Les Masques - Indah Hanaco | Book Review


Judul: Les Masques
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 240 halaman
"Ada banyak hal yang tidak bisa diringkankan bebannya. Ada banyak hal yang harus dilewati dengan kepahitan dan rasa sakit saja."
Jika semua orang ingin kembali hidup di masa kecil, maka Fleur Radella tidak. Masa kecilnya tak pernah diwarna kebahagiaan. Tak ada mainan kesukaan, tak ada teman yang tiap hari bermain dengan gadis itu, tak ada candaan bersama keluarganya. Hanya tangisan dan teriakan. Dan semua itu disebabkan oleh Marini, neneknya. Marini kerap kali menyiksa Fleur, secara mental maupun fisik. Wanita itu bekerja sebagai dokter, membuat dirinya jarang ada di rumah. Setiap kali pulang, selalu amarah yang dibawa bersamanya.
Tiap kali Fleur membuat ulah, Marini tak segan-segan membentak dan mengatakan hal buruk kepada anak itu, bahkan beberapa kali pernah sampai melukainya. Tetapi Nana, asisten rumah tangga keluarga Marini tak berpendapat demikian. Menurutnya, Fleur adalah gadis cantik yang aktif dan ceria. Ulah yang diperbuatnya hanyalah sebagian kecil tingkah polah anak-anak yang lucu. Seharusnya Marini bisa memaklumi kelakuan bocah cantik berdarah setengah Kaukasia tersebut, tetapi dia tidak mau.
"Dia harus diajari tentang disiplin, supaya nggak seenaknya kalau udah besar. Kalau dari kecil aja bertingkah nggak keruan gini, kamu bisa bayangkan apa yang terjadi kalau dia dewasa."
Beranjak dewasa, Fleur tumbuh menjadi gadis cantik yang pendiam dan selalu menutup dirinya dari dunia luar. Dia selalu berlindung dibalik cangkangnya, agar tak ada satu pun orang yang mengetahuinya; agar dia tetap tak terlihat. Suatu hari, satu hal mengubah semua usahanya selama ini. Fleur lolos pendaftaran cover girl Majalah Dara. Kontan semua teman-temannya pun memberi ucapan selamat dan mendekatinya. Dalam satu hari saja, Fleur telah keluar dari cangkangnya, membuat seantero sekolah mengenal namanya. Tetapi anehnya, dia sendiri tak ingat kapan tepatnya dia mendaftarkan diri. Marini juga awalnya menolak dengan keras, tetapi karena dia merasa Fleur butuh pengalaman, akhirnya dia memperbolehkan dengan syarat Fleur tak boleh melakukan hal serupa. Gadis itu harus fokus belajar agar menjadi dokter, melanjutnya profesi dirinya dan cita-cita Ibu Fleur yang tidak tersampaikan. Tak disangka, Fleur yang kaku dan pemalu, malah berhasil menjadi cover girl pilihan Majalah Dara. Fleur bahkan tak tahu dirinya bisa berbuat sejauh itu.
"Model itu bukan pekerjaan yang bagus. Nggak ada masa depannya. Perempuan dieksploitasi untuk memamerkan tubuhnya. Selamanya harus tampil langsing. Cantik diukur dengan angka timbangan. Kamu mau kayak gitu?"
Sementara itu, Elektra Valerius bersikukuh untuk tetap membantu Fleur menjalani hidupnya. Selama ini, gadis itu lah yang membuat Fleur berhasil menjadi juara. Tetapi pendapatnya berbeda dengan Tatum Honora, yang ingin Fleur tetap menjadi dirinya yang dulu. Namun Elektra selalu menang, gadis itu terlalu pemberani untuk dikalahkan oleh opini Tatum yang pemurung. Setelah kematian Marini, Elektra menjadi semakin bebas untuk melakukan hal yang diinginkan, membuat nama Fleur lebih terkenal dengan menjadi model. Di sisi lain, kematian Marini menjadi pintu gerbang Fleur untuk mengungkap masa lalunya. Sedikit demi sedikit semua rahasia terbongkar, termasuk tentang Renee, ibu kandungnya dan Xander, omnya yang tak pernah lagi mengunjungi rumah Marini, lewat cerita yang dituturkan Utari, sahabat Renee.
"Tatum dan yang lain lebih suka tenggelam dalam persoalan yang berasal dari masa lalu. Memilih untuk menyiksa diri sendiri. Padahal, orang bisa mengatasi persoalan ketimbang mengingat-ingat apa yang sudah terjadi. Elektra bukan tipe yang seperti itu. Elektra lebih suka bertindak dan mengatasi masalahnya sendiri. Dia tidak butuh sekutu atau dukungan dari siapa pun untuk menghilangkan problema dalam hidupnya. Elektra percaya pada kekuatan dan kemampuannya sendiri." 
Fleur kini telah menjadi aktris FTV yang merambah ke layar lebar. Tentu saingan gadis itu bertambah banyak; saingan yang membencinya. Ada Audrey Saskia, yang dulu pernah meraih juara 3 lomba covergirl yang sama dengan Fleur, Sonya, sahabat Audrey yang tak pernah bermasalah dengan Fleur tapi malah membenci gadis itu. Elektra yang membuat Fleur melakukan hal-hal hebat seperti akting yang cemerlang, yang membuat semua orang terpana. Tetapi tidak dengan kedua gadis itu yang semakin membenci Fleur. Sampai suatu hari, Audrey dan Enrico, kekasihnya, putus. Dan Fleur-lah yang dituduh menjadi orang ketiga. Belum selesai permasalahan itu, Fleur kembali harus menelan pil pahit saat kenangannya terdahulu perlahan-lahan kembali. Apa kenangan buruk Fleur yang membuat dirinya tersiksa? Mengapa selama ini Fleur tak bisa mengingat sebagian hal yang pernah dilakukannya? 
"Semestinya Fleur dilepaskan pada keluarga yang akan menghujaninya dengan kasih sayang. Keluarga yang akan membentenginya dari panasnya pengkhianatan dan neraka buatan monster yang berwujud sebagai manusia. Sisi iblis dari orang yang semestinya melindungi Fleur mati-matian."
***

