100 Days - Nathalia Theodora | Book Review


Judul: 100 Days
Penulis: Nathalia Theodora
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 146 halaman
"Meski selalu ditolak mentah-mentah olehnya, tapi aku begitu setia padanya. Aku tidak pernah mencintai laki-laki lain selain dia. Bagiku, hanya dia yang ada di dalam hatiku--sekarang dan selamanya."
Black & White Cafe adalah saksi bisu perjuangan seorang Seo Ji-Hye untuk mengejar hati lelaki pujaannya. Hampir di setiap kesempatan, Ji-Hye selalu bersedia datang ke kafe itu, hanya untuk memperhatikan sosok Park Tae-Joon dari jauh. Meski begitu, dia punya Kim Eun-Jung, sahabatnya yang selalu sedia menemaninya mengisi kekosongan. Tae-Joon memang sulit untuk didekati, seakan ada sebuah tembok besar nan kokoh yang sengaja dibangunnya untuk melindungi diri dari dunia luar.
Ji-Hye menyadari hal itu, mengingat kenangannya tentang Tae-Joon sedari mereka kecil. Tae-Joon yang dulu adalah seorang lelaki berperawakan atletis yang menerbar sikap hangat kepada siapa pun yang mencoba menjadi temannya. Lelaki itu tampan dan penuh perhatian, membuat dia sangat mudah disukai orang-orang. Tetapi kini, Tae-Joon yang lama seakan tak pernah hidup, jika melihat keadaannya yang sekarang; bersikap dingin dan ketus, serta menutup diri dari orang-orang, khususnya Ji-Hye, akibat kecelakaan tiga tahun lalu yang merenggut nyawa kedua orang tuanya.
"Aku sudah mencintaimu seumur hidupku, dan aku akan terus mencintaimu sampai hidupku berakhir. Bahkan saat aku jadi hantu nanti, aku akan tetap mencintaimu. Perasaanku padamu tulus, Oppa. Aku tidak pernah main-main. Jadi kenapa? Kenapa kau tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu?"
Selain urusan hatinya, nampaknya Ji-Hye harus dipusingkan dengan urusan baru. Dia dan ayahnya terpaksa harus diusir dari rumah sewa mereka, sebab uang yang awalnya akan digunakan untuk melunasi utang sewa, malah dipinjamkan ayahnya kepada seorang penipu. Ji-Hye dan ayahnya sampai harus tinggal di pemandian umum sampai akhirnya ayahnya mencetuskan ide untuk meminta bantuan Kim Dae-Woon, sahabat lama ayahnya, yang diketahui Ji-Hye adalah pencuri. Ayahnya pun tinggal di gudang tua sarang para preman. Karena tidak mungkin membiarkan Ji-Hye tinggal di tempat tidak aman, mereka meminta bantuan Tae-Joon agar mau menampung Ji-Hye untuk sementara waktu, sampai akhirnya mereka punya cukup uang untuk membayar rumah sewa.
"Aku mengerti kau hanya ingin membantu orang yang sedang kesusahan, tapi masalahnya Appa, kita bukan orang kaya. Kita juga membutuhkan uang itu. Kau cenderung menganggap orang lain sama baiknya seperti dirimu, padahal kenyataannya, ada banyak orang jahat di luar sana, yang tidak akan segan-segan memanfaatkanmu."
"Kau bisa bahagia, kau hanya tidak pernah melihat kebahagiaanmu di luar Tae-Joon. Suatu saat, kau akan menemukan laki-laki lain yang kau cintai, dan juga mencintaimu."
Ji-Hye kontan sangat gembira mendengar persetujuan Tae-Joon yang sangat terpaksa itu. Ji-Hye akhirnya tinggal di rumah Tae-Joon dengan serentetan peraturan yang tidak boleh dilanggar. Ji-Hye mencoba melamar pekerjaan di Black & White Cafe, yang sebelumnya selalu ditolak Tae-Joon, tetapi kini diterima atas alasan Ji-Hye yang sulit untuk ditolak. Tidak cukup sampai disitu, Ji-Hye merasa belum puas dengan apa yang didapatkannya. Dia menantang Tae-Joon untuk menjadi pacarnya selama 100 hari, dan jika dalam rentang waktu itu Ji-Hye tak berhasil membuat Tae-Joon jatuh cinta, maka Ji-Hye akan pergi selama-lamanya dari hidup lelaki itu. Hari demi hari bergulir, Ji-Hye selalu mengatur kencan mereka, sampai ketika di kencan ketiga, tak sengaja mereka bertemu dengan Shin Min-Ah, mantan pacar Tae-Joon yang sangat cantik, membuat Ji-Hye patah hati dan akhirnya mengeluarkan semua beban dihatinya kepada Tae-Joon.
"Terima aku jadi pacarmu, aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku. Saat kita merayakan seratus hari hubungan kita nanti, kalau kau belum juga jatuh cinta padaku, maka kau boleh... meninggalkanku."
"Tae-Joon sangat mencintainya... Aku merasa hatiku seperti sedang diremas-remas saat mendengar pengakuan itu dari mulut Tae-Joon. Aku tidak bisa menerima kalau dia pernah mencintai gadis lain selain aku."
***

Setelah membaca Bad Boys #2 lalu mulai menyukai tulisan Nathalia Theodora, saya memutuskan untuk segera membaca novelnya yang lain untuk mengetahui apakah saya akan tetap tertarik jika yang dibawakan oleh Kak Nathalia bukan lagi kisah Troy dkk. 100 Days adalah novel ber-setting luar negeri pertama yang ditulis Kak Nathalia dan sudah cukup berhasil dalam menghidupkan nyawa Korea ke dalam novel ini. Meski tidak banyak, setting Korea dimanfaatkan dengan baik sebagai tempat-tempat Ji-Hye mengajak Tae-Joon berkencan, seperti Yeouido Park, Gyeongpo Beach, dan Cheonggyecheon Stream.

