yang dapat kita peroleh hanya dari kegiatan membaca. Banyak, kan?

Tapi sepertinya saya harus memberi contoh agar orang-orang yang masih sering menceletuk, "buat apa sih membaca? Cuma mengkhayal doang bisanya.", "kayak orang cupu aja deh, baca.", "males banget baca, liat deh sehalaman kata-kata semua, bosen tau!". Bahkan, teman dekat saya sendiri menyindir "kebanyakan baca jadi kebanyakan ngayal deh lo." Wuih, sesuatu yang benar-benar dapat menyakiti hati para book lovers. Sini, sini, saya kasih tau kenapa kamu perlu membaca kalau kamu nggak percaya dengan 5 hal yang saya jabarkan di atas.

Seperti yang saya katakan, mereka belum merasakan manfaatnya secara langsung. Berdasarkan pengalaman pribadi saya yang sudah terbukti. Kamu akan mendapat nilai bagus dalam pelajaran jika membaca, bahkan hanya membaca novel. Lho, kok bisa?

Pernah terpikirkan, nggak, bahwa saat membaca, kamu secara nggak langsung sudah menemukan kata-kata baru serta mengingatnya? Dan hal itu, akan berguna sekali bagi khusunya pelajaran Bahasa Indonesia yang selalu jadi momok menakutkan bagi sebagian besar siswa SMP dan SMA di jaman ini. Pasti pernah dengar kan komentar orang-orang, "nilai bahasa asing kok bagus sedangkan bahasa sendiri kok jeblok?". Alhamdulillah, saya sendiri berkat rajin membaca, nilai-nilai bahasa Indonesia saya sejak SD selalu memuaskan, bahkan, bukan bermaksud sombong, kalau UN hanya salah satu. Berdasarkan pengamatan saya selama SMA dulu, banyak sekali siswa-siswa yang keliru di soal ejaan kata yang benar sesuai KBBI, dan karena saya sering menemukannya dalam novel, tentu saya sudah tahu mana yang benar mana yang salah. Sementara yang tidak pernah membaca, akan menjawab salah. Di soal SBMPTN untuk masuk kuliah, misalnya, pun kamu akan menemukan manfaat membaca seiring bertambah banyaknya soal yang berkaitan dengan ejaan kata, malah hampir semua. Karena sering membaca juga, percaya atau tidak, saya sering sekali mengangkat tangan untuk menjawab soal yang nggak bisa teman-teman saya selesaikan saat pembahasan soal bimbingan belajar dulu. Ironisnya, teman-teman saya yang sama sekali nggak sudi membaca, lebih memilih tidur saat UN bahasa Indonesia dan hanya membulatkan jawaban dari kunci jawaban tanpa melirik soal sedikitpun saking ogahnya melihat barisan kalimat! Duh, segitunya ya. Padahal, kalau kamu punya pengetahuan cukup untuk menjawab soal dari membaca, kamu nggak akan mau mengikuti kunci jawaban yang belum tentu benar serta mempertaruhkan nilai dan kelulusanmu. Benar saja, rata-rata yang memakai kunci jawaban nilainya standar-standar saja.

Masih belum merasa itu bermanfaat? Oke, akan saya jelaskan lagi. Sekarang saya duduk di bangku kuliah, dan kata orang-orang, mereka yang memasuki bangku kuliah biasanya akan lebih rajin dan nggak main-main karena kuliah itu jauh berbeda dengan SMA. Kamu nggak akan lulus bareng-bareng hanya karena mengandalkan contek-contekkan berkedok solidaritas, yang akan membawa kamu kepada nilai C, D, atau E bahkan DO di beberapa kampus. Jika kamu setidaknya sering membaca, nggak usah hobi juga, deh, itu akan sangat membantu kamu dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah yang NGGAK BOLEH copy paste dari internet seperti jaman SMA. Kuliah itu sedikit sekali soal isi titik-titik atau PG, dan banyak soal yang mengharuskan kita memutar otak memikirkan kalimat apa yang harus ditulis. Untuk tugas makalah 10 lembar saja saya butuh referensi 7 buku baru bisa menyelesaikannya dengan baik. Apa lagi saat menulis skripsi? Terbayang, nggak, akan berapa banyak buku yang kamu baca selama kuliah? Jika kamu nggak segera menerbitkan minat baca kamu, percaya sama saya, kamu akan keteteran, dan nggak banyak teman yang mau tugasnya ditiru. Jadi, setidaknya, kalau kamu benar-benar nggak bisa bisa hobi membaca, coba-lah membaca, bukan karena alasan-alasan menyenangkan seperti bentuk penghiburan diri paling murah, menambah wawasan, dan lain-lain. Coba-lah untuk mulai membaca demi masa depan cerah kamu sendiri. Pasti akan sulit menolak membaca, kan, kalau sudah berhubungan dengan masa depan?

