Stand By Me - Indah Hanaco | Book Review


Judul: Stand By Me
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Elex Media
Tebal Buku: 340 halaman
"Semuanya berjalan alamiah, selaras dengan ketidakmampuannya untuk menahan diri dengan gemilang. Mya tidak melihat garis akhir untuk menyelesaikan semua masalahnya."
Betapa menyenangkannya menjadi seorang Mya Devri Aryanata. Gadis itu punya Nicolas, seorang abang yang selalu memaklumi kelakuan ajaibnya, dan hal itu secara tak langsung berdampak pula pada ketiga sahabat Nicolas, Joe Adra Nasution, Chris Amerigo, dan Ralph Pardomuan Kennard. Ketiganya mau tak mau juga ikut memaklumi tingkah laku Mya yang kadang menyebalkan, memaafkan Mya yang suka bicara tanpa menyaring kata-kata yang dikeluarkannya. Orang lain tentu akan marah dan tak sanggup menghadapi Mya, tapi bagi keempat cowok itu,
Mya adalah sosok adik perempuan yang sangat mereka sayangi, seburuk apapun sifatnya. Nicolas, Joe, Chris, dan Ralph sudah berkawan sejak SMP. Semenjak itu, mereka jadi bebas keluar masuk rumah Mya seenaknya. Bahkan, sudah akrab dengan Ibu dan Papa. Mya juga semakin mengenal mereka, apalagi Chris yang selalu menemaninya di masa berkabung ayahnya dulu. Tetapi lain halnya dengan Ralph. Mya tak pernah merasa bisa akrab dengan lelaki pendiam tetapi hobi bergonta-ganti pasangan itu.
"Aku nggak sabar pengin lihat penderitaan macam apa yang harus dipikul pacarnya Mya nanti. Punya cewek bawel dan judes itu bukan impian laki-laki normal."
Setiap hari ulang tahun Mya, sudah menjadi tradisi keempat lelaki itu membelikan hadiah untuknya. Tetapi kali itu ada yang istimewa, Mya menyadari kado dari Chris-lah yang paling disukainya. Sejak saat itu, gadis itu merasa sosok Chris selalu menghantui hidupnya, membuatnya merasakan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya tiap kali berjumpa dengan lelaki itu. Mya adalah gadis pemberani, dia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Chris. Tetapi yang didapatnya adalah tawa keras lelaki itu, yang menganggap pengakuan Mya adalah candaan. Chris masih menganggap Mya anak kecil, adik perempuannya sendiri. Mya tersinggung, tetapi tak kunjung menyerah. Meski Chris akhirnya telah memiliki Isabel, Mya memutuskan untuk tidak menghapus perasaannya. Dan hal itu dia katakan kepada Ralph,  yang pernah membuatnya harus mengungkapkan seluruh perasaan dan isi hatinya kepada Chris, setelah Ralph memergoki dirinya yang kala itu sedang patah hati.
"Kalau mendapat balasan perasaan yang sama, tentu akan jauh lebih mudah. Tapi jika sebaliknya? Maka yang bisa dicicipi hanyalan kehancuran dan rasa nyeri yang adakalanya tak tertahankan. Bahkan bisa membuat seseorang tidak lagi bisa meresapi perasaan seperti seharusnya."
Sejak saat itu, kedekatan antara Mya dan Ralph sulit dihindarkan. Ralph menjadi orang yang selalu berusaha melindungi Mya, bahkan di saat Mya tahu rencana pernikahan Chris dan pacarnya. Ralph selalu berada di sisi Mya, menghibur gadis itu, sabar menghadapi sifat Mya yang kadang di luar batas, sampai akhirnya Mya perlahan mau melupakan perasannya. Seiring kebersamaan mereka, perasaan aneh perlahan-lahan mulai bertumbuh Ralph di hati Ralph. Perasaan yang tak harusnya dimiliki oleh seorang berumur 27 tahun kepada gadis berumur 17 tahun. Ralph jatuh cinta kepada Mya, tanpa tahu apa gadis itu punya perasaan yang sama dengannya. Akankah akhirnya Mya menyadari perasaan Ralph yang terpendam, saat lelaki itu harus pergi meninggalkannya? Benarkah perasaan Mya kepada Chris telah lama hilang?  
"Aku, Ralph Pardomuan Kennard, sejatinya sedang diterpa emosi khusus yang meluap kepada Mya Devri Aryanata. Emosi yang bertumbuh, membesar, mengakar, dan memenuhi dadaku. Memenuhi hidupku, lahir dan batin."

Novel Indah Hanaco yang saya baca kali ini berlini young-adult (lagi). Saya berani bilang, sejauh ini Stand By Me adalah novel Kak Indah terfavorit saya. Mungkin kisahnya sudah banyak diceritakan, tentang cinta beda usia. Lalu, apa yang membuat berbeda? Secara umum, dapat disimpulkan bahwa penuturan Kak Indah-lah yang membuat kisah Mya dan Ralph ini menarik. Saya akan mencoba membahas satu per satu, apa saja yang berhasil membuat saya sangat menyukai novel ini.

