A Week-Long Journey - Altami N.D | Book Review


Judul: A Week-Long Journey
Penulis: Altami N.D
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 264 halaman
"Yang terpenting dari sebuah perjalanan bukanlah tujuannya, tapi makna dari perjalanan tersebut. It's not about destination, but it's about the journey."
Mimpi yang bertentangan dengan realita memang seringkali menjadi beban. Itulah yang dirasakan Lina Budiawan. Mimpinya untuk menjadi seorang novelis harus tersapu oleh kenyataan bahwa dirinya adalah anak satu-satunya dari Hartono Budiawan, peternak ayam Unggul Maju Farm. Ayah dan Ibu Lina sangat berharap gadis itu akan mengikuti jejak mereka, melanjutkan usaha yang sudah dibangun sedari lama oleh Kartini, neneknya, dan Sudarman, kakeknya. Apa daya, Lina belum punya sejumput keberanian untuk mengutarakan mimpinya.
Kini, dia terjebak dalam jurusan peternakan di IPB yang berhasil diraihnya lewat jalur SNMPTN, padahal, hatinya selalu mengimpikan jurusan sastra.
"Buat apa selamanya hidup dalam kebohongan? Menjalani hidup tidak dari hati itu pasti teramat menyiksa. You won't feel alive. Empat tahun dia akan menjalani kehidupan sebagai mahasiswi di jurusan yang bukan minatnya. Bayangkan! Apa itu namanya tidak menyiksa diri sendiri?"
Berkat desakan kedua orangtuanya, Lina akhirnya menggantikan ayahnya untuk ikut tur ke Hongkong bersama para rekan kerja perusahaan peternakan Jaya Raya, yang setiap tahunnya selalu membawa mitra kerjanya berlibur ke berbagai tempat yang berbeda. Lina awalnya sangsi akan menikmati liburan itu, mengingat seluruh pesertanya adalah sesama peternak seperti ayahnya. Gadis itu yakin topik yang akan didengarnya tak akan jauh-jauh dari ayam, telur, dan kandang. Benar saja tebakan Lina, sahut-sahutan mengenai urusan kandang berlalu lalang di depan wajahnya. Bahkan seringkali Lina mendapatkan pertanyaan tentang urusan kandangnya, tentang keberhasilannya menjadi mahasiswi di fakultas peternakan terbaik di Indonesia. Lina semakin terbebani dengan pujian para Ayi yang mengatakannya sebagai gadis yang beruntung dan hebat, berharap Lina akan berhasil meneruskan kesuksesan keluarganya. 
"Peternakan itu usaha yang zero waste. Alias nggak menimbulkan polusi apa pun. Ramah lingkungan. Mulai dari hilir sampai hulu, semua bisa didaur ulang."
"Semakin tinggi pohon kan semakin kencang anginnya. Semua orang juga ingin menjadi yang terbaik, tapi kualitas moral mereka yang menentukan cara yang akan mereka tempuh."
Tidak hanya itu, ada hal lain yang menganggunya di tengah-tengah keindahan kota-kota di Cina. Kehadiran Dewi dan Rita, yang entah mengapa sejak awal pertemuan mereka, dua gadis itu sudah menunjukkan tidak suka terhadap Lina, bahkan beberapa kalo Dewi menyindirnya terang-terangan di depan peserta tur lainnya. Lina yang awalnya berharap akan mendapatkan teman sebaya dalam perjalanan ini, harus pasrah menerima tatapan tajam dari Dewi, meski gadis itu akhirnya tak tahan lagi. Tiba-tiba, kemunculan Chen Zhang seakan menjadi penyelamat dirinya dari perjalanan yang mungkin akan terasa menyedihkan. Cowok berpenampilan "semau gue" itu datang kepada Lina dengan sikap ramahnya, menawarkan pertemanan yang terasa tulus. Perjalanannya menyusuri tiap sudut kota cantik itu menjadi lebih berarti berkat kemampuan Chen yang dapat menjadikan selembar foto terasa lebih artistik.
"Nggak mungkin ada orang yang disenangi semua orang. Pasti ada aja yang nggak suka. Yang penting kita jangan mau dicap jelek kalau memang kita benar. Buktikan sama mereka kalau kita nggak kayak yang mereka pikir. "
"Kamu itu lebih baik daripada apa yang kamu pikirkan. Kamu nggak sehebat ketika orang lain memujimu tetapu juga kamu nggak seburuk ketika orang lain meremehkanmu."
Chen Zhang mengakui, bahwa Lina adalah gadis manis yang menarik. Tatapannya tidak berpindah barang sebentar saja dari gadis itu. Tetapi ada satu hal yang tidak Lina tahu dari Chen Zhang, meskipun gadis itu rasanya sudah bercerita banyak kepada Chen Zhang perihal dirinya, bahkan impiannya. Kemarahan Dewi yang tak kunjung redam, semakin membuat Lina gerah. Ada nama ayah Lina yang turut dibawa dalam dialog Dewi yang menyindir. Sementara itu, Lina baru teringat pesan neneknya, mengenai alamat penting yang harus dicarinya selama di Hongkong, yang nantinya akan menjadikan perjalanan Lina sebagai perjalanan yang tak terlupakan. Berhasilkah Lina menemukan tempat yang bernama Shanghai Star?
"Banyak hal baru yang akan kita lewatkan kalau kita cuma stuck di satu poin, cuma stuck dengan pandangan seperti orang-orang kebanyakan. Kadang orang-orang terlalu mudah menyerah untuk mencari makna yang tersembunyi di balik suatu hal."

