Complicated Thing Called Love - Irene Dyah | Book Review


Judul: Complicated Thing Called Love
Penulis: Irene Dyah
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 256 halaman
Buntelan dari @aikairin
"Cinta membuat kita bahagia walaupun hanya sementara. Tapi itu lebih baik daripada tidak mengalaminya sama sekali."
Bagi Nabila, cinta adalah hal yang rumit. Tidak, jika dia bebas menentukan pilihannya sendiri. Namun dirinya tidak bisa. Nabila selalu menurut kata ibunya. Nabila tidak boleh pacaran saat sekolah, dia lakukan. Nabila harus mengambil beasiswa di Jepang, dia lakukan. Selama ini Nabila percaya, titah ibunya adalah yang terbaik bagi dirinya. Apalagi semenjak kejadian hubungan Nabila dengan seorang cowok bernama Bayu--cinta monyetnya. Nabila yang merupakan anak pintar dan rajin, tak disangka nilainya tiba-tiba bobrok. Ranking satu tidak lagi digenggamnya.
Alasan ibunya yang tak pernah memperbolehkan Nabila pacaran, bertambah setelah melihat latar belakang Bayu yang berbanding terbalik dengan Nabila. Semenjak sialnya nasib Nabila karena mengikuti kemauannya sendiri, gadis itu bertekad untuk selamanya mengikuti apa kata ibunya. Termasuk memilihkan gadis itu jodoh.
"Pasangan menikah tidak bisa ditukar dan diganti semudah baju baru yang ternyata tidak kamu sukai. Jangan mengandalkan logika untuk menetapkan hatimu. Karena jelas ini bukan ilmu eksakta."
Bagas, lelaki high-quality yang dipilih ibunya sebagai calon suami Nabila. Bagas tampan, pintar, dan kaya--semua poin yang tidak dimiliki Bayu, dimilikinya. Bagaimana ibu Nabila tidak semangat menjodohkan Nabila dengan lelaki itu? Bagas dan Nabila sama-sama orang Indonesia yang tinggal di Jepang, hal tersebut mempermudah interaksi mereka setiap kali berdua. Walaupun begitu, Nabila tak kunjung dapat merasakan cinta menyusup perlahan di hatinya. Pun, sampai Bagas berani melamarnya di atas Bianglala Yokohama dengan cincin cantik yang tak berani dibayangkan Nabila. Bukannya menerima, Nabila bahkan tidak pernah ingin hal ini terjadi. Sang ibu meminta Nabila dan Bagas untuk kembali kerumah mereka, di Jogjakarta. Setelah itu, Nabila berani bertaruh, tanggal pernikahan mereka akan segera digaungkan.
"Keinginan terbesar orang yang mencinta adalah mendapatkan balasan atas cintanya. Dan apabila balasan cinta itu sudah ditemukan, apakah layak untuk melepaskannya begitu mudah? Sementara balasan itu demikian berharga, dan bisa jadi tak ada gantinya."
Di saat kegalauan itu menghantui hati Nabila, ada sahabat-sahabat Nabila yang setia membantunya. Sora, Aalika, Dania, serta Dewi. Sora kemudian membagi pengalamannya di tengah langit Verona yang kemerahan, bersama seorang lelaki misterius bin aneh bernama Langit. Sora pertama kali bertemu dengannya, ketika lelaki itu tak sengaja menabrak Sora dalam kerumuman pengunjung rumah Juliet. Kemudian, lelaki itu berusaha sekeras mungkin untuk berkenalan dengan Sora yang tak peduli. Kemudian Aalika dan kisah cinta terlarangnya dengan Rain, yang dia temui pertama kali di sebuah kapal pesiar. Aalika kemudian memberanikan diri untuk mengambil keputusan sangat besar di Chiang Mai. Dania, dan pertemuannya dengan Caspar, lelaki hantu yang menghilang secara misterius di pagi ketika perempuan itu terbangun. Lelaki yang memujinya cantik di saat tidak ada orang lain yang setuju. Lalu Dewi, dengan nostalgianya bersama Dewa di Shizuoka. Kehidupan rumah tangga mereka hambar, setelah mereka kehilangan salah satu harta terbesarnya. Maka, Jepang-lah kini yang menjadi satu-satunya harapan bagi rumah tangga mereka.
"Barangkali perasaan itu bisa hilang, menyurut, tak tampak dari luar seperti salju puncak Gunung Fuji pada musim panas. Tapi sebetulnya dia tetap ada di sana. Dan, perlu ada musim dingin untuk selalu menambah volume perasaan itu, mengembalikan eksistensinya agar selamanya tetap bertahan."
Sora yang tegas dan bijak, Dania yang selalu ingin membuat semua orang bahagia, Aalika yang selalu menantikan percikan cinta, Dewi yang selalu sarat akan teori. Keempatnya bergantian meyakinkan Nabila dengan problemanya, membantu Nabila berpikir beribu kali tentang salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya. Menerima Bagas, si lelaki baik-baik untuk menjadi teman hidup selamanya, namun gadis itu tak mencintainya, atau tetap berpegang teguh pafa perasaannya kepada Bayu, cinta monyetnya yang kembali ditemuinya saat reuni sekolah?  
"Semua sisi kehidupan ini adalah perjudian. Tidak ada yang pasti, bukan? Bahkan tidak ada yang abadi."
***