Les Masques adalah novel karya Indah Hanaco yang berbeda dari yang lainnya. Entah apa genre novel ini, kemungkinan yang paling mendekati adalah dark romance. Bercerita tentang Fleur dan masa kecilnya yang jauh dari kata bahagia, hingga berpengaruh pada dirinya di usia remaja yang menjadi gadis tertutup. Uniknya, biasanya gadis setengah bule adalah anak populer dimana saja. Tetai disini, Kak Indah malam membalik keadannya, gadis bule malah menjadi korban bully, bukan pelaku bullying. Pendeskripsian Kak Indah tentang masa kecil Fleur menurut saya cukup sukses. Saya bisa ikut merasakan kejamnya Marini sebagai nenek yang selalu merebut kebahagiaan Fleur secara paksa dengan cara apapun. Semuanya berhubungan dengan kelahiran Fleur dan Renee. Meski saya meragukan ada nenek yang mampu berbuat sejauh itu, aura menegangkan dan dingin yang keluar dari perlakuan Marini berhasil sampai.

Cerita beralur maju-mundur, dengan setting waktu pada tahun 1996-1997 dan 2009-2011. Saya sendiri lebih suka membaca kisah di tahun 1996-1997 dibandingkantahun 2009-2011 yang berfokus pada karir Fleur di dunia modeling dan akting. Walaupun tetap saja, karir Fleur diwarnai dengan konflik-konflik yang terus membanjiri, menyumbang kerunyaman pada kisah hidup gadis itu. Kalau bisa dibilang, kisah hidup Fleur benar-benar ironis. Di masa kecil dia mengalami hal yang tak diinginkan, semasa besar dia kembali mengalaminya dengan orang yang selama ini bersikap baik padanya. Dari cerita ini, poinnya adalah, sebaik apa pun orang lain bersikap padamu, suatu saat bisa saja dia bersikap sebaliknya. Ada baiknya jangan 100% persen percaya.

