See You Again - Arini Putri | Book Review


Judul: See You Again
Penulis: Arini Putri
Penerbit: Gagas Media
Tebal Buku: 350 halaman
"...nyatanya takdir kehidupan memang tak terduga. Rasanya, lucu jika sejenak menengok ke masa lalu. melihat betapa bertolak belakangnya apa yang kita katakan dulu dengan perasaan kita sekarang. Karena itu, terkadang Bagas ingin diberi waktu sejenak kembali ke masa lalu. Bukan untuk mengubahnya, tapi hanya untuk sekadar menikmatinya, menertawakannya, atau mungkin juga menangisinya."
Membaca novel selalu menjadi kesenangan Bagas dan kekasihnya, Sarah, meski perbedaan diantara keduanya begitu kentara. Bagas menyukai sastra klasik, sementara Sarah menyukai novel romansa populer. Namun setidaknya dia bersyukur, daripada harus ikut menyukai sepak bola seperti sahabatnya Dito, yang maniak olahraga itu. Kesukaannya ke toko buku akhirnya mempertemukannya dengan D. Robin, seorang penulis novel grafis yang tak disangka memuat kisahnya sewaktu SMA.
Ternyata penulis dengan nama pena itu adalah Dani, teman sekelasnya semasa di Kelas Bahasa dahulu, yang keberadaannya pernah tidak kasat mata, tidak dipedulikan.
"Tak mudah untuk menyerah pada mimpi yang sudah lama kita bangun. Seperti diminta untuk menata ulang hidup lagi, mencari jalan baru yang belum kita ketahui."
Melalui Dani, Bagas dan Dito akhirnya bernostalgia ke masa SMA mereka dulu. Dani meminta bantuan mereka berdua untuk membantunya "menyelesaikan" kisah yang belum selesai itu. Mau tak mau, Bagas akhirnya meningat kembali kenangan pahit manisnya beberapa tahun lalu, sebelum dia menjadi seseorang yang seperti sekarang. Bagas dulu selalu menjadi ketua kelas, kepercayaan oleh guru begitu mudahnya dia dapatkan berkat kecerdasan dan kesopanannya yang berbeda dengan stereotip anak Bahasa kebanyakan. Di kelas bahasa yang hanya satu-satunya, berbagai jenis siswa berkumpul menjadi satu; ada geng G5--Ray, Dodo, Kyo, Tora, dan Farhan, yang selalu membuat onar, ada Misha yang cantik dan Ani yang tertutup pesonanya, ada Sharon yang dingin dan tidak peduli pada apa yang terjadi di kelas, ada Nira teman sebangku Sharon yang kelewat semangat dan kontras dengan Sharon, ada Dito si perebut hati wanita yang gila bola, ada juga Angin si tukang tidur tetapi nilai-nilainya selalu menakjubkan. Dengan inisiatif, Bagas dan Dito bertekad mencari dan mempertemukan teman-teman sekelas mereka. 
"Maka, mereka bertiga sepakat untuk bertemu, di tempat yang telah lama mereka lupakan. Tempat mereka dulu berlari bersama dan bermimpi meraih mimpi-mimpi yang terdengar tidak masuk akal. tempat mereka tertawa, bertengkar, menangis, dan tersenyum bersama"
Mereka kini sudah berjalan di jalan masing-masing, berpegang teguh pada pilihan hidup sendiri. Dulu mereka hanya dianggap anak buangan dan suka berulah. Dulu, Sharon si ratu es, sangat mudah dikenali karena sifat dinginnya, namun tak banyak yang tahu mengapa, sampai tiba-tiba gadis ambisius yang bermimpi menjadi penulis itu tiba-tiba membelokkan tujuan hidupnya. 
"Ini dunia nyata. Ini bukan cerita novel kamu yang semua orang sakit bisa sembuh gitu aja setelah bikin permohonan ke bintang."
Dulu, hanya Bagas yang dianggap paling berkompeten karena nama besar sang ayah, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya dia inginkan sampai saat dia dianggap pemberontak karena berani menyuarakan isi hatinya.
"Lagi-lagi ayahnya. Seakan jika ayahnya bukan sastrawan, maka Bagas pasti tak akan mengenal sastra. Seakan jika ayahnya bukan sastrawan, maka Bagas juga tak akan bisa membuat satu paragraf prosa."
Dulu, Misha hanya dianggap gadis genit yang hobi berdandan dan kesukaannya pada fashion dianggap tidak berguna. Dulu, Dani dan bakat menggambarnya seakan kasat mata, tak terlihat oleh pandangan. Dulu, anggota G5, dianggap anak-anak berantakan yang hanya bisa membuat masalah, padahal tak ada yang tahu seberapa besar kekuatan mereka dalam mempertahankan tali persahabatan saat satu teman mereka mengecewakan mereka. 
"Kalau teman kita sedang salah, apa kita bakal ngebiarin dia terus melakukan kesalahannya gitu aja? Kita enggak boleh nyerah mengingatkan dia."
Dulu, Angin selalu dijauhi atas apa yang terlihat di luarnya, tanpa ada yang mengetahui, apa yang sebenarnya telah dia hadapi sepanjang hidupnya. Dulu, semua orang ingin menyingkirkan mereka, tiga belas anak yang tak punya harapan masa depan. Kini berkat Dani, timbul kembali keinginan Bagas untuk menyelesaikan kisah yang dulu pernah dimulainya, bersama anak-anak penghuni kelas kecil disamping tangga itu.
"Kamu mesti ingat, semua anak berseragam yang kamu lihat itu... kamu nggak akan pernah tahu masa depan mereka. Mungkin, beberapa akan tenggelam ditelan nasib, tetapi beberapa di antara mereka bisa jadi akan mengubah dunia. Ingat, kamu yang harus membantu mereka dikenal dunia. Tarik mereka kalau mereka nyaris tenggelam."
***

