After Sunset - Indah Hanaco | Book Review


Judul: After Sunset
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Elex Media
Tebal Buku: 288 halaman
"Mimpi-mimpi itu membuat lubang di jiwanya. Lubang yang sepertinya tidak akan bisa ditutup dengan sempurna. Kian dewasa Leah kian belajar bahwa hidupnya tidak akan pernah bisa lengkap. Hidupnya sudag digariskan untuk memiliki kekosongan yang gelap."
Merasa bertanggung jawab menggantikan posisi sang ibu yang telah meninggal karena kecelakaan, Leah Kannitha pelan-pelan mengubah dirinya. Gadis itu belajar memasak, gaya berpakaiannya kuno, serta menutup diri untuk segala bentuk pergaulan masa kini. Dirinya yang dulu ceria sudah tenggelam, dan tergantikan oleh Leah yang dingin dan lebih serius. Ibu Leah dan Dev, kakak laki-lakinya meninggal dalam kecelakaan pesawat, peristiwa itu meninggalkan luka yang cukup mendalam di hati Leah,
terutama hati ayahnya, yang tak pernah mau menikah lagi. Melihat sang ayah yang masih memancarkan rona kesedihan yang coba disembunyikan dari balik matanya, Leah mencoba segala cara untuk membuat ayahnya kembali tersenyum. Salah satu cara gadis itu ialah merelakan masa mudanya demi menggantikan posisi sang ibu dalam mengurus rumah dan ayahnya. 
"Jauh di dalam jiwanya, semua dasar yang membentuk pribadinya sudah rubuh dan berganti dengan sesuatu yg nyaris tak dikenalinya. Seakan sesuatu itu tidak berasal dari dalam dirinya, melainkan dari dunia lain. Dunia bernama kehilangan."
Ayah Leah pun miris melihat kondisi anaknya yang berjuang keras untuk dirinya. Pria itu merasa perlu membahagiakan Leah, dan akhirnya berujung pada perintahnya yang meminta Leah untuk segera berlibur kemana pun gadis itu suka. Leah sempat menolak, tetapi tanp diketahuinya, sang ayah sudah merencanakan dengan matang liburan Leah, dengan segera membeli tiga tiket dan memesan kamar di sebuah resor penginapan di Bali. Leah mau tak mau akhirnya mengikuti permintaan sang ayah meski dengan berat hati, gadis itu bertandang ke Bali ditemani oleh Emma, sahabatnya, dan Zsa Zsa, sepupunya. Sebenarnya bukan Zsa Zsa lah yang seharusnya menjadi teman liburannya, tetapi hal itu terpaksa terjadi karena Merry, sepupu Leah yang lain, harus jatuh sakit tepat sebelum hari keberangkatan mereka. Tanpa semangat, Leah akhirnya memulai liburan singkatnya di Bali, diwarnai dengan kekesalannya terhadap sifat Zsa Zsa yang menurutnya kekanakan dan berlebihan.
"Mengabaikan atau bahkan kehilangan orang yang nggak pernah menganggapmu penting itu lebih mudah, dibanding kehilangan orang yang sangat mencintaimu."
Resor yang diinapi Leah memang sangat indah, mampu membuatnya sedikit lupa akan ketidaksukaannya berlibur ke Bali. Mengetahui ayahnya sudah mau direpotkan oleh urusan liburannya, Leah mencoba menikmati, meski seringkali kebebasannya direnggut oleh Emma dan Zsa Zsa. Saat menikmati angin di pantai privat resor itu, tak sengaja Leah bertemu dengan seorang lelaki bule aneh yang menurutnya sudah gila, bayangkan saja, lelaki itu sedang membentur-benturkan kepalanya sendiri ke meja saat Leah menyapanya! Niat baik Leah pun segera ditepis lelaki itu dengan responnya yang luar biasa negatif. Lelaki bule itu malah terlihat marah dan tidak suka Leah terlalu mencampuri urusan orang. Pertemuannya dengan bule itu membuat perasaan Leah semakin buruk, gadis ingin segera pulang ke Medan. Emma dan Zsa Zsa ternyata juga mendapat kenalan baru seperti Leah. Jen, gadis bule cantik yang mengajak mereka untuk berlibur bersama ke berbagai tempat wisata di Bali. Leah, bertemu dengan rombongan Jen, yang ternyata adalah anggota sebuah band dari Inggris. Ada Marc, yang mengingatkan Leah pada Ryan Gosling; Cody, pria dengan tato berbentuk logo di dadanya; Jason, pria berkulit keemasan; dan Patrick, pria ramah dengan mata biru. Kemudian menyusul dua nama lain, Liam Hammond, dan Selby yang merupakan groupie Liam. 
"Kukira perempuan memang sulit untuk ditebak. Tapi nyatanya jauh lebih sulit dibanding bayangkanku. Kalau aku nggak mencari tahu, mungkin aku akan selalu kena marah karena salah bicara."
Leah langsung menyadari bahwa Liam-lah bule sinting yang ditemuinya waktu itu. Gadis itu langsung bersikap defensif dan menyatakan peperangan dengan Liam yang ternyata memiliki sifat sangat menjengkelkan. Perseteruan keduanya pun terus berjalan, dan suatu hari, tiba-tiba Liam meminta maaf pada Leah! Sejak saat itu, Leah dan Liam mulai mencoba memaafkan satu sama lain ,dan menjalin pertemanan yang terbangun dari percakapan-percakapan aneh. Selama bepergian bersama, Liam dan Leah kerap kali terlibat momen-momen intens, membuat Liam akhirnya menemukan kenyamanannya dengan Leah, membuat lelaki itu akhirnya mau membuka identitas dirinya, mantan pembalap yang pensiun karena memiliki penyakit yang cukup parah. Leah tanpa sadar juga merasakan hawa panas tiap kali melihat Liam digandeng mesra oleh Selby, meski lelaki itu memperlihatkan ketidaksukaannya terang-terangan. Lantas, apa yang selanjutnya terjadi dalam hubungan benci menjadi cinta ala Leah dan Liam?
"Dulu memang aku marah sama situasi ini. Banyak hal buruk yang datang bertubi-tubi. Tapi, sekarang aku sudah berusaha untuk berdamai dengan kenyataan. Aku nggak bisa melakukan apa pun untuk mengubah apa yang sudah terjadi, kan? Jadi, aku harus bisa mulai berkompromi."
***