Story line-nya tidak jauh berbeda dengan Bad Boys #2, bercerita tentang seorang cewek yang naksir cowok, tetapi perasaan cewek itu nggak dihiraukan sama sekali. Karakter Ji-Hye dan Sophie juga sama persis; sama-sama suka berkhayal dan ke-geer-an yang berlebihan banget. Heran, kok ada ya cewek semacam mereka? Nggak merasa malu gitu, apa? Bedanya, Sophie itu lucu, apa yang dikatakannya selalu membuat tawa saya meledak, tetapi Ji-Hye tidak seperti itu. Padahal saya berharap karakter Ji-Hye yang mirip Sophie ini bisa lebih lucu mengingat dia orang Korea, yang cewek-ceweknya kebanyakan bertingkah imut dan ceplas-ceplos.

Sementara Tae-Joon, sosoknya yang dingin cukup tergambarkan dengan baik, terlihat dari semua penolakan menyakitkan yang ditujukannya kepada Ji-Hye, meski kadang saya merasa kalau dia bisa lebih kejam, saya ingat juga kalau dia masih punya hati untuk nggak berlaku terlalu kasar kepada cewek. Itu yang saya sukai, meski dia nggak nyaman tetapi masih dapat bersikap sopan dan mengontrol segala tindakannya agar nggak berada di luar batas. Saya malah lebih menyukai tingkah dan dialognya ketimbang Ji-Hye, yang paling saya sukai adalah ketika dia menahan Ji-Hye yang ingin menghambur ke arahnya dengan menahan dahi gadis itu menggunakan tangannya. Pas dibayangkan, baru ketahuan lucunya kayak apa. Tapi yang kurang saya pahami, kenapa Tae-Joon dibilang cowok seksi, ya? Kurang pas. Padahal menurut saya cowok Korea seganteng dan seatletis apa pun lebih cocok untuk dibilang charming dan  imut :D

Kisah cinta bertepuk sebelah tangan Ji-Hye ternyata hanya secuil dari konflik sesungguhnya yang lebih besar. Meski masa lalu Ji-Hye dan Tae-Joon nggak diceritakan mendetail, ternyata rahasia besarnya berhubungan dengan masa lalu mereka, tepatnya dengan kedua orang tua mereka yang saling bersahabat. Twist-nya skandal, cukup mencengangkan, meski saya lebih memilih twist pertama, daripada twist kedua. :( Tetapi tetap, keduanya sama-sama nggak terpikir oleh saya. Saya kira Kak Nathalia mau bereksperimen dengan jenis ending baru dalam novel ini, ternyata nggak, padahal kalau iya mungkin akan lebih memorable. Sempat terpikir apa gunanya si Shin Min-Ah selain muncul lalu menangis didepan Tae-Joon, ternyata dia berguna juga dalam menentukan ending 100 Days.

Gaya bercerita Kak Nathalia disini sedikit berbeda, mungkin karena ini novel bertema Korea jadi agak kurang bisa seluwes novel lokal. Sayangnya, Dalam 100 hari itu, Kak Nathalia kurang mengeksplor perkembangan kedua karakter dan apa yang terjadi dengan perasaan mereka. Hanya tiga kencan yang dijabarkan dan menurut saya itu nggak mengubah banyak hal. Sepertinya karena keterbatasan halaman, Kak Nathalia menyingkat rencana kencan 100 hari Jin-Hye, lalu langsung lompat ke akhir 100 hari. Memang nggak mungkin jika diceritakan 100 harinya itu, tapi mungkin dengan rentang beberapa hari yang diceritakan, Kak Nathalia bisa mengembangkan karakter Tae-Joon agar sedikit berbeda dari yang sebelumnya.

Meski begitu, tetap ada hal yang khas dari novel yang ditulis Kak Nathalia, yaitu adegan sedihnya. Menurut saya, Kak Nathalia cocok disebut sebagai penulis spesialis bikin baper, karena memang adegan si rooftop cafe itu bikin saya pengin mewek, sama seperti apa yang saya rasakan saat penolakan Troy kepada Sophie di novel Bad Boys #2. Ini yang membuat saya masih ingin mencicipi karya Kak Nathalia yang lain, karena keahliannya dalam menciptakan suasana berselimut kesedihan disebabkan oleh patah hati itu memang sudah terbukti. Mungkin kamu tertarik merasakan yang sama dengan saya? Cobalah membaca 100 Days yang ringan namun cukup menghibur.
"Setelah kupikir-pikir lagi, apa saja yang sudah kulakukan untuk membuatnya jatuh cinta padaku? Aku hanya memaksanya berkencan denganku, menangis di depannya, merengek-rengek padanya, dan bahkan mabuk. Bagaimana bisa aku berpikir dia akan jatuh cinta padaku setelah apa yang kulakukan itu?"

Share:

0 comments