My Wedding Dress - Dy Lunaly | Book Review


Judul: My Wedding Dress
Penulis: Dy Lunaly
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal Buku: 264 halaman

"...bukankah sebenarnya kita semua merupakan kumpulan masokhis, disadari ataupun tidak? Terlalu sering kita sengaja membuka kenangan menyakitkan atau menyedihkan dan menyesapnya kembali. Membuka luka yang belum benar-benar mengering."

Siapapun akan tersenyum bahagia saat hari pernikahan mereka tiba, tak terkecuali Abigail Kenan Larasati. Perempuan itu begitu mencintai Andre, calon suaminya, yang sudah menjalin hubungan dengan dirinya selama tiga tahun terakhir. Abby begitu cantik saat mengenakan gaun pengantin yang dia impikan. Di depan Gigi, adik perempuannya, Abby membagi kebahagiaannya, begitu pun dengan sang adik yang tak kalah bahagia. Akhirnya lamaran yang dilontarkan Andre saat itu, membawa mereka berdua kepada jawaban nyata bernama pernikahan. 
Tetapi tiba-tiba kabar dari ayah Abby menghancurkan semuanya. Ayahnya datang dengan ekspresi yang tak tertebak, mencoba menenangkan putrinya sebelum mengatakan kenyataan yang sebenarnya. Kebahagiaan Abby nyaris habis tak bersisa saat sang Ayah berkata bahwa pernikahan dirinya dan Andre terpaksa dibatalkan. Andre tidak datang, Andre memutar arah di perjalanan menuju gereja. Abby tentu tak percaya, dan berharap semuanya hanyalah lelucon. Dia berharap saat dirinya melihat altar, Andre akan berdiri dengan gagah, menunggu Abby berjalan dengan sang Ayah. Sayangnya, itu hanya terjadi di khayalan Abby.
"...some people come into our lives just to teach us how to let go."
"Kemarahan dan kebencian itu sama kayak pasir. Kita merasa menggenggamnya, padahal genggaman itu kosong, karena seiring berjalannya waktu, pasir itu keluar melalui sela jari tanpa kita sadari."
Genap setahun setelah pembatalan pernikahan Abby, namun perempuan itu belum bisa melupakan Andre dan segala kenangannya. Tatapan iba dan simpati dari orang-orang disekitarnya pun memperparah keadaan. Seakan semua orang mengenal Abby sebagai pengantin yang batal menikah. Abby memutuskan untuk berusaha melupakan Andre, dimulai dengan membuang seluruh benda yang berhubungan dengan lelaki itu. Saat itu, tak sengaja dia kembali membuka luka lamanya, yang paling perih, yang paling sakit; gaun pengantin. Abby bertekad untuk menggunting gaun cantik itu, namun terhenti karena dirinya tak sanggup merusaknya. Perempuan itu memutar otak, mencari cara lain untuk lepas sejenak bahkan selamanya dari kurungan bernama masa lalu, yang akhirnya membawanya kepada keinginan untuk menjelajahi tempat baru; travelling. Sesuatu yang takkan pernah dilakukannya seumur hidup, sesuai yang takkan pernah disukainya.
"Travelling ngajarin kamu untuk mensyukuri hal-hal kecil dan kamu melihat kebahagiaan dari sudut pandang yang berbeda."
"Hidup itu tentang mengeja ikhlas. Bagaimana kita belajar untuk khlas menerima kondisi apa pun dalam hidup kita dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya."
Penang, sebuah pulau di Malaysia yang menjadi pelarian perempuan itu. Mengenakan gaun pengantin, Abby berharap gaun itu mampu menyerap seluruh kesedihannya, hingga warna putih itu berubah menjadi hitam. Berbekal ke-impulsifan-nya, Abby berniat menjelajahi Penang, perempuan itu kembali bertemu dengan seorang turis bule tampan, yang tak sengaja terlibat insiden kecil yang melibatkan kabin pesawat. Lelaki tampan itu bernama Wira, dan berdarah setengah Indonesia. Abby dan Wira berusaha mengenal satu sama lain. Mereka berdua menjelma sebagai travel partner. Dengan mudahnya Abby dan Wira begitu terbuka saat saling menceritakan kisah hidup masing-masing. Wira dengan pekerjaannya sebagai traveller dan blogger, dan Abby dengan pekerjaannya sebagai ilustrator dan pengusaha greeting card. Abby perlahan-lahan mulai menaruh kepercayaan kepada Wira, ketika perempuan itu berani menceritakan perihal Andre kepadanya.
"Aku selalu percaya cinta itu sama dengan luka. Kita mungkin ngira waktu bakal nyembuhin atau ngilangin bekasnya, tapi sebenernya nggak. Bekasnya cuma menipis. Sama kayak cinta."
"One bad day is just that; one bad day. Jangan sampai satu hari buruk merusak kebahagiaan yang sedang mengantre untuk menghampiri kehidupan kita."
Wira menjadi travel partner yang menyenangkan, memandu Abby ke tempat-tempat menarik, bahkan membantu Abby untuk melepaskan kesedihannya. Wira berusaha membuat Abby kembali tersenyum dan melupakan hari-hari gelapnya. Mereka berpetualang ke Penang, kemudian Singapura, untuk bertemu Jiyad dan Noura, sahabat Wira. Menyaksikan kebahagiaan mereka bersama putri kecilnya. Abby mengetahui bahwa dibalik sikap supelnya, Wira masih berusaha memendam perasaannya kepada Adhia, sahabat yang dicintainya namun harus direlakannya untuk lelaki lain. Abby dan Wira sama-sama sedang saling menyembuhkan, bersama-sama memupuk memori baru di setiap sudut kota yang mereka jejaki. Sampai suatu hari, setelah pertunjukan balet yang mereka saksikan, Andre muncul membawa jawaban tentang pertanyaan yang menghantui Abby selama ini. Apakah Abby akan kembali merajut kebahagiaan bersama Andre, ataukah memutusnya lalu merajut kenangan baru bersama Wira?
"Bahagia itu bukan tentang apa yang udah kamu lakuin, buatku bahagia itu tentang mensyukuri hidup dan menikmatinya sebaik mungkin. Dan, itu sama sekali nggak sederhana."

