In The Limelight - Valerie Aurellia | Book Review


Judul: In The Limelight
Penulis: Valerie Aurellia
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 210 halaman
"Kalau kau selalu merendahkan dirimu, lama-lama kau akan mengubur talentamu. Karena itu, ambillah kesempatan itu dan lakukan yang terbaik. Tidak menjadi yang terbaik juga tidak apa-apa. Sekali-sekali keluar dari zona nyamanmu adalah sesuatu yang bagus. Itu pasti akan membuatmu merasa lebih baik."
Sebagai salah satu perenang terbaik yang dimiliki sekolahnya, Serena Crawford tentu akan terus berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan gelarnya. Tak peduli walau Pelatih Miller, yang sering dijuluki sebagai Ursula selalu mengetes kesabarannya dengan cibiran menyakitkan yang selalu dikatakannya. Apa yang dilakukan Serena tak lepas dari beban yang diberikan sang ayah kepadanya. 
Ayah Serena adalah mantan atlet renang yang berharap anak-anaknya akan berkarir mengikuti jejaknya. Gwendolyn, si anak sulung, ternyata malah mengecewakannya dengan memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah kedokteran dibandingin mengambil beasiswa renang yang telah diterimanya. Tristan, si anak tengah, untungnya berhasil membuatnya sangat bangga karena keberhasilan yang diraih cowok itu berturut-turut, bahkan namanya sudah hampir terkenal di kalangan pemula. Sementara itu, Serena, sekuat apapun gadis itu berusaha, apa pun yang dilakukannya selalu tidak cukup bagi ayahnya. Sang ayah selalu menganggap Serena tak berlatih sekeras Tristan dan selalu mempermalukannya karena sering berulah.
"...bukankah sebuah masalah akan terasa lebih ringan jika diceritakan pada orang lain?"
"Kadang orang tidak mengerti apa yang kita lalui meski sudah mendengar cerita kita. Bahkan, ada yang tetap keras kepala tidak mau menerima meski sudah mengetahui yang sebenarnya. Satu-satunya yang bisa mengerti perasaan kita hanyalah kita sendiri."
Sejak insiden hampir tenggelamnya Serena di kolam renang indoor sekolah, gadis itu kemudian memeriksakan diri kepada Gwen. Gwen dengan khawatir berkata pada Serena bahwa bahu gadis itu terserang penyakit, sehingga harus membuat Serena vakum sementara dari dunia renang untuk memulihkan keadaan. Tak cukup itu saja yang memberatkannya, Ella--sang rival dalam dunia renang--memancing amarah dalam diri Serena yang kemudian menyebabkan dipermalukannya Pelatih Miller di hadapan mereka. Karena kejadian itu, sang ayah kembali memarahi Serena, namun kali ini Serena tidak tinggal diam. Gadis itu mencoba menyuarakan apa yang selama ini ada di hatinya, tentang usaha yang telah dilakukannya namun tak pernah cukup bagi sang ayah. Karena itu juga, Serena meminta bantuan Gwen untuk membuatnya istirahat lebih lama dari dunia kecintaan ayahnya itu.
"Apa kau pikir hanya kau yang merasa malu denganku? Setiap kali kau merendahkanku, harga diriku semakin menipis. Terkadang aku benci menjadi diriku sendiri. Aku bahkan tidak mengerti apa lagi yang harus kulakukan agar bisa mendapatkan satu pujian darimu!"
"Ketua klub kita sekarang sedang cacat. Kasihan sekali dia. Pantas saja klub menyedihkan seperti klub drama mau menerimanya. Tidak seperti kita, klub drama hanya perlu berpakaian aneh dan berpura-pura sedang memperlihatkan versi bajakan dari penampilan aktor Broadway."
Setelah melihat pertunjukan drama sekolahnya, Serena terpesona pada penampilan sang tokoh utama. Gadis itu memutuskan untuk audisi masuk klub drama, yang akhirnya mempertemukannya pada Asher T. Lancaster, pemeran utama yang dikaguminya, sekaligus aktor yang sangat totalitas dengan apa yang bisa diberikannya kepada klub drama sekolah itu. Dengan kemampuan akting yang dimiliki Serena, perlahan-lahan Ash mengurangi sikap tak bersahabat yang mulanya ditunjukkan kepada Serena. Tetapi di saat mereka mulai membuka diri terhadap satu sama lain, Tanya Lawrence, anggota klub drama yang paling menonjol bak putri hadir di tengah-tengah mereka. Bahkan, membuat Ash percaya bahwa dia-lah yang waktu itu menyelamatkan nyawa Ash yang hampir tenggelam, membuat Ash tak menyadari bahwa Serena-lah yang melakukannya, karena Serena tak mau mengambil resiko akan terungkapnya kebohongan yang dapat menyakiti hati cowok itu.
"Ini bukan pertama kali aku berakting di atas panggung, melainkan aku selalu merasa senang saat memikirkannya. Saat aku bisa menggunakan kreativitasku untuk menyentuh hati banyak orang."
"Aku ingin berakting di atas panggung. Mungkin aku tidak terlalu kompeten, tapi ketika aku berdiri di tempat ini, aku merasa bebas dan bisa menjadi diriku sendiri."
***

