Cinta 4 Sisi - Indah Hanaco | Book Review


Judul: Cinta 4 Sisi
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 264 halaman
"Bukankah seseorang memang cenderung bodoh jika sudah menyangkut masalah hati? Tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan, kan? Tidak mungkin kita melarang hati sendiri untuk terpukau pada seseorang. Itu hal-hal yang berada di luar kekuasaan kita." 
Violet, gadis minang berkulit eksotis nan cantik. Dirinya mampu menyeimbangkan penampilan Jeffry, pacarnya yang juga memiliki rupa menawan. Namun rasanya kelebihan fisiknya itu tak mampu membuat pandangan Jeff agar tetap tertuju padanya. Jeffry kerap kali memperhatikan perempuan-perempuan lain yang cantik dan seksi setiap kali mereka berdua berkencan.
Violet bukan menutup mata melihat kejadian itu, gadis itu selalu menegur Jeffry setiap kali dia mendapati lelaki itu tengah memandangi dengan intens makhluk Tuhan selain dirinya. Tetapi Jeff tak mau mengaku, dia bersikukuh bahwa dia tidak memperhatikan perempuan-perempuan menarik itu. Sampai Violet sudah benar-benar serius tidak menyukai kelakuannya, baru-lah Jeff berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
"Jika seorang lelaki berani memandangi perempuan lain sementara dia punya pacar, itu bukan hal yang wajar. Apalagi kalau dia sedang bersama kekasihnya. Artinya, lelaki seperti itu tidak punya rasa hormat dan cinta yang pantas untuk orang yang katanya dicintainya."
Suatu ketika, Jeff mengajak Violet untuk menghadiri resepsi pernikahan Ferdinand, temannya semasa SMA. Di sana, Violet pun mengetahui siapa teman-teman Jeff. Ada Jo, Bertrand, Yuma, Adriel, Winston, Sheila, dan Eirene. Bukannya diajak mengenal mereka lebih jauh, Violet malah diabaikan. Dia ditinggal sendiri sementara Jeff sibuk dengan teman-temannya. Untung saja ada Sheila yang mau menemaninya, bahkan meminta Violet untuk menjadi pagar ayu di pesta pernikahannya kelak. Tetap saja, melihat yang lain tetap bersama pasangannya, Violet gerah juga. Bahkan sekarang kehadiran Eirene telah mampu menggantikan kehadirannya. Perempuan cantik itu terlihat tertawa-tawa dan terlibat obrolan seru dengan kekasihnya. Sungguh terbakar hati Violet saat mengetahui Jeff terang-terangan memuji perubahan fisik Eirene.
"Lalu apa bedanya aku dengan Nindy? Kami sama-sama membiarkan kekasih kami melakukan penghinaan. Meski dengan cara yang tak sama."
Jeff mengingkari janjinya. Lelaki itu tampaknya tak cukup kuat iman untuk tidak memperhatikan perempuan lain. Violet semakin merasa tersinggung, dan meminta Jeff untuk menjauhinya sementara waktu. Tetapi karena hati gadis itu tak kuat, Violet kembali memaafkan Jeff. Lelaki itu memang tidak lagi terlihat melirik perempuan lain, tetapi Jeff malah terlihat semakin mencurigakan saat diam-diam menelefon seseorang yang selalu diakuinya sebagai teman kantor. Tak sengaja, Violet bertemu dengan Quinn, pacar Eirene, di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka pun bertukar nomor ponsel, berujung kepada ajakan pertemuan oleh Quinn. Lelaki tampan itu ternyata mengetahui bahwa Eirene kembali berhubungan dengan Jeff, dan menawarkan strategi yang menguntungkan. Violet dan Quinn harus berpura-pura saling tertarik, demi membuat Eirene dan Jeff cemburu.
"Kita tidak melakukan kejahatan. Kita hanya ingin Eirene dan Jeffry tahu bahwa kita pun sangat mungkin merasa tertarik dengan orang lain. Apa menurutmu itu terlalu berlebihan? Atau kamu lebih suka bila harus kehilangan kekasihmu? Tidak ingin melakukan sesuatu untuk mencegahnya?"
Violet yang awalnya menolak akhirnya setuju. Gadis itu dan Jeff menjalin kedekatan yang awalnya terasa kaku, namun perlahan-lahan menjadi menyenangkan. Mereka seringkali membicarakan apa pun, mereka punya banyak kesamaan, dan yang paling penting, Violet merasa bahwa Quinn jauh berbeda dari Jeff. Quinn sangat menghormati dan memperhatikannya. Rencana mereka tampaknya berhasil membuat Eirene dan Jeff gerah. Puncaknya terjadi saat mereka sama-sama menginap di Puncak. Quinn terlihat begitu melindungi Violet, itu yang dinilai oleh para sahabat Jeff. Violet menjadi bimbang. Violet merasakan bahwa Quinn dan dirinya telah melangkah lebih jauh dari yang seharusnya. Sebenarnya apa strategi yang dilancarkannya bersama Quinn benar-benar berhasil mempengaruhi Jeff dan Eirene, ataukah malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri?  
"Bagiku, mustahil ada perasaan yang mendalam jika kamu tak memperhatikan detail yang mudah terlewatkan. Karena begitulah yang seharusnya. Kita memberi perhatian luar biasa pada orang-orang yang istimewa." 
***

Cinta 4 sisi adalah karya lama Kak Indah Hanaco yang baru sempat saya baca sekarang. Problema utamanya adalah cinta segiempat yang dialami para tokohnya, Violet, Jeff, Quinn, dan Eirene. Dengan POV 3 yang didominasi dari sisi Violet, novel ini bercerita tentang kegalauan yang dialami Violet untuk memutuskan siapakah yang lebih pantas memiliki hatinya. Padahal, saya mengira novel ini akan ditulis dari sudut pandang keempat tokoh utamanya, mengingat judulnya adalah Cinta 4 Sisi. Tetapi hanya Violet dan Quinn yang paling mendominasi. Sampai akhir halaman, konfliknya memang hanya cinta segiempat itu, meski ada beberapa hal yang menjadi selingan tapi tidak berpengaruh pada keseluruhan cerita.

