My Bittersweet Marriage - Ika Vihara | Book Review, Giveaway


Judul: My Bittersweet Marriage
Penulis: Ika Vihara
Penerbit: Elex Media
Tebal Buku: 360 halaman
Buntelan dari @IkaVihara
"Tuhan menciptakan pasangan untuk setiap manusia. Sekeras apapun manusia menolak, kalau memang sudah ditakdirkan pasangan itu akan bertemu."
Hessa adalah seorang perempuan pekerja berumur 27 tahun. Di usianya yang sudah sangat matang, perempuan itu belum juga menemukan calon suaminya. Bukan dia tidak ingin menikah, calonnya saja yang belum ada setelah sang mantan pacar memutuskan untuk menolak permintaan Hessa untuk segera dilamar. Ibu Hessa sudah menekan perempuan itu untuk segera menikah, mempertimbangkan umur yang akan semakin menua dan membuat Hessa tidak lagi masuk dalam usia produktif.
Bahkan, ibu Hessa kerap kali mengenalkan Hessa kepada putra teman-temannya, berharap anaknya itu akan tertarik dengan salah satu dari mereka. Kali ini pun, ibu Hessa belum menyerah untuk mencari jodoh untuk Hessa, Afnan, anak dari Kana, teman baiknya, berencana akan dikenalkan kepada Hessa.
"Orang yang mencintai kita dan kita cintai. Idealnya menikah memang dengan orang yang seperti itu. Selalu ada sisi baik dan buruk dalam setiap orang, cinta yang membuat kita bisa menerima itu semua."
Hessa tentu awalnya menolak mentah-mentah, mengingat dirinya ingin mengenal sang pasangan minimal tiga tahun terlebih dahulu sebelum berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Tetapi, karena Hessa terpikir nasib adiknya yang enggan menikah jika dia belum juga menikah, Hessa akhirnya melunak. Afnan adalah laki-laki keturunan Denmark-Indonesia berumur 30 tahun. Dia cerdas, punya banyak prestasi di almamaternya di Aarhus University. Afnan berkewarnageraan Denmark, tinggal disana dan memiliki pekerjaan disana pula. Hessa tentu khawatir jika dia harus meninggalkan rumah dan juga keluarganya. Tetapi sang ayah menguatkan tekadnya, membuat Hessa akhirnya bersedia. Hessa memang terpesona dengan sosok Afnan yang tampan dan cerdas. Di kencan pertama mereka pun, Hessa sudah mulai akrab dengan laki-laki itu, mengetahui beberapa karakter asli Afnan yang menurutnya cukup aneh. Hessa sudah mengenal baik keluarga Afnan, Mikkel, saudara kembar Afnandan Lily, adik Afnan, yang sama-sama setuju perempuan itu menikah dengan saudara mereka. Semakin bertambah alasan Hessa untuk tidak menolak.
"Rumahku mungkin nggak senyaman rumahmu, kehidupan yang kutawarkan padamu mungkin nggak sebaik yang diberikan orangtuamu. Tapi aku akan berusaha membuatnya hampir mendekati itu."
Di awal-awal pernikahan, kehangatan menyelimuti rumah tangga mereka. Afnan begitu romantis, membuat kebersamaan mereka terasa penuh bahagia. Hati Hessa pun lambat laun mulai terisi dengan rasa suka terhadap Afnan. Afnan menjanjikan Hessa rumah tangga yang bahagia, perempuan itu tidak harus khawatir dengan segalanya. Dia hanya tinggal hidup tentram di Aarhus. Hessa mencoba percaya dan menguatkan hatinya. Tetapi semua tidak berlangsung lama, setelah mereka akhirnya harus berpindah ke Aarhus, kota tempat Afnan hidup dan bekerja selama ini. Afnan bekerja sebagai microbiologyst. Laki-laki itu begitu mengagungkan ilmunya, sangat mementingkan kesuksesan dan pekerjaan. Hessa berulang kali merasa diabaikan karena Afnan seringkali pulang malam. Hessa merasa dirinya hanya berfungsi sebagai pembersih rumah dan teman Afnan tidur. Belum lagi suasana dan musim di Aarhus yang membuat Hessa tak mudah beradaptasi. Segalanya terasa berbeda, membuat Hessa merasa tanah airnya adalah tempat yang terbaik.
"...cinta itu kalau kita rela melakukan apa pun untuk orang yang kita cintai. Meskipun itu bertentangan dengan keinginan kita."
Hessa akhirnya menderita Seasonal Affective Disorder. Sebelum mengetahuinya, Afnan menyangka itu hanyalah akal-akalan Hessa agar perempuan itu bisa pulang ke Indonesia. Afnan selalu melarang Hessa, karena tak mau istrinya terlena dan tak ingin lagi kembali ke Aarhus. Permasalahan mereka muncul satu persatu ke permukaan, termasuk rencana mempunya anak yang tidak disetujui Afnan, sifat buruk Afnan yang bari diketahui Hessa, serta rasa terpenjara yang dirasakan Hessa selama ini, mengingat ruang geraknya seperti dibatasi oleh Afnan. Mereka kerap kali bertengkar, bahkan Hessa menyinggung soal perceraian. Akankah rumah tangga mereka berhasil? Apakah Hessa mampu bertahan hidup di negara lain bersama Afnan, orang yang kini telah dicintai dan dia terima segala kekurangannya?
"Hidup ini bukan melulu tentang mendapatkan apa yang selalu mereka inginkan dan rencanakan. Hidup ini kadang-kadang menempatkan orang pada sesuatu yang dibencinya, agar menghargai apa yang dicintainya."
***

Tema perjodohan tentu sudah (sangat) banyak diangkat oleh penulis romans lokal maupun luar negeri. Perjodohan juga-lah yang menjadi ide utama My Bittersweet Marriage, dan beberapa seri Le Mariage lainnya. Seperti tak ada habisnya hal yang dapat dikupas dari sebuah pernikahan atas dasar perjodohan, novel kali ini menyisipkan pernikahan yang dijalani di negara yang berbeda dari tanah kelahiran. Bukan hal manis dan romantis yang banyak ditunjukkan dari setting Aarhus, Denmark ini, tetapi lebih kepada tantangan sang tokoh utama untuk bisa bertahan hidup di negara orang tersebut.

Memiliki tokoh utama laki-laki yang hampir sempurna; setengah bule, tampan, pekerjaan bagus, pekerja keras, tidak playboy, dsb, membuat novel ini mudah disukai terutama oleh pembaca perempuan. Afnan Moller, laki-laki yang mampu mencuri hati Hessa dan pembaca perempuan di novel ini punya sifat yang sangat menyenangkan. Dia pendiam di depan keluarga besar, di depan orang asing. Tetapi jika sudah didekat seseorang, apalagi berada di tempat yang tersembunyi, sifat aslinya pun muncul. Humoris, suka menggoda, romantis, dan sweet, adalah karakter yang paling dominan, yang mampu membuat pembaca menobatkannya sebagai "kriteria cowok idaman". 

Karakter perempuan dalam novel ini juga patut disukai. Hessa, tipe perempuan mandiri yang berusaha sekeras memosisikan diri sebagai istri yang menjalankan seluruh tugasnya dengan baik. Yang saya sukai, Hessa berpikiran bahwa pendidikan bagi perempuan adalah hal penting. Dia tidak suka hanya diam dirumah dan mengurus urusan rumah, dia ingin bekerja, memanfaatkan seluruh ilmunya, agar tidak bergantung pada suami dalam hal finansial apalagi kalau sampai bercerai. Sependapat dengan saya. Bukan berarti menjelekkan ibu rumah tangga, justru perempuan jaman sekarang jika memilih berkarir, di satu sisi juga harus jadi ibu rumah tangga yang baik. Semua harus balance.

Tetapi tidak hanya itu, dari segi plot, novel ini juga patut diacungi jempol. Perjodohan singkat, dan ajakan menikah dari Afnan yang tiba-tiba mengawali cerita ini. Segala macam pertimbangan akhirnya dipikirkan si perempuan, yang ujungnya mengiyakan. Hessa akhirnya harus menerima konsekuensi besar untuk hidup bersama Afnan; tinggal di negara lain yang asing baginya, bahkan belum pernah terlintas sedikit pun di benaknya untuk berlibur kesana. Banyak orang yang mungkin akan dengan senang hati tinggal di salah satu negara di Eropa, merasakan salju musim dinginnya, menyambangi tempat-tempat wisata terkenal dan indahnya, termasuk saya. Apalagi, setelah membaca novel ini saya jadi tahu banyak tentang Denmark, khususnya Aarhus. Tadinya, saya hanya tahu bahwa di negara ini pendidikan tidak dipungut biaya. Ternyata bukan hanya pendidikan, fasilitas rumah sakit, daycare, pelayanan masyarakat rata-rata gratis! Pantas negara tersebut dikatakan salah satu negara dengan penduduk paling bahagia; minim kriminalitas, semua orang sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki, kesenjangan antara yang miskin dan kaya tidak terasa, walaupun letaknya dekat dengan kutub utara hingga dinginnya menusuk sampai sampai ke tulang. 