Perjalanan yang diwarnai pesan moral adalah tema yang coba diangkat oleh Altami N.D dalam A Week-Long Journey. Perjalanan seminggu seorang tokoh bernama Lina di Cina yang membawanya kepada kunci untuk menyelesaikan permasalahan dirinya sendiri. Karakter sang tokoh akan terus berkembang, dan perlahan-lahan akan menjadi sosok yang berbeda dari yang sebelumnya setelah pulang dari perjalanan itu. Memang kita sering menemui tipe novel seperti ini, tetapi A Week-Long Journey punya sesuatu yang membedakannya dengan novel lainnya yang serupa, selain karena banjir quotes yang tepat sasaran.

Tokoh yang mendominasi novel ini berasal dari etnis Tionghoa, tentunya pembaca akan banyak menemui berbagai istilah dalam kebudayaan dan bahasa Cina. Setting yang mengambil tempat di Cina juga membuat novel ini semakin menarik. Memang, pendeskripsian latar tempat novel ini sangat lengkap, bahkan kadang termasuk sejarah tempat tersebut. Tetapi karena gaya penulisan Altami N.D. yang santai dan mengalir, mampu membuat pendeskripsian si latar menjadi tempat yang bisa dibayangkan dengan baik, bukan hanya sekadar dibaca sambil lewat. Jika dalam novel lain, kebanyakan saya selalu bosan membaca pendeskripsian tempat karena bahasa yang kaku, kali ini A Week-Long Journey menjadi pengecualian. Justru, saya berlomba-lomba mengumpulkan sebanyak apa pun informasi tentang Cina dan budayanya dari buku ini.

Tidak hanya latar yang istimewa, adanya informasi tentang dunia peternakan, yang menjadi salah satu fokus utama dalam novel ini sangatlah menarik untuk diikuti. Bagi saya pribadi, yang tidak menyukai dunia beternak ayam, dsb, porsi penjelasan Altami N.D yang dibagi dalam novel ini sangat pas, sehingga, apa yang coba disampaikan penulis, dapat diterima pembaca dengan baik. Informasi yang sangat mendetail tentang perawatan ternak ayam, cara menyembuhkan ayam yang terjangkit penyakit, dsb, dituliskan dengan cara yang fun. Awalnya, saya sempat heran dengan para Ayi peternak yang begitu betah dengan ayam-ayamnya, akhirnya saya menemukan jawabannya di novel ini. Apa yang dapat ayam-ayam itu hasilkan, sehingga dapat menyumbang keuntungan cukup besar bagi peternaknya. Ternyata dunia peternakan cukup menarik, tidak seperti yang selama ini orang awam nilai. 

