Replay - Seplia | Book Review


Judul: Replay
Penulis: Seplia
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 216 halaman
"Ada dua jalan yang bisa dipilih manusia jika ditimpa masalah. Bangkit dan melanjutkan hidup, atau tetap berlimang luka dan menyiksa diri sendiri. Tindakan ibumu sudah mencerminkan pilihannya. Bagaimana denganmu?"
Nada Artito adalah seorang mahasiswa tari. Kecintaannya tentu berpihak pada dunia tari, tidak seperti ayahnya, Artito, seorang pemusik yang punya label musik besar. Kesalahan ayahnya membuat Nada membuka jarak lebar-lebar di antara mereka, membuat perbedaan diantara mereka semakin kentara. Atas perselingkuhan yang dilakukan sang ayah, ibu Nada pun ditemukan tewas bunuh diri.
Sejak saat itu, Nada dilanda trauma amat dahsyat. Nada bahkan kabur dari rumah tercintanya agar tak lagi bertatap muka dengan sang ayah. Tak ada kata maaf baginya. Gadis itu bertekad tidak akan membiarkan siapapun yang dikenalnya bunuh diri, untuk menebus penyesalan terhadap nyawa ibunya yang terlambat ia selamatkan.
"Demi ibunya, Nada tidak akan membiarkan gadis itu mati bunuh diri."
Kehidupannya semakin runyam semenjak mengenal Audy. Audy, tetangga apartemen Nada, awalnya mengibarkan bendera pertemanan, Nada pun menerimanya dengan tangan terbuka. Tetapi kabar yang beredar bahwa Audy adalah ratu drama, membuat gadis itu menjadi enggan. Semuanya pun terbukti setelah Nada mengenal Nino, pacar Audy. Pada awalnya, Nada hanya meminta bantuan musik Nino untuk mengirinya tarian kontemporernya untuk tugas semester. Namun seiring pertemuan intens dan obrolan yang terbangun, kedekatan diantara mereka pun terjalin. Permulaan, sebagai seorang teman yang setia mendengar keluh kesah akan beban yang ditanggung, kemudian membawa mereka kepada perasaan yang lebih kompleks. 
"Lantunan piano tadi terdengar seperti siksaan. Seperti ingin menyedotku ke pusaran gelap. Jalinan melodinya seakan-akan menceritakan tentang seseorang yang ingin lepas, terbebas dari siksaan. Seolah-olah ada penyesalan, benar dugaanku?"
"Terkadang kedekatan terjalin tidak hanya melalui pertemuan yang penuh senyuman dan obrolan basa-basi. Kedekatan bisa saja terjalin ketika dua orang yang terluka saling menambal sulam untuk menutup luka masing-masing."
Nada mulai terpesona terhadap Nino semenjak melihat talenta lelaki itu saat memainkan lagu dengan piano, yang menurut Nada maknanya sangat kuat. Sementara Nino, mulai tertarik pada Nada sejak perhatian kecil yang diberikan Nada saat dirinya harus menjalankan ritual hukuman dari Audy; menunggu di depan pintu apartemen Audy sampai pukul dua belas malam, setiap kali Nino berbuat kesalahan. Audy tak segan untuk melakukan percobaan bunuh diri berkali-kali jika melihat Nino dekat dengan gadis lain. 
"Audy tidak menerima alasan teman atau sahabat. Baginya, aku dan kamu tetaplah lawan jenis yang memiliki potensi untuk saling jatuh cinta."
"Aku tahu, cinta memang egois. Tidak mau berbagi kepada siapa pun atau apa pun. Tapi kamu harus percaya pada pasanganmu. Sebisa mungkin membicarakannya baik-baik kalau ada masalah. Tindakanmu ini bodoh. Cara cemburumu tidak cerdas."
Nada heran pada sikap Audy dan kepasrahan Nino yang memilih untuk tetap terikat. Tetapi gadis itu juga teringat kepada ibunya yang memilih jalan seperti Audy untuk mengakhiri masalah hidupnya. Sementara itu, ayahnya tak gentar meminta sebuah maaf darinya, lalu Diana, selingkuhan sang ayah datang berkali-kali untuk meminta restu Nada. Hati Nada semakin disesaki kepelikan perihal perasaanya kepada Nino yang semakin menguat, meskipun Audy sudah berulang kali memergoki mereka. Apakah Nada akan tetap mempertahankan perasaannya, saat menyadari bahwa dirinya tak jauh berbeda dengan perempuan yang sudah merenggut kebahagiaan ibu dan dirinya? Menjadi kerikil dalam hubungan orang lain?
"Penderitaan tidak berarti mengubah orang baik menjadi orang buruk."
"Kalau suatu saat kebahagiaan tak memihak, masih yakin kamu akan jadi orang baik?"
***

Replay karya Seplia sudah menjadi wishlist saya sejak tanggal terbitnya novel ini. Cover-nya tentu menjadi daya tarik utama. Warna kuning dan gambar CD dan miniatur seorang penari sangat menawan. Nggak ragu-ragu, mau ceritanya nanti bagus atau nggak, saya akan tetap membeli.