Latar Aarhus dalam novel ini benar-benar terasa. Riset Ika Vihara sangat berhasil untuk novel ini. Pembaca dapat banyak trivia tentang kebudayaan, adat, dan cara hidup masyarakat di kota ini. Salah satunya, sering terjadi diskriminasi pada ras yang berbeda. Hessa tentu mengalami culture lag, ditambah lagi dengan Seasonal Affective Disorder yang dideritanya. Ika Vihara mencoba memasukkan kelainan ini dalam cerita, mencoba menjadikan hal tersebut sebagai pemicu masalah terbesar Hessa dan Afnan. Hessa jadi tak lagi semangat menjalani hidup, energinya seperti tak pernah terisi lagi jika berhadapan dengan musim gugur dan dingin, untuk menjalani aktifitas seperti memasak saja terasa berat. Bahkan, SAD ini sampai membuat Afnan dan Hessa harus menunda-nunda kehamilan. Saya baru mengetahui ada penyakit seperti ini, dan dalam novel ini, informasi mendetail tersampaikan dengan sangat jelas. 

Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari novel ini, khususnya hal-hal yang berkaitan dengan sains. Ika Vihara pandai membuat tulisan yang mampu mempermudah pembaca untuk memvisualisasikan karyanya dalam imajinasi. Apa yang coba disampaikan Ika Vihara dapat saya terima dengan baik, termasuk karakter Afnan dan Hessa yang sesuai dengan apa yang saya bayangkan dari deskripsi. Saat Hessa sedih, marah, kesal, tersinggung, hampir semuanya dapat saya imajinasikan dengan baik. Alasan-alasan yang menyertainya juga masuk akal. Saya sangat menyukai pandangan Afnan terhadap wanita, bagaimana dia menghargai sosok wanita, tetapi kadangkala, prinsip yang dipegang tidak sesuai dengan realisasi. Terkadang, Afnan bertingkah sangat menyebalkan dan bersikap tega menghadapi tingkah laku Hessa yang selalu ingin pulang ke Indonesia. Ika Vihara berhasil dalam menyampaikan sesuatu dari dua sisi yang bertolak belakang; pernikahan dan kehidupan di luar negeri. Walaupun memang, konfliknya terasa tidak begitu menantang karena alurnya lambat. 

Banyak orang yang membayangkan pernikahan akan penuh cinta, bisa bebas melakukan apapun karena sudah halal, dsb, tetapi di satu sisi, dalam pernikahan juga banyak terdapat beda pendapat yang dapat menimbulkan cekcok, atau sifat buruk pasangan yang baru kita ketahui dan tidak dapat diterima. Banyak yang tidak berpikir sampai kesitu. Begitu juga dengan kehidupan luar negeri. Banyak yang mendambakan akan hidup nyaman di negara bersih dan indah yang jauh berbeda dengan Indonesia yang panas, macet, dan penuh polusi. Banyak yang tidak begitu memikirkan hambatan yang bisa saja menghampiri. Setelah membaca novel ini, saya bahkan berpikir berulang kali lagi untuk meninggalkan Indonesia saat bekerja nanti. Singkatnya, setelah membaca My Bittersweet Marriage, banyak hal-hal baru yang memasuki pikiran saya, yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya. Le Mariage adalah salah satu seri terfavorit saya, dan My Bittersweet Marriage adalah salah satu keluaran seri ini yang berhasil memikat hati saya. :)


*** 

GIVEAWAY ALERT!

Holaa! Di kesempatan blog tour kali ini, saya akan membagikan satu eks My Bittersweet Marriage yang akan dikirimkan oleh Kak Ika Vihara, kepada kamu yang menjadi pemenang dalam giveaway kali ini. Mau? Caranya gampang kok. ^^

1. Peserta berdomisili di Indonesia
2. Follow blog ini via GFC, Google +, atau email 
3. Follow twitter penulis @IkaVihara dan follow twitter saya di @fazidaa_
4. Bagikan info tentang blog tour giveaway ini ke sosial media teman-teman, mention dua orang temanmu, sertakan link menuju postingan ini dengan me-mention @IkaVihara dan @fazidaa, disertai hashtag #MyBittersweetMarriage
5. Jawab pertanyaan dibawah ini disertai nama, akun twitter, link share:

"Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"

7. Giveaway akan berlangsung selama empat hari, terhitung dari tanggal 8 April - 11 April 2016
8. Pengumuman pemenang akan dilakukan paling lambat tiga hari setelah giveaway ditutup, melalui akun twitter dan update postingan. Semoga beruntung, guys! :)


***UPDATE***

Hai! Sudah menunggu pengumuman pemenang giveaway My Bittersweet Marriage? Alhamdulillah, giveaway ini telah diikuti oleh 38 orang peserta. Sebelumnya, saya mohon maaf untuk yang belum beruntung. Tetap semangat dan terus ikuti giveaway di blog saya, ya. Langsung saja saya umumkan pemenangnya, dia adalah..


@salsabilarinai
Salma Salsabila

Perjodohan bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan apalagi di"ANTI"kan. Bukankah Tuhan sejak awal memang sudah memasang-masangkan kita? Berpasangan sama artinya dengan berjodoh, bukan? :)
Bagiku, perjodohan adalah sesuatu yang akan aku terima dengan senang hati dan tidak berhak ku tolak jika aku tak memiliki alasan yang tepat lagi syar'i (sesuai dengan tuntunan agama). Sebab, janji Allah adalah wanita-wanita yang baik diperuntukkan kepada laki-laki yang baik, dan wanita-wanita yang keji diperuntukkan kepada laki-laki yang keji pula. Sudah jelas, bukan? Lantas, apa yang perlu aku khawatirkan. Sekalipun andaikata, saat itu aku sedang menyukai orang lain.
Pepatah jawa mengatakan: "Witing tresno jalaran soko kulino". Jika Allah sudah menggariskan aku bersama dengan orang yang dijodohkan denganku, maka insyaAllah Ia akan membukakan hatiku untuknya dan menghapus perasaan masa laluku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuhan Maha Membolak-balikkan hati. ;) Lagi pula, dalam hidup kita bukan mencari pemenuhan nafsu sekehendak hati, tapi kita lebih penting untuk mendapat ridho Illahi. Dan salah satu ridhoNya terletak pada orang tua. Bisa jadi kepatuhan kita dalam hal ini merupakan pembuka ridho dan rahmatNya hingga akhirat nanti. Wallahua'lam.
Intinya, tidak ada yang salah dengan perjodohan. Buka hatimu, ikhlaskan atas ketentuan Tuhanmu, dan berbahagialah menerima semua berkah itu. :)

Selamat kepada pemenang! Mohon mengirimkan nama lengkap, alamat, dan no. telepon ke email fabizdihar@gmail.com. Ditunggu secepatnya ya!

Bagi yang belum beruntung, jangan patah semangat yaa! Masih ada giveaway My Bittersweet Marriage di blog para host berikut ini! :)


Share:

43 comments

  1. Nama: khusnul
    Twitter: @imahreana
    Link share: https://twitter.com/imahreana/status/718338045481783298

    Perjodohan? Bukan hal yg buruk, tujuannya sama yaitu untuk saling mengenal satu sama lain menuju hal yg lebih serius, seperti pernikahan. Perihal untuk kedepan nya tidak ada yg tau, balik lagi, yg namanya jodoh rezeki dan maut adalah urusan Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, termasuk melalui perjodohan tersebut. Perihal soal bahagia atau tidaknya kita lah yg menentukan. Jalanin, mencoba mengerti, saling menerima dan percaya. Yakinlah, bahwa jodoh datang dari mana saja, bahkan mungkin dari hal yang tak kamu duga.

    ReplyDelete
  2. Reny Kartika
    @renyykaa
    https://mobile.twitter.com/Renyykaa/status/718350715815636993?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C9494304192

    Klo menurut aku perjodohan itu proses dinikahkannya seorang laki-laki/perempuan dalam hal ini pasangannya merupakan pilihan orangtua atau keluarganya.
    aku rasa ga setuju sih karena yg mau ngejalanin rumah tangga nantinya kan anaknya bukan orang tuanya jadi biasanya anaknya akan mencari orang yg sepenuhnya bisa mengerti dia. tapi perjodohan tak sepenuhnya salah, jika memang sudah tradisi atau taaruf juga tidak masalah.
    terimakasih dan cukup sekian pendapat yg saya berikan

    ReplyDelete
  3. Nama: Farikhatun Nisa'
    Akun Twitter: @littlepaper93
    Link Share: https://mobile.twitter.com/Littlepaper93/status/718356696154943489?p=v

