Runaway - Kezia Evi Wiadji | Book Review


Judul: Runaway
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Grasindo
Tebal Buku: 145 halaman
"Aneh sekaligus menyedihkan. Untuk mendapatkan perhatian dan cinta, mengapa harus menyakiti diri sendiri?"
Selama ini, pertengkaran antara ayah dan ibunya sudah merupakan makanan sehari-hari bagi Amy. Gadis itu sudah terbiasa melihat teriakan ayah dan tangisan Hanah, ibunya, meski tetap, rasanya sakit menyaksikan dua orang yang paling disayanginya saling menyakiti satu sama lain. Amy selalu berusaha menyembunyikan kenyataan tersebut dari Tasya, adiknya. Gadis itu tak sampai hati bila adiknya yang masih kecil itu mengetahui bahwa ibu dan ayah mereka tak lagi saling mengasihi.
Untunglah ada Bibi, asisten rumah tangga mereka, yang masih menyayangi Amy dan ibunya. Masih setia bekerja dirumah mereka meski harus menjadi saksi mata hal pahit yang terjadi di rumah Amy. Bahkan, Bibi dengan sabar menjadi orang yang bersedia ditumpahkan keluh kesah oleh ibu Amy. Amy berubah menjadi gadis tertutup, karena dia tak ingin teman-teman barunya mengetahui aib yang telah dilakukan ayahnya, yaitu selingkuh dengan ibu temannya sendiri sampai memiliki anak selain dirinya dan Tasya.
"Malas. Kata yang sangat akrab denganku sejak Mama dan Papa bertengkar. Sebenarnya ada atau tidak ada Tasya, tetap saja aku malas berada di rumah. Hanya karena aku tidak ingin Tasya kesepian, maka aku berusaha berbagi kesepian yang sama dengan adikku."
Amy juga sering mendapati ibunya menyiksa diri sendiri. Kadang, ibunya tidak mau makan, sehingga maag parah yang dimilikinya terus kambuh. Sejak saat itu, bagi Amy, rumah bukan lagi surga untuknya, tetapi neraka. Amy kerap kali membelokkan tujuannya ke tempat lain, salah satunya adalah gereja. Bukan untuk berdoa, tetapi hanya untuk menghabiskan waktu. Namun di hari itu ada yang berbeda, Amy diganggu oleh seorang cowok. Bukan diganggu dalam arti negatif, tetapi cowok itu hanya mencoba berkenalan dengan Amy dan mengajak gadis itu bercanda. Amy yang kesal, menolak ajakan cowok itu, tetapi tak sengaja Amy malah jadi mengetahui namanya. Renoseorang cowok keren tetapi menyebalkan. 
"Mungkin begitulah hidup orang dewasa, banyak hal dan masalah yang tak bisa kita pahami. Terlalu kompleks. Kehidupan yang tidak sesederhana aku dan kamu, yang hanya berusaha memperoleh nilai baik dan naik kelas."
Di sekolah, Amy bukanlah anak yang peduli dengan nilai-nilainya. Dia selalu terganggu oleh masalah keluarganya, dia tak punya banyak teman di sekolah, hanya Bimo, teman sebangkunya yang selalu membantunya di saat dia kesulitan. Amy terus mencari pelampiasan untuk rasa sakit hatinya. Di gereja tempat dirinya biasa singgah, sedang dibuka pendaftaran panitia untuk acara natal. Tak dinyana, Amy kembali bertemu dengan Reno, dan sialnya, Reno juga merupakan salah satu panitia dekorasi hari natal, sama seperti dirinya, Hero, dan Dina. Tentu-lah Amy kembali digoda oleh Reno, dengan menjadikan Amy teman sekelompok cowok itu saat bekerja. Amy dan Reno mulai berteman, meski Amy masih seringkali bersikap ketus kepada Reno, dan cowok itu masih tetap hobi menggoda Amy.
"Hidup kita penuh dengan pilihan. Kamu mau pilih yang mana? Selalu marah dan sedih? Atau mencoba menerima dan tetap bersyukur? Karena masalah akan tetap ada."
Masalah baru mulai menimpa hidup Amy, setelah ayahnya mengetahui kebohongan yang Amy buat. Amy saat itu hanya ingin membela ibunya, tetapi satu tamparan dilayangkan ke pipi Amy, menimbulkan luka di hati gadis itu. Ibu Amy kembali menyakiti dirinya sendiri, kini lebih parah karena urat nadi wanita itu sampai terluka. Ayah Amy akhirnya datang menjenguk ibunya, dan tiba-tiba bersikap baik kepada Amy. Ayahnya terlihat sedih melihat anak perempuannya terlihat begitu benci padanya. Kemudian, satu hal yang tak pernah ingin Amy ketahui selama hidupnya pun diakui oleh sang ayah, di depannya dan juga Oma-nya. Amy sangat terpukul mengetahui kenyataan itu, dan kembali datang ke gereja hanya untuk menemukan Reno dengan nyanyian dan permainan piano-nya yang menyayat hati. Selepas curahan hati Amy yang dilontarkan padanya, Reno akhirnya membuka satu rahasia hidupnya yang membuat Amy tak lagi memandang Reno sama.
"Yakinlah bahwa Tuhan akan membukakan jalan. Atau, mungkin Tuhan sudah membukakan jalan untukmu, tetapi kamu tidak melihatnya karena diburamkan oleh kebencian dan amarah."

