Meet Lame - Christian Simamora | Book Review


Judul: Meet Lame
Penulis: Christian Simamora
Penerbit: TWIGORA
Tebal Buku: 296 halaman
Buntelan dari @TWIGORA
"Jadi, bagaimana kalau sudahi saja permainan ini dan kita mulai jujur dengan perasaan masing-masing?"
Bagaimana menceritakannya ya sehingga nggak terdengar seperti curahat hati? Oke kita mulai saja. Aku  adalah seorang perempuan yang berusia mendekati kepala tiga. Aku punya bisnis, sebuah online shop yang menjual pakaian. Sialnya, nggak hanya urusan pembeli yang manja, dan customer nunggak bayar yang menghantui hidupku. Ada seorang cowok, yang pesannya tiba-tiba menyempil di antara message Facebook customer-customer-ku. Dia adalah Janiel Wiratama, temanku semasa SMA. Parahnya, dia adalah crush-ku sejak dulu.
Wajah tampan dan pesonanya mampu membius diriku yang masih abege dulu sampai rela menjadi 'pesuruh'-nya. Sekarang pun, pesonanya berhasil meluluhkanku, bahkan hanya melalui dunia maya.
"Apa kabarnya, nih? Masih ingat aku nggak? Aku harap kamu bilang 'iya' karena aku pun nggak pernah ngelupain kamu."
"Bokap bilang, sia-sia deh menyekolahkan gue sampai lulus kuliah kalau ujung-ujungnya bakal 'ngegembel' kayak gini--his word lho ya, gue nggak mendramatisir sama sekali. Sedangkan nyokap sih pengennya gue bisa bekerja seperti anak kantoran lainnya. Pakai baju rapi dan bersepatu hak tinggi setiap paginya, bekerja nine to five, dan pulang ke suami dan anak-anak dirumah."
Janiel ternyata perlu bantuanku lagi---seperti dulu. Kali ini dia memintaku mengajarinya bisnis online karena dia bertekad untuk resign dari pekerjaannya yang melelahkan sebagai sales representative, untuk menjadi pebisnis kecil-kecilan sepertiku. Jadi, selama 3 bulan, dia stay bersamaku dirumah untuk menyesap ilmu-ilmu yang kuajarkan. Aku tentunya nggak akan tinggal diam hidup bersama cowok superhot dalam satu rumah, sepi pula. Beberapa kali aku hilang kontrol atas pesonanya, tetapi ujungnya aku kembali harus menelan pil pahit. Janiel ternyata sudah punya pacar, dan Putri, sesempurna gadis-gadis yang selalu dikencaninya semasa SMA.
"Gue mau lo tahu; di mata gue, lo adalah cewek yang ideal untuk dijadikan istri. Cepat atau lambat akan ada yang sadar bahwa lo adalah orang yang dicarinya selama ini. Pasangan paling tepat untuk menemani sampe akhir hayat nanti."
"Harusnya bilang dong dari awal, kalau memang berencana membuat hatiku patah jadi dua."
"... sakitnya bukan main. Tapi mungkin itu proses yang harus dia jalani kalo mau bahagia. Jadi, memang nggak baik-baik aja sekarang. But she will be."
Nggak hanya Janiel, semesta--juga ibuku--sepertinya berniat untuk menambah beban hidupku yang sudah seberat badanku ini. Datanglah Daniel Kelvin Vincencius, tetanggaku sekaligus temanku sedari kecil yang sempat pindah ke Singapura untuk mengurus bisnis keluarga. Daniel muncul lagi tanpa permisi, padahal di benakku masih hangat kenangan saat dia mencuri ciuman sekaligus keperawananku untuk kali pertama secara bersamaan, lalu meninggalkanku begitu saja tanpa kejelasan apa sebenarnya arti kebersamaan singkat itu. Dia nggak berusaha menghubungiku, dan sekarang muncul dengan keseksian tubuhnya yang ingin kubunuh itu. Aku benci kepercayaan dirinya itu. Dengan gayanya yang menawan, dengan senang hati dia menginap dirumahku atas suruhan ibuku. Jadi-lah aku mendapat durian runtuh, tinggal bersama dua cowok paling hot yang pernah singgah di kehidupanku.
"Kalo lo memang segitu kangennya sama gue, lo pasti nyari cara untuk menunjukkannya jauh sebelum hari ini. Which you didn't but that's okay with me."
"Si bodoh yang dulu membiarkan pertahanannya lemah dan segitu mudahnya terlena jatuh ke pelukan lo sudah nggak ada lagi di dunia ini."
"Ya, aku memang salah telah membuatmu menunggu selama itu. Tapi kamu juga nggak melakukan apa pun untuk memperbaiki situasi. Kamu menunggu, seolah-olah kebahagiaanku aku yang menentukan. If you really love me that much, you will call."
Aku berusaha sebisa mungkin menjauhkan Daniel dariku, menggunakan Janiel sebagai tameng, yang untungnya dia mau saja, berpura-pura menjadi pacarku. Melihat usahaku berhasil membuat Daniel jengah, anehnya, cowok itu juga terlihat kesal, cemburu, entahlah. Ciumannya yang menuntut di dapur pagi itu, seakan membawaku kembali pada masa lalu. Tidak berhenti sampai disitu, Janiel secara tiba-tiba, mengumumkan kejombloan-nya terhadap dunia, yang berarti dia bebas dimiliki oleh siapa saja. Kini, aku dilanda kebimbangan, antara dua hati, Janiel atau Daniel? Tolong aku!
"I'm not saying you have to love me right now. Just promise me that someday... you will."
"...mencintaimu bukan sekadar perasaan--tapi juga komitmen. Ada tanggung jawab yang menyertainya."
***

Berbeda dari yang lain. Itu kesan yang saya tangkap setelah membaca Meet Lame. Jika di novel Bang Ino lainnya, tokoh-tokoh dalam novel sangat glamor alias bergelimang harta, dalam Meet Lame, kamu nggak akan menemukan brand mewah, kecuali kw-annya. Meet Lame semacam mengusung tema kesederhanaan. Serius, si "Aku", bahkan Janiel, ataupun Daniel yang kelihatannya seperti orang kaya, nggak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka adalah orang yang hobi menghamburkan uang. Jadi kalau kamu suka envy membaca novel Bang Ino yang sebelum-sebelumnya, terselamatkanlah kamu di Meet Lame ini.