Tetapi semuanya bisa terselamatkan oleh gaya penulisan Kak Indah yang sangat menarik. Sedikit berbeda dari dua novel sebelumnya yang saya baca, penulisan Kak Indah dalam Cinta 4 Sisi sangat apik dengan pemilihan diksi yang tepat. Terlebih lagi, adanya sebaris puisi indah di pembuka tiap bab yang membuat saya jatuh cinta. Puisi yang lebih kurang menggambarkan keseluruhan kisah yang akan terjadi di bab tersebut. Satu hal yang unik dan berbeda dari kebanyakan novel lain yang hanya menggunakan judul atau hanya ditambah dengan quote.

Karakternya adalah tipe orang yang punya banyak 'kekurangan'. Manusia biasa yang sering membuat kesalahan. Violet sama seperti gadis pada umumnya, tidak suka ketika pacarnya memandangi gadis lain terang-terangan, cemburu yang menggebu. Itu wajar, saya malah aneh kalau dia bersikap wajar saja. Jeffry, tipe lelaki yang seperti lelaki kebanyakan, tertarik jika melihat perempuan cantik. Cuma dia agak ekstrim kalau tetap mencuri pandang saat sedang berkencan dengan pacarnya sendiri. Quinn, cowok yang setia tapi sedikit ceroboh, dia nggak sadar kalau taraf setia-nya belum sampai ke tahap dewa, alias dia masih bisa berbuat yang menyimpang dari jalur. Tapi sumpah, cowok ini tipe boyfriend material banget. Saya sangat-sangat iri sama Eirene dan Violet yang dapat kesempatan buat dekat dengan dia. Sementara Eirene, tipe gadis yang mengetahui kelebihannya, mungkin bisa dimasukkan dalam kategori penggoda, saat dia menanggapi Jeff yang mulai mendekatinya. Anehnya, justru semakin kesini saya merasa malah Quinn dan violet-lah yang menjadi tokoh antagonis. Jeff dan Eirene sepertinya hanya sampai pada tahap pdkt, dan masih setia dengan pasangan masing-masing walau mumgkin tinggal menunggu waktu. 

Quinn dan Violet ini kurang bisa berpikir jernih sepertinya, saat mereka menjalanka misi itu. You're too much, guys. Apa mereka nggak pernah mendengar kata baper? Apa mereka nggak memperhitungkan jika nanti mereka malah sama-sama suka? Apa mereka nggak tahu bahwa cewek-cowok yang bersahabat sekian lama saja bisa merasakan cinta, apa lagi mereka berdua, orang asing yang membina kedekatan layaknya pasangan? Saya sempat curiga apa itu memang akal-akalan Quinn dari awal untuk mendekati Violet. Rasanya lebih mudah diterima akal kalau jalan cerita memang seperti itu.

Seperti yang sudah saya katakan tadi, bahwa konflik utama-nya hanyalah jodoh yang tertukar. Memang ada konflik milik Nindy dan kekerasan dalam hubungan gadis itu dengan pacarnya, tapi itu hanya lewat saja, tanpa dibahas lebih dalam. Bahkan nggak ada hubungannya dengan urusan tokoh utama. Tapi saya tetap menangkap bahwa Kak Indah mencoba menyampaikan pesan penting untuk menyadarkan para korban kekerasan agar berhenti menyalahkan diri sendiri dan membela pelaku kekerasan. Jadi, kisah Nindy cukup menjadi pemanis.

Saya cukup menyukai perkembangan hubungan Quinn dan Violet yang mendominasi hampir seluruh cerita. Obrolan mereka tentang satu sama lain membuat saya tidak heran mereka bisa sama-sama saling tertarik. Mungkin jika saya berada di posisi Violet saya akan bertindak serupa. Bimbang melihat pacar sendiri kelakuannya jauh dibawah lelaki lain. Memang Violet nggak sejahat itu langsung berpaling kepada Quinn. Ini yang saya sukai, ada proses, ada distraksi yang membuat Violet ragu untuk berpaling dan tetap mempertahankan hubungannya dengan Jeff. 

Secara keseluruhan, meski konfliknya sangat simpel, penulisan Kak Indah mampu menunjang cerita agar tak terasa membosankan. Bahkan kalau boleh dibilang, tulisan ucapan terima kasih Kak Indah itu sangat mengalir, seperti sedang bercerita. Menurut saya, salah satu kesuksesan penulis dalam menulis sebuah karya bukan hanya karena kerumitan jalan cerita yang ditulis, tetapi bagaimana cara penulis membawakan cerita dengan gaya yang menarik agar pembaca nggak menutup bukunya sebelum selesai, sesimpel apa pun jalan ceritanya. Jadi, Kak Indah tetap berhasil menurut saya,, meski saya kurang puas dengan apa yang diangkat dalam novel ini. :)
"Kalau memang kamu tidak bahagia, kenapa harus memaksakan diri?"

Share:

0 comments