Novel ini beralur maju dan menggunakan POV ketiga, which is saya sukai, meski ada saatnya diceritakan menggunakan sudut pandang Mya dan Ralph. Saya sangat menyukai interaksi yang dibangun antara Mya, Nicolas, Joe, Chris, dan Ralph, seakan mereka benar-benar ada, kedekatan mereka memang benar sudah terbangun sejak lama. 344 halaman ini tidak ada yang terbuang percuma, seluruh lembar mampu dimanfaatkan Kak Indah untuk mengembangkan cerita. Saya sangat menyukai rasa persaudaraan yang terbangun di antara Nicolas dan para sahabatnya, juga bagaimana akhirnya mereka memperlakukan Mya dengan seperti adik sendiri. Bagian ini membuat saya iri. Mya dikaruniai seorang abang yang peduli padanya, plus teman-teman abangnya yang tampan dan juga baik dan royal kepadanya. Candaan yang dilontarkan mereka berempat terkesan natural. Dialog yang dipilih Kak Indah nggak berlebihan dan sesuai porsinya, saya hampir merasa nggak ada dialog nggak penting yang garing. 

Kedekatan mereka mudah saya terima, meskipun sifat mereka berbeda-beda. Karakter mereka cukup kuat. Yang paling saya sukai sebenarnya karakter Mya, yang pemberani, terkesan ceplas-ceplos dalam menyuarakan pikirannya, benar-benar tanpa sensor. Saya tahu ada tipe cewek seperti ini, dan saya suka karakter Mya, meskipun kadang-kadang gemas sendiri sama omongannya yang kelewat kejam, sampai saya rasanya pengin nabok mulutnya. Tapi entah kenapa, memang benar apa yang dirasa tiga sahabat itu, sifat Mya yang seperti itu malah makin mempererat hubungan mereka dengan cara terus menggoda Mya yang mudah meledak-ledak. Joe yang santai dan juga nggak punya kesabaran penuh untuk menghadapi Mya, ada kalanya dia kesal juga tetapi tidak sampai marah besar. Karakternya just so-so, sama seperti Nicolas. Chris yang penuh pesona, supel, ramah, tetapi kurang peka dan kadang nggak dewasa, nggak sesuai umur. Dan Ralph, paling istimewa, pendiam tapi playboy? Gimana caranya hayo? Anyway, Ralph ini berhasil jadi top 5 crush-ku di dunia fiksi, loh. Cowok ini unik banget kayak namanya, setengah bule, ganteng, irit bicara tapi kalau sudah mengenalnya dengan baik dia bisa menjadi teman dan pendengar yang sangat baik. Belum lagi, saya juga terpesona sama sifat (super) sabar, perhatian, dan senang melindungi orang terdekatnya. Ya ampun, memang kalau hanya ganteng dan bule kurang ya Bang Domu, sampai harus bertingkah macam ksatria segala? Serakah banget sih, Bang. *flying kiss*

Konflik yang diangkat juga sesuai porsinya, terkesan natural dan realistis, seakan kalau saya menjadi Mya memang itu-lah yang akan saya lakukan. Problem yang diceritakan nggak berlebihan, mungkin karena ini juga novel remaja yang santai, jadi nggak pakai masalah berat-berat segala, meskipun di beberapa kasus melibatkan rumit-rumitnya rumah tangga. Alhamdulillah, nggak ada kasus perkosaan seperti dua novel Kak Indah yang sebelumnya saya baca, karena kalau ada, menurut saya agak nggak sesuai tempat. Saya suka bagaimana Kak Indah memanfaatkan seluruh karakter dengan cukup baik, jadi nggak ada karakter yang asal lewat, mereka punya andil dalam melanjutkan kisah Mya. Saya juga suka dialog-dialog romantis yang dilontarkan di novel ini, yang menurut saya nggak berlebihan, mungkin karena efek sifat Mya yang "alakadarnya", nggak seperti cewek-cewek kebanyakan. Makanya, saya berakhir jadi Mya-Ralph hard shipper, terserah deh mereka mau beda berpuluh tahun juga, tapi memang cocok banget. :)))

Memang nggak ada twist disini, tapi jangan berharap selalu ada twist dalam novel romance, udah kayak main sepak bola di lapangan futsal, kurang nendang, sob. Kebanyakan adanya twist di novel romance justru membuat kisahnya jadi penuh kebetulan, dan nggak jarang membuat pembaca menurunkan rating-nya, ya walau nggak sedikit juga yang berhasil. Nah, Stand By Me ini menganut novel romance tanpa twist mengejutkan, tapi tetap menarik untuk dibaca. Suka dengan permasalahan di hidup Mya, dan bagaimana Mya memilih cara untuk menyelesaikannya. Saya sangat suka bagaimana novel ini diakhiri, dengan satu kalimat di baris terakhir, saya malah jadi sadar, itu twist yang tersirat, dan mampu membuat saya menutup novel ini sembari tersenyum-sekaligus-ngakak-dan-pengin-nampol-Mya. Novel yang manis, sesuai porsi, menyenangkan untuk dibaca, dan kadang mengundang tawa saat membaca dialog-dialognya. Direkomendasikan bagi yang ingin mengenal tulisan Kak Indah untuk pertama kali! ;)
"Cinta itu memang buta, ya?"

Share:

0 comments