Perfectly Imperfect - Alifiana Nufi | Book Review


Judul: Perfectly Imperfect
Penulis: Alifiana Nufi
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku:154 halaman
Buntelan dari @grasindo_id 
"Bukankah kita takut berbeda dengan orang lain? Takut dianggap aneh, takut dianggap abnormal, asing, siluman, dan sebutan lainnya. Aku mengalaminya dari kecil."
Di Seoul, Park Jang-Woo sedang asyik berbuat onar pada hidupnya. Lelaki itu mudah sekali mengomeli karyawan perusahaan ayahnya, sampai tak segan berkata akan memecat. Hidupnya seakan hanya diwarnai dengan bersenang-senang, jauh berbeda dengan Park Ji-Hoon, sang kakak yang sangat tekun serta pekerja keras. Ayah mereka--Park Jung Min--bahkan sering membandingkan Jang-Woo dan Ji-Hoon,
namun hal tersebut tidak membuat Jang-Woo membenci sosok kakaknya, lelaki itu malah menaruh rasa kagum terhadap kakaknya yang selalu membela dirinya.
"Dia tak pernah menganggapku, Hyung. Padahal (aku) berusaha sebaik mungkin seperti yang dia inginkan."
Karena ulahnya mabuk-mabukan semalaman, Jang-Woo secara tak sadar mengungkapkan isi hati bahwa ia sangat tertekan diperlakukan seperti itu oleh ayahnya. Sang ayah yang biasanya akan segera menampar Jang-Woo, kemudian menyadari kesalahannya. Kali ini ia akan menyiapkan 'hukuman' lain untuk Jang-Woo. Selama 3 bulan, Jang-Woo harus hidup di Busan, menjadi seorang pelayan kafe tanpa boleh membawa identitas dirinya sebagai putra pemilik perusahaan properti Daesan Group. Jika Jang-Woo berhasil, lelaki itu akan memegang kepercayaan ayahnya kembali.
"Aku tahu kau begitu menginginkan kepercayaanku. Tapi, sikapmu selama inilah yang membuat kepercayaanku padamu hilang."
Jang-Woo yang merasa tertantang tentu menyanggupinya. Lelaki itu tinggal di apartemen kecil dan kumuh yang terletak di dekat Bookaholic Cafe, tempatnya bekerja. Ternyata, Jang-Woo bertetangga dengan cleaning service di Bookaholic Cafe, Ahn Ji-Hyun, si pendiam yang selalu dihina dan dijauhi orang-orang. Ji-Hyun memang tidak memiliki wajah yang cantik--ia bahkan punya codet di pipinya--namun penyebab mengapa orang tak ada yang mau dekat dengannya adalah karena sepasang matanya. Iris kedua bola matanya berwarna berbeda. Ji-Hyun adalah pemilik Heterochromia Iridium, gen langka yang biasanya hanya terdapat pada orang-orang Eropa. Mata tersebut didapatkannya dari ayahnya yang berdarah asing.
"Sepasang mata dengan iris hazel di sebelah kanan dan iris keabu-abuab di sebelah kiri, membuat orang-orang disekitarnya menjauh karena menganggapnya aneh."
Di kafe pun, Ji-Hyun tak lepas dari rundungan pegawai lain. Namun tidak dengan Jang-Woo. Lelaki yang mengetahui fakta dibalik kelainan itu, justru menganggap Ji-Hyun istimewa dan berbeda. Jang-Woo dengan senang hari berteman dengan Ji-Hyun, bermula dari insiden suatu malam dimana tubuhnya memar-memar akibat pukulan tas gadis itu saat mencurigai Jang-Woo sebagai stalker
"Tidak harus berpenampilan cantik atau tampan, asal menyenangkan orang yang melihat, kurasa itu juga penting."
Jang-Woo dan Ji-Hyun semakin sering menghabiskan waktu bersama sebagai seorang teman. Tetapi lama-kelamaan, Jang-Woo tak bisa melepas pandangan kekagumannya terhadap Ji-Hyun, kemudian rasa kagum itu berubah menjadi sebentuk perasaan lain yang lebih dalam. Namun banyaknya batu kerikil yang menghalangi, mengaburkan semuanya. Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya?
"Lagi pula, kau memiliki gen langka yang sangat istimewa. Itu jauh lebih baik daripada seribu wajah oval dengan hidung mancung dan kelopak mata ganda yang ada di negara ini." 
***

Perfectly Imperfect, seperti judulnya, novel ini sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Banyak hal yang menerbitkan kejanggalan saat membacanya, begitu pun sebaliknya, banyak hal yang membuat novel ini patut untuk masuk daftar bacaan teratas. 

