Cinta Tak Bersyarat - Yetti A.KA | Book Review


Judul: Cinta Tak Bersyarat
Penulis: Yetti A.KA
Penerbit: Gagas Media
Tebal Buku: 252 halaman
"Ada orang yang sejak lahir atau dari ia mulai bisa mengingat, merasa kalau ia dicintai. Namun, di antara orang-orang yang merasa dicintai itu, ada pula ribuan bahkan jutaan orang yang merasa tidak dicintai, merasa kalau kehadirannya tidak lebih dari selembar daun yang melayang sendirian."
Seperti nama bunga, Krisan dan kedua saudara perempuannya diberi nama. Melati, Mawar, dan Krisan. Tiga bunga cantik di mata para pecinta bunga, namun tidak bagi ibu Krisan. Bagi wanita itu, hanya mawar dan melati yang punya tempat di hatinya. Tidak dengan krisan yang tak akan pernah ditanam di kebunnya. Dalam keluarganya pun, Krisan seringkali tak dianggap, dia tidak merasakan cinta ibunya yang hanya diberikan pada Mawar, kakaknya yang cantik, dan Melati yang lembut.
Dirinya seakan perlu membuat keonaran terus-menerus seperti merusak bunga-bunga ibunya demi merebut perhatian wanita itu, walau hanya makian, teriakan, dan ancaman yang dapat diterimanya, Krisan sudah senang. Dia tahu, ibunya tak akan memberinya cinta seperti yang diberikan beliau kepada dua kakaknya, entah mengapa. Apa karena dia berbeda? Berkulit gelap dengan wajah tidak semenarik Mawar dan Melati?
"Menangis itu semacam jalan keluar terbaik bagi keguncangan yang melanda seseorang."
"Kau anak yang kuat. Matamu menyembunyikan banyak hal. Kau dipaksa dewasa melebihi usiamu."
Beranjak remaja, Krisan sudah mulai dapat berdamai dengan rasa sakit dan kesedihannya. Dia dapat menikmati saat-saat dirinya di sekolah, atau dimana pun asalkan bukan rumah yang serupa penjara baginya, tidak ada kehangatan lagi yang tersisa semenjak ayahnya memutuskan pergi meninggalkan keluarga Krisan, dan ibunya menangis tanpa henti, belum rela melepas ayahnya demi wanita lain. Di bawah pohon Akasia di sekolahnya, Krisan bertemu dengan Obin, cowok pemberontak yang kelak akan menjadi cintanya sampai dia tumbuh dewasa. Namun kebersamaan mereka yang tak lama itu sirna, Krisan bertekad tak akan melepas Obin jika bertemu lagi untuk kedua kalinya.
"Mungkin banyak juga yang seperti dirinya, orang-orang yang mencoba sembunyi dari kenyataan pahit. Menurutnya, itu tidak buruk, semua orang punya harus punya cara untuk membuat hidupnya tidak berhenti. Semua orang harus melakukan apa yang bisa menolong dirinya. Bahkan, dengan cara menjadi seseorang yang berbeda dari kehidupan aslinya sekalipun."
Harapan kecil Krisan akhirnya terkabul. Dia bertemu Obin di depan pagar rumahnya saat hujan mengguyur. Tetapi hanya sapaan kecil yang tercipta, tanpa ada obrolan yang mengikuti. Krisan terus mencari Obin dengan harapan yang terus bertumbuh di hatinya. Sampai kepada kabar mengejutkan perihal Melati, kakaknya yang anak baik-baik itu, kabur dari rumah untuk kawin lari dengan laki-laki yang tidak disetujui ibu mereka. Hati sang ibu benar-benar hancur saat anak kesayangannya itu meninggalkannya. Tidak memedulikan Mawar yang juga pergi ke Jakarta untuk bekerja, dan tak pernah pulang. Dunia sepertinya sedang sedikit berbaik hati kepada Krisan, saat dipertemukannya gadis itu dengan Floires, seorang pelukis yang lukisan bunga krisannya mencuri perhatian Krisan. Bersama Flo, Krisan mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang tak didapatkannya dari semua orang. Namun lagi-lagi masa lalu menyeruak, Obin, cinta pertamanya kembali masuk ke kehidupan dan hatinya. Membuat Krisan ragu, apakah dia sudah bisa membuka hati untuk Flo, si orang baru?
"Ibu kehilangan kepekaan pada sesuatu bernama kepergian. Kepergian itu serupa piring pecah. Meninggalkan bunyi sebentar, lalu selesai. Dan, ia sudah terbiasa menghadapi piring pecah."
"Dengan atau tanpa rasa bahagia, tetap saja mereka sebuah keluarga yang saling bergantung. Jika salah seorang memilih keluar, ketidakseimbangan terjadi, lalu runtuh satu demi satu."
"Ia sendiri tidak terlalu tahu, apa itu memang cinta atau hanya perasaan terluka yang tidak ingin benar-benar sembuh. Cinta yang tidak mau menyerah, disebabkan rasa sakit, bukan rasa bahagia."
***

