Pengurus MOS Harus Mati (Johan Series #2) - Lexie Xu | Book Review


Judul: Pengurus MOS Harus Mati (Johan Series #2)
Penulis: Lexie Xu
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 301 halaman
"Siapa gerangan yang tega-teganya menyiksa mereka dengan kematian yang perlahan-lahan? Atau lebih tepatnya lagi, makhluk tak berhati seperti apa yang sanggup melakukan perbuatan sekeji itu?"
OSIS di SMA Persada Internasional, terkenal dengan anggotanya yang populer dan berprestasi. Seperti Hanny Pelangi, si cewek cantik yang selalu dikejar para cowok; Benji, ketua OSIS ambisius sekaligus pacar Hanny; Ivan, wakil ketua OSIS sekaligus ketua klub atletik; Peter, ketua klub KPR yang terkenal berkat koran Berita Persada; Ronny, ketua klub basket; ada pula, Mila dan Violina, dua cewek populer yang menjabat sebagai sekretaris OSIS, dan beberapa nama lainnya yang tidak kalah populer. Tetapi, hanya mereka-lah yang dapat kehormatan, terpilih menjadi salah satu pengurus MOS tahun ini.
Dan hanya Tony dan Markus, yang berani menolak tawaran itu demi mengikuti kamp latihan judo, yang juga membuat Jenny akhirnya harus kesepian di Singapura, tanpa ditemani Hanny, Markus, juga Tony, pacarnya.
"Bukannya lebih baik kalo bekerja sama dengan semua orang, gunain semua kelebihan mereka, dan bikin mereka ngakuin kepemimpinan kamu karena kamu sanggup ngatur orang-orang hebat?"
Tak disangka, ada satu lagi anggota tambahan yang tidak diharapkan oleh semua pengurus MOS. Frankie, adik Ivan yang badung, pernah tidak naik kelas sehingga menyebabkan dirinya masih harus duduk di bangku kelas 10. Cowok itu berpenampilan berantakan dengan tubuh besar, dan berperilaku sesuka hatinya. Pertemuan pertamanya dengan Hanny, membuat Hanny langsung kesal setengah mati dengan cowok yang menjulukinya Tuan Putri. Meski begitu, Frankie adalah cowok yang cukup asik untuk dijadikan teman mengobrol meski seringkali mengudang emosi. Belakangan ini, Hanny baru mengetahui bahwa Frankie ternyata telah menaruh hati padanya sedari lama. 
"Tapi apa nggak ngenes, setiap hari harus melihat orang-orang yang naik BMW tapi cemberut, sementara yang miskin-miskin udah sangat bersyukur kalo dapet tempat duduk di bus?"
"Buat kebanyakan orang, materi itu patut diributkan, tapi sebenarnya yang lebih menentukan kebahagiaan kita adalah orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita."
Sebagai Ketua OSIS sekaligus Ketua Pengurus MOS yang ambisius, Benji menginginkan MOS tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Cowok itu menginginkan adanya penyiksaan terhadap anak-anak baru seperti yang dilakukan sekolah lain. Benji ingin melakukan hal-hal yang membuat amarah para peserta MOS memuncak. Tatkala dirasa itu semua belum cukup, Benji menambahkan fitur baru pada MOS kali ini. Adanya enam kisah horor SMA Persada Internasional yang dikarang bebas oleh beberapa pengurus MOS, yang nantinya akan diceritakan kepada para siswa-siswi baru.
"Selama enam hari, kita akan ngelakuin hal-hal yang membuat mereka muak sekaligus takut pada kita. Hal-hal yang membuat mereka ingin membunuh kita."
Awalnya MOS berjalan lancar. Sangat lancar, sampai Hanny merasa ilfeel dengan sikap Benji yang kelewat kejam dan otoriter seperti Hitler. Benji tak segan-segan mencari-cari kesalahan anak baru hanya untuk memarahi dan menghukum mereka. Padahal yang Hanny dan sebagian besar pengurus MOS lakukan hanyalah membentak, menyuruh, dan meminta dibelikan makanan oleh anak-anak baru. Sampai pada saat dimana kisah horor pertama harus diceritakan, tentang kisah konstruksi buruk gedung gym yang memakan banyak korban. Benji memerintahkan dua kelompok untuk masuk ke dalam gedung gym yang disebut-sebut menjadi TKP dari kematian masal itu. Hanny dan Mila berinisiatif untuk menemani kelompok-kelompok asuhan mereka masuk. Dan hal itulah yang akhirnya paling mereka sesali, karena kejadian robohnya gedung gym, tiba-tiba menjadi kenyataan. Tanpa mereka ketahui, ternyata peristiwa itu hanyalah pembuka, dari serangkaian peristiwa mengerikan yang akan terjadi satu per satu, tepat sesuai dengan urutan dan kisah yang diceritakan oleh para pengurus MOS. Teror tersebut datang melalui peringatan yang dibuat dengan darah ayah di setiap tembok sekolah, siapapun yang menulisnya, mereka benar-benar serius saat membuat tulisan, "Pengurus MOS Harus Mati."
"Mengarang kisah-kisah tentang kesialan bisa mengundang kesialan itu sendiri, Ben."

