My Better Half - Indah Hanaco | Book Review


Judul: My Better Half
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: Elex Media
Tebal Buku: 304 halaman
"Pada akhirnya tidak ada yang abadi. Semua kebahagiaan itu mulai mengalami defisit dan berganti rasa pahit yang bertahan di urat nadi Kendra."
Menjadi salah satu Bujangan Paling Diminati versi sebuah majalan terkenal bukanlah keinginan seorang Maxim Fordel Arsjad. Pria gila kerja itu tidak menyukai namanya melambung setinggi nama Darien Arsjad, kakaknya yang seorang selebriti. Maxim adalah tipe pria pekerja keras, yang hanya mencurahkan seluruh perhatiannya pada pekerjaannya sebagai pengusaha Buana Bayi, perusahaan yang memproduksi sepatu prewalker.
Maxim menempati posisi kepala departemen penjualan sekaligus desainer di perusahaan milik kakaknya, Aurora, dan suaminya, Donald Ong. Aurora bukan hanya gerah melihat Maxim yang sudah menginjak kepala tiga belum juga memperkenalkan siapa pasangannya, wanita itu bahkan menyuruh Maxim untuk mengikuti acara Dating with Celebrity yang terkenal di televisi. Wanita itu berkata, bahwa pemilik The Matchmaker, biro jodoh penyelenggara acara itu, Helen, merupakan teman baiknya. Aurora juga terus memaksa Maxim untuk mengikuti perintahnya, jadi mau tak mau Maxim mengalah, meski dirinya diliputi perasaan kesal.
"Aku tidak pernah punya standar tentang warna kulit atau panjang rambut seorang gadis sebelum berkencan, misalnya. Karena ketertarikan kepada lawan jenis kan... tidak bisa diatur. Bisa muncul kapan saja, pada siapa saja."
Kendra Elanith adalah salah satu karyawan Helen di The Matchmaker yang mengurusi bagian penyeleksian peserta. Gadis itu sudah sering bertemu dengan berbagai selebriti dan orang terkenal, yang punya tabiat buruk suka berganti-ganti pasangan dengan kriteria pasangan mirip dewi Yunani. Tentu gadis itu sudah muak dengan semua, sampai dirinya bertekad untuk tidak menjalin hubungan setidaknya sampai kurun 10 tahun kedepan. Berkat Helen, kini Kendra juga harus repot mengurusi perihal selebriti yang menjadi bintang utama di acara Dating With Celebrity, dan kali ini, Maxim-lah yang menjadi kliennya. Berkat kesalahan Helen plus kecerebohan Kendra, Maxim terpaksa mengemukakan kekesalannya di depan gadis itu, bahkan membatalkan keikutsertaannya dalam acara itu. Kendra yang tidak mudah menyerah terus mendekati Maxim hingga akhirnya pria itu terpaksa menerima kembali tawaran Kendra.
"Karena melihat sekelompok kaum hawa bersaing untuk mendapatkan satu kursi istimewa di depan seorang selebriti adalah hal yang meremas hatinya. Seakan perempuan harus berusaha luar biasa keras untuk meraih perhatian seseorang. Bahkan harus bersaing terang-terangan."
Maxim terpesona oleh kegigihan Kendra, meski dirinya belum juga ikhlas mengikuti acara itu, Maxim bilang selama ada Kendra yang menemani seluruh keperluan syuting, Maxim akan menurut. Meskipun terlihat dekat, sebenarnya mereka berdua masih sama-sama memendam rasa kesal, terutama Kendra yang tidak menyukai sifat Maxim yang terlalu pemilih terhadap lawan jenis, sehingga merepotkan dirinya. Belum lagi mood Maxim yang selalu sulit ditebak, kadang menyenangkan, kadang selalu marah tanpa alasan jelas. Tetapi interaksi itu malah membawa mereka menjadi lebih dekat. Kendra mulai bercerita tentang keluarganya yang seakan tidak peduli satu sama lain, kakak-kakaknya yang memilih tinggal jauh dari keluarga, ayahnya yang pergi entah kemana, dan ibunya yang tidak tinggal bersama dirinya. Begitu pula Maxim, yang berbagi kisah perihal keluarganya yang cukup harmonis, dan semua kakaknya yang sering memprotes kelakuan overprotective Maxim terhadap Cecil, ibu mereka.
"Tertawa tidak berarti kamu tak sedih lagi. Itu caramu menyembuhkan luka. Karena yang sudah terjadi tidk bisa diubah sama sekali."
Kencan Maxim berlangsung cukup lancar, dengan Yudith, yang terpilih sebagai pasangan, berkat saran dari Kendra. Menurut Maxim, biarlah dia tidak merasakan apapun terhadap Yudith, asalkan permintaan Kendra dipenuhinya. Maxim telah tahu seluk beluk keluarga Kendra, termasuk Gayatri, ibu gadis itu. Saat mendapat kabar mengejutkan tentang ibu Kendra, Maxim berusaha untuk menemani Kendra. Maxim merasa dirinya telah jatuh cinta pada Kendra, meski Kendra tak pernah percaya, melihat kebersamaan Maxim dan Yudith yang semakin mesra. Sementara itu, Maxim rasanya terbakar api cemburu mengetahui keakraban Sean, sepupunya, dan Darien, abangnya, dengan Kendra. Akankah Kendra dan Maxim pada akhirnya akan bersama?
"Kalau aku tidak boleh mencium tanganmu, bagian mana yang kamu izinkan untuk kucium?"