Dan, duaar! Ternyata apa yang saya dapatkan setelah membaca Replay jauh melebihi ekspektasi saya. Memang banyak sekali review yang memuji novel debut ini, tetapi saya tentu tidak akan percaya sebelum membuktikannya langsung. Jadi-lah saya segera membelinya. Dengan POV 3, diceritakan dari sisi Nada dan Nino walau Nada tentu punya porsi lebih banyak. Karakternya benar-benar terasa sesuai yang dijabarkan Kak Seplia. Nada yang angkuh dan sombong, suka gengsi mengakui kesalahan maupun apa yang dirasakannya, benar-benar bukan seorang pemaaf, Nino yang, entahlah saya harus menyebut apa, tukang flirting? Cowok sok setia? Pokoknya tokoh Nino nggak berhasil membuat saya jatuh cinta dengan pesona vokalis band-nya. Saya benar-benar nggak suka sifatnya yang ceplas ceplos memuji Nada. Sedangkan Audy, walau memang sifatnya terkesan kekanakan, bodoh, impulsif, dan too much, tetapi dia punya alasan mengapa dia begitu, meski caranya salah. Ingat, apapun yang dilakukan para tokoh dalam novel ini, mereka punya alasan yang mungkin akan membuat kita paham. Mereka yang jahat nggak sepenuhnya jahat, dan yang baik nggak selalu baik. There's always a reason behind everything that has happened.
"Jangan pesimistis akan cinta, Nada. Untuk mendapatkan cinta yang bertahan sampai akhir hayat itu tidak datang dengan sendirinya, melainkan diciptakan bersama."
Di ucapan thanks to, Kak Seplia mengingatkan kepada pembaca, bahwa tokoh yang ada dalam novel ini mungkin tidak akan like-able, karena memang mereka tidak sempurna, banyak sisi gelap yang terekspos. Kita diminta untuk menoleransi dan memahami, itu saja. Terbukti, karena dari awal nggak ada tokoh yang membuat saya simpatik, kecuali Artito. Saya merasa dia bapak yang slow banget, kelewat slow malah. Walau punya masalah sama anaknya, masih sempat bisa bercanda dan meledek Nada saat mereka bertemu. Sukaaa cuma karena itu aja, sih. Lucunya juga, si Diana ikut-ikutan slow, ngomong asal aja mulutnya, walau saya kesal, tapi lucu juga saat membacanya. Membenci tokoh di novel ini adalah salah satu kesenangan tersendiri, dan kesuksesan bagi Kak Seplia karena karakter yang diciptakannya berhasil membawa emosi pembaca. Tandanya, karakter mereka cukup kuat.  

Saya merasa apa yang dituliskan Kak Seplia ini makna-nya tersampaikan dengan baik. Bahwa kita harus begini, begitu. Plot-nya disusun dengan rapi, konflik-nya nggak berlebihan, realistis mungkin, karena saya nggak pernah mengalami hal seperti Nada. Penyelesaian masalah dituliskan dengan perlahan-lahan, tidak terburu-buru dan langsung.. Blam!! Tiba-tiba jadinya begini-begitu. Ada proses-proses yang mengantarkannya, jadi ending-nya tetap masuk di akal. Alasan-alasan yang melatarbelakangi tindakan para tokoh dapat saya terima, jadi saya bisa menahan diri untuk nggak bersungut-sungut dan protes saat membacanya.

Di novel ini, tarian dan musik adalah connector antara tiap-tiap tokoh. Keduanya sama-sama ditonjolkan. Yang paling saya suka adalah bagian lirik lagu band Nightfall (Band Nino), lagu yang berjudul 'Disconnect' dan 'If You Want Me', liriknya benar-benar bagus. 
"Cinta adalah kekuatan bagi musisi untuk menulis lagu. Baik sedang mekar, apalagi sedang patah."
Walau terkesan seperti kebetulan karena apa yang dialami Nada ini sebelas duabelas sama yang dialami ibunya, justru permasalahan seperti ini-lah yang akan membantu orang menjadi lebih dewasa. Jadi saya nggak merasa itu adalah sebuah kebetulan. Akan lebih baik jika kita dapat mengerti suatu hal secara menyeluruh, jika kita ada di posisi yang berseberangan. Tentunya apa yang kita rasakan, dan apa yang lawan kita rasakan akan berbeda. Coba, deh, jadi Nada. Di saat dia sangat membenci orang ketiga dalam hubungan ayah dan ibunya, dia justru menjadi orang ketiga juga di hubungan orang lain. Dilema, bukan? Tentu siapapun yang berada di posisi Nada akan mencoba memahami suatu hal dari sudut pandang lain. 

Terlepas dari kisah Audy dan motor menuju bagian akhir yang menurut saya lebih baik diganti atau dihilangkan, kelanjutan kisah Nada begitu menarik untuk diikuti. Novel ini page-turner, sangat mengalir. Intinya, saya suka sekali dengan Replay, apalagi gaya penulisan Kak Seplia yang enak dibaca, nggak berbelit-belit. Jadi saya tentu akan menunggu karya penulis yang selanjutnya. :)
"Tidak ada orang yang sepenuhnya jahat dan sepenuhnya baik. Setiap kita memiliki kedua sifat itu, hanya kadarnya yang berbeda."
"Hidup tidak pernah mudah. Perjalanan ke depan akan sangat sulit. Lebih baik kamu tidak melaluinya sendirian. Kamu akan lelah di tengah jalan dan pada akhirnya memilih menyerah."

Share:

0 comments