After Sunset, karya Indah Hanaco yang kesekian, dan merupakan novel keenam yang saya baca. Bertemakan benci menjadi cinta, kisah Leah dan Liam dilatarbelakangi oleh keindahan Bali. Judulnya related dengan isi cerita, hanya saja, saya kurang menyukai konsep cover-nya yang sangat sederhana dan kurang menarik dilihat mata. Jadi sangat disayangkan, kisah Leah dan Liam yang menarik, tersembunyi dari mata pembaca karena cover-nya tidak eye-catching. Novel ini terkadang diceritakan dari dari sudut pandang Leah dan Liam, namun dominannya adalah sudut pandang orang ketiga, yang juga menurut saya lebih cocok untuk gaya penulisan Kak Indah.

Berkisah tentang Leah, gadis berusia 20 tahun yang harus terlihat tua demi menggantikan peran ibunya. Tak ada yang salah dari karakternya. Saya sangat menikmati halaman-halaman awal novel ini yang mengungkapkan latar belakang Leah dan kisah apa yang dihadapi keluarganya. Sangat menyenangkan mengetahui apa yang terjadi pada tokoh utama secara perlahan-lahan. Karakter Liam juga cukup kuat dengan sifatnya yang berubah menyebalkan, sama seperti Leah. Sayangnya, Liam lebih ekstrem karena selama ini, teman-teman Liam banyak yang pergi karena tidak tahan dengan tingkah laku Liam. Kisah Leah dan Liam benar-benar menjadi favorit saya dalam buku ini. Apa lagi, mengetahui bahwa Liam adalah mantan pembalap F2 yang cukup jago dan populer, yang tiba-tiba harus pensiun dini karena dukungan yang terkubur bersamaan dengan jasad kakeknya yang telah tiada. Cowok itu juga menderita penyakit yang infonya cukup berguna bagi pembaca. Saya menyukai adanya banyak alasan kuat yang berhasil mendorong Leah dan Liam untuk berubah menjadi orang yang sama sekali baru, terasa cukup realistis.