Sudah tertera jelas bahwa novel ini menggunakan POV 1 dan konsepnya, jika boleh dibilang, seperti diary si "Aku". "Aku" ini nggak diungkapkan identitasnya oleh Bang Ino, saya pikir awalnya, itu jadi salah satu daya tarik novel ini, ternyata nggak begitu. Saya yang awalnya penasaran, siapa sih nama si "Aku"?, lama-lama terbiasa dan makin bodo amat karena sudah tenggelam dalam kisah Aku-Janiel-Daniel.

Aku digambarkan sebagai sosok yang tidak sesempurna karakter cewek novel Bang Ino pada umumnya. Tubuhnya berisi, dia juga bukan tipe cewek yang digilai banyak cowok. Meski begitu, Aku orangnya kelihatan menyenangkan, ekspresif, omongannya ceplas-ceplos, serta gampang geer. Kemudian Janiel, fisiknya nggak akan aku deskripsikan lagi karena sudah pasti terbayang seperti apa tokoh cowok yang diciptakan Bang Ino, saya hanya merasa kalau Janiel ini orangnya friendly--wajar kalau dia punya banyak teman dan mantan--dan sepertinya tipe cowok ganteng yang baik-baik, meski kadang suka nggak sadar kalau kebaikannya itu agak berlebihan bagi lawan jenis. Sementara Daniel, cowok penuh bulu di tubuhnya ini, pada awalnya nggak menarik simpati saya sama sekali. Sikapnya yang overpede, hobi flirting, agak pervert kalau mengingat hubungan si Aku dan Daniel di masa lalu. Tapi lama-kelamaan, ada sisi di mana Daniel bisa bersikap manis layaknya cowok biasa, dan saya hanya menyukainya pada saat-saat itu.

Adegan-adegan panas dalam novel ini nggak sebanyak novel Bang Ino yang lain. Cuma sebatas deskripsi ciuman dan pegang-pegangan saja. Hubungan seks-nya nggak dideskripsikan secara gamblang di sini, membuat Meet Lame cukup aman dibaca oleh anak kuliahan yang baru memasuki masa transisi dari SMA seperti saya. Meet Lame nggak masuk seri mana pun seperti #JBoyfriend atau #VimanaSingles, novel ini berdiri sendiri, satu yang menarik adalah, adanya dua cowok hot yang sama-sama punya porsi dan dominasi sebesar para JBoyfriend dalam novel mereka masing-masing. Pembaca akan dibuat merasakan kebingungan dan dilema-nya tokoh Aku yang memiliki perasaan kepada dua cowok yang sama-sama hampir sempurna. Kadang saya menyukai Janiel, kadang menyukai Daniel, lalu pada akhirnya saya malah menjatuhkan pilihan pada Janiel. :p

Yang agak menganggu pikiran saya selama membaca adalah; kenapa ibu-nya si Aku dengan senang hati menawarkan Daniel untuk menginap di rumah anaknya hanya berdua? Secara mereka sama-sama sudah matang tentu mereka akan mudah terpicu untuk melakukan hal-hal yang seharusnya nggak boleh dilakukan orang yang belum menikah. Satu lagi, saya agak annoyed sama ke-lebay-an Aku saat menjelaskan ketakutannya dilabrak oleh Putri saat tahu Janiel menginap dirumahnya. Aduh, kayak abege banget. Malah, saya aja nggak sebegitunya. Cinta-cintaan yang ditujukan Aku dan pacarnya kelak juga agak membuat saya ilfeel. Serius, kalian ber-PDA ria bak dunia milik berdua seperti itu? Padahal umur mereka udah nggak bisa disebut young-adult, lagi, yang biasanya melakukan hal-hal seperti itu. Sangat disayangkan, itu-lah yang membuat saya hanya memberi rating tiga setengah kali ini. :(

Tetapi mau bagaimana juga, saya sudah telanjur menyukai penulisan ceplas-ceplos seperti bercerita lewat mulut dan novel-novel Bang Ino (saya fan baru, loh). Apa lagi, Bang Ino mempertahankan kecantikan tampilan novel-novelnya yang selalu dihiasi ilustrasi yang superkeren dan dalam Meet Lame, sketsa Aku, Daniel, dan Janiel hampir terlihat nyata, bahkan beberapa detik saya terus-terusan menatap betapa bagus gambarnya. Ditambah bonus gameboard yang berbeda juga dari biasanya (biasanya Bang Ino selalu menghadirkan paperdoll sebagai pemanis novelnya). Jadi kekurangan seperti diatas tadi nggak akan menyurutkan minat saya untuk tetap membaca karya Bang Ino yang lain. Semoga selanjutnya saya bisa membaca Tiger On My Bed yang cuplikannya tertera di akhir halaman novel ini, ya! 
"Heartbreak's never easy to take. But can we still be friends?"

Share:

0 comments