    Jawaban: perjodohan menurutku itu seperti misteri. Karena tidak ada yang tahu akhir dari perjodohan tersebut. Sebab, tidak semua perjodohan berjalan mulus dan berakhir indah. Tergantung bagaimana pelaku perjodohan itu sendiri menyikapi dan menghadapinya. Terkadang ada yang mau menjalaninya dengan serius dan berharap akan menemukan suatu kebahagiaan dalam perjodohan itu. Meski harus menghadapi konflik yang tidak mudah dan harus menguras pikiran dan tentu saja, bakal banyak-banyak 'makan hati'. Tapi toh, perjodohan tak selamanya buruk. Tapi ada juga yang enggan dijodohkan, karena menganggapnya terlalu kolot. Namun menurutku tidak salah, perjodohan memang sudah ada sejak zaman dulu dan kalau diterapkan di zaman sekarang yang serba 'demokratis' dan semua orang memiliki hak dan kewajiban masing2, emang agak susah. pastilah mendapat pertentangan dari pihak yang dijodohkan. Tapi untuk memutuskan menolak/menerima perjodohan harus dipikirkan masak2. Karena aku tidak terlalu menyukai gagasan 'coba2' dalam hal perjodohan. Sebab, ini adalah tentang masa depan. Dan demi masa depan tidak ada kata coba2. Harus diputuskan dengan matang, dan harus berani menghadapi juga menerima risiko dari keputusan tersebut. Sejatinya, menerima/menolak perjodohan akan bermuara pada 'penyesalan'. Menyesal karena telah menerima perjodohan atau menyesal kenapa tidak daridulu saja dijodohkan. Itu benar2 misteri :)

    ReplyDelete
  4. Nama : Ratnani Latifah
    twitter : @ratnaShinju2chi
    Link Share ; https://twitter.com/ratnaShinju2chi/status/718364978961641472

    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"

    Perjodohan adalah jembatan. Karena biasanya perjodohan itu mengarah pada hubungan yang lebih kedepannya--tentang pernikahan. Yah, mereka dikenalkan untuk membahas jenjang yang lebih barakah. Dan menurut saya sah-sah saja melakukan perjodohan. Toh dalam sebuah perjodohan tak selamanya itu buruk. Kalau kadang ada anggapan bahwa perjodohan selalu dilakukan karena faktor X [baca sulit ketemu jodoh] sejatinya itu tidak benar. Beberapa orang suka dan menerima perjodohan karena, memiliki alasan tersendiri. Dan dalam sebuah perjodohan bukan berarti kita harus mengiyakan semua tanpa pertimbangan masak-masak. Perjodohan itu bukan pemaksaan, kita tetap kembali pada pribadi masing-masing. Cocok atau tidak. Ketika cocok maka bisa lanjut jika tidak bisa dilepaskan. Karena perjodohan itu jembatan, sebagai jalan.

    ReplyDelete
  5. Nama : Diah P
    Twitter : @She_Spica
    Link share : https://twitter.com/She_Spica/status/718385322405576706

    Pendapatku tentang perjodohan merupakan usaha terbaik yang dilakukan orang tua untuk anaknya. Orang tua yang baik yang melakukan perjodohan untuk sang anak pasti sudah memilih pasangan terbaik untuk mereka dengan semaksimal mungkin mengetahui seluk beluk bibit, bebet dan bobot calon menantu mereka. Meski pun tidak semua usaha perjodohan berjalan baik, namun ada lebih banyak contoh yang baik yang telah terjadi di sekitar kita. Contohnya adalah para orang tua kita, yang sedikit banyak telah mengalami masa perjodohan pada dulu kala, dan pernikahan mereka tetap awet hingga sekarang. Dan ada banyak contoh orang2 jaman sekarang yang melalui pernikahan dari jalan pacaran dan berakhir dengan perceraian. Itulah alasan terbesar bahwa menurutku perjodohan lebih banyak menguntungkan, karena pada dasarnya, tidak ada orag tua yang ingin memberikan anaknya pada orang yang buruk :)

    ReplyDelete
  6. Arie Pradianita | @APradianita
    https://twitter.com/APradianita/status/718401275826737153

    Perjodohan adalah salah satu cara yang ditempuh masyarakat dalam menikah. Tak ada ketentuan dalam syariat yang mengharuskan atau sebaliknya melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa hendaknya seorang Muslim mencari calon istri yang shalihah dan baik agamanya. Begitu pula sebaliknya.

    Ringkasnya, perjodohan hanyalah salah satu cara untuk menikahkan. Orang tua dapat menjodohkan anaknya. Tapi hendaknya meminta izin dan persetujuan dari anaknya, agar pernikahan yang diselenggarakan, didasarkan pada keridhaan masing-masing pihak, bukan keterpaksaan. Pernikahan yang dibangun di atas dasar keterpaksaan, jika terus berlanjut, akan mengganggu keharmonisan rumah tangga.

    Perjodohan yang dilakukan orang tua untuk anak, hanyalah salah satu jalan untuk menikahkan anaknya itu dengan seseorang yang dianggap tepat menurut mereka. Padahal tepat menurut orang tua belum tentu tepat menurut sang anak. Orang tua boleh-boleh saja menjodohkan anaknya dengan orang lain, tapi hendaknya tetap meminta izin dan persetujuan dari anaknya, agar pernikahan yang dilaksanakan nantinya berjalan atas keridhoan masing-masing pihak, bukan keterpaksaan. Karena pernikahan yang dibangun di atas dasar keterpaksaan adalah harom hukumnya, dan jika terus berlanjut, hanya akan mengganggu keharmonisan dalam berumah tangga anaknya kelak.

    Dan orang tua, hendaknya tidak semena-mena terhadap anak. Jangan karena anaknya enggan menerima tawaran dari orang tua, lalu mengatakan kepada anaknya bahwa dia adalah anak yang durhaka, jangan! Tapi hendaknya orang tua harus memahami kondisi psikologis sang anak dan harapan akan jodoh yang diidamkannya. Sebab bila dilihat dari pertimbangan-pertimbangan syar’i, hak-hak anak sangat diperhatikan. Islam datang untuk memfasilitasi antara hak-hak dan kewajiban seorang anak untuk menikah tanpa sama sekali melepaskan peran orang tua di dalamnya.. ^_^

    ReplyDelete
  7. Tri
    @tewtri
    https://mobile.twitter.com/tewtri/status/718406484867072002

    Perjodohan. Dalam satu sisi jujur kesannya itu agak agak mengerikan. Ditunjang oleh banyaknya tontonan ataupun bacaan yang menyinggung soal topik ini, ekspektasi umumnya kan, dinikahkan dengan orang 'tidak dikenal'. Namun kenyataannya, siapa sih orang yang mau membeli kucing dalam karung? Perjodohan, tentu ada prosesnya juga lah. Apalagi orang tua atau pihak-pihak yang mengadakan pastilah sudah sangat kenal dengan baik. Menurut saya, malah menikah karena perjodohan itu cukup menguntungkan bahkan kalau bisa, saya berharap orang tua saya diam-diam sedang merencanakan hal tersebut 😂 lumayan, di samping tidak buang waktu, pasangan dapat dari perjodohan itu biasanya sudah terjamin kriteriannya. Actually, perjodohan yang identik dengan sikap maksanya ini hampir selalu ditakuti kehadirannya. Buat saya pribadi, perjodohan hanya persimpangan yang Tuhan buat guna mencapai finish pasangan cinta sejati. Dari mana pun datangnya jodoh, toh dia adalah orang yang sudah kita setujui sejak awal saat bernego bersama Tuhan.

    ReplyDelete
  8. Nama : Miftahur Rizqi
    Twitter : @MR_Laros
    Link Share : https://twitter.com/MR_Laros/status/718412136037285888

    Tahun 2016 berbeda dengan era Siti Nurbaya. Pasti pikiranku sejalan saat saya menyebut Siti Nurbaya, yaps betul sekali! PERJODOHAN. Miris 2016 masih saja ada segelintir perjodohan dan lebih miris itu terjadi dalam hidup ini. Perjodohan adalah berasal dari kata dasar jodoh atau arti dari bahasa Yunani nya Cinta (haha.. ngarang nih Rizqi). Jodoh adalah teman hidup, partner kita membina rumah tangga. Pilih teman untuk sekedar bermain atau hang out sih mudah banget guy’s tapi untuk jodoh dijamin rumitnya melebihi rumus logaritma. ahay.. Pernikahan itu sakral, malah gak boleh buat main-main. Nah… untuk manusia berusia muda kayak saya mending jauh-jauh deh dari kata pernikahan, yang ditakutkan bukan bisa makan atau tidaknya tapi jiwa muda kita ini loh belum terasah betul, istilahnya belum kenyang masa bermainnya. Menurut saya sih usia muda itu lebih baik digunakan untuk mengejar cita-cita guy's. setuju ?

