Perfection - Farrahnanda | Book Review


Judul: Perfection
Penulis: Farrahnanda
Penerbit: Ice Cube KPG
Tebal Buku: 238 halaman 
"Aku sendiri selalu membayangkan masa SMA adalah saatnya remaja-remaja akan tumbuh cantik dan tampan, lalu saling jatuh cinta satu sama lain, seperti yang dikisahkan novel-novel. Sayang, hal-hal itu akan lebih mungkin terjadi pada orang-orang yang pada dasarnya sudah menarik dan memiliki penampilan sempurna. Orang-orang seperti Nila, kembaranku."
Bagi banyak perempuan, memiliki tubuh kurus adalah sebuah dambaan.  Begitu juga dengan Vanina Saraswati. Di tahun pertamanya menginjak bangku SMA, gadis itu mulai terpikirkan untung mengubah bentuk badannya yang besar, yang sebelumnya tak begitu dia pedulikan.
Padahal, sejak dahulu dia sudah sering menerima pandangan orang lain, yang menjadikan dirinya objek ejekan dan tertawaan, meskipun rasanya sakit. Nina kerap kali marah, namun seakan angin lalu, kekesalan yang kadang dia ungkapkan tidak berpengaruh banyak bagi si pengejek. Nina juga seringkali dibanding-bandingkan dengan Nila, saudara kembarnya yang punya tubuh indah, menyebabkan gadis itu selalu menjadi pusat perhatian dan incaran para cowok. 
"Secara segala-galanya, kembaranku itu jauh berada di bawahku. Kecuali dari segi fisik. Tapi justru inilah yang menarik perhatian orang-orang, sementara kelebihan-kelebihanku tidak dianggap sama sekali."
"Dari dulu "hanya bercanda" memang selalu dijadikan pembelaan untuk mengatai orang lain. Yang mereka tidak ketahui, "candaan" yang mereka lontarkan itu adalah senjata mengerikan untuk melukai perasaan seseorang."
Pada masa orientasi, Nina nggak sengaja berurusan dengan kakak kelasnya di lapangan basket. Atas insiden bola basket yang berujung ejekan seorang cowok terhadapnya, Nina dengan berani membalas perlakuan cowok itu dengan men-bounce pass perut sang cowok sampai kesakitan. Dari situ, Nina mengunci pandangannya pada salah seorang cowok dari gerombolan itu, cowok yang dianggapnya berbeda dari yang lain. Di perpustakaan saat Nina sedang mencari buku Mein Kampf akibat pelajaran sejarah, dia tak sengaja bertemu dengan Sri Wedari, seorang kakak kelas penikmat sejarah, yang kemudian disadarinya adalah teman dekat Panji---cowok yang juga telah menarik perhatian Nina di lapangan basket. Wedari dan Panji, mereka adalah seorang pecandu sejarah, menyukai segala hal yang berkaitan dengan perang dunia dan sebagainya. Mereka sudah menganggap Nina sebagai salah satu dari mereka setelah melihat Nina membawa buku autobiografi Hilter. Sejak saat itu, mereka seringkali berkumpul untuk berdiskusi tentang segala hal yang berbau sejarah. Padahal, Nina sama sekali nggak tertarik dengan perang-perangan, Hitler, maupun sejarah apa pun. Tetapi, demi tetap dekat dengan Panji, Nina mencoba menyukainya.
"Kalau ada yang bilang anak Sains lebih pintar daripada anak Sosial itu tidak sepenuhnya benar. Kalau ada anak Sains yang pintar Fisika ditanya tentang perang-perangan, belum tentu juga anak Sains itu tahu. Setiap orang punya bidang masing-masing, kan?"
"Banyak orang yang salah tangkap, kalau ada yang tertarik sama cerita-cerita perang, mereka kira kita suka dan mendukung perang. Padahal, sejarah--termasuk di dalamnya soal peperangan--dipelajari supaya nggak terulang."
"Manusia nggak benar-benar belajar dari sejarah. Pembantaian akan terus ada, atas nama ras, agama, politik--atas nama apa pun supaya terlihat halal."
Nina semakin lama semakin menyadari, bahwa Panji tak bisa hanya dianggap sebagai teman diskusi olehnya. Lambat laun, perasaan baru itu muncul di hati Nina, seiring dengan keinginan gadis itu untuk menjadi "pantas" saat bersanding dengan Panji yang menawan baginya. Apa lagi, setelah melihat fotonya dan panji bersisian di pasar malam yang sama sekali tak enak dipandang mata, jika dibandingkan dengan pasangan Nila dan Rio--pacarnya, serta Wedari dan Verdi, kekasihnya, yang dari postur pun terlihat sangat cocok. Di dorong oleh ejekan orang-orang disekitar, termasuk dari keluarganya yang semakin menjadi, serta keinginan untuk menjadi sempurna, Nina memulai rencananya untuk menurunkan berat badan, dibantu oleh saudari kembarnya. Dengan perhitungan jumlah kalori setiap makan, yang menyebabkan pengurangan porsi makan setiap harinya, Nina berharap dapat mencapai impiannya itu serta membuat Panji terpesona saat melihatnya. Berhasilkah usaha Nina untuk mencapai kesempurnaan yang diidamkannya?
"Setahuku, kalau cowok sudah mau terbuka soal banyak hal, terutama mau cerita banyak soal teman dekat atau hobi, dia berarti sudah mau buka siapa dirinya ke kamu. Dia nyaman sama kamu."
"Yang terbayang selanjutnya hanyalah diriku dan Kak Panji. Kami pergi ke tempat antah-berantah, mengobrol dan diskusi banyak hal. Yang paling penting, kami terlihat begitu sempurna. Ya, tidak ada cela lagi. Aku melihat diriku di dalam sana; cermat, berwawasan luas, efektif dalam segala hal, juga tubuh kurus yang kuidam-idamkan. Ini yang kusebut kesempurnaan yang sesungguhnya."
***

