Marry Now, Sorry Later - Christian Simamora | Book Review


Judul: Marry Now, Sorry Later
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: Twigora
Tebal Buku: 438 halaman
Buntelan dari @TWIGORA 
"Terkadang, seseorang baru menyadari betapa sedikit yang dia ketahui tentang pasangannya justru setelah dia menikahinya."
Terlahir sebagai pewaris tunggal dari Hardiansyah Electronics, membuat Reina Hardiansyah terbiasa dengan kehidupan mewah ala sosialita-nya. Perempuan itu tidak tahan untuk tak membeli merk kenamaan Goyard, datang ke acara private party, bergaul dengan sesama very important person--kaum borjuis lainnya. Tentu saja, kabar mengejutkan yang datang dari mendiang ayahnya, bahwa selama ini perusahaan keluarganya itu telah berutang kepada beberapa bank dan perusahaan, salah satunya adalah Shylock Indonesia, membuat jantungnya seakan melompat dari tempatnya. Demi membereskan masalah itu, Reina mendatangi kediaman Jao Lee, direktur utama distributor tunggal Shylock, untuk bernegosiasi perihal pelunasan utang-utang ayahnya. 
Jao yang notabene adalah cowok super tampan berhati dingin, tentu saja tidak mudah berbelas kasih kepada Reina. Awalnya, Jao mengajukan syarat yang hampir mustahil bagi Reina, yaitu memberi tenggat waktu seminggu untuk membayar hutang-hutangnya. Tapi apa yang dikatakan Jao selanjutnya tidak kalah mencengangkan. Jao Lee meminta Reina sebagai jaminan atas dispensasi yang diberikan olehnya. Which is, Reina harus memasrahkan dirinya diserang secara seksual oleh cowok hot itu. Tak disangka, apa yang mereka lakukan malah membuat Jao bertekuk lutut atas pesona Reina. Jao pun menawarkan pilihan kepada Reina untuk menikahinya, sebagai balasan atas utang-utang yang tak mampu dilunasinya. Reina tentu menolak mentah-mentah, tetapi melihat kehidupan lamanya yang semakin lama makin menjauhinya, Reina akhirnya setuju. Win-win solution, katanya. Reina dengan urusan hutang-hutangnya, Jao dengan urusan pencitraannya dengan memiliki seorang istri yang akan menemaninya ke setiap event penting.
"Nggak ada yang memalukan dari merasa gagal dan kecewa. Yang justru bikin malu itu ketika lo justru menolak bangkit dari keterpurukan itu."
Tetapi bukan Reina namanya jika mudah mengaku kalah. Setelah mengucap janji pernikahan mereka, di hari resepsi pernikahan, Reina kabur dengan hanya meninggalkan secarik pesan kepada Jao bahwa ia nggak bisa melanjutkan skenario mereka lagi. Selama enam bulan, Reina melarikan diri dengan berpindah-pindah dari Singapura, lalu Jawa dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Bali, menjadi volunteer untuk mengurus panti asuhan Lotus milik Bu Gayatri. Reina mulai menikmati hidupnya yang jauh dari Jao, sampai pada suatu hari Jao bertandang ke Lotus untuk menjemputnya secara paksa, kembali  ke so-called rumah mereka di Jakarta.
"We're not an item. Never were and never will. Daripada membuat satu sama lain menderita, kenapa lo nggak membiarkan kita menjalani hidup masing-masing dengan tenang?"
Lalu dimulai-lah perjanjian baru mereka (no sex, no physical contact) dan pernikahan yang hanya berlangsung selama satu tahun kemudian Reina akan bebas pergi setelahnya. Masih diwarnai adu mulut antara sang iblis bagi Reina dan cewek itu sendiri, mereka hidup bersama; satu rumah, satu kasur, tetapi tidak satu hati. Jao Lee tidak jatuh cinta kepada Reina, begitu pun sebaliknya. Reina sudah kepalang benci dengan cowok itu, walau beberapa kali kerap dibutakan oleh keseksiannya. Tapi hal itu nggak mampu menyurutkan kejengkelan di hati Reina atas sikap Jao Lee yang salah diartikan olehnya. Tapi bagaimana jika salah satu diantara mereka mulai berniat untuk memperbaiki hubungan? Bagaimana jika Jao mulai belajar menjadi pasangan sesungguhnya bagi Reina--istrinya? Apa yang terjadi jika cowok itu mulai menginginkan kebersamaan dengan Reina lebih dari yang ditentukan oleh perjanjian mereka?
"Cewek-cewek itu mencari connection, Jao. Mereka butuh merasa dicintai dan dinomorsatukan oleh pasangannya."
"Dont be an asshole. Just because you have one, it doesnt mean its okay to act like it."
"Gimana caranya lo bikin dia jatuh cinta? Love is a two-way thing. Lo nggak bisa bikin dia jatuh cinta sama lo kalau lo-nya menolak untuk jatuh cinta sama dia."
***

Wow, whatta lovely book! Nggak tahu kenapa saya bisa berkomentar seperti itu, setelah sebelumnya saya nggak mendapat kesan bagus usai membaca All You Can Eat karya Bang Christian Simamora juga. Heheu.

Dimulai dari prolog tiap bab yang menceritakan potongan kisah Beauty and The Beast, kisah Jao Lee dan Reina dimulai. Saya nggak begitu paham apa relevansi antara kisah Beauty and The Beast dengan Jao-Reina, tapi sepertinya terletak pada kenyataan bahwa Jao yang kelihatannya kayak sesosok iblis, ternyata hatinya berbanding terbalik. Bener nggak, Bang? (Ih, sok akrab!)