Tema keseluruhan novel ini mungkin lebih erat kepada perbedaan dan persahabatan serta kekeluargaan, karena hal itu lah yang menarik minat saya. Persahabatan yang terjalin antar pegawai kafe, yaitu Ga-Eun, Dong-Woo, Jae-Ha (nama samaran Jang-Woo), dan Ji-Hyun mempunyai peran besar bagi kelangsungan cerita maupun hubungan Jang-Woo - Ji-Hyun sendiri. Bahkan konflik akibat pem-bully-an yang dilakukan pegawai lain seperti Mi-Young, dkk, beberapa kali ditepis berkat rasa peduli yang dimiliki teman-teman Ji-Hyun. Ji-Hyun yang digambarkan sebagai seorang gadis yang menutup diri, tak mau menjalin pertemanan dengan siapapun karena takut orang lain akan kena imbas 'kesialan' karenanya, mampu berubah sedikit demi sedikit setelah membuka diri terhadap Ga-Eun yang baik hati. 
"Pikiranmu akan lebih terbuka jika bertemu dengan banyak orang. Dengan menyendiri, kau tidak akan tahu dunia luar. Bukankah dunia itu luas?"
Sedangkan Park Jang-Woo, si pembuat onar. Saat membacanya saya membayangkan lelaki ini adalah Kim Woo-Bin dan memang cocok sekali. Auranya yang galak namun punya hati sebaik malaikat digambarkan dengan baik. Saya menyukai perkembangan karakter Jang-Woo dari seorang lelaki manja yang suka menganggap uang sepele, menjadi orang yang lebih baik akibat pengalaman yang didapatkannya selama menjadi orang susah di Busan. Saya menyukai pemikirannya yang menganggap sesuatu yang berbeda itu unik dan priceless, bukan malah aneh dan menyeramkan. Kalau banyak yang seperti ini di Indonesia mungkin kita bisa hidup damai. 😊

Novel ini ditulis dengan POV 3. Dengan banyak sekali mengutip aksen Busan sebagai dialog para tokoh. Itu pengetahuan baru buat saya, yang sebelumnya nggak tahu kalau di setiap daerah di Korea sama seperti Indonesia, punya dialek yang berbeda. Setting tempat wisata Busan walau deskripsinya agak menyerupai buku panduan tur, mampu dimanfaatkan dengan cukup baik oleh penulis sebagai latar pendukung berkembangnya hubungan dua pemeran utama. Alurnya cukup pas dibagian awal, namun di bagian akhir agak terkesan buru-buru. Walaupun begitu, saya suka sekali dengan endingnya. Tetapi saya penasaran, mengapa Andrew Wood, ayah Ji-Hyun, tidak dibahas lebih lanjut dalam novel ini? Padahal awalnya saya kira, kisah tentangnya diselipkan menjadi salah satu konflik, namun ternyata sampai ending pun sosok Andrew Wood tak kunjung di ekspos. Padahal saya penasaran tentang cerita Andrew Wood dan pertemuan ibu Ji-Hyun dengannya, dan mungkin dapat menjadi pengganti konflik yang lebih bagus dibanding drama Mi-Young.

Dalam novel ini saya menemukan beberapa kali kesalahan penulisan, seperti typo kata 'karena' menjadi 'kerana' atau 'kerena', lalu penggunaan tanda baca yang kurang tepat dalam suatu kalimat. Seperti seharusnya kalimat itu menggunakan koma, bukan titik. Ada juga yang sepertinya adalah kekeliruan penulis, dimana beberapa kali saya menemukan pengulangan kalimat, misalnya waktu mendeskripsikan tentang pasar ikan tentang dua bagian pasar. Padahal sudah dijelaskan di narasi sebelumnya, tetapi dijelaskan lagi di halaman berikutnya. 

Lebih dari semuanya, saya paling menyukai fakta dimana Kak Alifia Nufi, yang walaupun menulis novel bertema Korea ini, tidak lantas mengelu-elu-kan Korea seperti kebanyakan novel serupa. Justru Kak Alifia menyisipkan sepasang turis Indonesia sebagai cameo, menyinggung beberapa tempat wisata terkenal Indonesia, serta mengupas habis jika orang Korea yang gila kesempurnaan fisik. Ditambah lagi dengan sindiran Ji-Hyun, yang mengatakan bahwa orang Korea lebih takut jelek daripada miskin, Juga fakta bahwa orang Korea punya kemampuan bahasa Inggris yang parah. Jarang-jarang penulis tentang Korea menuliskan rahasia umum tersebut.
"Kebahagiaan akan berlipat jika kau membaginya dengan orang lain. Kesedihan akan berkurang, jika kau membaginya dengan orang lain pula."

 (Seharusnya 3,5 buku, maklum nggak ada pic-nya :D)

Share:

0 comments