Kismet - Nina Addison | Book Review


Judul: Kismet
Penulis: Nina Addison
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 296 halaman
"Dalam sebuah hubungan cinta yang menyangkut tiga orang di dalamnya, mana yang lebih baik; parade patah hati tapi somehow tiga-tiganya berhasil menjaga hubungan sebelum buburnya basi; atau satu orang terluka supaya dua yang lainnya bahagia?"
Hidup di kota besar seperti New York dengan uang pas-pasan mana bisa? Alisya Amerie Irwanto frustasi saat mencari sewa apartemen yang cocok dengan kantongnya, setelah teman yang ditumpanginya dulu menunjukkan keengganan terhadap Alisya yang tinggal di apartemennya. Saat itu pula, gadis itu tidak sengaja bertemu seorang gadis berkulit putih yang dengan berani menghajar lelaki kurang ajar yang berusaha menggodanya. Cialisa, nama gadis Indonesia itu, tak disadari kini telah menjadi roommate sekaligus sahabatnya yang energinya tak pernah habis.
Semua kebetulan yang mendekatkan mereka--termasuk tanggal lahir yang berdekatan--disebut oleh Cia sebagai kismet; destiny
"Nama gue Cialisa Marina, umur gue hampir 22 tahun. Gue dari Jakarta, tapi udah tinggal sendiri di sini sejak empat tahun yang lalu. Gue anak bungsu dari enam bersaudara, kakak gue cowok semua. Pacar belum ada, tapi mungkin besok jawaban gue beda lagi."
"Umur gue 21 tahun, gue berasal dari... well, lahir di Boston, besar di Indonesia. Rumah sebelum New York adalah di Boston, tempat tinggal bokap. Adik gue cuma satu, cowok, tiga tahun lebih muda. Iya, ganteng. Dan no--lo nggak boleh macarin dia."
Obrolan tentang apa pun seringkali dibangun keduanya, termasuk tentang latar belakang keluarga masing-masing, lengkap dengan permasalahan mereka. Ternyata, mereka berdua sama-sama sedang kabur dari keluarga sendiri. Alisya menjauh dari keluarga semenjak perceraian ayah dan ibunya--meninggalkan ayah dan Ethan, adiknya, di Boston untuk mengadu nasib di New York. Sementara Cia, sengaja mendatangi New York dalam rencana kabur dari rencana ibunya yang mengirimnya ke California. Ujian persahabatan tentu ada, untuk menguji seberapa kuatnya hubungan mereka terjalin. Yang pertama adalah, pacar Cia yang dicurigai gadis itu sedang bermain api dengan Alisya. Lalu, sikap Cia yang tiba-tiba seperti kehilangan tujuan hidup, ingin mengugurkan kandungannya, setelah mengetahui dirinya telah mengandung anak dari seorang lelaki yang dikenalnya dari sebuah klub.  
"Kalau bukan buat cari pasangan hidup, lantas buat apa dong orang pacaran? That's why i think when i fall in love. I will fall hard. Gue harus mastiin dulu dari awal bahwa the guy worth the wait."
Alisya bertemu dengan seorang lelaki dengan nickname "Gajah" saat hari ulang tahunnya. Mereka berdua saling mengenal satu sama lain, berujung pada keinginan "Gajah" untuk mempertemukan Alisya dengan adiknya yang badung. Namun pertemuan itu tak pernah terjadi. Alisya kemudian membuat impiannya menjadi kenyataan dengan membangun bisnis fashion Pink Empire online. Pulang ke Jakarta untuk menemui Cia dan Hope--putrinya--serta belajar membatik untuk desain terbaru pakaiannya. 
"...cinta itu bisa nemplok ke lo kapan aja. Brengseknya cinta tuh gitu. Dia nggak butuh izin buat masuk ke hati lo. Nyelong aja, either lo akuin atau nggak."
"Time is irrelevant in this matter. I cant explain it logically. When you feel it, you feel it."
Gadis itu kemudian tak sengaja bertemu dengan Raka--lelaki tampan kenalan Cia yang sangat dekat dengan Hope. Cia bercerita bahwa dirinya sangat ingin Raka bisa menjadi lebih dari sekadar teman untuk Hope, menjadi calon ayah. Alisya tak kunjung bisa memenuhi permintaan Cia yang ingin menjadikannya sebagai perantara untuk mengenal Raka lebih jauh. Alisya tahu, dia menyimpan rasa untuk Raka, lelaki yang sudah mempesonanya di hari pertama bertemu. Tetapi bagaimana dengan perasaan Cia? Bagaimana dengan persahabatan mereka berdua?
"Lo pikir di dunia ini yang namanya cinta sejati tuh kayak apa? Yang penghuninya nggak pernah berantem? Yang mulus dan lancar macam 'a walk in the park'? Salah, Al! Cinta sejati itu penuh bompel-bompel, growakan, tambal sana-sini, retak sana-sini. But guess what? Ketika dia masih bernyawa, dia akan tambah kuat selepas tiap cobaan yang datang."
"Tapi dalam hidup, sejak kapan kita bisa memilih nasib? Dan dalam situasi yang membuat kamu harus memilih persahabatan dan cinta, apa ada jalan keluar yang happy ending?"
***