    ReplyDelete
  9. nama : estrica y
    twitter : @estricaym
    link share : https://twitter.com/estricaym/status/718415996529172480

    Apa pendepat saya tentang perjodohan?
    It’s sucks. sungguh menyebalkan. kupikir cerita perjodohan dalam film atau novel yang pemerannya tiba-tiba histeris sampe minggat dari rumah itu alay banget, tapi ternyata hal semacam ini emang benar real banget. perjodohan itu gak seindah bayangan ketika cewek2 bilang "Aduh sapa sih yang gak mau dijodohin sama cowok yang segitu gantengnya? mapan lagi." its bullshit.
    Orangtua memang benar dan gak pernah salah tentang menjodohkan anak mereka dengan pilihannya, tapi perjodohan itu benar-benar hal mutlak yang membutuhkan banyak ruang untuk berpikir. Perjodohan itu aneh. Rasanya gak nyaman bgt kayak dempetan sama cowok diangkot yang gak pernah dikenal. Dempetan aja gak nyaman apalagi harus menikah dan berbagi segalanya.
    Walaupun cowoknya ganteng banget, banyak uang, bukan jaminan bisa cocok selamanya. Jodoh itu harus nyaman. senyaman memakai celana kolor dan kaos gombrong. Gak keren? bodoh amat. Pakai dress rancangan ellie saab dan highheels permata sih emg keren bgt, tapi gak memberikan kemyaman yg long lasting. Sama kyk jodoh, bukan tampilan awal yg dibutuhkan tapi kenyamanan hati dan mendapatkan kenyamanan hati itu butuh waktu. Gak heran banyak pasangan yg dijodohkan ujung-ujungnya perceraian. Tapi sungguh beruntung org yg dijodohkan bisa awet sampai kakek nenek.=D

    ReplyDelete
  10. Nama: Annisa Ayundi Prastiwi
    Twitter: @annsynd
    Link share: https://mobile.twitter.com/annsynd/status/718423997809971201?p=v

    Kalau denger perjodohan langsung kepikiran ke zaman kesusastraan angkatan Balai Pustaka XD
    Perjodohan bagi saya adalah pernikahan yang terjadi karena tidak ingin menentang orang tua, nggak ingin dosa. Tidak melawan orang tua sama dengan ibadah. (Lain lagi kalau udah lama pacaran backstreet terus tiba-tiba dijodohin. Itu mah pasti langsung mau *Lha_-)
    Ketika dijodohkan oleh orang tua mungkin itu saatnya kita pasrah. Pasrah disini maksudnya adalah yakin kalau orang tua pasti pengin yang terbaik untuk anaknya karena nggak mungkin orang tua memilihkan pasangan yang buruk untuk anaknya.
    Kalau cinta, sayang, yang kayak gitu bisa nyusul.
    Perjodohan yang dijalankan dengan ikhlas, tanpa nafsu dan niatnya hanya untuk beribadah, InsyaAllah bakalan langgeng:'D
    tapi ya, walaupun begitu, orang tua juga harus mengerti perasaan anaknya dengan memberikan waktu untuk keduanya agar saling mengenal dan tau perfect-imperfect-nya, jangan langsung digiring ke pelaminan aja XD

    ReplyDelete
  11. Nama : Ratu Ayu Mas Intan Siti Imaniyah
    Twitter : @RatuAyuMasIntan
    link share : https://twitter.com/RatuAyuMasIntan/status/718474900265041920?s=09

    Perjodohan? Hmm sepertinya gak terlalu buruk sih hahaha. Orangtua pasti mau anaknya dapet yang terbaik dari yang baik, jadi ya mengadakan perjodohan gitudeh. Tapi tergantung sih, hidup kan yang jalanin kita, bukan orang tua atau siapapun itu. Jadi susah sih kalau orangtuanya kekeuh buat jodohin anaknya, tapi anaknya gak mau XD
    Tapi gak semua perjodohan berakhir buruk kok, bahkan ada yang lebih baik daripada yang sudah berhubungan lama. Perjodohan itu semacam ta'aruf sih menurutku,tapi gak bisa dibilang demikian juga. Jodoh ditangan Allah pokoknya, mau seperti apa jalan ceritanya kalau kehendak-Nya seperti itu ya pasti itu yang terbaik =D

    ReplyDelete
  12. Nama : Heni Susanti
    Akun : @hensus91
    Link : https://twitter.com/hensus91/status/718614387787845632

    Bismillah
    Perjodohan? Kalau secara pribadi aku kurang sreg dengan perjodohan. Alasannya karena aku maunya kenal dengan baik orang yang akan jadi suamiku dan bisa menikah dengan orang yang kucintai dan mencintaiku. Bagaimana sikap dan sifatnya aku ingin tahu secara langsung dan bukan hanya berdasarkan apa yang orang katakan. Tapi walaupun begitu aku bukan orang yang akan langsung menolak dengan keras hal itu. Asalkan tidak langsung diminta menikah dan diberi waktu untuk mengenal dia, memahami dan menumbuhkan cinta di hati, aku mungkin bisa menerima perjodohan. ;)
    Aku penikmat novel yang mengisahkan tentang perjodohan. Mengikuti perjalanan dua orang asing dalam sebuah ikatan sakral, bagaimana mereka berproses untuk saling menerima, mengenal, mengerti, memahami dan akhirnya menumbuhkan cinta di hati masing-masing dalam keadaan sudah halal itu lebih greget dari saat semua itu dilakukan sebelum menikah.

    Demikian :)

    ReplyDelete
  13. Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Link share: https://twitter.com/murniaya/status/718607506457505792

    Perjodohan?

    Tidak ada alasan yang mendasar bagiku untuk menentang atau menolak sebuah perjodohan. Tidak pula ada yang salah atau bernilai melanggar etika pada suatu perjodohan. Jodoh memang sudah ditakdirkan pada tiap manusia, entah siapa orangnya. Tapi tiap orang tidaklah punya cara yang sama ketika bertemu jodohnya. Perjodohan adalah salah satu di antara bermacam skenario Tuhan dalam mempertemukan jodoh para hamba-Nya, di mana kali ini harus dibantu oleh pihak ketiga, baik itu melalui seorang perantara khusus atau dari pihak keluarga sendiri.

    Aku justru lebih menilai positif tentang perjodohan. Toh perjodohan nggak jauh beda dengan ta’aruf yang jelas-jelas dianjurkan di agama Islam. Benefit yang bisa didapat dari perjodohan adalah:

    – Kedua keluarga sudah saling tahu dan sudah memberi restu. Apalagi jika si kedua calon memang sudah setuju dari awal ingin dijodohkan. Jadi nggak akan ada drama dari salah satu pihak (kebanyakan perempuan) yang berontak atau kabur dan ngancem bunuh diri karena merasa ini keputusan sepihak dari orangtua.

    – Pihak atau perantara yang menjodohkan sudah tahu bibit-bebet-bobot si calon, baik dari segi agama + sifat + intelektual + finansial. Tentunya karena mereka ingin yang terbaik dan kualitasnya setara.

    – Membantu kita lebih mudah menemukan orang yang sudah siap berkomitmen. Apabila si dia mau menerima perjodohan, artinya dia memang sudah siap dan serius ingin menikah.

    – Nggak perlu lagi masa penjajakan slash pacaran sebelum setuju menikah hingga memakan waktu lama, biar nggak nimbun dosa juga. Cukuplah saling mengenal dalam satu visi dan misi tanpa harus ada embel-embel ini itu. Kalo sehati, hayok. Kalo nggak, ya udah, bubar dan batal aja. Biar nggak buang-buang waktu.

    – Karena tidak ada masa penjajakan, maka untuk saling mengenal lebih jauh adalah ketika mengarungi biduk rumah tangga itu sendiri. Tentunya lebih asyik, serba halal, dan nggak dipenuhi drama sana sini demi menarik perhatian semu. Mengutip quotation dari sebuah novel, "Kalau pacaran yang halal lebih berasa nikmatnya."

    Soal cinta itu bisa belakangan. Apabila cinta belum tumbuh sebelum pernikahan berlangsung, it’s okay. Setelah menikah nanti bisa sama-sama belajar dan berusaha untuk mengerti dan menerima satu sama lain hingga cinta itu tumbuh sendiri seiring waktu. Cekcok dan pertengkaran karena tak sepaham itu biasa, ini bagian dari proses untuk saling memahami. Yang pasti hal seperti ini bukan cuma dialami oleh para pasangan yang memulai hubungan dari perjodohan kok.

    "Menikahi orang yang dicintai itu hanya kemungkinan. Mencintai orang yang dinikahi adalah kewajiban."

    Kunci penting dari sebuah perjodohan adalah harus bisa terbuka menerima, serta adanya persetujuan dari kedua pihak. Semuanya harus serba transparan. Perjodohan nggak semata-mata seperti beli kucing dalam karung. Oleh karena itu, harus ada pihak yang kompeten sebagai pendukung sebuah perjodohan yang sama-sama tahu kualitas dari kedua calon tersebut.

    Oh ya, satu pesanku tentang perjodohan. Kalau ada yang mau menjodohkan 2 orang, sebaiknya dipastikan dulu bahwa yang menjodohkan itu sudah menikah atau minimal sudah punya pasangan sendiri, nggak single. Kalau dia nggak punya pasangan tapi malah sibuk jodohin orang lain, nanti dia yang malah baper dan galau sendiri loh. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf, ralat. Ini link share yang benar (yang mention teman)

      https://twitter.com/murniaya/status/718647342635753472

      Delete
  14. Nama: Fitra Aulianty
    Twitter: @fira_yoopies
    Link:
    https://twitter.com/fira_yoopies/status/718645337158590464

    Jawaban:
    Perjodohan itu boleh boleh aja kok. Dengan syarat si tukang jodoh gak 'memaksakan kehendak' mereka pada kedua orang yang dijodohkan. Misalnya orangtua cewek dan orangtua cowok mempertemukan anak mereka. Lalu mereka langsung mengambil sikap otoriter detik itu juga, bilang kalau kedua anak itu wajib nikah! Itu gak boleh banget. Karena kalau orangtuanya bilang gitu, kedua anak malah langsung kabur tanpa mau kenalan dulu. Abis serem sih, kenal gak udah dipaksa nikah aja.
    Sebaiknya sih perjodohan itu dilakukan cuma untuk mempertemukan kedua orang. Untuk urusan nikah atau gak nya biarin anak-anak itu yang memutuskan. Lagian yang lagi nyari jodoh kan anaknya, bukan orangtuanya.
    Kesimpulannya sih: perjodohan itu diperbolehkan, tapi hanya untuk mempertemukan dan memperkenalkan. Dan tidak semua perjodohan berakhir dengan pernikahan. Cocok gak cocok kembali lagi ke individu yang bersangkutan.