Pengurus MOS Harus Mati adalah novel kedua dari seri Johan Series yang ditulis oleh Lexie Xu. Pertama kali, saya membaca Obsesi, yang membuat saya akhirnya mengagumi tulisan-tulisan Lexie Xu dalam teenlit-nya. Johan Series terdiri dari empat buku dengan sudut pandang berbeda-beda. Jika dalam Obsesi sudut pandang cerita berasal dari Jenny Angkasa, sahabat Hanny, maka Pengurus MOS Harus Mati diceritakan dari sudut pandang Hanny. Semua kisah punya benang merah yang sama, yaitu keterlibatan Johan, si psikopat yang terobsesi dengan Hanny, yang sempat masuk Rumah Sakit Jiwa di buku Obsesi. Tetapi apakah pada akhirnya Johan akan punya peran dalam buku ini?

Kisah teror memang sangat menarik. Pembaca diminta untuk ikut merasakan bagaimana ketakutan yang diciptakan oleh si peneror. Namun itu hanya akan menjadi sesuatu yang membosankan bila dari halaman awal kita sudah bisa menebak siapa penerornya. Tetapi, lain cerita jika penulis memasukan unsur lain yang membuat cerita masih punya daya tarik untuk diselesaikan. Contohnya saja konsep teror-teror yang disajikan dalam rangkaian cerita horor pada kegiatan MOS sekolah. Sekolah memang salah satu tempat tercocok untuk dijadikan latar kisah horor maupun misteri. Belum lagi, MOS yang mungkin masih merupakan momok bagi para pesertanya, terlebih lagi jika pengurusnya sekejam para pengurus MOS SMA Persada Internasional. Dua hal itu digabungkan untuk menebar ketakutan kepada pembaca, yang mana sangat, sangat berhasil bagi saya hingga saya berani memberikan nilai penuh pada buku ini, meskipun masih ada hal-hal janggal disana-sini.

Apa saja hal-hal janggal tersebut? Dalam buku ini porsinya cukup besar. Saya heran jika pihak sekolah hanya menindaklanjuti kegiatan MOS yang membahayakan itu hanya seperlunya, bahkan masih boleh dilanjutkan. Memang bukan semua karena kegiatan MOS, tetapi nyatanya ada satu peristiwa mengerikan di sekolah, seharusnya sudah menjadi alasan sekolah tersebut untuk diliburkan dan pengurus MOS dibebastugaskan dari kegiatan mengerjai anak-anak baru. Tetapi, hal-hal itu benar-benar terkalahkan oleh gaya penulisan Lexie Xu yang khas. Narasi yang ceplas ceplos dan dialog yang benar-benar mengundang tawa. Umpatan yang dilontarkan Hanny yang kebanyakan untuk Frankie yang nyatanya diwarnai kata-kata kasar pun malah menjadi favorit saya. Lexie Xu memang jagonya membuat pembaca terus membaca tanpa memperhatikan waktu yang tiba-tiba saja sudah tersedot banyak, dan halaman yang tak sedikitpun saya perhatikan karena saya terlalu tenggelam dalam cerita, hingga tiba-tiba saja sudah berada di halaman akhir.