Perfection adalah salah satu novel keluaran seri YARN, bertemakan tentang apa yang seringkali dialami anak remaja jaman sekarang; pengin kurus. Kak Farrahnanda membawakan pesan yang ada dalam Perfection dengan sangat baik kepada pembaca, melalui apa yang dilalui oleh Nina. YARN masuk seri favorit saya dan harus saya koleksi semuanya, menjurus kepada setiap karakter dalam seri YARN ini punya masalahnya masing-masing, mereka kalau boleh dibilang, tidak sempurna. 

Menggunakan POV 1, Kak Farrah membuat karakter Nina sebagai seorang remaja dengan tubuh berisi yang mulanya tidak berniat mengubah apapun pada bentuk tubuhnya. Tetapi setelah mengenal cowok, dia termotivasi untuk menjadi "cantik" dan tidak lagi masa bodo. Memang rata-rata cewek bertubuh berisi ingin sekali membuat tubuh mereka menjadi kurus, tapi kalau yang saya temui di kehidupan sehari-hari, tidak banyak orang yang mengatai orang bertubuh gemuk lagi, sehingga mereka tidak terlalu ambil pusing. Rata-rata cewek bertubuh besar itu heboh dan menyenangkan untuk dijadikan teman, tidak seperti Nina yang kelihatan pemarah dan mudah tersinggung. Jadi saya simpulkan sendiri pertanyaan saya tentang alasan mengapa orang-orang lebih menyukai dekat dengan Nila pdahal mereka kembar yang berarti memiliki wajah yang sama-sama menarik, mungkin karena cewek itu lebih supel dibanding Nina yang terkesan susah untuk didekati, pa

