The Wind Leading to Love - Ibuki Yuki | Book Review


Judul: The Wind Leading to Love
Penulis: Ibuki Yuki
Penerbit: Penerbit Haru
Tebal Buku: 342 halaman
Buntelan dari @penerbitharu
"Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup."
Angin berembus membawa cinta, begitulah yang dirasakan oleh Fukui Kimiko dan Suga Tetsuji.
"Kau ini cerdas dan punya segalanya, tetapi kenapa sedikit pun terlihat tidak bahagia?"
Tetsu mencoba tinggal selama 6 minggu di rumah mendiang ibunya, untuk mengobati depresi karena berbagai masalah yang menimpa hidupnya. Kematian ibunya yang begitu damai namun menyakitkan baginya, pernikahan dengan istrinya yang sedang berada di ambang perpisahan karena sang istri berselingkuh, dan ketidakpercayaan yang muncul dari dalam dirinya; bahwa ia orang yang tidak pantas untuk siapapun, atas seluruh kegagalan yang dialaminya.

Semua itu membawanya bertemu dengan Kimiko, yang pada awalnya Tetsu kenal sebagai Peko-chan, penata rambut yang terkenal di kalangan para sopir truk pengantar makanan. Pada saat itu Tetsu terpaksa mengamini permintaan seorang sopir truk yang meminta tolong padanya untuk mengantarkan Peko (Kimiko) ke Miwashi. Tak punya pilihan lain, mengingat tujuannya juga sama dengan wanita itu, ia pun menyetujuinya walau setengah hati. Tapi tentu Tetsu tak akan menyadari bahwa mitos tentang membantu-Peko-chan-akan-membawa-keberuntungan, benar-benar terjadi pada hidupnya.
"Fukui Kimiko, yang artinya anak yang cantik dan bahagia. Walaupun hidupku memang tak seperti arti namaku."
Suatu malam, Kimiko mendapati Tetsu tengah tenggelam di laut tenang namun ganas pantai Miwashi. Wanita itu tanpa pikir panjang langsung menyelamatkan Tetsu dengan payungnya, lalu membawa pria itu ke Rumah Semenanjung, yang semua orang Miwashi tahu adalah rumah seorang guru yang baik hati---ibu Tetsu. Walau tak mendapat perlakuan baik dari Tetsu yang mengusir Kimiko karena kecerewetan dan keingintahuan berlebih Fukui, wanita itu tidak menyerah begitu saja. Ia terus mencoba mengenal Tetsu dan pada akhirnya menawarkan sebuah perjanjian yang tak mampu ditolak oleh Tetsu; Kimiko dengan senang hati akan membantu Tetsu untuk membersihkan Rumah Semenanjung untuk dijual, asalkan Tetsu mau mengajarinya tentang musik klasik.
"Kau ini sedang menunggu angin. Sampai saat angin yang cocok datang, kau menunggu di pelabuhan."
Kimiko sangat ingin mengenal musik klasik---musik yang sangat dicintai anaknya yang sudah tiada, Tomoki. Kimiko adalah seorang wanita yang tidak percaya diri seperti Tetsu. Mendiang suami Kimiko selalu mengatainya sebagai orang sok pintar, dan ia sama sekali tidak bangga dengan predikatnya yang hanya sebagai seorang lulusan SMP. Tetapi berkat keahlian tangan yang dimilikinya, Kimiko masih bisa melanjutkan hidup yang awalnya terasa sangat berat baginya.
"Uang itu bisa kita dapatkan kalau kita bekerja keras sepenuh hati, tapi... 'perbedaan dunia' itu yang membuatku menderita."
"Anak yang terdidik dalam hubungan orangtua yang buruk, akan lebih cepat dewasa."
Kimiko terus menepati janjinya untuk membantu pekerjaan rumah Tetsu yang tak akan bisa dikerjakan sendiri oleh pria malas itu. Tetsu yang dikenal sebagai Junior oleh penduduk Miwashi, sangat mudah mengambil hati pemilik kafe tempat Kimiko bekerja juga keponakannya. Bahkan, mereka menjodohkan Kimiko dengan Tetsu. Kehadiran Kimiko di rumah pria itu setiap harinya, membawa kedekatan terhadap diri mereka berdua. Di tengah-tengah kota pesisir Miwashi yang sangat dibenci Tetsu, pria itu mendapatkan sesuatu dari Kimiko; kebahagiaan. Namun bagaimana jika apa yang ditinggalkan Tetsu kembali menghampiri dan memaksa Tetsu kembali pada kenyataan? serta menarik Tetsu dari sisi Fukui? Bagaimana jika Kimiko merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan Tetsu?

Meskipun Tetsuji tidak menyukai mereka, tetapi pria itu juga tidak sanggup untuk membenci mereka. Dan akhirnya, rasa benci itu pun akan menghilang. Itulah yang namanya keluarga. Karena itu, jagalah mereka baik-baik...
"Aku ingin dicintai. Sebagaimana aku mencintai."
***

First of all, cover-nya cantik sekali! ^^ Semua hal yang berhubungan dengan cerita dalam novel tergambar dengan jelas di sampulnya. Latar kota Miwashi, pemecah ombak, kepingan CD musik klasik, dan kinoku-uri alias timun suri yang menjadi makanan kesukaan dua tokoh utama. The Wind Leading to Love ini tipe J-Lit pertama yang saya baca. Tentang keluarga, cinta, dan kehidupan. Berbeda dengan J-lit semacam Nazod, Girls in The Dark, The Dead Returns yang penuh misteri, serta Her Sunny Side yang juga tentang cinta namun diselipi dengan sedikit bumbu fantasi yang menjadi twist cerita, The Wind Leading to Love berfokus pada bagaimana manusia memaknai kehidupan yang mereka miliki.