Seperti yang sudah saya katakan, begitu banyak pesan moral yang terkandung dalam novel ini. Saya menyukai bagaimana penulis mengubah karakter si tokoh utama secara perlahan-lahan dan dengan alasan yang masuk akal. Bahkan mampu mengikutsertakan emosi pembaca, sehingga pembaca juga dapat merasakan jika mereka berada di posisi Lina. Rasanya dapat dipastikan, apa yang akan mereka lakukan, akan sama seperti yang Lina lakukan. Singkatnya, novel ini mengeruk emosi pembaca, lalu menanamkan seember penuh rasa simpati dalam hati pembaca. Novel ini punya kisah yang mengharukan, tentang pengorbanan, kerja keras yang dipadupadankan dengan cinta dalam keluarga. Lebih menarik, saat melihat interaksi Lina dengan keluarganya, dibanding dengan interaksi cewek itu dengan Chen Zhang. Meski tetap saja, dua-duanya menghangatkan hati.

Hampir tidak ada karakter yang teras menyebalkan dalam novel ini. Bahkan, si antagonis Dewi pun punya alasan sendiri dalam melakukan tingkah buruknya. Dan alasan yang melatarbelakangi tindakannya sungguh membuat kagum, meski memang caranya tetap salah. Lina, sebagai karakter utama, rasa-rasanya dapat belajar dari setiap orang dan setiap sudut tempat yang dia temui, mengambil sesuatu yang baik yang terkandung di dalamnya. Sangat dewasa. Itulah yang membuat saya salut dengan karakter Lina, meski masih banyak kekurangan dalam diri cewek itu. Sementara Chen Zhang, karakter cowok yang terasa terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan, tetapi cowok itu tetap menjadi pelengkap bagi petualangan Lina, dengan segala tindakan manisnya yang memperlakukan Lina bak putri yang harus dilindungi. Hanya banyaknya typo-lah yang sedikit mengganggu saya saat membaca novel ini.

Meski masih terdapat beberapa hal yang membuat saya kurang sreg, saya tetap menyukai novel ini, terlebih lagi saat melihat apa yang diangkat tak hanya sebatas tentang 'pilihan-jurusan-yang-tidak-sesuai-keinginan-sendiri'. Ada yang lebih dari novel ini, lebih dari yang saya harapkan pertama kali saat membacanya. Tidak heran jika pembaca lain juga berpendapat demikian, karena mungkin mereka juga merasakan kehangatan yang menjalar kala membalik halaman novel ini. Setelah ini mungkin, pembaca akan lebih menghargai keberadaan orang-orang terdekat mereka khususnya keluarga, ingin mengenal lebih dalam sosok keluarga sendiri. Karena terkadang kita keliru, saat kita menganggap mereka salah dan kita-lah yang paling benar. 

Kita sering melakukan hal tanpa mempertimbangkan apa impaknya bagi keluarga, sedangkan keluarga selalu memikirkan kita setiap ingin bertindak apa-apa. Meski ending-nya, membuat keseluruhan novel ini menjadi kisah yang terasa bahagia tanpa cacat, tetap saja, hal yang paling membekas bagi saya adalah tentang kebersamaan dan saling menghargai diantara mereka. Saya merekomendasikan novel ini bagi mereka yang kurang peduli dengan orang-orang sekitarnya, dan selalu berada dalam cangkang keegoisannya. Terkadang, ada hal-hal yang bisa kita dapatkan setelah kita melihat sesuatu dengan sudut pandang lain. :)
"Ada yang bilang idealisme sering terbentur dengan realitas. Idealisme tidak mungkin terwujud kalau realitas tidak mendukung. Karena itulah dunia memerlukan orang-orang yang bisa menyatukan idealisme dan realita. Ketika dua hal yang tampaknya berbeda itu menyatu, kita bisa menyebutnya mimpi yang menjadi kenyataan."

Share:

0 comments