Well, saya suka sekali dengan plot ceritanya, walau se-klise itu. Ya, tentang pelunasan utang bisnis yang berujung pada pernikahan secara terpaksa. Bang Chris itu bercerita secara lengkap, nggak hanya menunjukkan satu dua kalimat untuk membuat pembaca percaya 'oh Jao kelakuannya sebelas dua belas sama iblis toh', tapi ia men-show gestur dan perkataan yang keluar dari mulut Jao, supaya pembaca juga merasa Jao orang yang demikian. Bang Chris juga menceritakan setting dengan lengkap (banget), dengan begitu pembaca akan lebih mudah membayangkan saat membacanya. Entah kenapa Bang Christian ini bisa membuat saya senyaman ini membaca tulisannya, no wonder kalau ia termasuk penulis yang produktif banget. Saya sedikit bisa menebak kalau proses penulisan novel-novelnya itu mungkin semenyenangkan saat membacanya. 

Gimana nggak? Tokoh-tokohnya itu yang bikin saya suka banget. Terutama the one and only, Mr. Jao Lee. Ya Tuhan, saya naksir berat sama orang ini, ada kw-an-nya nggak sih di dunia ini? Jao, walaupun ego-nya setinggi langit, agak-agak pervert, tapi ia bisa menjadi sesosok boyfriend material kalau ia mau. One liner super mengesalkan yang suka dilontarkannya saat beradu mulut dengan Reina itu nggak tahu kenapa malah membuat saya makin jatuh hati, bukan ilfeel atau apa (karena jujur saya benci banget sama cowok belagu bin arogan macam Jao itu), apakah karena konteks-nya bercanda, atau ini masuk genre rom-com? Jadi saya nggak begitu peduli sama kata-katanya. Masa lalu ayah Jao juga, sih, yang membuatnya nggak pernah dan nggak akan mau jatuh cinta, jadi hidupnya sekadar senang-senang aja tanpa ada cinta. 
"Love isn't a sure thing--never was and never will. Dan ketika cinta sudah nggak lagi di hati, buat apa juga dipertahankan?"
Dan saya suka banget pemikiran Bang Chris yang saya rasa nggak pernah diangkat di novel-novel lainnya yang selalu melabeli laki-laki sebagi tokoh antagonis dalam hubungan percintaan maupun segalanya. Pemikiran Bang Chris itu disalurkan lewat dialog ayah Jao:
"Bagi perempuan, komitmen nggak lebih hanya sekadar penjamin rasa aman--iya, supaya kita nggak dimiliki orang lain. Sedang pernikahan adalah pemuas fantasi masa kecil mereka. Pernah dengar seperti apa perempuan bercerita tentang pernikahan impiannya? Gaun putih panjang, pernikahan penuh dekorasi indah dan bunga-bunga. Kita laki-laki hanya pelengkap fantasi sialan itu! Berdiri di sebelah mereka di pelaminan, tak ubahnya seperti backdrop buat mereka!"
Hampir semua tokoh di Marry Now, Sorry Later ini mengesankan. Mulai dari dua peran utama di atas, sampai peran-peran pembantu dan selingan kayak para kaum jetset, sosialita, orang-orang berduit di Indonesia. Karena apa? Karena Bang Chris nggak cuma menjadikan mereka sebagai pemanis saja, latar belakang mereka juga disinggung walau hanya sedikit. Dan peran mereka cukup berpengaruh pada kelanjutan cerita, jadi nggak sia-sia mereka diciptakan. Saya senang banget dengan gemerlap dunia para sosialita itu, party-party, merk-merk kenamaan yang bertaburan (yang harganya..., ah sudahlah), tempat-tempat mahal yang mereka datangi. Err.. mungkin itu semacam khayalan babu yang nggak tersampaikan buat saya, makanya saya excited banget ikut masuk ke dalam dunia mereka dan merasakannya walau nggak secara langsung. Tapi saya dapat dengan jelas membayangkan seperti apa serunya dunia mereka. Oh, how i love their world.

Kebayang juga riset yang dilakukan Bang Chris seperti apa, tapi lagi-lagi ia melakukannya pasti dengan senang hati, karena fashion itu salah satu passionnya, ya nggak sih? Gila, saya banyak nggak ngerti tuh merk dan model baju yang disebutkan, pengetahuan baru juga, jadi nggak buta amat soal fashion. Oh ya, saya tertarik banget dengan dunia-nya si Char! Malah beberapa kali saya merasa lebih tertarik membaca kisah Char daripada kisah Reina sendiri. Luckily, ada Jao yang berhasil mengembalikan fokus saya. Sekali-sekali tulis cerita semacam dunia gay-nya si Char dong, Bang! (Itu juga kalau belum pernah >.<)

Saking nggak terburu-burunya kisah Jao-Reina ini, saya merasa ada bagian yang kayaknya nggak perlu, dan serasa kayak lagi diulur-ulur supaya panjang. But overall, saya suka banget perkembangan Jao dan Reina yang nggak tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu, semua ada proses, semua ada alasan, dan saya cukup bisa memahaminya. Salut sama Bang Chris yang bisa menulis segini banyak, dan bagi saya nggak kehilangan power-nya menuju akhir cerita, malah semakin bagus. Kutipan-kutipan yang mengawali tiap bab dan word of the day-nya saja sudah ngena banget dengan cerita. 

Dari Marry Now, Sorry Later ini, nggak disangka saya dapat banyak pelajaran juga. Salah satunya, masa lalu itu bisa berperan besar dalam menentukan kamu di masa ini, tapi jangan biarkan masa lalu juga mengambil alih dalam menentukan masa depanmu. Kalau kamu nggak memberi jalan kebahagiaan itu untuk masuk, bagaimana kamu bisa merasakannya?
"Terlepas dari risiko sakit sakit yang luar biasa, cinta adalah pengalaman yang nggak tergantikan oleh apapun."
 

Share:

1 comments