Mr AB vs Miss O: Wedding - Senselly | Book Review


Judul: Mr AB vs Miss O: Wedding
Penulis: Senselly
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 202 halaman
"Tidak mudah bagi pasangan AB dan O untuk menjadi satu. Perlu mencapai tingkat saling memahami yang tinggi sebelum keduanya bisa melengkapi satu sama lain."
Kutukan pernikahan telah menimpa Shin Jun-Jae! Mau tak mau, pria itu mempercayainya atas berbagai kesialan yang menimpanya. Dalam keluarga Shin, konon, anak pertama laki-laki yang bermarga Shin tidak akan pernah sukses dalam masalah percintaan, seperti paman Jun-Jae yang tak kunjung memiliki pasangan sampai akhir hayatnya. Kini, Jung-Jae nyaris merasakan hal yang sama, setelah lamarannya dulu ditolak oleh Song Na-Ra, gadis yang sangat dicintainya.
Tetapi gadis itu malah memilih bersama dengan sahabat Jung-Jae sendiri. Berkat tragedi itu, Jung-Jae merasa tak bisa lagi mencintai wanita layaknya dia mencintai Na-Ra. Sampai-sampai, ibunya berusaha untuk menjodohkan Jung-Jae dengan berbagai wanita, salah satunya adalah Shin Yun-Hee. Sekali lagi, rencana itu gagal karena gadis itu telah memiliki kekasih, memicu pertengkaran antara Jung-Jae dan pria itu di Caffest di hari minggu, yang dikenal oleh orang sekitar sebagai tragedi Sunday Affair.
"Dia ingin sekali mendapatkan dua pertemuan spesial dengan gadis yang bisa menggetarkan hatinya. Pertemuan pertama yang tidak sengaja, dan pertemuan kedua untuk pengakuan cinta."
Kutukan tersebut semakin mengancam hidup Jung-Jae. Suatu hari, pria berencana membeli bunga untuk menyambut kepulangan adik sepupunya dari London, Ken Hwang. Jung-Jae pun mendatangi Garden, toko bunga milik bibinya, Ran, dan bertemu dengan Han Ah-Reum, gadis manis penjaga toko bunga. Jung-Jae terpesona dengan gadis itu, setelah menolong Ah-Reum yang nyaris terpeleset. Semenjak itu, Jung-Jae bertekad untuk mendekati Ah-Reum dan menjadikan gadis itu sebagai pendamping hidupnya. Ah-Reum adalah gadis miskin yang berasal dari Pulau Jeju. Kedua orang tuanya telah lama meninggal, membuat dirinya hanya tinggal bersama kakek dan neneknya. Suatu saat, gadis itu merantau ke Seoul, untuk menghidup keluarganya. Ah-Reum sangat tidak menyukai musim dingin, musim itu mengingatkannya kepada Lee Gong-Ju, pacarnya yang telah tiada. Ah-Reum terus teringat tentang peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa sahabat terbaik sekaligus kekasihnya, yang dia saksikan sendiri di depan mata kepalanya.