Kesan hangat langsung saya dapatkan saat melihat cover dan membaca tagline novel ini. Berkisah tentang pahit manis masa sekolah, yang penuh dengan kenakalan remaja, pencarian jati diri, mimpi yang selalu berusaha untuk digapai, persaingan akademik, kisah cinta yang tak kunjung terukir, persahabatan sejati yang kata orang hanya ada semasa sekolah, sampai penyesalan yang tidak sempat tersampaikan. Kisah semasa sekolah memang nggak ada duanya, apa lagi sekarang saya sudah nggak duduk di bangku SMA, semakin saya bisa merasakan apa yang Bagas rasakan saat teman-temannya kembali berkumpul dan mengingat berbagai perjuangan mereka dahulu.

Alur See You Again dibuat maju pada tahun 2014, diselipi dengan flashback masa SMA para tokoh di tahun 2007-2008, disertai kisah hidup mereka yang dibahas satu per satu, mengungkap rahasia hidup mereka dan mencoba untuk memahami apa yang mereka rasakan, termasuk kisah Angin yang paling melibatkan emosi saat membacanya. Dari setiap kisah para tokoh yang sangat banyak itu, nggak sia-sia, saya mendapat berbagai pesan-pesan yang coba disampaikan penulis yang kadang dituliskan tersurat, bukan tersirat. Kesolidan anak-anak kelas Bahasa itu juga nggak diragukan lagi, saya bahkan heran kalau memang ada yang sesolid itu padahal mereka berbeda-beda banget, sepertinya nggak ada lagi bentuk solid yang semacam mereka di jaman ini. Solid jaman sekarang hanya sekedar kalimat yang dikatakan untuk keren-kerenan, nggak dibuktikan dengan aksi yang nyata.

Favorit saya tentu adalah kisah Angin, dan karakter favorit saya juga cowok itu. Tipe cowok cuek tapi berbakat memang selalu mencuri perhatian, berbeda dengan tokoh Bagas yang benar-benar terlihat seperti 'pahlawan' dengan segala perasaannya yang terbiasa menjadi nomor satu dan dibanggakan orang lain, Bagas juga nggak 'laki banget', itu yang membuat saya nggak melirik tokoh ini sama sekali. Malah, tokoh cowok tampan jago bola kayak Dito pun nggak bisa memalingkan pandangan saya dari Angin yang misterius, dengan segala kerumitan saat mencoba memahaminya. Yang saya salut, Kak Arini mencoba memasukkan hal yang jarang dituliskan olah para penulis lokal, yaitu tokoh cewek berjilbab. Dengan adanya Nira, itu lumayan menjadi gebrakan baru buat saya yang kayaknya nggak pernah menemukan cewek berjilbab di novel roman remaja. Memasangkan Dito dan Nira juga jadi satu hal yang unik, akhirnya bisa juga cewek kalem berjilbab semacam Nira disandingkan dengan Dito yang ganteng dan populer. Jarang-jarang juga di dunia nyata, kan?