Selain latar belakang kisah dua tokoh utama, saya sangat menyukai pertemanan antara Leah, Emma, dan Zsa Zsa. Dialog yang mereka sajikan dalam percakapan sangat menghibur, candaan yang mereka lontarkan membuat kisah mereka saya rasakan lebih menarik daripada kisah Leah dan Liam sendiri. Interaksi yang cukup menggambarkan kedekatakan hubungan mereka, menjadi suatu kesenangan tersendiri bagi saya saat membacanya. Kisah dalam buku ini didominasi oleh interaksi mereka dan kisah cinta Leah-Liam yang sulit. Saya sempat sangat menikmati kisah Leah-Liam hanya sampai bagian dimana mereka baru saja berbaikan, selanjutnya hubungan mereka berdua banyak diwarnai percakapan random yang nggak jelas tujuannya dan maksudnya, yang menurut saya agak terasa membosankan. Tetapi anehnya, di satu sisi, kalau itu terjadi di dunia nyata bisa jadi terlihat seru. Mereka sama-sama berargumen hal tidak jelas dengan muka masam, pasti akan terlihat lucu.

Beberapa kali juga mereka sering bertukar cerita tentang hidup masing-masing. Part Leah sedikit diceritakan karena awalnya memang sudah diungkap, sementara part Liam cukup banyak dan jauh lebih menarik, namun seringkali diulang-ulang kembali. Saya kurang menyukai permusuhan antara Leah dan Selby, dikarenakan Liam yang kurang tegas menanggapi Selby yang sudah bertingkah kelewatan. Selby juga nggak berperan banyak dalam kelanjutan cerita, dia hanya menjadi sosok yang membuat Leah bertanya-tanya dan membuat Leah kesal karena ulah gadis itu.

Konflik memang tidak terbatas dengan kisah hidup para tokoh utama sendiri, hubungan Leah dan Liam yang awalnya kurang harmonis, dan hubungan Leah dengan sepupu dan temannya yang semakin membaik. Ada lagi hal yang sebenarnya adalah inti dari cerita, yang terdapat di halaman pertengahan menuju akhir. Tapi menurut saya, entah kenapa, belum terlalu terasa, karena mungkin porsinya lebih sedikit dibanding hubungan Leah dan Liam yang terjadi di Bali. Saya juga kurang bisa memahami alasan Liam yang menghilang di akhir cerita, sangat tiba-tiba, dan meski saya bisa merasakan apa yang Leah rasakan, konflik itu belum dikupas secara mendalam. Jadi hanya sebagai konflik yang terlihat kecil (padahal kalau terjadi di dunia nyata sebenarnya sangat besar), sebelum mencapai ending. Meski saya menyukai ending-nya, apa yang saya temui sebelumnya membuat ending-nya tidak begitu terasa spesial.

Saya cukup bisa menikmati kisah yang ditawarkan dalam After Sunset, kembali lagi berkat gaya bercerita Kak Indah yang membuat kisah ini berkali lipat lebih menarik. Nama-nama artis luar negeri yang berulang kali disebutkan Kak Indah juga membantu pembaca agar lebih mudah membayangkan sosok tokoh-tokohnya. Misalnya, Liam yang digambarkan mirip dengan Nicholas Hoult dengan messy hair ala Gordon Ramsay. Tetapi saya, anehnya kurang bisa menerima deskripsi itu karena tiba-tiba di benak saya langsung muncul sosok Channing Tatum tiap kali melihat nama Liam. Liam yang sering disebutkan sebagai raksasa dan suka marah-marah, menurut saya lebih cocok dengan Channing Tatum yang muka juteknya memang beneran ngeselin tapi tetap ganteng. Postur dan wajahnya juga lebih cocok untuk menjadi pembalap dibanding wajah Nicholas Hoult yang imut banget, meski memang banyak pembalap berwajah imut (re: Rio Haryanto). Kalau Kak Indah mengizinkan Channing Tatum jadi Liam, rasa suka saya terhadap After Sunset jadi naik lima tingkat, nih. Jadi boleh kan, Kak? XD
"Siapa bilang usia muda hanya berhadapan dengan kesenangan dan hal-hal sederhana saja? Ah, itu rasanya terlalu membosankan. Karenanya, aku memilih menempuh jalan yang tak biasa."
(sebenarnya 3,5, tapi nggak ada pic-nya)

Share:

0 comments