Crystal Stairs - Amaliah Black | Book Review


Judul: Crystal Stairs
Penulis: Amaliah Black
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 248 halaman
Buntelan dari @grasindo_id
"Kau tahu? Sejak aku mengenal orang itu, aku seolah-olah berubah menjadi perempuan masokhis. Dia seperti raja yang berkuasa sementara aku hanyalah kurcaci kerdil yang tidak tahu apa-apa."
Kim Ha-Na dan Choi Min-Jae bagaikan anjing dan kucing; selalu bermusuhan, bertengkar, dan segala kata yang menggambarkan perselisihan. Saat SMA, tiada hari tanpa cekcok, keusilan Min-Jae selalu mengundang amarah Ha-Na, menjadikan wajah cowok itu sasaran empuk bogem mentah dari Ha-Na. Sial bagi mereka berdua, semesta mempertemukan mereka di bawah naungan sebuah teater musikal.
Min-Jae yang notabene memang sudah lumayan profesional di dunia hiburan dengan menjadi bintang iklan, mendapat peran sebagai pemeran utama di pementasan yang dipimpin oleh Su-Bin, dan Min-Jun, sang komposer genius. Sedangkan Ha-Na, hanya bisa pasrah menerima peran sebagai pemeran pengganti Dae-Yun, lawan main Min-Jae sebagai pemeran utama perempuan.
"Menyimpan dendam bukanlah sesuatu yang bermanfaat."
"Musik memang sesuatu yang bersifat hidup. Kau pasti akan merasakan ada nyawa di dalamnya."
Min-Jae memang belum berubah semenjak SMA. Laki-laki itu masih hobi mengejek dan mengusili Ha-Na walau umur mereka sudah dewasa, sedangkan Ha-Na, di mata Min-Jae, perempuan itu berbeda, ia telah menjelma sebagai sosok yang anggun dan sopan. Ha-Na sempat menyita perhatian Min-Jae dengan perubahan drastisnya. Karena mereka masih sering beradu mulut, Dae-Yun berinisiatif berteman dengan Min-Jae dan Ha-Na. Tentunya hal tersebut berhasil, mengingat sifat Da-Yun yang supel. Awalnya mereka bertiga bercanda gurau, seolah mereka adalah sahabat lama yang dipertemukan kembali. Namun kadangkala, di suatu persahabatan, ada saja orang-orang yang lebih dekat satu sama lain, dan hal itu terjadi pada Min-Jae dan Dae-Yun. Ha-Na yang merasa tersisih berusaha keluar dari lingkaran mereka. Ha-Na mulai merasakan ketidaknyamanan saat melihat Min-Jae terang-terangan memuji Dae-Yun yang memang sangat cantik dan seksi, perempuan itu merasakan rasa sakit yang asing ketika melihat Dae-Yun bersama Min-Jae.
"Membina hubungan yang baik diperlukan perbedaan untuk saling melengkapi." 
"Kau menyuruhku untuk bersikap manis selayaknya perempuan, tapi kau sendiri tidak pernah memperlakukanku seperti perempuan."
Ternyata Dae-Yun memang menaruh perasaan terhadap Min-Jae. Namun ia ragu untuk menunjukkannya karena ada seseorang yang tengah 'merantai' dirinya. Seseorang yang akan kecewa dan marah terhadap dirinya. Seseorang yang mencintai Dae-Yun, yang membuat perempuan itu kerap kali menyakiti tubuhnya sendiri untuk memutus kesengsaraan. Namun Dae-Yun tidak bisa lagi membendung perasaannya, bersamaan dengan itu, perempuan itu mulai menyadari bahwa selama ini yang ada di pikiran Min-Jae adalah Ha-Na, bukan dirinya, terlihat dari kekhawatiran yang dipancarkan Min-Jae terhadap Ha-Na. Dae-Yun benar-benar kecewa dan putus asa.
"Bunuh diri bukan satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah."
Hingga sampai-lah kabar yang mengejutkan seluruh dunia hiburan, bahwa Dae-Yun ditemukan tak bernyawa di dekat panggung teater. Semua mata tertuju pada Ha-Na, karena kenyataannya, perempuan itu lah yang pertama kali menemukan kondisi mengenaskan Dae-Yun, beberapa bukti pun tertuju padanya. Semua tuduhan mengarah pada Ha-Na, dan ia tak bisa berbuat apa-apa, sampai Min-Jae pun menganggap seolah-olah dirinya lah yang bersalah lantaran Ha-Na otomatis akan menggantikan peran Dae-Yun sebagai pemeran utama, sesuai impian perempuan itu. Yang paling mengkhawatirkan, teror terus mendatanginya ketika ia berusaha mengungkap bahwa dirinya tidak bersalah. Lalu, apa yang akan dilakukan Ha-Na selanjutnya? 
"Mati terbunuh adalah kematian paling mengerikan. Ia tidak pernah bermimpi akan mengalaminya sendiri."
***

Crystal Stairs ini dapat disimpulkan bergenre dark romance, ditilik dari novel dan kisahnya yang berhubungan dengan pembunuhan. Sebagai salah satu pemenang kontes #PSA3, tentunya Crystal Stairs memiliki cover secantik teman-temannya, eye catching.