In The Limelight merupakan seri yang dikeluarkan Grasindo, yang mengangkat tema tentang fairy tale, alias dongeng. Cover-nya sangat cute, dengan ilustrasi seorang cewek sedang berenang, ditambah warna biru-nya yang soft untuk dipandangi. Novel ini sendiri terinspirasi dari kisah The Little Mermaid, dimana adanya simbol Serena yang seorang perenang andal, yang dapat disamakan dengan seekor Mermaid. Juga, adanya adegan menyelamatkan sang 'pangeran', tetapi Mermaid tak bisa mengungkapkan identitasnya, lalu harus rela membiarkan orang lain berpura-pura menggantikan peran dirinya sebagai penyelamat.

Cerita bergulir dari sudut pandang Serena lalu bergantian dengan Ash. Dapat dikatakan tidak banyak hal yang mengejutkan dalam novel ini, hampir seluruh jalan ceritanya dapat tertebak oleh saya. Mungkin, si penulis juga tidak bermaksud membuat In The Limelight terlihat seperti novel penuh twist. Saya merasa konfliknya cukup datar, nggak ada adegan yang menjadi klimaks berarti. Memang dari awal saya juga nggak berekspektasi terlalu tinggi saat membelinya. Saya malah membeli novel ini karena tertarik dengan embel-embel The Little Mermaid yang dibawa, karena dari dulu saya penggemar nomor satu putri duyung. 

Tetapi tidak mungkin jika tidak ada sesuatu yang menarik meski hanya beberapa. Salah satunya, bagian dimana Serena berpaling dari dunia yang selama ini digelutinya, karena merasa lama-lama apa yang dilakukannya terasa membebani. Dia merasa nggak sepenuh hati melakukan proses untuk menjadi atlet renang profesional. Perkembangan karakternya terasa real dan perubahannya dapat diterima dengan baik, ada alasan yang masuk akal dibaliknya. Disini mungkin dapat terwakili kisah Little Mermaid dimana ia mendambakan kehidupan di atas air namun sang ayah tidak mengizinkan, tetapi dengan tekad kuat dirinya berusaha mewujudkan keinginan terpendamnya itu. Representasi yang cukup baik menggunakan Klub Renang dan Klub Drama yang baru saya sadari setelah selesai membaca.  

Serena adalah gadis yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan apapun. Dia nggak gampang menyerah hanya karena perkataan orang yang menyakiti hatinya, justru itu bisa memberinya pecutan. Tetapi sikapnya yang menyimpulkan sesuatu tanpa tahu kebenarannya itu yang agak sedikit menganggu. Kemudian Ash, cowok perfeksionis yang sangat galak, serta nggak segan-segan membentak orang lain walaupun itu lawan jenis jika dia nggak suka sama orang itu. Dia suka mengambil keputusan sepihak secara spontan, mengikuti emosinya, tanpa memikirkan terlebih dahulu. Memang karakternya kurang menawan, dan dia nggak diberikan porsi banyak oleh penulis untuk menebarkan pesonanya, akibat terbatasnya halaman dan tidak terlalu banyak adegan Ash dengan Serena yang ditampilkan.

Baru kali pertama saya melihat nama penulis yang ternyata kelahiran tahun 1998. Saya langsung terdiam saat mengetahuinya, dan seperti tamparan, di benak saya langsung terlintas, 'gila, umur segitu sudah bisa menulis novel.' Sudah cukup lumayan pula. Apa lagi narasi dan dialog novel ini ditulis menyerupai buku terjemahan, agak kaku, ditambah nama-nama asing para tokoh, yang anehnya, menurut saya menjadi sesuatu yang menarik. Kalimat-kalimat dalam novel ini juga quote-able. Ada pesan utama yang berusaha disampaikan penulis dan menurut saya cukup berhasil. Saran saya, lebih baik istilah asing yang berhubungan dengan berenang, seperti nama-nama gaya, di jelaskan artinya di footnote, soalnya di halaman awal saya sempat kebingungan apa arti dari beberapa kata yang tertulis.
"Ini hidupnya, biarlah dia yang memilih. Kalau memang dia ditakdirkan untuk menjadi sesuatu, pada akhirnya dia pasti akan menjadi apa yang merupakan takdirnya, apa pun yang terjadi."

Share:

0 comments