Saya sangat jarang menonton film romansa barat, sehingga saat menemukan sinopsis yang tertera di kover belakang My Wedding Dress, saya seketika tertarik. Mantan calon pengantin wanita yang bepergian mengenakan gaun pengantinnya? Seems interesting. Terlihat seperti kisah-kisah romansa luar negeri. Ditambah lagi dengan desain kover yang luar biasa cantik, membuat saya akhirnya membeli novel ini lewat pre-order Dy Lunaly. Saya begitu ingin mencicipi kisah Abigail, The Runaway Bride

Kisah ini dibuka dengan kebahagiaan Abby di hari pernikahannya. Apa yang dirasakan perempuan ketika sebentar lagi menjadi seorang istri. Saya membaca bagian ini dengan senyuman, ikut merasakan aura kebahagiaan yang diantarkan Dy Lunaly melalui sudut pandang Abby. Tentunya hal ini membuat keuntungan besar, karena apa yang dirasakan Abby lebih mudah tereksplorasi dengan POV 1. Kemudian, senyum saya ikut lenyap ketika kabar mengejutkan itu datang. Pernikahan yang batal. Saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Beberapa penggalan kisah Abby-Andre yang romantis dan hangat tentu sangat bertolak belakang dengan keputusan Andre yang kabur di hari pernikahannya. Apa yang salah? Kemudian hal ini menjadi misteri, yang akan segera terjawab menuju akhir halaman. 

Proses 'menyembuhkan hati' ala Abby memang mungkin akan terlihat biasa. Namun bagaimana jika dia membawa gaun pengantinnya? Memakainya di setiap tempat yang dia kunjungi. Tentu akan menjadi lebih dari biasa. Wira yang dia temui di perjalanan, yang menjadi seseorang yang mewarnai perjalanan Abby, mengubah pandangan Abby terhadap definisi dari perjalanan juga membuat saya enjoy saat membacanya. Novel ini mengutip banyak hal tentang bagaimana memaafkan diri sendiri atas kejadian buruk di masa lalu, mengajarkan untuk tidak terus menerus tenggelam dalam kesedihan, dan hal-hal semacam itu. Yang dapat saya simpulkan adalah, lewat Wira dan Abby, Dy Lunaly mencoba membawa pesan tentang pentingnya menikmati hidup, menjalani hidup tanpa memikirkan hal-hal buruk yang akan terus terjadi. Terus mencari kebahagiaan tanpa memikirkan konsekuensi dan resiko yang akan terus ada. Menjalani hidup layaknya Wira yang menjalani pekerjaannya dengan tanpa beban. 