Uniknya, di bagian awal sampai pertengahan lebih cerita, saya nggak menemukan keterkaitan antara judul dan isi cerita. Namun di bagian akhir saat terungkapnya identitas di pembunuh, voila! Amaliah Black baru mengungkapnya apa maksud dari judul Crystal Stairs. 

Saya diajak menebak-nebak siapakah sebenarnya pembunuh Dae-Yun. Sepertinya Amaliah Black selaku penulis sengaja tidak begitu menyembunyikan clue-clue agar pembaca mudah menebak. Tetapi yang membuat saya mengacungi jempol adalah ketika Amaliah sukses membuat saya mencabut-lalu-memasang-kembali tuduhan saya kepada satu nama. Saya yang awalnya yakin, bisa kembali goyah, lalu yakin lagi, lalu goyah lagi. Lalu adanya twist yang berhasil dibuat penulis untuk mengecoh keyakinan pembaca tentang siapakah tersangkanya. Motif pembunuhan dan hal-hal kecil yang menjadi bukti benar-benar tidak tertebak!

Gaya penulisan Amaliah Black-lah yang mencuri perhatian saya. Saya sangat menyukai bagian narasi yang ditulis dengan pemilihan kata yang cantik. Bahkan, adegan saat Min-Jae menyikat gigi dituliskan dengan menarik, bukan hanya sekadar kalimat pendek "Nyawa Min-Jae belum sepenuhnya terkumpul saat ia menyikat giginya dengan malas." tetapi, "Entah sejak kapan sikat gigi itu sudah menyusupi rongga mulutnya, dan dirasakan benda tersebut perlahan bergerak ke kanan, ke kiri, lalu ke depan, dan ke belakang." 

Juga, banyaknya narasi berupa kalimat pengandaian yang sangat cocok, menambah rasa ketertarikan terhadap penulisannya. Seperti: "Kebekuan yang mengkristal dalam dadanya kini berangsur melunak, meretas bersama alam seakan memiliki jantung. Denyutnya mulai terasa satu-satu, menyeret apa yang tak mampu dieja. Sejenak semuanya berhamburan di udara, melayang, hingga pada akhirnya bisikan itu berlabuh di hati." Puitis banget. Jatuh cinta nggak, sih?

Crystal Stairs memang tidak banyak menyisipkan unsur suspense, hanya pada bagian kematian Dae-Yun dan yeng berhubungan dengan pelaku. Yang lebih banyak disinggung disini adalah kedekatan antara tiga tokoh utama novel ini: Ha-Na, Min-Jun, dan Dae-Yun. Tiga karakter tersebut tentu mendapat peran paling menonjol. Ha-Na dengan sifatnya yang mudah tersinggung, Min-Jun yang usil dan bicaranya suka asal, lalu Dae-Yun, tokoh favorit saya, yang hampir sempurna, namun masa lalunya-lah yang menutup kesempurnaan itu. Saya menyukai adegan masa lalu Dae-Yun yang diungkapkan. Mengapa dia tidak begitu menyukai pekerjaannya sebagai seorang aktris, mengapa dia dapat terlihat bahagia walau hati kecilnya menderita. 

Secara keseluruhan sebenarnya saya lebih memilih jika unsur dark-nya lebih ditonjolkan, jika memang cover-nya dibuat hitam kelam seperti itu. Karena menurut saya pribadi, cover tidak begitu merepresentasikan isi cerita. Saran saya, di bagian prolog, Amaliah Black dapat menyisipkan cuplikan adegan tewasnya Dae-Yun atau bagian yang menegangkan, dibandingkan dengan adegan pembuka jatuhnya seorang perempuan dari sebuah tangga. Adegan itu lebih memungkinkan membuat pembaca lebih penasaran karena disuguhkan sesuatu yang 'mengguncang' di prolog, yang berhubungan dengan cerita. Apalagi di awal halaman kebanyakan diceritakan hubungan pertemanan tanpa ada unsur dark-nya. 

Saya akan menunggu Amaliah Black untuk menulis genre suspense yang lebih menegangkan atau mungkin horor pada buku selanjutnya. Saya rasa Amaliah Black akan sangat berhasil menulis salah satu atau bahkan kedua genre tersebut. 
"Keperihan itu seakan-akan mendorongnya melakukan sesuatu di luar akal sehat. Yang pada akhirnya menjebloskan dirinya ke dalam jurang tanpa ujung, jurang penuh ketakutan."

Share:

2 comments

  1. Waaah terima kasih banyak sudah mau susah payah mereview debut saya yang apalah ini. Ngueheh. Terima kasih juga buat apresiasi dan kritikannya. Doakan buku selanjutnya bisa lekas rampung, dan terbit.

    Sekali lagi, terima kasih banyaaakk!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, dengan senang hati Kak :D

      Aamiin, semoga cepat melahirkan buku baru lagi ya Kak, ditunggu kabarnya :D

      Delete