Cinta Tak Bersyarat adalah novel pertama Yetti A.KA yang saya baca. Berkisah tentang seorang anak tanpa kasih sayang yang cukup dalam hidupnya, Mbak Yetti berhasil mengantarkan rasa sakit Krisan kepada saya selaku pembaca. Saya dapat merasakan menjadi Krisan, sampai memahami mengapa dia akhirnya tak bisa melupakan Obin, lelaki pertama yang menganggap kehadirannya berarti. Ilustrasi di pembuka setiap bab sangat cantik. Cover-nya sendiri cukup menggambarkan isi cerita, setangkai bunga krisan di atas ayunan kayu; melambangkan kesendirian. Bunga itu tergeletak begitu saja, hanya angin, dedaunan, dan alam sebagai teman. Persis dengan karakter Krisan. 

Gaya penulisan Mbak Yetti serupa dengan penulis-penulis favorit saya, Windry Ramadhina, Morra Quatro. Padanan kata-katanya sangat menarik untuk didalami, agak rumit, dan berkarakter menurut saya. Untuk menggambarkan jeritan ibu Krisan saja butuh satu halaman. Saya suka gaya bercerita yang seperti itu, kaya akan kalimat-kalimat puitis yang maknanya terkadang nggak bisa dipahami hanya dengan sekali membaca. Walau begitu, ada beberapa kalimat yang benar-benar kompleks dan sulit dipahami maksudnya, dan saya harus sampai berpikir dua kali untuk memahami maksudnya. Membaca kata 'ibu' saja saya agak linglung dan harus membaca ulang untuk mengetahui yang dimaksud adalah ibu siapa. Saya juga kurang nyaman membaca kalimat yang sudah berulang kali dijelaskan, seperti guguran daun-daun yang mengingatkan Krisan akan Obin, dan beberapa hal lainnya.

Melati, Mawar, Krisan, tiga kakak beradik dengan sifat yang bertolak belakang. Karakter favorit saya adalah Melati. Melati sangat lembut, rapuh, penurut, juga perasa. Mawar agak-agak rebel, suka melakukan apapun sesuai kehendaknya, dan mandiri--dapat menjaga dirinya sendiri. Sementara Krisan, yang saya tangkap adalah sesosok gadis yang kuat akibat rasa sakit yang telah diterimanya sedari kecil, dewasa sebelum waktunya, dan penuh angan-angan akan orang yang (dianggapnya) mencintainya. Mengharukan ketika Krisan memilih untuk tetap menemani ibunya, padahal dia tahu hidup berdua dengan ibunya hanya akan membuat hatinya lebih sakit lagi. Cinta tak bersyarat, itu-lah yang dimiliki Krisan. Tanpa mengharapkan balasan, Krisan terus memberikan cintanya kepada orang-orang yang malah membalasnya dengan rasa sakit hati.

Sebenarnya saya agak kesal saat mengetahui Krisan masih menyimpan perasaan terhadap Obin selama bertahun-tahun. Se-kecil dan setertutup apa dunia Krisan sampai tak ada laki-laki lain yang mengisi hidupnya semenjak kepergian Obin? Dan saat dia ragu menerima cinta Flo dengan dalih masih menyukai Obin, itu sangat.. apa ya, kurang bisa diterima. Ternyata teori waktu dapat menghapus perasaan yang nggak berbalas itu nggak berlaku di sini. Tapi mengingat Obin-lah cowok pertama yang punya kenangan manis bersama Krisan, mau tidak mau akhirnya saya mencoba memahami. Walau masih agak janggal mengingat kebersamaan Obin dan Krisan tidak terlalu diekspos dan diceritakan detailnya, jadi nggak begitu terasa chemistry mereka berdua.

Meski begitu, Cinta Tak Bersyarat mampu mencuri hati saya secara keseluruhan. Kesederhanaan yang dibawa oleh para karakternya, memancarkan kehangatan di hati. Ditambah setting yang jarang diangkat oleh penulis lain. Kota Laut dan Krui, sebuah kota kecil di Bengkulu. Dalam novel ini, diselipkan beberapa sejarah kota ini. Setting-nya menyatu dan cocok dengan cerita, menambah kesan sendu serta romantis yang bersamaan dari kisah yang dituturkan. Sebuah karya yang memuaskan bagi para pencari kisah sedih tentang keluarga yang tidak sempurna, yang dapat membawa emosi pembaca masuk ke dalamnya. 
"Aku tidak bisa mengungkapkan bagaimana cara aku mencintai. Aku hanya merasakan. Itu pun bukan perasaan yang ramai, melainkan degup yang berlangsung sangat sunyi. Kadang-kadang, aku tak mampu merasakan kehadirannya meski ia mendekam dalam dadaku."
"Ia terjebak selama-lamanya sepanjang hidup pada dualitas cinta dan benci dalam dirinya. Dalam mencintai ia membenci, dalam membenci ia mencintai."
"Bukankah cinta, sejauh apapun ia pernah pergi, akan selalu hidup bagi yang memercayainya?"

Share:

0 comments