Mungkin, bagi pembaca yang tidak tahu apa saja yang akan tertulis dalam buku ini, akan menganggap ceritanya "rumit". Bagaimana tidak? Di awal halaman sampai beberapa halaman selanjutnya, pembaca akan disuguhkan kisah sahabat-sahabat Nabila, yang nggak ada hubungannya secara langsung dengan kisah cinta Nabila sendiri. Empat kisah berbeda, diceritakan secara singkat, seperti cerpen. Tetapi hal ini-lah, yang memperkuat esensi judul buku ini sendiri, Complicated Thing Called Love. Ternyata, cinta memang serumit itu. Novel ini mengangkat tema yang sering dipertanyakan namun kita sendiri pun terkadang tidak bisa menjawabnya; mana yang akan kamu pilih? Cinta baru namun nggak menggebu-gebu tetapi menghasilkan rasa aman, atau cinta lama yang menghadirkan warna-warna baru di hidup kamu?

Tidak, empat kisah sahabat Nabila tidak ditulis tanpa tujuan tertentu. Tentu dia bukan kisah pemanis untuk menebalkan jumlah halaman buku ini. Empat kisah itu, menjadi salah satu pertimbangan bagi Nabila untuk memutuskan; kearah mana hatinya akan berlabuh? Kisah-kisah tersebut juga membangun opini pembaca, tentang apa itu cinta, apa sebenarnya yang membuat cinta ada. Yang saya tangkap, cinta bisa timbul dari perasaan tidak suka. Cinta bisa timbul ditengah perbedaan yang besar, yang membuat kehidupan lebih berwarna. Cinta bisa tumbuh saat seseorang terkagum atas hal kecil yang dilakukan lawan jenisnya. Cinta bisa sembunyi, di saat pasangan tidak mau mengusahakan, tetapi dia tidak akan pernah hilang.

Nabila, si gadis bimbang yang terjebak diantara cinta dua lelaki. Di satu sisi, gadis itu merasa harus mengikuti instruksi ibunya yang dirasa selalu tepat sasaran. Tetapi di sisi lain, Nabila merasa perlu mengusahakan dan mengejar kebahagiaannya sendiri tanpa intervensi sang ibu. Alhasil, Bagas yang begitu sempurna berhasil "ditolaknya". Nabila bersikap seperti gadis kebanyakan, yang hatinya tetap akan tertumbuk pada cinta lama, meski cinta baru yang dirasa lebih baik telah hadir. Nabila terbiasa hidup di zona nyamannya, di batas aman, jarang mengambil resiko, tetapi kali ini dia harus melakukannya saat kembali menjalin hubungan dengan Bayu. 

Sementara Bagas, si lelaki idaman. Selalu setia meski sudah disakiti. Tipe lelaki yang selalu bisa membuat perempuan manapun merasa aman dan dicintai. Singkatnya, dia-lah calon suami ideal. Sedangkan Bayu, lelaki yang sifatnya masih "cowok banget". Pemusik yang selalu berhasil membuat para gadis meleleh mendengar permainan gitarnya, selalu membuat Nabila menjadi sasaran dari tatapan iri para gadis pemuja Bayu tersebut. Menjalin hubungan dengan Bayu seakan lebih berwarna, karena jiwanya lebih "muda". Walaupun sikapnya manis, tetapi lelaki seperti ini belum tentu cocok dijadikan seorang suami. 