Terus, jika kamu sudah mulai terkena pencerahan ingin membaca akibat kalimat berapi-api saya diatas. Sekarang pasti timbul pertanyaan, "gimana caranya tetap membaca buku di sela-sela kesibukan? Secara, nggak semua orang punya waktu luang, dan membaca buku 300 halaman sampai habis itu itu rata-rata butuh waktu 4 jam."

Itu dia gunanya tas. Nggak harus membaca di kamar, perpustakaan atau pun di ruang baca, kamu bisa membaca buku di mana pun. Buku untungnya bentuknya kecil, mudah dibawa kemana-mana. Kamu bisa membacanya sembari makan, saat sedang menunggu transportasi umum, saat sedang di dalam KRL, pokoknya di mana pun saat kamu hanya bisa berdiam diri dan bengong, manfaatkan lah waktu itu untuk menyiram otakmu dengan wawasan baru. Apa lagi, adanya e-books memudahkan kamu nggak harus menenteng-nenteng buku kalau malas, hanya dengan membuka gadget, kamu bisa membaca bahkan di toilet sekalipun bagi yang selalu membawa ponselnya ke toilet. Membaca buku sebelum tidur juga bisa menjadi pilihan waktu yang tepat untuk membaca, pasti kamu nggak akan punya banyak kerjaan, dan hanya men-scroll layar ponsel memantau sosial media. Kenapa nggak digunakan saja waktunya untuk membaca?

Bahkan, jika kamu blogger seperti saya, kamu akan menemukan banyak challenge membaca buku dengan hadiah-hadiah yang menggiurkan. Terkadang orang memang butuh suntikan motivasi berupa hadiah untuk melakukan sesuatu, dan ini adalah salah satu cara yang tepat, bagi pesertanya juga untuk meningkatkan minat membaca orang-orang agar lebih tertarik dengan buku.

Tadi saya sempat menyinggung tentang mahalnya buku yang dirasakan sebagian masyarakat. Saya nggak begitu memahami mengapa pada akhirnya keluarlah harga 50 ribu, 60 ribu dsb di toko buku. Tetapi, saya ingin membantu kalian yang ingin membaca dengan bujet tidak mencukupi. Terinspirasi dari adanya tantangan di blog, saya akan menyarankan untuk melakukan hal ini; menabunglah untuk buku walau pun yang kamu tabung itu hanya recehan. Lama-lama nggak akan terasa recehan itu menjadi puluhan, bahkan ratusan ribu, yang akhirnya bisa menjadi alat penukar untuk membawa pulang buku yang kamu inginkan. Masukkan recehan ke dalam toples kaca dan jangan diganggu gugat sampai terasa cukup banyak. Atau bahkan, kamu bisa menantang diri kamu untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang receh selama setahun. Selamat dicoba!


Karena sekarang banyak yang mengatakan, semakin banyak wawasan yang kamu punya, semakin tinggi daya tarik kamu di mata orang lain termasuk lawan jenis. Banyak yang mencari cewek atau cowok pintar sekarang, lebih memilih yang pintar ketimbang modal wajah. Karena apa? Dengan pengetahuan kamu bisa mendapatkan segalanya selangkah lebih mudah. Nggak jarang yang berpendapat bahwa, "Book Addict is The New Sexy." Pernyataan itu nggak bohong sama sekali, siapa sih yang nggak terkagum-kagum melihat orang pintar? Siapa yang nggak akan menyukai berada di dekat mereka? Siapa sih yang nggak menganggap orang berwawasan luas itu seksi dan layak dijadikan pasangan? Sepertinya sedikit sekali yang tidak sependapat dengan saya. Jaman sekarang, seksi itu nggak melulu direpresentasikan dari baju minim bahan, dan badan bagus. Cukup dengan rajin membaca dan berwawasan luas, kita sudah bisa terlihat seksi di mata orang lain!

Begitu banyak penerbit dan penulis buku yang saya kenal setelah saya hobi membaca. Semakin sering melihat buku yang terbit di toko buku, semakin besar keinginan saya untuk menulis salah satunya. Bahkan, karena membaca pun saya jadi mengenal Penerbit Buku Perempuan seperti Stiletto Book, yang mendedikasikan diri untuk menerbitkan buku-buku fiksi maupun non fiksi yang berkaitan dengan dunia perempuan. Saya baru tahu ada penerbit yang unik seperti itu, dan salut atas apa yang telah dilakukan, yang dapat membantu peningkatan minat baca masyarakat Indonesia khususnya perempuan yang menjadi sorot utama penerbit ini. Saya sering mengikuti twit yang ditulis oleh admin, yang informatif seputar buku, mulai dari tips seperti meluangkan waktu untuk membaca setiap hari sampai menu KBBI tentang ejaan kata-kata di KBBI yang paling saya sukai. Akhir kata, terus menerbitkan buku-buku terbaik, Stiletto! 


Postingan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Ulang tahun Kelima Stiletto Book

Fabiola Izdihar
@fazidaa_ (twitter), Fabiola Izdihar (facebook)
fabizdihar@gmail.com

Share:

1 comments