Last Journey - Kezia Evi Wiadji | Book Review


Judul: Last Journey
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 119 halaman
"Hidup itu tak lepas dari waktu, kurasa. Dan, waktu berhubungan erat dengan alat bernama jam. Itu menjawab, mengapa orang-orang memasang jam di dinding rumah atau kantor mereka. Atau meletakkan jam beker di atas meja. Juga memakainya melingkari lengan. Bisa jadi, karena bagi sebagian besar orang, detik di jarum jam adalah pengendali hidup."
Apa yang akan kamu lakukan jika divonis menderita penyakit mematikan yang membuat sisa waktumu tidak banyak lagi? Erika Natalia memilih untuk pergi ke Korea Selatan demi menghindari tatapan kasihan yang diberikan orang sekitarnya. Erika benci dengan takdir yang menimpanya, gadis itu merasa tak salah apa-apa, dia selalu melakukan apa pun sesuai jalur, tak merasa telah melakukan dosa besar yang membuatnya pantas dihukum menanggung penyakit Leukimia kronis. Bepergian sendirian, Erika berharap dapat dengan leluasa merenungkan hidupnya yang tak berjalan sesuai harapan. Gadis itu merasa dirinya tak lagi punya impian yang dapat diraihnya.

"Apa dosaku? Apa salahku? Sehingga aku mengidap penyakit seperti ini. Aku belum menemukan jawabannya. Tetapi, aku mencoba berpikir positif bahwa hidup adalah rangkaian perjalanan yang harus dijalani untuk dipahami dan selama proses itu berlangsung, Tuhan akan selalu menjaga dan melindungiku."
"Seandainya kita hanya mempunyai sisa waktu lima menit untuk mengatakan semua yang ingin kita katakan, setiap telepon umum pasti akan penuh dengan orang-orang yang saling menelepon untuk mengatakan bahwa mereka saling mencintai."
Menggunakan jasa Joy Tour & Travel, Erika berpetualang di Korea Selatan selama 8 hari 6 malam. Tak disangka, gadis itu malah mendapatkan travel partner yang tidak diinginkan. Theo, si cowok jahil dengan senyum menawan itu muncul dengan kepercayaan diri tinggi untuk mengajak Erika berkenalan. Akhirnya gadis itu luluh dengan wajah rupawan serta kehangatan yang ditawarkan Theo, apa lagi melihat tingkah Theo yang seperti tidak mudah menyerah dalam mendekatinya, meski dia selalu memberikan penolakan. 
"...aku ingin mempergunakan sisa hidupku ini untuk melakukan yang terbaik. Meminta maaf---salah satunya. Juga mengampuni."
"Pengharapan adalah kata-kata yang ditulis Tuhan di setiap dahi manusia."
Selama tur, Erika mendapat banyak kenalan baru, di antaranya adalah Herman dan Linda, pasangan suami istri yang tengah berlibur, Anita, teman sekamar Erika, serta James, kekasih Anita. Mereka berempat kompak mengira bahwa Theo adalah pacar Erika, atas kedekatan yang selalu mereka tunjukkan selama tur. Erika kemudian menyadari bahwa dirinya mulai menyukai Theo, meski dia mengira Theo sudah memiliki pacar akibat insiden boneka Teddy Bear. Namun yang terjadi justru, Theo menyatakan cinta kepada gadis itu di Mt. Seorak. Erika tentu bimbang dengan jawaban apa yang harus diberikannya, karena dia tak yakin Theo masih akan mencintainya jika tahu dirinya tak lagi punya masa depan akibat Leukimia yang membuatnya hanya dapat bertahan satu tahun lagi. 
"Apakah pantas jika aku menerima cinta Theo? Adilkah baginya jika bersanding dengan gadis ringkih tanpa masa depan yang jelas?"
"Kini aku menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan melihat dan menjaga kita. Tetapi lewat oranglain-lah Dia memenuhi kebutuhan kita."
***

Last Journey adalah novel karya Kezia Evi Wiadji kelima yang saya baca. Kali ini Kak Kezia mencoba membawakan karya Erika yang menurut saya serupa jurnal perjalanan. Perjalanan selama 8 hari itu dirangkum dalam 8 bab, dan selama itu pula, Erika mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bercokol dalam pikirannya perihal hidupnya yang menyedihkan akibat Leukimia. Dan tebak, dari siapa kah Erika mendapatkannya? Theo.