Variety show pencarian jodoh memang telah ramai ditayangkan baik di televisi lokal maupun internasional sejak lama. Acara itu menjadi media untuk mempertemukan seseorang dengan calon pasangan yang akan dipilihnya sendiri. Bila orang yang mencari jodoh adalah selebriti, tentu acara itu akan semakin seru untuk diikuti. Cukup miris melihat para cewek yang seakan memperebutkan satu orang cowok, dan bersedia merendahkan dirinya untuk ditolak satu per satu. Itulah yang coba Indah Hanaco angkat di novel ini.

Tentunya dengan tema seperti ini, mau tidak mau Kak Indah Hanaco harus menjabarkan segala hal tentang biro jodoh itu, termasuk bagaimana cara mereka bekerja. Porsi Kendra sebagai salah satu karyawan terpenting dalam The Matchmaker dan memiliki peran vital bagi kelangsungan The Matchmaker yang jadi penyelenggara tetap acara Dating with Celebrity. Kak Indah mampu memberikan deskripsi mendetail tentang deskjob Kendra yang unik, yaitu menyeleksi para calon kanditat yang mendaftarkan diri menjadi peserta. Hectic-nya dunia perkantoran dan kegiatan syuting yang padat, juga dapat terbayang dengan mudah oleh pembaca. 

Meski problema kedua tokoh utama cukup kompleks, saya masih bisa mengikuti alur cerita tanpa kendala berarti, semisal kehilangan fokus kepada hubungan Kendra-Maxim. Apa yang dialami oleh kedua tokoh utama, tidak mendominasi kisah My Better Half, seperti kisah Gayatri dan hubungan antara Kendra dan saudara-saudaranya. Karakter Kendra digambarkan sebagai perempuan mandiri yang sangat gigih, dan saya cukup menyukai Kendra. Saya juga bisa memahami alasan mengapa dia tidak juga berniat menjalin komitmen, layaknya Helen. Menengok pekerjaan mereka yang selalu bersinggungan dengan kriteria supertinggi dari para cowok, yang hubungannya tidak juga berlanjut sampai ke jenjang pernikahan, membuat mereka merasa tidak ingin menjalin hubungan, setidaknya dalam waktu dekat.

Sementara karakter Maxim, hampir menyerupai Kendra pada bagian workaholic, meskipun Maxim dalam level lebih ekstrem daripada Kendra. Saya belum terlalu memahami alasan dia tidak kunjung berpasangan, tetapi tingkah lakunya yang sangat overprotective kepada ibunya mungkin sedikit dapat menjelaskan. Maxim adalah tipe cowok yang benar-benar berada di atas awan, sedikit arogan, dan sombong karena merasa dirinya tidak pernah mengejar gadis-gadis, melainkan sebaliknya. Belum lagi, sifatnya yang mudah marah, dengan mood swing yang cukup cepat. Karakter seperti ini memang sulit untuk disukai, meskipun wajahnya setampan Maxim sekalipun. Sikap Maxim ini sangat mengingatkan saya kepada seseorang, jadi saya lebih kurang bisa memahami Kendra yang berulang kali memaafkan tingkah laku Maxim yang menyebalkan, meski pada awalnya gadis itu jengah juga. 

Di pertengahan cerita, pembaca akan disuguhkan dengan interaksi Maxim-Kendra, yang digunakan penulis untuk membangun chemistry antara mereka berdua yang cukup berhasil. Mereka diberikan waktu untuk mengenal latar belakang masing-masing. Saya paling menyukai adegan berjalan di atas berhelai-helai dedaunan jeruk tanpa alas kaki, sesuatu yang baru, terlebih lagi sangat.. sangat romantis. Adegan Kendra mengajak Maxim makan gratis di resepsi orang lain, serta mengajak cowok itu ke toko barang bekas juga menjadi hal yang unik, terlihat bahwa sesederhana dan sekonyol apa pun cara dua pasangan untuk melakukan pendekatan, jika memang chemistry mereka sudah terbentuk, akan terasa manis.

Menuju akhir cerita, kembali pembaca disuguhi drama yang membuat pasangan yang sempat dekat tiba-tiba kembali berpisah. Penulis seperti sedang menarik ulur perasaan pembaca agar ikut merasakan apa yang Kendra dan Maxim rasakan, meski lagi-lagi saya dibuat kesal atas sikap Maxim yang effortless dan Kendra yang pasrah saja. Ada banyak istilah baru yang coba Kak Indah perkenalkan kepada pembaca, seperti istilah Ambidextrous yang dimiliki Kendra, kelainan yang membuat penderitanya memiliki kemampuan menggunakan tangan kanan dan kiri sama bagusnya. Rasanya, di beberapa novel sebelumnya Kak Indah selalu menyisipkan pengetahuan baru bagi pembaca, agar pembaca tak hanya bisa menikmati kisah yang dikarangnya, juga mendapatkan wawasan lebih luas dari karya yang ditulisnya. Good work, Kak Indah Hanaco. My Better Half adalah novel terfavorit saya setelah Stand By Me. :))
"Kalau ada salah paham, jalan keluarnya itu disebut dialog. Bukannya menyimpan perasaan curiga dan mengambil kesimpulan sendiri."

Share:

0 comments