Kisah Nabila diceritakan lewat POV 3, meskipun begitu, ceritanya dapat tetap tereksplor dengan kuat. Saya sangat menyukai segala detail yang dituliskan Irene Dyah, termasuk detail tempat, suasana, dan apa yang dirasakan si tokoh. Gaya penulisan yang disajikan Irene Dyah sangat memukau. Tulisan beliau begitu kaya akan diksi. Sampai suatu adegan pun, bisa didekskripsikan sampai satu paragraf panjangnya, dengan vokabuler yang begitu beragam. Khususnya pendeksripsian tentang setting dan suasananya; Shizuoka, Tokyo, Jogjakarta, dan Bangkok, sangat wajar dapat dibayangkan dengan baik karena ternyata Irene Dyah sudah menjelajahi semua tempat-tempat itu. Cara berceritanya juga begitu mengalir dan unik, membuat saya selaku pembaca kagum atas tulisan-tulisannya. 

Interaksi antara Nabila dan ibunya menunjukkan sisi kekeluargaan yang sangat kental dalam novel ini; mau bagaimana pun, seorang ibu selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya meski caranya tidak dapat diterima oleh sang anak. Terjadilah disini, perkembangan hubungan antara Nabila dengan sang Ibu. Bagaimana nantinya mereka bisa mengerti satu sama lain. Karakter Ibu Nabila sangat kuat berkat penggambaran Irene Dyah tentang pengalaman di hidup Nabila, setiap kali ibunya menyuarakan keputusan untuk Nabila ambil. Hampir selalu terbukti baik, meskipun waktunya tidak tepat. Mungkin, bagian tentang inilah yang mesti saya cerna lagi. 

Secara pribadi, meski kisah Nabila adalah kisah utama, justru kisah para sahabat Nabila-lah yang mampu mencuri perhatian saya, apalagi kisah milik Aalika-Rain. Entah bagaimana, semua tokoh lelaki di novel ini rasanya hampir sempurna, khususnya Rain. Lelaki yang begitu setia menemani Aalika meski kemungkinan mereka bersama sangatlah kecil jika menilik prinsip Aalika yang sangat memegang teguh komitmen. Interaksi mereka di Chiang Mai membuat saya tersenyum ketika membacanya. Dari empat kisah yang ada, saya paling tersentuh pada kisah Aalika-Rain, yang dimana cinta Rain terlihat begitu tulus, meski Dewa, suami Dewi juga setianya sebelas-duabelas dengan Rain. Untuk kisah Dewa-Dewi sendiri, ada hal baru yang dapat saya tangkap, bahwa memang cinta perlu terus di 'charge' supaya tetap hangat dan tidak habis, dan cara yang digunakan Dewa-Dewi pun sangat manis. Walaupun begitu, tetap, tokoh favorit saya adalah Rain! 

Dalam cerita ini, jangan coba-coba untuk menebak-nebak jalan cerita, karena mungkin, kamu akan tertipu seperti saya (dan mungkin beberapa pembaca lainnya). Alur yang digunakan dalam novel ini tidak terlalu jelas. Kadang maju, kadang mundur kembali. Maka pembaca harus fokus dan pintar menata cerita agar nggak ada bagian yang terlewat. Banyak bagian-bagian yang membuat saya yakin, bahwa apa yang terjadi selanjutnya akan seperti ini, namun seringnya saya salah. Untuk ending pun, prediksi saya meleset, karena terbawa kisah di bab-bab sebelumnya. Meski penataannya waktunya dibuat sedikit "berantakan", seakan kita dilempar-lempar oleh mesin waktu, tetapi justru disitu-lah letak keseruannya; memberikan kesan tersendiri sekaligus aneh--in a good way (co: loh, kok tiba-tiba ceritanya begini? *lalu kembali ngecek halaman-halaman sebelumnya*)--seusai membaca novel ini. Recommended bagi yang ingin mencoba karya Irene Dyah! :) 
"Dengarkan kata hati, bagaimanapun cinta tidak bisa ditipu."

Share:

2 comments

  1. Jadi penasaran deh, La. Aku penasaran aja eksekusi dari cerita sahabat nabila. Apa hubungannya?
    Terus, penasaran juga sama kenapa Bagas dan Bayu ini berkeliaran di kehidupan Nabila. Hemm. Menarik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada hubungannya kok Kak, tapi lebih ke interpretasi masing-masing pembaca menurutku. Tapi asli, seru-seru banget kisah sahabat-sahabtanya Nabila. Parah. Kalau Bagas kan dijodohin sama Nabila, kalau Bayu, kayak cinta monyetnya Nabila gitu ;D Coba baca aja Kak kalau penasaran kelanjutannya gimana

      Delete