Abigail adalah kebanyakan perempuan di dunia ini. Impulsif, selalu memimpikan hal-hal indah, susah move on, mudah galau, dsb. Sebagian halaman di novel ini sangat menunjukkan Abby yang selalu teringat kenangan. Tidak, itu tidak berlebihan. Siapa yang akan mudah bangkit ketika harus dihadapkan pada kenyataan pahit? Disini karakter Abby cukup realistis, apalagi ketika dia terus menerus teringat kepada Andre saat menemukan hal-hal kecil yang mengingatkannya kepada lelaki itu. Yang saya pertanyakan disini hanyalah keinginan Abby untuk memakai gaun pengantinnya. Saya pikir hanya sehari, ternyata di hari berikutnya tetap dia gunakan. Itu adalah detail kecil yang cukup menganggu saya selama membaca novel ini, but no big problem.

Sedangkan Wira, tipe lelaki baik-baik yang ramah. Bagaimana bisa bule tampan seperti dia cepat akrab dengan perempuan Asia yang berpakaian tidak wajar seperti Abby? Profesinya pun menjadi alasan lain bagi saya untuk mengaguminya. Blogger sekaligus traveller, pekerjaan idaman. Saya salut dengan Dy Lunaly yang mengangkat profesi yang jarang diceritakan di novel lain. Berkat dia, Abby tidak hanya menjelajahi Penang. Saya bahkan baru tahu bahwa Penang itu menarik setelah membaca novel ini. Pembaca disuguhkan tempat-tempat menarik yang menjadi latar interaksi Abby-Wira. Singapura dan Menjangan juga menjadi salah satunya. Ketiganya digambarkan Dy Lunaly dengan sangat mendetail, sehingga cukup bisa terbayang dengan baik di benak pembaca.

Saya sangat menyukai hubungan Abby-Wira, meskipun agak terlalu cepat terbangun. Chemistry-nya cukup dapat walaupun diceritakan hanya travelling beberapa hari karena hampir setiap hari mereka menciptakan momen berdua. Favorit saya adalah adegan di IKEA. Merupakan hal baru, dimana salah satu adegan manis diceritakan di toko furnitur. Dy Lunaly mampu membangun suasana hangat antara Abby-Wira dengan menyisipkan salah satu dialog dari film (500) Days of Summer. (Saya akan menontonnya setelah ini!). Bentuk perhatian-perhatian yang diberikan Wira juga memperkuat hubungan yang terjalin.

Apa yang saya dapatkan tentang pertanyaan mengenai Andre akhirnya terjawab, tetapi sangat mengejutkan. Saya tidak berpikir dan tidak berharap akan seperti itu jadinya, namun itulah yang terjadi. Meskipun begitu, saya tetap menyukai hal itu karena Dy Lunaly menceritakannya dengan alasan yang baik, sehingga tidak terasa seperti sesuatu yang dipaksakan, melainkan memang begitulah yang seharusnya terjadi jika melihat masa lalu Andre-Abby. 

My Wedding Dress menjadi karya Dy Lunaly yang paling saya sukai. Kalimat-kalimat yang ditulis cukup mengalir sehingga saya tidak merasa bosan saat membacanya. Adegan-adegan Abby-Wira juga membuat saya terus membaca novel ini sampai habis. Mungkin hanya detail kecil seperti gaun pengantin yang dipakai setiap hari itu saja yang cukup menganggu, selebihnya saya menikmati membaca My Wedding Dress. Bagi yang ingin mengetahui rahasia tentang bagaimana caranya melanjutkan hidup setelah kejadian buruk, dan butuh motivasi besar untuk melupakan kesedihan, My Wedding Dress akan sangat saya rekomendasikan! 
"Enjoy your life whether it's up or down. Life is always like a rollercoaster. You have the right to be afraid, but try to climb into the front seat, thrown your arms in the air, and enjoy the ride. Find the joy in all choices you make. Remember, in the end good girls always win."

Share:

0 comments