Kak Kezia mengajak pembaca untuk mengunjungi beberapa tempat wisata terkenal di Korea Selatan seperti; Dragon Head Rock di Jeju Island, Mt. Sorak di Nami Island, dan Dongdaemun di Seoul. Dari cara menjelaskan setting, detail tempat, serta berbagai kuliner khas Korea, terlihat bahwa penulis sepertinya sudah pernah berkunjung ke negeri ginseng tersebut. Meski yang tertulis kebanyakan adalah informasi terkait tempat-tempat tersebut dibandingkan adegan serta dialog yang mempengaruhi perkembangan jalan cerita, hal itu malah cukup berhasil jika memang Kak Kezia bertujuan menulis Last Journey dengan format catatan perjalanan Erika. Tetapi yang agak mengganjal buat saya, adalah ketika saya mengetahui bab pembuka novel ini adalah penjabaran tentang jadwal tur berbentuk brosur yang diikuti Erika, tips perjalanan segala peraturan dalam penerbangan yang menurut saya tidak terlalu diperlukan. Mungkin Kak Kezia bisa menyingkatnya saja dengan hanya menulis nama Joy Tour & Travel dengan nama beberapa tempat yang akan menjadi tempat tujuan tanpa deskripsi yang panjang, sehingga pembaca tidak akan jenuh duluan saat membuka halaman pertama.

Dengan POV 1, Last Journey menggunakan plot tentang penyakit yang hampir menggerogoti harapan penderitanya, dan dengan sebuah perjalanan diharapkan apa yang dibawa tokoh utama pulang, akan memperbaharui cara pandangnya terhadap hidupnya sendiri. Untuk hal itu, Kak Kezia cukup berhasil membuat Korea Selatan dan Theo menjadi titik balik seorang Erika. Ditambah banyak terselipnya kutipan-kutipan dari tokoh terkenal tentang hidup, membuat Last Journey cukup quote-able. Pesan yang disampaikan Kak Kezia dapat diterima dengan baik lewat perantara kutipan-kutipan tersebut.

Dari apa yang saya dapatkan saat membaca, Erika adalah gadis baik-baik, cerdas, dan (dulunya) ceria. Setelah apa yang menimpanya, dia mengubah sikapnya terhadap orang-orang disekitarnya, apa lagi yang menaruh simpati pada dirinya. Dia paling tidak suka dikasihani. Erika menjadi gadis yang putus asa bahkan menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Sementara Theo, tentu dia-lah karakter favorit saya. Bukan hanya dari deskripsi fisiknya, tetapi dari sifatnya, yang lebih tenang menjalani hidup serta cobaan. Sifatnya yang nggak mudah menyerah juga membuat saya makin kesemsem, nggak banyak novel yang membuat tokoh cowoknya yang superganteng terlihat mengejar-ngejar tokoh cewek yang dingin, karena yang biasanya terjadi adalah sebaliknya. Apa lagi, Theo disini juga bisa bahasa Korea, dan memilih Korea sebagai tujuan traveling-nya, sendirian pula, nggak banyak cowok suka Korea kayak Theo, saya jadi pengin kenalan banget sama dia kalau dia ada di dunia nyata. Sukaaaa!

Sayangnya, saya merasa kalau novel ini kurang tebal, hanya 119 halaman. Masih banyak yang belum tereksplor oleh Kak Kezia yang mungkin akan menambah daya tarik novel ini. Seperti, di sinopsis disebutkan bahwa Erika adalah mahasiswa UI jurusan HI, tetapi nggak disinggung sedikitpun adegan Erika sedang ngampus yang menurut saya akan lebih menarik jika dituliskan sedikit, karena jujur saya salah satu alasan saya membeli Last Journey selain karena ini novel Kak Kezia, cover-nya yang supermanis, adanya embel-embel Hubungan Internasional UI (saya salah satu korban penolakan jurusan ini :( ) juga menjadi pengaruh. Juga, saya kurang mendapat feel kesedihan Erika saat divonis mengidap Leukimia, lagi-lagi karena keterbatasan halaman yang membuat di halaman awal tiba-tiba saja sudah satu bulan Erika divonis. Kemudian, kedekatan Erika dan Theo sebenarnya sudah intens, apa lagi adanya adegan Theo mencium tangan Erika yang menjadi favorit saya, cute banget. Tetapi saya merasa terlalu terburu-buru jika nggak sampai seminggu Theo sudah menyatakan cintanya yang kelihatan begitu tulus. Memang, rasa cinta nggak bisa diukur dari lamanya waktu, bisa saja dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi tetap saya merasa rasa ketertarikan mereka berdua kurang dibahas mendalam. 

Di novel ini, banyak informasi yang sangat berguna bagi pembaca yang ingin bertandang ke Korea Selatan, serta mampu membuat siapa pun yang belum pernah menjejakkan kaki di Korea, semakin ingin pergi kesana. Kalau suatu saat saya bisa pergi ke Korea Selatan, sepertinya saya akan membawa Last Journey sebagai teman perjalanan yang menyenangkan!
"Tantangan-tantangan hidup tidak dirancang untuk melumpuhkan kita, tetapi untuk menolong kita menemukan jati diri kita."

Share:

0 comments