Berkisah tentang para New Yorkers rantauan Jakarta, Nina Addison membawakan kisah Alisya dan Cia dengan cukup menarik. Menyisipkan kenyataan bahwa mereka berdua sama-sama 'buronan' keluarga yang kabur ke negeri orang, membuat saya bisa menerima intensitas hubungan Alisya dan Cia yang relatif cepat terbangun. Mereka sama-sama punya latar belakang yang sama; berkeinginan untuk menjauhi keluarga. Meski di awal perkenalan, saya sudah disuguhi permasalahan keluarga masing-masing yang diceritakan dalam sekali chit-chat, yang membuat agak rumit. Tetapi terbantu oleh dialog dan narasi yang dipilih Kak Nina, yang terasa seperti percakapan dan bahasa sehari-hari. Santai dan ceplas ceplos, gaya penulisan yang sangat menyenangkan untuk dinikmati, membuat karakter terasa lebih 'dekat' dengan pembaca.

Berlatarkan salah satu kota tersibuk di US itu, penceritaan Kak Nina sangat menyatu dengan setting tempatnya. Salah satu faktornya adalah karena percakapan bahasa inggris yang terus-terusan tertulis saat ada bule yang berbicara. Nggak sepotong-sepotong kalimat saja seperti kebanyakan novel lainnya, atau menggunakan kalimat bahasa Indonesia sebagai gantinya. Dialog bule-nya full bahasa inggris tanpa terjemahan. Bagi saya, itu adalah salah satu kelebihan, saya sangat menyukainya, membantu bayangan saya terasa lebih nyata. Tetapi mungkin, bagi orang yang kurang bisa memahami akan kesulitan membacanya.

Namun saya belum bisa bersimpati dengan masing-masing karakter. Alisya contohnya, saya nggak merasa dia cukup spesial sebagai pemeran utama, meski digambarkan sebagai gadis yang pantang menyerah mengejar mimpinya. Entah mengapa, dia belum cukup berkesan buat saya. Lalu Cia, saya mulanya menyukai karakternya, easy-going, mudah dekat dengan siapa saja, tetapi lama-lama saya merasa dia terlalu polos atau apa saat percaya saja menyuruh Alisya untuk tinggal di apartemen yang bertetangga dengan Raka, cowok yang disukainya. Padahal dulu Cia mudah curiga dengan Alisya, mengira cewek itu ada main dengan mantannya. Mungkin karena persahabatan yang sudah terjalin lama dan rasa kepercayaan yang sudah telanjur penuh diberikan, tetapi saya merasa dia agak kurang pintar dalam membaca suasana, padahal sudah beberapa kali dia merasa ada keanehan saat Raka sedang bersama dengan Alisya. Tetapi diluar ketidaksukaan saya terhadap karakter mereka, beberapa keputusan yang diambil Alisya, Cia, Ethan, dan Raka terlihat realistis jika mereka hidup di dunia nyata.

Twist dalam novel ini mudah tertebak, kemungkinan Kak Nina juga nggak bermaksud membuat kita bertanya-tanya. Tetapi itu cukup membuat ceritanya menjadi lebih manis lagi, membuat sang cowok berandalan terpaksa menceritakan mengapa "Gajah" dan dirinya tidak bisa datang menemui Alisya malam itu. Bagian itu menjadi favorit saya karena saya sempat terpikir tentang kemana cerita itu akan dibawa, tapi terus denial. Ternyata benar yang saya pikirkan. Sementara masalah keluarga Alisya, saya pikir saya kurang puas dengan penjelasan ibu Alisya yang terkesan 'memperbolehkan' perselingkuhan atas alasannya. Somehow membuat cinta menjadi terlihat buruk menurut saya. 

Tema besarnya adalah takdir, jadi sebanyak apa pun kebetulan yang terjadi, dapat diterima. Kismet-lah yang menghubungkan semua karakter dalam novel ini. Yang saya sukai adalah, konflik percintaan dalam novel ini bukanlah hal yang utama. Meski kompleksitas konfilnya cukup tinggi, mengingat karakternya lumayan banyak dengan permasalahan masing-masing. Ada konflik persahabatan antara Alisya dan Cia, keluarga Alisya, konflik batin Cia, bahkan impian Ethan. Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik untuk dinikmati, terlebih lagi banyaknya quotes berbahasa inggris yang singkat namun tetap mengena di hati.
"The thing about love, Al, it requires hard work to maintain it. Because in life, people are constantly changing. That's just what life does to us, it changes us." 

Share:

4 comments