"Takdir Tuhan itu tidak semudah itu ditebak. Kalau menurut kutukan itu kau tidak akan pernah menikah, tapi jika suatu saat Tuhan menetapkan takdir yang berbeda untukmu bagaimana? Aku yakin, kau akan menikah dengan seorang wanita yang baik. Kau akan bahagia dengan seorang pengantin yang cantik, Jun-Jae~ssi."
Ah-Reum yang manis sangat disukai orang-orang terdekatnya, termasuk Nyonya Ran. Wanita itu bahkan meminta bantuan Ah-Reum untuk menata kamar milik putranya, Ken. Saat Ah-Reun bertemu Ken pertama kali, gadis itu tanpa aba-aba langsung memeluk Ken dengan penuh rindu. Ken sangat mengingatkannya dengan Gong-Ju, wajah dan senyumnya begitu mirip. Ken Hwang, pianis sukses lulusan sekolah musik di London. Wajahnya yang tampan membuatnya bebas memilh gadis mana pu. Tetapi, hari itu, Ken menautkan pandangannya pada Ah-Reum. Ken dan Jung-Jae sama-sama terpesona oleh sosok Ah-Reum. Sayangnya, Ken tidak seberuntung Jung-Jae yang terlebih dulu melakukan pendekatan kepada gadis itu. Jung-Jae terus berusaha untuk mengenal Ah-Reum lebih jauh. Bahkan tiba-tiba meminta gadis itu untuk menikah dengannya!
"Pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah diputuskan. Pernikahan butuh cinta, dan membangun cinta tidak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat. Bagi Ah-Reum, jatuh cinta adalah perasaan senang dengan kebiasaan selalu bersama dan merasa kehilangan saat berjauhan, dari situlah awal mula perasaan saling ketergantungan satu sama lain yang tidak bisa dibendung lagi."
Menyadari hubungannya dan Jung-Jae kian intens, perasaan cinta mulai bertumbuh di hati Ah-Reum. Tetapi, gadis itu masih seringkali teringat sosok Gong-Ju setiap kali melihat wajah Ken, bahkan mungkin, dirinya juga memiliki ketertarikan kepada pria tampan itu. Kehadiran Na-Ra yang kembali ke kehidupan Jung-Jae semakin memperkeruh suasana. Na-Ra yang licik terus berusaha mendekati Jung-Jae tanpa lelah, berharap pria itu kembali jatuh ke pelukannya, meski sudah berulang kali mendapat penolakan. Sampai suatu hari, Ah-Reum melihat Na-Ra dan Jung-Jae sedang berciuman, di saat Nyonya Ran memintanya untuk menjalin hubungan dengan Ken demi menyenangkan hatinya. Ah-Reum selalu ingin berbuat baik untuk sesama, dan tidak tega jika ada orang lain yang sedang kesulitan. Dirinya bimbang dengan keadaan yang semakin menekannya untuk segera menjauhkan diri dari Jung-Jae. Akankah hubungan Ah-Reum dan Jung-Jae terus berlanjut?
"Kita berlalu, berjalan terus melalui waktu, sampai akhirnya berada di tahap ini. Aku tidak menyangka, ada saatnya dimana kita bisa melepaskan genggaman tangan dan berjalan di jalur yang terpisah. Kau memutar arah ke belakang, dan aku pun sama."
***