Panji yang menjadi lawan main Nina dalam novel ini, karakternya mampu mencuri hati. Wawasannya tentang sejarah digambarkan dengan baik, karena itu pembaca akan menemukan selentingan informasi mengenai sejarah PD khususnya tentang Jerman dan Hitler. Karakter orang-orang disekitar Nina yang suka mengejek, termasuk ayah, ibu, dan saudari kembarnya, terkesan sangat miris. Mereka masih sering menggoda Nina (dianggap Nina sebagai mengejek, padahal mungkin konteksnya bercanda) bahkan di depan orang lain, walau mungkin tujuannya untuk memotivasi supaya kurus dan hidup sehat, tetapi caranya agak salah. Seharusnya mereka sebagai keluarga, lebih peka tentang Nina dan kesensitifannya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan berat badannya. 

Gaya penulisan Kak Farrah, hampir serupa dengan 2 novel YARN yang saya baca: Happiness dan Hikkikomori-chan. Diksinya sederhana, nggak berat, mudah dipahami, membuat ceritanya mengalir. Membuat Perfection akan habis dalam sekali duduk, meski tema ceritanya nggak bisa dibilang ringan. Alurnya tergolong pas untuk ukuran novel yang tidak tebal. Ada sesuatu dalam gaya penulisan yang seperti Kak Farrah ini, meski tidak membuat terkagum-kagum, justru tetap membuat karya-nya tidak membosankan saat dibaca, tidak ada keinginan saya untuk menaruh novel di rak dan melanjutkannya besok walau saya membacanya tengah malam di tengah rasa kantuk yang melanda.

Lebih kurang, plot novel ini sangat menarik, terlepas dari ejekan-ejekan teman-teman Nina yang menurut saya pribadi agak berlebihan, karena seriously, benar-benar dangkal alasan orang-orang tidak memperhatikan Nina hanya karena fisiknya. Setting Jogjakarta dalam novel ini dimanfaatkan dengan baik oleh penulis untuk mengembangkan kedekatan Nina dan Panji setiap kali mereka jalan-jalan, apa lagi tempat dimana orang-orang mencoba berjalan di antara dua beringin besar. Perfection adalah salah satu dari sedikit novel yang membuat saya ingin langsung mengunjungi latar tempatnya.

Riset Kak Farrah tentang kalori-kalori dalam makanan itu juga patut diacungi jempol. Setiap makanan dalam novel ini disebutkan berapa kalori-nya, yang membuat karakter Nina sampai menghitung-hitung berapa kalori yang masuk ke tubuhnya sebelum makan. Dia desperately benar-benar ingin kurus, apa yang dialaminya berhasil menarik simpati saya selaku pembaca. Miris melihat Nina yang merupakan cerminan dari banyak remaja-remaja nggak pede jaman sekarang yang masih menganggap kurus itu cantik. Menjadi kurus di mata mereka (baca: normal), itu memang boleh saja dilakukan, tapi menurut saya lebih pantas jika alasannya adalah untuk kesehatan dan menghindari obesitas serta penyakit-penyakit yang menyertainya, jika karena ejekan-ejekan orang atau bahkan karena menyukai cowok dan menganggap semua cowok menyukai cewek kurus, malah terlihat menyedihkan. Berarti nggak sayang sama diri sendiri.

Saya menyukai novel-novel seri YARN terutama karena konsep cover-nya yang konsisten; sketsa sederhana dengan dominasi satu warna. Saya berniat mengoleksi seluruh seri-nya, dan ingin tahu fenomena apa lagi yang menarik untuk diketahui dari sisi lain, sisi sang pengidap. Dan Perfection sejauh ini, masuk dalam list YARN yang saya favoritkan. 
"Hitler hancur karena ambisinya sendiri yang nggak terkontrol, kan? Ambisi yang salah. Dan aku mengulangi kesalahan yang sama. Tapi, yah, kayak yang pernah aku bilang, orang-orang nggak benar-benar belajar dari sejarah."

Share:

0 comments