Kak Indah pintar menyimpan rahasia yang akan diungkap secara tiba-tiba. Beberapa ada yang menggunakan clue, tetapi ada juga yang benar-benar membuat saya kaget karena sama sekali nggak terpikir, yang berhubungan dengan Adam Dewatra. Kehadiran Elektra dan Tatum di seluruh cerita memang sedikit mengherankan, karena tak kunjung diungkap siapakah mereka dan mengapa mereka bisa membuat Fleur melakukan hal-hal yang tidak disadari gadis itu. Saya sejak awal sudah bisa menebak tetapi belum benar-benar tepat. Ternyata, di akhir halaman diceritakan siapakah sebenarnya Elektra, Tatum, dan Adam yang tiba-tiba muncul. Kapan mereka mulai berada disekeliling Fleur dan memutuskan untuk membantu gadis itu. 

Karakter terkuat menurut saya adalah Marini, karena wanita itu tetap konsisten mempertahankan sikap dingin dan kejamnya semenjak Renee remaja sampai Fleur beranjak dewasa, membuat saya bisa membayangkan bagaimana sosok Marini yang otoriter dalam mendidik anak-anaknya. Semua jalan hidup mereka diarahkan, meski yang menuruti hanyalah Renee, dan tidak dengan Xander. Saya cukup menyukai kisah Xander dan twist mencengangkan yang ada dalam kisah itu. Ada Nana yang sangat menyayangi Fleur, semacam ibu kedua bagi gadis itu. Meski saya merasa janggal saat merasa sepertinya dia berlebihan dalam menyayangi Fleur sampai saat keguguran pun rasa sedihnya nggak sesedih saat Fleur menerima siksaan.

Saya tahu, ada orang seperti Fleur di dunia ini yang mengalami begitu banyak hal buruk, yang membuat dirinya menjadi 'berbeda'. Cukup kagum dengan ide Kak Indah, meski di beberapa bagian, eksekusinya kurang mulus. Saya sering menemui kejanggalan di beberapa hal, seperti pada saat Fleur yang selalu sakit kepala sebelum tiba-tiba menemukan dirinya di posisi yang berbeda dari yang terakhir ada di ingatannya. Dan Fleur yang tak bisa mengingat beberapa hal yang dilakukannya. Gadis itu malah mengambil kesimpulan sendiri, mungkin itu adalah efek kecelakaan yang dialaminya dulu. Tetapi tetap saja, mau itu efek kecelakaan atau keanehan yang dirasa, seharusnya dia cepat menghubungi dokter atau psikiater untuk menangani keluhannya, agar cerita ini dapat terasa lebih realistis. Juga rasa risih saya saat dukungan dari orang-orang terdekat Fleur sudah mencapai taraf berlebihan, contohnya pada saat Fleur merasa lebih klop memerankan tokoh utama dibanding tokoh sampingan, Utari malah mendukungnya, bukannya menasehati harus bersyukur dengan apa yang didapatkannya, yang malah berujung pada insiden baru yang merugikan Fleur sendiri. Dan masih terdapat beberapa kejanggalan lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.

Secara keseluruhan tema dark dalam novel ini sangat terasa, khususnya pada berbagai twist yang mengungkap masa kecil Fleur, yang bahkan saya sampai membaca dua-tiga kali untuk memastikan apa benar ceritanya begitu? Kaget sekali soalnya. Bagi yang penasaran apa saja yang dialami Fleur selama hidupnya, wajib membaca novel ini.. Ending yang ditawarkan juga berbeda dari yang lain, saya bocorkan ya, ini nggak akan happy ending. (syukurlah, kalau happy, unsur dark dalam novel ini nggak akan begitu terasa). Tapi ending yang nggak happy seperti apa? Apakah kesedihan atau hal lain? Coba putar lagu Heaven - Bryan Adams, buka lembaran Les Masques dan segera temukan jawabannya dalam novel ini. Selamat tenggelam dalam kisah Fleur dan masa kecilnya. :)
"Ada banyak kisah pertaubatan di dunia ini. Sungguh menarik menyimak bagaimana seseorang mendapat pencerahan dan mengubah hidupnya dengan total. Namun tidak jarang ada manusia yang tidak mampu beranjak dari kedengkian. Karena hati dan jiwanya sudah gelap sejak awal."
(sebenarnya rating-nya 2.5. Tapi nggak ada pic-nya)

Share:

0 comments