Wedding adalah salah satu seri Blood Type, yang kali ini bertokoh utama seorang cowok bergolongan darah AB dan cewek bergolongan darah O. Dari buku ini, saya jadi tahu bahwa sifat AB dan O sangat berkebalikan. AB yang hanya dimiliki oleh 4% orang di dunia ini, biasanya misterius, tidak ekspresif, frontal, dan tidak mudah ditebak. Sementara O itu lebih perasa, ramah, bersahabat, dan senang membawa keceriaan. Jun-Jae dan Ah-Reum memiliki seluruh karakter tersebut. Jung-Jae yang tidak banyak bicara, jalan pikirannya sulit tertebak, dan benar-benar frontal, tercermin dari keinginan dia untuk menikahi seorang gadis yang disampaikannya secara lansung. Sementara Ah-Reum, gadis yang baik hati, ramah, dan nggak bisa berhenti berusaha membahagiakan orang lain, meski harus mengorbankan kebahagiannya sendiri.

Mengambil setting di Myeongdong, novel ini berkisah tentang hubungan antara Jung-Jae dan Ah-Reum yang diwarnai banyak drama. Banyak kesalahpahaman terjadi, yang membuat konflik-konflik terus bermunculan. Masalah hanya seputar pada dua tokoh utama yang selalu salah mengartikan keadaan. Prasangka berada dimana-mana. Ada twist yang sepertinya sangat mudah tertebak sejak pembaca baru sampai di halaman-halaman awal. Meski tidak sulit menebaknya, twist tersebut tetap menjadi bumbu yang menjadikan cerita lebih seru, yang ujungnya menyumbang masalah baru yang menjadi klimaks cerita ini.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, karakter Jun-Jae dan Ah-Reum sangat tergambar jelas. Sebenarnya saya menyukai ide cerita ini, tentang seorang cowok yang membawa "kutukan" dari keluarganya, tentang seorang cowok yang punya prinsip hanya perlu dua kali pertemuan dengan lawan jenis untuk kemudian menyatakan cintanya. Saya hanya kurang bisa bersimpati dengan karakter si tokoh itu, memang Jung-Jae itu frontal, saya jadi bisa memaklumi omongan dia yang nggak bisa diprediksi, kayak petasan yang tiba-tiba meledak. Saya nggak suka sifatnya itu nggak berimbang dengan usaha dia, jadi dia seperti hanya banyak omong, minim bukti dan usaha. Memang usia nggak menentukan kedewasaan, tapi saya pikir di umur yang ke-31 tahun seharusnya dia lebih bijak menanggapi sesuatu. Seharusnya dia tahu jalan keluar dari suatu masalah dengan berkomunikasi, dibicarakan baik-baik. Tapi dia malah seringkali diam saja dengan berbagai tuduhan dan prasangka yang belum tentu benar. Terlalu overthinking tanpa mau menyuarakan pikirannya. Terus kemana sifat frontalmu itu, Mas?

Untuk karakter si cewek, sebenarnya awalnya nggak ada masalah. Saya sempat terkesan sama reaksinya saat melihat Na-Ra berciuman dengan Jung-Jae, dia bisa menerima dan memahami penjelasan Jung-Jae dan nggak kabur dan mendiamkan Jung-Jae lalu meninggalkan masalah baru. Tapi, kekaguman saya berhenti sampai disitu, setelah saya menyadari kalau Ah-Reum ini bukannya baik hati lagi, tapi sudah terlalu baik. Saya kurang menyukai sifatnya itu, jadi mudah dimanfaatkan dan dibodohi. Saya tahu dia merasa kastanya lebih rendah daripada Jung-Jae, Ken, Nyonya Ran, dan Na-Ra. Tapi itu nggak mesti menjadikan dia seorang yang harga dirinya bisa diinjak begitu saja, kan? Dia seperti nggak punya pembelaan diri saat diusik. Pasrah gitu aja, khas cewek-cewek di drama Korea yang karakternya superpolos yang kadang malah terlihat menyedihkan, alih-alih cute.

Beberapa kali saya menemukan kalimat yang kurang jelas maksudnya. Dan beberapa kali menemukan kalimat yang salah ketik, sehingga saya agak bingung saat membacanya. Saya cukup menyukai interaksi antara Jung-Jae dan Ah-Reum walau diceritakan secara singkat, mengingat keterbatasan halaman. Tapi dalam hati, saya lebih menginginkan Ah-Reum bersama dengan Ken, yang menurut saya jauh lebih dewasa dan pengertian daripada Jung-Jae. Entah kenapa, saya nggak bisa berhenti mengkhayal kalau Ken itu mukanya mirip sama Thunder eks MBLAQ. Ya sudahlah, Ken sama saya aja, yuk? XD

Kisah ini ditutup dengan manis, meski tetap saya belum merelakan ending-nya bergulir seperti itu. Meski plot-nya tidak terlalu istimewa, saya tetap bisa menikmati kisah ini berkat gaya bercerita Senselly yang enak dibaca. Dan, mau bagaimana pun bentuknya, rasanya saya akan tetap bisa menikmati kisah yang berlatar dan bertokohkan orang Korea, sebab saya lebih mudah membayangkan tiap adegannya karena sering menonton drama Korea, lebih mudah membayangkan bagaimana kira-kira paras tiap tokoh. Novel ini direkomendasikan bagi pembaca yang mencari cerita manis dan ringan untuk dibaca. :)
"Banyak hal yg bisa kita temui dalam kehidupan. Semuanya akan berakhir sedih atau bahagia tergantung apa yang kita lakukan untuk menghadapinya. Kita tidak pernah tahu takdir macam apa yang sedang menunggu di depan sana. Tapi percayalah, Tuhan selalu tahu yang terbaik."

Share:

0 comments