    ReplyDelete
  15. Ayuni Adesty
    @ayuniadesty
    https://twitter.com/ayuniadesty/status/718656849164152832


    Perjodohan? Bukan hal yg buruk. Mungkin ada yang nggak setuju dijodohan. Mungkin mereka mikir, “Emangnya aku segitu nggak lakunya ya? Sampe perlu dijodohin segala? Uang dua ribu lecek aja masih laku?”
    Tapi kalau menurut saya pribadi setuju aja sih dengan namanya “perjodohan”. Apalagi dijodohkan dengan laki-laki sholeh, mapan, ramah, baik hati, murah senyum tidak sombong, dan rajin menabung. He he ... *ngarep. Maksudnya bukan “perjodohan” yang memaksa ala jaman Siti Nurbaya yang mau nggak mau pokoknya harus menikah dengan si calon yang dijodohkan. Tapi perjodohan yang melalui tahap perkenalan melalui perantara. Kalau cocok. Ya langsung nikah. Siapa tahu memang jalan ketemu jodohnya, dari “perjodohan”

    ReplyDelete
  16. Nama : Humaira
    Akun Twitter : @RaaChoco
    Link Share : https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/718424608873951232?p=v

    Ini Link yang ajak teman : https://mobile.twitter.com/RaaChoco/status/718671781645553665?p=v


    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"


    Menurutku perjodohan adalah hal biasa dan wajar yang sudah terjadi dari dulu dan masih ada yang melakukannya hingga sekarang. Alasan utama perjodohan karena orang tua tidak ingin anaknya salah pilih, terjerumus ke dalam hal yang tidak-tidak. Orang yang akan dijodohkannya pun pasti bukan sembarang orang, yang pasti kedua orang tua dari dua belah pihak tersebut saling mengenal dengan baik. Orang tua takut anak mereka salah memilih apalagi untuk pasangan masa depan.

    Dalam agama, orang tua diwajibkan untuk menikahkan anak-anak mereka dengan orang yang baik agama, akhlak dan pribadinya, juga berasal dari keluarga baik-baik.

    Perjodohan tidak selalu menjurus kepernikahan. Jika kedua belah pihak yang dijodohkan setuju untuk melanjutkan ke hubungan yang lebih serius, baru pernikahan akan terjadi.

    Tidak perlu ada yang namanya pacaran, karena dalam agama hal itu dilarang. Perjodohan jauh lebih baik dari pada berpacaran yang belum tentu mengarah ke pernikahan. Sudah ada yang halal dan jauh lebih baik, jika ingin berpacaran sebaiknya dilakukan setelah menikah nanti.

    Pejodohan itu berawal dari niat yang baik, untuk hal yang baik, dan berharap mendapatkan hasil yang terbaik :) :)

    ReplyDelete
  17. nama: Aulia
    twitter: @nunaalia
    link share: https://twitter.com/nunaalia/status/718692996858798084

    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"

    Perjodohan hal yg sudah biasa dan banyak dilakukan di masyarakat kita. Ada yg dilakukan atas dasar keinginan orangtua untuk mempererat kekeluargaan dengan sahabat mereka dengan menjodohkan anak-anak mereka. Ada juga dilakukan karena sang anak tidak kunjung mendapatkan jodoh karena terlalu sibuk berkarier atau karena pribadi si anak yg tertutup sehingga membutuhkan bantuan orang lain, khususnya orangtua, untuk mencarikan mereka jodoh. Namun terkadang perjodohan menimbulkan konflik bila si anak menentang, dan jika orangtua memaksakan kehendak mereka.
    Aku sendiri lebih sreg dengan cara Islam dalam pencarian jodoh, yaitu dengan Taaruf. Taaruf lebih menenangkan karena sesuai tuntunan Islam, dan tidak ada paksaan di dalamnya.

    ReplyDelete
  18. Nama : Makhina
    Twitter : @khina_lover
    Link Share :
    https://mobile.twitter.com/khina_lover/status/718458157542932481

    Perjodohan? :-)
    Jodoh itu ditangan Allah... tak ada yang tau jodoh kita siapa, kapan bertemu jodoh dan dimana jodoh berada.
    Semua orang tentunya ingin mendapatkan jodoh yang baik dan cocok sesuai dengan keinginannya, tapi jika bicara keinginan tentu apa yang kita inginkan itu terkadang beda dengan kenyataan.
    Seperti halnya tentang perjodohan, kebanyakan orang tua selalu memilihkan jodoh yang terbaik untuk anaknya. Ketika sudah dipilihkan jodoh, pasti ada banyak pilihan dan banyak pengalaman dari situ :-). Dari pilihan2 tersebut, ada orang yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan tapi gak cocok dihati, ada yang gak sesuai kriteria tapi cocok, ada juga yang sesuai kriteria dan cocok dihati *tapi belum tahu cocok sampai akhir hayat atau tidak.hehe
    Memang orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya, tapi untuk masalah jodoh kita sebagai seorang anak berhak memilih sesuai dengan hati kita (karena yang menjalankan kedepannya itu kita sendiri bukan orang tua). Tapi pada baiknya tetep semua masukkan dari orangtua harus kita terima dan kita jaga. Mengenai jodoh, siapapun orangnya kalau kita sudah cocok dihati dan sudah ingin sampai ke pelaminan... ya itulah jodoh kita. Nantinya kalau memang ingin langgeng sampai tua dan akhir hayat, itu semua diawali dari pengendalian sikap individu dalam sebuah hubungan dan selalu cintai hubungan itu dengan harmonis. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan, so alangkah baiknya dalam suatu hubungan saling menutupi kekurangan 1 sama lainnya.
    Jadi perjodohan itu simple, jangan dibuat rumit... kalau memang dalam perjodohan itu kita cocok dengan orang tsb ya kita pilih, kalau tidak cocok ya sebagai saudara saja supaya tidak memutus tali sillahturahim. Think positif, do the best everytime. Apa yang kita perbuat akan sesuai dengan yang kita dapatkan. Jodoh yang kita dapatkan akan sesuai dengan perbuatan dan sikap kita... tetap tenang dan bersabar, jodoh yang diberikan Allah itu pasti terbaik untuk kita... :-)

    ReplyDelete
  19. Nama: Dera Devalina
    Akun Twitter: @deradevalina
    Link Share: https://twitter.com/deradevalina/status/718751316168871936

    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"

    Sebagian orang tua ingin agar anaknya ngak salah memilih calon hidup, atau karena sebuah janji yang harus ditepati misalnya perjodohan semenjak kecil karena persahabatan dari dua keluarga yang begitu dekat, Boleh-boleh aja sebagai orang tua menjodohkan anaknya, tapi tetap keputusan terakhir ada di tangan anak, karena anak lah yang akan menjalaninya bukan orang tuanya dan cukuplah bagi orang tua untuk membimbing saja tanpa memaksakan kehendak kepada anak, untuk itu ngak perlu malu atau segan untuk mengutarakan apabila ngak berkenan dengan perjodohan orang tua kita dan sebagai seorang anak jangan terlalu seenaknya apabila di beri kebebasan untuk memilih perlu mendiskusikan atau perundingan lebih dahulu dengan keluarga kedua belah pihak sebagai pertimbangan sekaligus pendekatan antar keluarga, perlu diketahui bahwa membatalkan pertunangan itu masih lebih ringan daripada harus bercerai nanti ketika sudah menikah. Demikian juga, membatalkan pertunangan itu masih lebih ringan daripada membentuk keluarga atas keterpaksaan.

    ReplyDelete
  20. Nama: Vivi Lutfah
    Twitter: @LutfahVivi
    Link share:https://twitter.com/LutfahVivi/status/718764151577792513

    Jawaban:
    Pasangan hidup yang di tetapkan oleh orang tua. Melalui perjodohan ini kita juga bisa mendapatkan pasangan hidup yang telah di tetapkan oleh Tuhan YME. Karena biasanya orangtua itu ingin anaknya mendapatkan jodoh yang terbaik, jadi ada yang memang berhasil atas pilihan ini dan ada banyak juga yang tidak berhasil. Disini juga kita berhak atas pendapat kita, jangan mentang-mentang ini pilihan orangtua kita main terima aja. Memang kita sebagai anak harus mematuhi orangtua,tapi kita juga berhak mengeluarkan pendapat atas keputusan kita. Kalai memang tidak suka maka bilang, kemungkinan terburuk nya palingan orangtua cariin kita jodoh lagi, kalau memang kita suka maka bilang suka. Jangan ditunda lagi.