Buku ini sangat sarat akan konflik rumit yang dimiliki hampir (atau seluruh?) tokoh yang terlibat. Mulai dari dua tokoh utama, Tetsu dan Kimiko, dimana Tetsu punya masalah dengan keluarga serta hidupnya setelah ibunya meninggal. Kimiko, yang masih menyesali kematian anak dan suaminya, yang ia kira secara tidak langsung disebabkan olehnya. Dua tokoh ini sama-sama punya benang kusut yang mengikuti hidup mereka, dan itu juga-lah yang membawa mereka pada kedekatan saat berbagi tentang kisah hidup. Pembaca dapat mengetahui, bahwa memang masa lalu dan kenangan buruk seseorang dapat berpengaruh besar pada kehidupannya kini. Sangat menarik membaca kisah dua orang yang sedang berada pada saat terbawah, saling menguatkan diri masing-masing, saling menaburkan harapan baru kepada satu sama lain, namun digoyahkan oleh sesuatu bernama kenyataan.

Benang kusut tersebut akan perlahan-lahan terurai seiring bertambahnya halaman yang dibaca. Pembaca akan menemukan alasan dibalik 'kaburnya' Tetsu ke Miwashi secara satu persatu, bahwa alasan pertama yang kita dapatkan karena dia sakit, lalu 'flu hati' alias depresi atas hidupnya, lalu diungkapkan bahwa kehidupan rumah tangganya hampir runtuh, kemudian alasan sebenarnya yang akan diakuinya pada halaman terakhir lumayan membuat saya kaget. Menurut saya, Tetsu nggak punya sifat khusus yang membuat saya terkesan. Ia semacam pria yang biasa-biasa saja. Namun saya sangat menyukai perkembangan karakter Tetsu perlahan-lahan selama satu bulan tersebut di Rumah Semenanjung bersama Kimiko, semuanya terasa alami dan tidak dibuat-buat.

Berbeda dengan Kimiko, saya dibuat menyukai karakter ini yang dideskripsikan sebagai bibi cerewet yang kelihatan ceria, padahal hidupnya dipenuhi awan hitam. Saya juga menyukai mitos bahwa ia membawa keberuntungan bagi orang-orang disekitarnya, cukup adil untuk Kimiko yang hidupnya seakan tak jauh dari masalah. Saya hanya kurang menyukai sifatnya yang terlalu blak-blakan, padahal kalau mengingat usianya ia sudah lumayan tua. Oh ya, perjalanan Kimiko dan Tetsu nggak hanya berputar di kota pesisir Miwashi, tetapi ada saatnya mereka ke Tokyo untuk menghadapi hal-hal baru.

Saya nggak begitu suka pada proses pendekatan antara Tetsu dan Kimiko yang penceritaannya seperti terlalu panjang, terkesan banyak basa-basi, dan alurnya sangat lambat--entah kenapa saya merasa seperti itu. Saya sempat merasa bosan di bagian pertengahan yang banyak menyuguhkan dialog Tetsu dan Kimiko yang nggak begitu saya pahami. Jujur, Terjemahannya agak membingungkan di bagian-bagian itu, jadi saya kurang bisa menikmati. Berbeda dengan bagian awal dan halaman mendekati akhir yang membuat saya semangat membacanya. Bagian menuju ending itu memang bagian paling bagus dalam buku ini.
"Cinta antara orangtua dan anak tidak akan berubah, tetapi cinta sebagai seorang pria dan wanita, akan menghilang jika tidak dijaga."
The Wind Leading to Love banyak sekali menyinggung tentang musik klasik dan opera, dan yang paling sering adalah Putri Kamelia. Bagi yang tertarik dengan dua hal tersebut, pasti akan semangat sekali membaca buku ini. Orang Jepang juga sepertinya sangat meyakini mitos dan kepercayaan yang beredar di masyarakat. Terlihat pada percakapan Tetsu dan Kimiko tentang surga yang berada di tempat dimana langit dan laut melebur menjadi satu, dan ombaklah yang menjadi penghantar mereka kepada orang-orang surga. Dan juga banyak sekali istilah-istilah penyebutan benda dan makanan dalam bahasa Jepang yang benar-benar baru buat saya. Bagi yang penasaran tentang dua hal tersebut, jangan sampai lewatkan novel ini, ya. ^^

Overall, yang paling saya sukai adalah kenyataan bahwa konflik Tetsu dan Kimiko dapat terselesaikan dengan sangat baik dan dapat saya terima. Memang The Wind Leading to Love ini tidak berhasil masuk daftar buku Haru favorit saya, namun saya sangat menyukai apa yang saya dapatkan di novel ini, bahwa bisa saja orang yang paling ceria dan banyak tersenyum adalah orang yang hatinya sedang diselimuti kesedihan. 
"Ada hal-hal yang tidak bisa berjalan dengan lancar hanya dengan rasa cinta."

Share:

0 comments