Berbeda dengan buku romance yang kadangkala membuat saya merasa ingin cepat-cepat menyelesaikannya, buku genre horor dan misteri malah membuat saya ingin berlama-lama membacanya, apa lagi buku-buku Johan Series Lexie Xu yang menurut saya punya semua unsur untuk menjadi buku bintang lima. Plot yang rapi, meski masih ada kekurangan, alur yang cukup cepat untuk merangkum keseluruhan kisah horor, tokoh-tokoh yang kesemuanya kuat menancap di benak pembaca, gaya penulisan yang menyumbang keseruang saat membaca buku ini, serta ending yang cukup meleset dari perkiraan pembaca berkat sebuah twist yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya karena pikiran saya sudah tertuju pada keterlibatan Johan sebagai pelaku teror.

Saya sempat menyinggung tentang karakter yang kuat. Dan memang, setiap karakter disini memang membekas apalagi beberapa dari mereka muncul lagi dalam buku selanjutnya atau sebelumnya. Seperti Benji yang ambisius dan gila kekuasaan, Ivan yang meski jago atletik tetapi hatinya selembut perempuan, yang jika diputuskan oleh pacarnya dia akan menangis tersedi-sedu, Hanny si cewek yang meskipun cantik tetapi nggak berotak kosong, pemberani dan siap mati demi orang terdekat, Violina, tipe cewek populer yang hanya mengandalkan kecantikan dan mulut besarnya untuk membius para cowok, Leslie, mantan cowok badung yang sangat bersahabat, serta Frankie, yang paling mencuri perhatian, cowok badung dengan rambut highlight pirang yang diikat kebelakang, sangat berbeda dengan kakaknya yang cengeng, jago berkelahi serta nggak bertingkah cheesy di depan cewek pujaannya, yang meski dihina berkali-kali, dia nggak juga mundur. Serta masih banyak lagi hal yang bisa digali dari Frankie, yang membuatnya pantas menjadi sosok yang paling dikagumi kali ini. Karena dalam buku yang lain, kemunculan Frankie seperti tiba-tiba dan masa lalunya belum diceritakan, mengapa dia tiba-tiba bisa bertemu Hanny, dan di buku ini pun akhirnya terungkap semuanya, menjadikan Frankie sosok yang lebih keren dibanding Tony dan Markus.

Memang beberapa kisah ada yang terlalu sadis jika dijadikan teror yang nyata oleh si peneror, maka dari itu Lexie Xu sedikit memutar jalan cerita agar tidak terlalu mudah tertebak, yang tetap saja cukup mengerikan jika dibayangkan. Pengurus MOS harus mati layak mendapatkan bintang lima meski bukan seri pembuka Johan Series. Fyi, saya juga memberikan bintang lima kepada Obsesi, hasil perkenalan yang menyenangkan terhadap seri ini. Pengurus MOS Harus Mati punya banyak kualitas yang membuat buku ini berkedudukan sejajar dengan pendahulunya, meski karakternya sudah pernah pernah muncul sebelumnya. Plot yang baru, unik, dan tidak biasa-lah yang menjadi pemicu. Dan menyesalnya, saya menjadikan kisah ini sebagai buku semenarik ini, menjadi bacaan terakhir yang saya baca dari Johan Series. 
"Di dunia ini, akal sehat dan logika memang memegang kendali. Namun, ada sesuatu yang lebih kuat lagi, yang sanggup mematahkan kekuatan akal sehat dan logika. Sesuatu itu adalah tekad."

Share:

1 comments

  1. Menarik kayanya ya ceritanya, jadi penasaran.


    bacaanipeh.blogspot.com

    ReplyDelete