Hal baru yang saya dapatkan adalah kelas Bahasa sebagai start kisah ini. Menarik melihat penilaian orang terhadap kelas Bahasa, yang memang dipandang sebelah mata, dianggap nggak mampu berprestasi sebaik anak IPA atau pun IPS. Padahal, bahasa itu penting untuk segala hal yang berkaitan dengan hidup mereka, bahasa adalah hal mendasar yang dianggap sepele bagi sebagian orang padahal manfaat yang dihasilkan sangat besar jika kita menguasainya. Ini pula yang memicu perkembangan semua tokoh, untuk membuktikan kepada semua orang yang memandang rendah mereka, bahwa mereka juga bisa. Salut dengan perjuangan anak kelas Bahasa yang jumlahnya nggak seberapa itu, walaupun kisahnya agak mengingatkan saya kepada Our Story-nya Orizuka, karena terdapat beberapa kesamaan. 

Kak Arini mengakui sendiri kalau novel ini proses penulisannya nggak mudah, terlihat dari serombongan tokoh yang semua kisahnya diangkat dalam cerita. Maka dari itu, bisa dimaklumi jika terdapat beberapa kekurangan dan hal ganjil yang kurang bisa dimengerti, seperti misalnya kenapa bisa gerombolan pemakai narkoba masuk ke sekolah Bagas? Walaupun dibilang sudah sore tapi kan tetap ada satpam yang berjaga, sepengetahuan saya bahkan satpam sekolah ada yang berjaga sampai malam dan nggak bisa sembarang orang masuk ke sekolah apa lagi ruang kelas. Stereotip para guru dan murid kelas lain yang menurut saya pribadi digambarkan agak terlalu berlebihan, padahal anak-anak yang mereka hadapi nggak buruk-buruk amat. Kelas saya dulu anaknya lebih bandel-bandel tapi nggak dihina separah kelas Bahasa-nya Bagas, sih, yang dianggap kayak virus yang mesti dibasmi. Kalau memang ada guru-guru kayak gitu, saya sarankan, deh, untuk segera membaca novel ini biar bisa melek. :) Lalu, saya mengerti, salah satu pesan yang disampaikan Kak Arini adalah harus terus mengejar impian dan berusaha meski terlihat sulit dan nggak mungkin. Tapi ada hal-hal yang memang sulit banget sebenarnya untuk dicapai tapi di novel ini terlihat mudah, mungkin untuk memotivasi pembaca tapi masih kurang make sense bagi saya. Walau begitu masih bisa tertutupi dengan hal-hal yang diangkat menjadi konflik di See You Again, fenomena umum yang memang (selalu) terjadi di kalangan remaja, keinginan yang nggak sesuai dengan kenyataan, sampai orang tua yang merasa selalu benar meski salah dan anak nggak bisa berbuat apa-apa selain mematuhi. Mewakili suara hati anak remaja banget, nih!

Secara keseluruhan, kisah See You Again cukup menyentuh hati saya perihal impian dan persahabatan, dan yang paling penting membuat saya ingin mengadakan reuni juga seperti Bagas dkk saat sudah bekerja dan nggak pernah bertemu lagi. Akhir yang dituliskan juga manis sekaligus miris pada bagian kisah Angin. Bagi yang sedang mencari kisah anak sekolah dengan berbagai masalah yang dialaminya, sekaligus mencari jawaban atas kenaifan semasa remaja, novel ini bisa dijadikan bacaan yang tepat sembari bernostalgia tentang kisah usang bersama teman lama yang nggak akan lekang oleh waktu. :)
"Kami berbicara, berhubungan, membuat ikatan persahabatan, bermusuhan, jatuh cinta, patah hati dengan kata-kata. kami adalah deretan manusia yang dibesarkan oleh kata-kata. Orang-orang mungkin menanggap kami bodoh karena menghabiskan waktu untuk mempelajari hal sepele, mungkin mereka lupa, tanpa bahasa, hidup mereka tak akan berjalan mudah." 

Share:

0 comments