    ReplyDelete
  21. nama : Nurhidayanti
    akun twitter : @CallMe_Yanti
    link share: https://mobile.twitter.com/CallMe_Yanti/status/718772371310546944?p=v

    Apa pendapat kamu tentang perjodohan?

    Perjodohan adalah jodoh yang dipilihkan orang tua kepada kita. Bisa juga perjodohan terjadi melalui biro perjodohan yang sekarang lagi marak dilakukan oleh kaum single yang ingin menemukan pasangan hidupnya.
    Jodoh yang dipilihkan orang tua tentunya adalah jodoh yang terbaik bagi mereka. Orang tua mana yang rela menjodohkan anaknya dengan pria/ wanita yang tidak baik. Mereka tentu ingin yang terbaik bagi anaknya. Orang tua adalah yang paling mengerti diri kita dan mengenal dengan baik diri kita, mereka pasti sudah mempertimbangkan dengan baik sebelum menentukan calon yang akan dijodohkan dengan kita. Oleh karena itu sebagai anak yang baik dan bakti kepada kedua orang tua sudah sewajarnya kita menghargai pilihan mereka dengan bersedia untuk mengenal sosok yang dipilihkan oleh mereka, urusan cinta atau tidak itu urusan belakangan. Apabila kita tidak mengenal seseorang pastinya kita tidak tidak akan menyukainya, oleh karena itu kita harus mengenal dengan baik orang yang dijodohkan dengan kita. Kalau memang cocok dan dia orang yang baik, mengapa kita mengabaikan usulan orang tua kita. Bukankah pernihakan adalah hal yang sangat membuat bahagia diri kita, pasangan dan orang tua kita. Menurut saya perjodohan itu tidak usah dianggap sebagai sesuatu yang 'dipaksakan' atau ditakutkan. Lain halnya jika kita memilih pasangan kita sendiri, apabila kita memilih pasangan sendiri maka kita harus siap dengan konsekuensi yang ada, apabila memang setelah menikah ada permasalahan dan dirasa tidak cocok maka kita tidak boleh mengadu ke orang tua karena itu sudah pilihan kita sendiri. Bagaimanapun pasti orang tua selalu mendo'akan agar anaknya mendapatkan jodoh yang terbaik dan bisa memiliki pernikahan yang langgeng hingga di penghujung usia. Begitupun seorang anak pasti menginginkan orang tuanya bahagia. Semoga kita semua bisa mendapatkan jodoh yang baik dan bisa sejalan dengan kehendak dan keinginan orang tua kita,amin.

    ReplyDelete
  22. nama: Noer Anggadila
    akun twitter: @noeranggadila
    Link share: https://twitter.com/NoerAnggadila/status/718817939609116672

    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"

    Menurutku, perjodohan itu tren zaman Siti Nurbaya, perjodohan itu merampas hak, namun disamping itu, pada dasarnya kita sudah di jodohkan oleh Nya, hanya saja tergantung pada bagaimana cara kita menyikapinya dan bagaimana kita menemukan jodoh kita itu bermacam-macam.

    Perjodohan itu boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan bila memang orang yang menjodohkan tau benar bahwa sang calon adalah orang yang tepat untuk orang yang akan dijodohkan, tentu berlandaskan karena Nya.

    Namun, kalau perjodohan itu berlandaskan hal-hal duniawi [kaya drama korea], kebanyakan ujung-ujungnya malah gak baik, dalam perjalanan setelah perjodohan itu pun bisa menimbulkan ketidaklancaran dalam membina hubungan ke depannya, dan yang paling parah adalah ujungnya harus berpisah.

    Setuju nggak dgn perjodohan? untuk sekarang, aku sih lebih milih untuk mencari jodoh sendiri dulu ketimbang dijodohkan, tapi tidak lepas oleh pertimbangan-pertimbangan yang matang.

    ReplyDelete
  23. Eris Andriani
    @RizAnNie88
    https://twitter.com/RizAnNie88/status/718816326542708741

    Perjodohan itu adalah upaya manusia melakukan suatu tindakan penyatuan antara 2 orang yg dilakukan oleh satu pihak dengan pemaksaan, dimana akan menjalani hubungan pernikahan tanpa memperhatikan perasaan yg bersangkutan.
    Ketika masih belum siap menjalani hubungan pernikahan dengan orang yg baru dikenal, belum ada rasa suka atau rasa cinta, bahkan benci hanya akan membuat suatu hubungan menjadi hampa, gersang, tidak ada rasa bahagia dan berujung pada penyesalan. Kecuali perjodohan dimana ke dua pihak memang memiliki suatu perasaan istimewa, kecocokan, dan hatinya bisa menerima.

    Ada yg bilang bahwa "Kata jodoh jangan ditambah me atau di, jika ditambah keduanya berarti upaya manusia. Sementara jodoh itu hanya hak Tuhan. Artinya jangan pernah menjodohkan atau dijodohkan, biarkan saja Tuhan yang menentukan jodoh itu. Jangan salahkan siapa-siapa jika ada yang menjodohkan atau dijodohkan lalu terjadi apa-apa karena tindakan ini melanggar hak Tuhan".
    ^_^

    ReplyDelete
  24. Nama : Pida Alandrian
    Twitter : @PidaAlandrian92
    Link Share : https://twitter.com/PidaAlandrian92/status/718821714277175296

    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"
    > Perjodohan itu menurutku misteri dan teka-teki yg ada di balik kata perjodohan. Seorang perempuan yg di kenalkan dengan seorang laki-laki dengan maksud dan tujuan tertentu. Bisa krn ingin di jodohkan untuk pasangan masa depan kita, bisa juga hanya krn untuk pertemanan.
    Dan Tidak ada yg tahu siapa yg menjadi sosok yg di jodohkan dengan kita itu, kecuali og yg berniat menjodohkan kita dan Tuhan.

    Sekian.
    Salam Pida Aladnrian

    ReplyDelete
  25. Nama: Dian Maharani
    Akun Twitter: @realdianmrani93
    Link Share: https://twitter.com/realdianmrani93/status/718849559670067200

    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"

    Perjodohan adalah pilihan. Ya atau Tidak. Perjodohan adalah pemaksaan. Eitsss, tidak selamanya perjodohan itu adalah pemaksaan. Pemaksaan terasa karena tidak ada komunikasi yang efektif antara kita sebagai pihak terjodoh dengan pihak pencetus ide perjodohan. Kita sudah emosi duluan karena dijodohkan dan pencetus ide perjodohan emosi karena ide mereka tidak didengar dan diterima dengan baik. Perjodohan ada kalanya membawa berkah, apalagi bagi mereka yang merasa sudah melewati usia pernikahan. Perjodohan ada kalanya mempererat silaturahmi keluarga. Perjodohan ada kalanya menghindari perkhianatan dari janji di masa lalu. Perjodohan ada kalanya menyelamatkan perusahaan keluarga *ehh kebanyakan nonton sinetron ^^v
    Kembali lagi ke awal, perjodohan itu adalah pilihan, ya atau tidak.

    ReplyDelete
  26. Nama: Tatyana AC
    Akun: @bluesky1319
    Link: https://twitter.com/bluesky1319/status/718961944716136448

    Perjodohan itu kayak penentuan masa depan kita tapi ga di tangan kita. Karena kemungkinan besar kita tidak bisa memilih siapa masa depan kita karena semua ada ditangan orang yang menjodohkan kita. Perjodohan tidak selalu berdampak negatif sebagaimana yang ada di pikiran anak muda sekarang. Karena pada nyatanya banyak juga orang yang berhasil dengan pernikahan mereka karena dijodohkan. Orang tua memiliki peranan penting biasanya dalam hal ini, karena orang tua lah yang biasanya menjodohkan anak mereka. Tapi sejujurnya perjodohan juga memiliki dampak negatif terutama untuk perjodohan yang didasari karena harta atau mungkin urusan pekerjaan dan akhirnya sebuah perjodohan lebih terlihat kepada pemaksaan. Maka dari itu semua tergantung pada niat aja menurutku

    ReplyDelete
  27. Nama: Tatyana AC
    Akun: @bluesky1319
    Link: https://twitter.com/bluesky1319/status/718961944716136448

    Perjodohan itu kayak penentuan masa depan kita tapi ga di tangan kita. Karena kemungkinan besar kita tidak bisa memilih siapa masa depan kita karena semua ada ditangan orang yang menjodohkan kita. Perjodohan tidak selalu berdampak negatif sebagaimana yang ada di pikiran anak muda sekarang. Karena pada nyatanya banyak juga orang yang berhasil dengan pernikahan mereka karena dijodohkan. Orang tua memiliki peranan penting biasanya dalam hal ini, karena orang tua lah yang biasanya menjodohkan anak mereka. Tapi sejujurnya perjodohan juga memiliki dampak negatif terutama untuk perjodohan yang didasari karena harta atau mungkin urusan pekerjaan dan akhirnya sebuah perjodohan lebih terlihat kepada pemaksaan. Maka dari itu semua tergantung pada niat aja menurutku

    ReplyDelete
  28. Nama: Novi Andriyani
    Twitter: @kysmpnvii
    Link Share : https://twitter.com/kysmpnvii/status/719042569452191744

    Perjodohan.
    Menurutku sih perjodohan itu ga memberikan hak kebebasan kita untuk memilih pasangan. Kalo di jodohkan belum tentu kita suka sama otang itu dan mungkin kitanya ga merasa cocok, risih dan bisa aja benci.