Runaway adalah novel Kezia Evi Wiadji yang kalau tidak salah termasuk seri Natal. Sudah pasti, novel ini memuat materi tentang agama. Ada nyanyian-nyanyian dengan latar belakang gereja yang bertebaran di beberapa halamannya. Meskipun begitu, pembaca yang menganut agama lain tetap bisa membaca novel ini dengan nyaman, karena unsur agamanya tidak cukup kental, tetap bisa dinikmati tanpa harus merasa bahwa ini novel segmented, yang terbatas dinikmati bagi pembaca dengan keyakinan serupa. Yang mana cukup cerdas, Kak Kezia masih menahan untuk tidak mencampurkan terlalu banyak unsur agama, karena pasti novel ini akan dibaca pembaca umum.

Bertemakan tentang keluarga, Kak Kezia membawakan alur cerita dengan baik. Diawali dengan tragedi pertengkaran antara ayah dan ibu Amy yang mampu mencengangkan pembaca, terwakili dari pernyataan ibu Amy kepada suaminya yang punya anak lagi. Memang lebih baik di halaman awal disuguhkan sesuatu yang mampu membuat pembaca semakin penasaran, dan novel ini punya poin itu. Meski tergolong cukup tipis, secara keseluruhan novel ini sangat komplit. Pertengkaran orangtua dijabarkan dengan baik, bagaimana efek pertengkaran itu terhadap sang anak juga tergambar secara nyata. Plot cerita tersusun rapi, mulai dari pemicu masalah, klimaks, sampai ending. Cerita tetap berada di jalan utama, pembaca dapat lebih fokus mengikuti alur cerita. 

Karakter yang ada dalam novel ini juga cukup menarik. Ayah dan ibu Amy memiliki karakter cukup kuat, terlihat dari sifat ayah Amy yang pemarah, sangat keras, bahkan terkesan suka membalaskan dendamnya. Ibu Amy adalah sosok wanita lemah yang mudah frustrasi dan putus asa, sampai menyakiti dirinya sendiri. Permasalahan yang dihadapinya tidak pernah dilalui dengan kepala dingin, selalu melibatkan hati dan emosi. Karakter mereka terwujud bukan dari narasi Kak Kezia, tetapi berkat dialog dan gestur yang ditampilkan. Amy sendiri adalah gadis yang terlihat jelas berusaha tidak peduli dengan apa pun sebagai bentuk protes atas apa yang telah dialaminya. Saya paling menyukai bagian dimana Amy berkata kalau tidak masalah mau nilai sekolahnya jelek, dia tetap bisa masuk universitas mana pun yang dia inginkan, semahal apa pun, karena ayahnya akan selalu mengabulkan keinginannya yang berbau materi. 

Sementara Reno, cowok keren yang hobi menganggu Amy. Dari tampilan fisik yang dideskripsikan tidak ada masalah sama sekali, tetapi mungkin saya hanya kurang cocok dengan karakter cowok yang banyak bicara dan suka 'menggoda' orang lain, meski sebenarnya mungkin dia menyukai orang itu. Tetapi kesan saya langsung berubah semenjak dia membeberkan rahasianya, rasa simpati saya mulai terbangun untuk Reno. 

Gaya penulisan yang cukup menyenangkan dan sangat mengalir, membantu pembaca untuk lebih menikmati novel yang bertipe 'dibaca dalam sekali duduk' ini. Runaway bukan novel yang menyajikan suatu hiburan semata, bukan juga novel penuh kisah romansa, tetapi diharapkan setelah membaca, para pembaca dapat memetik suatu hal penting dari novel ini. Dan bagi saya sendiri, hal itu berhasil. Meski terdapat twist yang sedikit membuat saya down, karena tidak terlalu setuju jika cerita bergulir seperti itu. Menurut saya, jika twist itu ditiadakan pun, sesederhana apa pun plotnya, saya pikir novel ini akan tetap menarik untuk dibaca, karena dapat mengantarkan kehangatan dari pertemanan dan rasa kekeluargaan bagi para pembaca, terlepas dari unsur agama yang mungkin akan lebih mengena bagi penganut agama yang sama dengan para tokoh.

Secara keseluruhan, Runaway adalah salah satu karya Kezia Evi Wiadji favorit saya, maka dari itu saya berani memberikan rating empat pada novel ini. Kekuatan novel ini terletak pada susuan plot dan penulisan yang mengalir, pesan yang cukup kuat tentang pentingnya mensyukuri hidup, serta karakter yang kuat meskipun tidak memorable. Banyak pesan tentang kehidupan yang bisa didapatkan pembaca lewat dialog dalam novel ini. Mungkin, Kak Kezia akan tertarik membuat kisah tentang pertemanan dan kekeluargaan yang serupa, dan ditujukan bagi pembaca umum? Ditunggu karyanya :)
"Karena aku pernah melakukan kesalahan, kini aku lebih mengerti arti maaf dan mengampuni. Karena aku pernah merasakan kesepian, kini aku lebih bisa menghargai kebersamaan. Karena aku pernah merasakan kesedihan, kini aku lebih bisa menghargai kebahagiaan."

Share:

0 comments