    Tapi disisi lain juga bagus apalagi buat org yg belum juga menemukan pasangan setelah keluarga terus mendesak agar cepet2 dpt pasangan. Karena lewat perjodohan juga bisa saling mengenal satu sama lain, nah trus juga tentang perasaan, tanpa sadar pasti deh bakal menumbuhkan rasa suka karena sudah terbiasa dengan keberadaanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ralat: Kalo di jodohkan belum tentu kita suka sama orang itu dan mungkin kitanya ga merasa cocok, risih dan bisa aja benci.

      Delete
  29. Bintang Permata Alam
    @Bintang_Ach
    https://twitter.com/Bintang_Ach/status/718404226527977472

    Perjodohan sebenarnya memiliki banyak arti. Tergantung bagaimana setiap orang menyikapinya. Aku mengklasifikasikan perjodohan ke dalam 2 bagian. Kedua bagian itu yakni perjodohan sebelah pihak, dan perjodohan antar pihak.

    Pertama, perjodohan sebelah pihak. Aku mengartikannya sebagai proses perjodohan di mana hanya ada satu pihak yang menginginkan perjodohan tersebut. Sebaliknya, satu pihak lagi merasa keberatan. Terutama untuk mereka yang dijodohkan. Sebenarnya aku kurang menyetujui perjodohan yang seperti ini. Apabila salah satu pihak merasa tidak cocok, tidak ngeh, ada baiknya perjodohan tersebut diurungkan. Sebagai orang tua, sebaiknya harus benar-benar mengerti dengan baik apa kemauan si anak. Sebab, jika orang tua bersikap sesuka hati dalam menjodohkan anak, dan rupanya anak merasa kurang berkenan, maka juga akan menimbulkan kerugian tersendiri pada diri si anak. Kerugian pertama, mereka tidak diberi keleluasaan dalam memilih pasangan yang sesuai dengan keinginan mereka. Otomatis, mereka tidak akan mendapat kepuasan ataupun keuntungan dari proses perjodohan tersebut. Kedua, anak cenderung tidak mencintai si calon pasangan. Memang, jika pasangan yang dipilihkan tidak sesuai keinginan, maka juga akan membuat anak merasa enggan untuk mencintainya. Mengenalnya lebih dekat saja bahkan belum tentu mau. Ketiga, pernikahan mereka terancam tidak akan bertahan lama. Sebab, hubungan sepasang orang tanpa dilandasi rasa cinta adalah percuma. Sama-sama tinggal di satu rumah tanpa rasa cinta adalah sia-sia. Mereka cenderung berpisah dan tidak mencintai. Jadi, intinya harus ada kecocokan antara kedua belah pihak. Sebagai orang tua, lagi-lagi harus benar-benar tahu bagaimana keinginan dan perasaan si anak. Jangan memaksakan, dengan begitu anak tidak menjadi pihak yang dirugikan.

    Kedua adalah perjodohan antar pihak. Yang ini adalah perjodohan yang menguntungkan. Di mana kedua belah pihak sama-sama merasa diuntungkan dengan adanya perjodohan tersebut. Jadi, intinya kedua belah pihak harus klop lah. Tanpa ada paksaan maupun kekangan. Dengan begitu, hal-hal buruk cenderung tidak memengaruhi pernikahan mereka.

    ReplyDelete
  30. Nama : Rinita
    Akun twitter : @Rinitavyy
    Link share: https://mobile.twitter.com/RinitAvyy/status/719136316374532096?p=v

    Pendapatku tentang sebuah "Perjodohan". Perjodohan itu sesuatu yang dipaksakan oleh beberapa pihak, baik pihak dari pasangan laki-laki maupun yang perempuan. Dalam sebuah perjodohan, kadang ada salah satu pihak yang merasa dirugikan karena merasa tidak punya rasa cinta terhadap jodohnya sedang yang satunya memiliki rasa cinta itu (bisa dibilang cinta bertepuk sebelab tangan). Atau malah keduanya dirugikan karena sama sama tidak saling mencintai. Atau malah keduanya menyetujui perjodohan secara terang terangan sebab sudah saling jatuh cinta pada pandanga. pertama.
    Yang sering ku dengar, Perjodohan itu berawal dari sebuah kesepakatan janji masa lalu yaitu sebuah ikatan persahabatan yang ingin menjodohkan anak- anaknya (bila saling punya akan berbeda jenis kelaminnya) untuk memperkuat tali silaturahmi. Atau bisa jadi perjodohan bermula dari sebuah relaksi bisnis, dan demi memperkuat hubungan kerja maka dibuatlah perjodohan antar perusahaan, yaitu dengan menjodohkan anak-anaknya.
    Kadang akibat dari perjodohan berdampak pada kontrak perkawinan bila antar pihak yang dijodohkan tak saling suka, atau bisa jadi Perjodohan lancar jaya kalo pihak yang dijodohkan oke saja dan sial menuju pelaminan.
    Ah, buatku perjodohan itu urusannya rumit sekali, memangnya zamannya Siti Nurbaya ya di era serba modern begini? Aku yakin tiap orang punya alasannya sendiri-sendiri untuk mendefinisikan tentang perjodohan. Kadang menanggapi perjodohan, Ada yang menyukainya, Ada juga yang enggak.

    Terima Kasih.

    ReplyDelete
  31. Nama: Nur Annisa
    Twitter: @YoshikuniNhora
    Link Share: https://twitter.com/YoshikuniNhora/status/719160920832757761

    Perjodohan menurut aku salah satu bentuk pembatasan terhadap pemilihan pasangan. Biasanya praktek perjodohan dilakukan atas keinginan keluarga (kebanyakan sih karena orang tua). Jawabannya terima atau tidak. Terima kalau memang merasa saling cocok dan jangan takut katakan tidak kalau memang tidak berkenan. Kalau zaman dulu mungkin pilihannya sih cuma terima aja. Walaupun di zaman sekarang ada juga kasusnya yang harus menerima perjodohan apapun alasannya, sekalipun keduanya atau salah satunya menolak. Nah ini nih yang bikin perjodohan itu terlihat menyeramkan. Terkesan memaksa, ya memang. Tapi tak semua. Ada juga yang diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat tapi tetap atas nama perjodohan. Tapi kembali lagi sih, niat orang tua itu pasti baik. Orang tua pasti memilihkan yang terbaik untuk anak-anaknya karena mereka lebih berpengalaman. Tapi tetap jangan takut sih menurutku dengan perjodohan karena kita juga punya hak memilih.

    ReplyDelete
  32. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  33. Nama: Kitty
    Akun twitter: @womomfey
    Link share: https://twitter.com/WoMomFey/status/719275360324427776


    "Apa pendapat kamu tentang perjodohan?"


    Sebenarnya ada banyak sisi sih mengenai perjodohan ini sendiri. Bisa dilihat dari sisi si makcomblang: orang tua, teman atau sanak saudara lainnya. Bisa dilihat dari "korban perjodohan": pihak yang merasa senang dijodohkan, pihak yang merasa gak senang dijodohkan, pihak yang patah hati karena gebetan/kekasih hatinya dijodohkan dengan orang lain dan bukan dengan dirinya.

    Kalau dari sisi si makcomblang, pasti tidak ada maksud buruk mereka untuk menjodohkan dua sejoli. Harapan mereka tentunya agar kedua sejoli yang dijodohkan itu pada akhirnya benar-benar BERJODOH seperti harapan mereka saat menjodohkan keduanya. Meskipun kadang kala si makcomblang ini suka melupakan bahwa pasangan yang dijodohkan oleh mereka itu kan individu bebas yang juga punya keinginan bebas untuk menentukan pasangan masing-masing, punya selera dan tolok ukur yang berbeda mengenai pasangan yang mereka impikan, punya mimpi-mimpi yang mungkin ingin mereka wujudkan terlebih dahulu tanpa harus pusing memikirkan urusan pasangan hidup.

    Dari sisi "korban perjodohan" juga bisa muncul banyak versi nih! Belum tentu loh mereka sreg satu sama lainnya (oh well, klo kata si makcomblang sih kecocokan itu pasti bisa dicari kok ~.~"). Bisa jadi salah satu individu yang dijodohkan malah sudah punya tambatan hati sendiri. Tentunya hal ini malah akan menambah runyam hubungannya dengan sang kekasih hati. Tapi... bisa juga sih klo orang yang saling dijodohkan itu merasa senang dengan "jodoh"nya dan akhirnya malah ngebet pengen cepet-cepet mensahkan hubungan mereka ^o^

    Dilihat dari uraianku diatas, perjodohan itu gak selalu seburuk sangkaan orang-orang kok. Ada orang-orang yang akhirnya benar-benar menemukan pasangan hidupnya melalui perjodohan. Namun bukan lantas berarti semua perjodohan itu pasti membawa HAPPY ENDING loh ya. Ada juga yang malah mengalami drama mengerikan seputar perjodohan. Apalagi kalau akhirnya perjodohan itu dijalankan hanya karena "ingin membahagiakan berbagai pihak", seperti orang tua dan kerabat yang sudah bersusah payah menjodohkan mereka.

    Intinya sih kembali ke masing-masing individu ya. Kalau saranku sih: just follow your heart. Follow your dream.

    ReplyDelete
  34. Nama : Veny
    Twitter : @yutakaNoYuki
    Link share : https://twitter.com/yutakaNoYuki/status/719316039050244096

    Perjodohan itu bukan hal yang terlarang, jelek atau kuno. Tergantung sudut pandang setiap orang. Buat saya perjodohan itu malah menjadi salah satu jalan untuk menemukan pasangan hidup, toh biarpun dijodohkan saat ini baik pria dan wanitanya bisa menentukan mau atau tidak menerima perjodohan tersebut. Lagipula dijodohkan bukan berati harus menikah saat itu juga kan ? Tetap ada tahap perkenalan seperti pacaran. Anggap saja perjodohan itu seperti peluang untuk mendapatkan calon pasangan dan menyeleksinya, kalau cocok yang bisa dilanjutkan kalau nggak yang bicarakan baik-baik dengan kedua keluarga ...

    ReplyDelete
  35. Nama : Ni Putu Citra Apsara Devi
    Akun twitter : @citrapsara
    Link share : https://mobile.twitter.com/Citrapsara/status/719330302724694016
    Jawaban :
    Menurutku, perjodohan adalah salah satu cara orang tua membuat anaknya bahagia. Meskipun terkadang ada yang berujung menderita, tapi sebenarnya orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia. Bagi orang tua yang mempunyai anak-yang-belum-menemukan-jodoh pasti ingin membantu anaknya, dengan begitu orang tua berharap anaknya bisa bahagia bersama pasangannya.

    ReplyDelete
  36. Nama : Erdina yunianti
    Twitter : @Dinnaaa_27
    Link sharle :
    https://mobile.twitter.com/Dinnaaa_27/status/719437753478356992

    Sebenernya Perjodohan itu " Si Orang tua takut anaknya salah pilih dan tidak bahagia sehingga mereka memilihkan anaknya jodoh dengan yang menurut mereka lebih pantas dan layak membahagiakan anak mereka".
    Itu Konsepnya *Alah bahasa aku apalah ini wkwkwkw
    Tapi jangan jodoh jodohan lah, emang sih ga salah buat para orang tua ..
    Kayak gini :
    Kalo anak tidak bahagia karena pilihan dia sendiri, itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung oleh si anak.
    Tapi...
    Kalo si anak tidak bahagia karena pilihan Orang TUAnya, maka Orang Tuanya akan ikut menyesal dikemudian hari *penelitiandarilingkungansekitar*
    So buat bapak ibuk yang pengen jodohin anaknya.. dipikir mateng-mateng dulu, atau bisa diserahkan kepada anaknya, karena anaknya bisa memilih mana yang menurut mereka benar
    Anak bapak ibuk ga bakalan kehilangan jodohnya kok...
    Asalkan anak ibu bapak baik dan diajarkan kebaikan, insya allah jodohnya juga baik kok..
    Ingat surat Annur 26 :
    ”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
    Ini hanya pendapat aku yaaa kak :D

    ReplyDelete
  37. Apa pendapat kamu tentang perjodohan?

    Saya enggak pandai merangkai kata-kata apalagi mengenai perjodohan gini tapi saya berusaha memberikan pendapat saya.

    Ya intinya sih mau dijodohkan atau memilih jodoh sendiri itu semua sudah Allah yg mengatur cuma jalannya aja yg berbeda. Nih misal, kalau dijodohkan dengan orang tua seperti kisahnya Hessa ini ya pastinya memang Allah lah yg memberikan Hessa jodoh ya cuma diberikannya melalui mamanya enggak sih Hessa kenal langsung dengan jodohnya.

    Menurutku dalam sesuatu hal pasti ada positif maupun negatifnya dan enggak bisa diukur besaran sisi positif/ negatifnya karena yg dirasakan setiap insan berbeda-beda. Ada yg rumah tangganya harmonis dan bahagia-bahagia saja karena perjodohan bahkan ada juga yg rumah tangganya hancur bersama pasangan yg diyakini akan bersamanya sampai maut memisahkan. Tapi balik lagi, kita hanya manusia sekeras apapun mencoba untuk menolak jodoh ya enggak mungkin kalau takdir sudah berkata.
    Jadi untuk kalian yg dijodohkan jgn berpikir negatif atau kolot dulu. Saya yakin toh kalau misalkan jodoh mau sekeras apapun kita menentang dan kemudian menghindar tetap akan bertemu dengannya. Tuhan punya banyak cara untuk menemukan kita dengan salah satu pasangan tulang rusuk kita, ya salah satunya dengan cara perjodohan!

    Agnes/ @its_nessie/ https://mobile.twitter.com/its_nessie/status/719466627809447936

    ReplyDelete
  38. Nama : Salma Salsabila
    Twitter : @salsabilarinai
    Link share : https://twitter.com/salsabilarinai/status/719480653557858304

    Jawaban : Perjodohan bukan sesuatu yang harus dikhawatirkan apalagi di"ANTI"kan. Bukankah Tuhan sejak awal memang sudah memasang-masangkan kita? Berpasangan sama artinya dengan berjodoh, bukan? :)
    Bagiku, perjodohan adalah sesuatu yang akan aku terima dengan senang hati dan tidak berhak ku tolak jika aku tak memiliki alasan yang tepat lagi syar'i (sesuai dengan tuntunan agama). Sebab, janji Allah adalah wanita-wanita yang baik diperuntukkan kepada laki-laki yang baik, dan wanita-wanita yang keji diperuntukkan kepada laki-laki yang keji pula. Sudah jelas, bukan? Lantas, apa yang perlu aku khawatirkan. Sekalipun andaikata, saat itu aku sedang menyukai orang lain.
    Pepatah jawa mengatakan: "Witing tresno jalaran soko kulino". Jika Allah sudah menggariskan aku bersama dengan orang yang dijodohkan denganku, maka insyaAllah Ia akan membukakan hatiku untuknya dan menghapus perasaan masa laluku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuhan Maha Membolak-balikkan hati. ;) Lagi pula, dalam hidup kita bukan mencari pemenuhan nafsu sekehendak hati, tapi kita lebih penting untuk mendapat ridho Illahi. Dan salah satu ridhoNya terletak pada orang tua. Bisa jadi kepatuhan kita dalam hal ini merupakan pembuka ridho dan rahmatNya hingga akhirat nanti. Wallahua'lam.
    Intinya, tidak ada yang salah dengan perjodohan. Buka hatimu, ikhlaskan atas ketentuan Tuhanmu, dan berbahagialah menerima semua berkah itu. :)
    Laahaulaa walaa kuwwata illabillah...

    ReplyDelete
  39. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    https://mobile.twitter.com/RiniCipta/status/719510937129115648

    Perjodohan nggak selalu buruk sih menurutku. Kita dipertemukan dengan orang yang tepat bisa dengan cara yang bermacam-macam. Nggak jarang mereka yang dijodohkan ternyata emang beneran cocok. Jadi menurutku, nggak ada salahnya kalau ada orang ingin mengenalkan kita, kangan buru-buru nolak karena siapa tau cocok kan?
    Kalau aku mencoba melihat segala sesuatunya dari segi positif sih. Perjodohan itu kan seperti tahap mengenal, kalau nggak cocok ya nggak usah dilanjutkan. Setidaknya kita udah mencoba mengenal dan menghargai orang yang mengenalkan atau menjodohkan kita. Yaa lebih bagus lagi sebenernya kalau dijodohkan langsung klik hehe.. kalaupun nggak kan bisa nambah teman. Enjoy aja lah, asal perjodohan tanpa paksaan sih oke aja :)

    ReplyDelete
  40. Hanisa Aprilia
    @hanisaaprilia
    https://twitter.com/hanisaaprilia/status/719521246312935429


    Seperti judul awal cerita ini.
    Menurutku, perjodohan itu bagian dari 'perfecting destiny'.

    Ketika kita di minta untuk menikahi dia —orang yang belum kita kenali, atau orang yang baru kita temui, atau orang lama yang tidak ada dalam list utk kita nikahi— pasti akan terasa amat sangat berat. Karena banyak dari mereka beranggapan, kita harus menikah dengan orang yang kita cintai, orang yang mau kita jadikan teman untuk menemani sisa hidup kita.

    Menurutku pasangan hidup itu bukan hanya utk dijadikan teman hidup sehari-hari, tapi juga tentang bagaimana kita harus menyempurnakan takdir. Tentang bagaimana kita menerima masalalu pasangan kita —yang notabenenya orang yg belum kita kenal. Tentang segala sifat uniknya. Juga tentang mencari jalan keluar bagi setiap masalah yang akan kita temui, untuk bisa bertahan.

    Karena menurutku, menikah itu tidak harus selalu dengan orang yang kita cintai. Seperti kata pepatah, bisa itu karena terbiasa. Sama halnya dengan cinta yang selalu di khawatirkan dlm perjodohan, kita bisa saling mencintai jika kita mau mencoba.

    Hehe, sekian pendapatku^^

    ReplyDelete
  41. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete