Mermaid Fountain - Dyah Rinni | Early Review + How to Get The Book


Judul: Mermaid Fountain
Penulis: Dyah Rinni
Penerbit: Writerpreneur Club
Tebal Buku: 224 halaman
Harga: 59.000
Buntelan dari @deetopia
Goodreads: [klik disini]
"Cinta? Aku melihat bagaimana seorang pangeran laut jatuh cinta pada seorang putri nelayan. Aku melihat seorang gadis sepertimu mencintai seorang pelaut. Mereka semua berakhir sama. Mati menjadi buih atau berharap mereka tidak pernah jatuh cinta pada manusia!"
Siapa yang tidak mengenal seorang Laguna Senna? Tampan, gagah, tinggi, serta memiliki suara bariton. Seluruh mata wanita seakan terkunci padanya tiap kali Laguna sedang bernyanyi diatas pentas. Sebagai penyanyi papan atas yang memiliki segudang bakat serta penggemar, membuat Laguna Senna bersikap angkuh. Lelaki tampan yang ambisius itu kerap kali berbuat sesuka hatinya,
seperti memecat para asistennya yang menurutnya bekerja dibawah standar. Tetapi Prima, selalu manajernya, tidak setuju dengan pendapat Laguna. Lelaki itu berpikir Laguna terlalu berlebihan memecat orang hanya karena kecacatan kecil dalam hasil kerjanya, seperti salah mengukur suhu air minumnya. Prima juga tidak setuju dengan aksi panggung Laguna yang dianggap terlalu mengekspos tubuhnya, tetapi Prima tetap bertahan, demi kehidupan keluarga kecil yang sudah memberinya sesosok anak perempuan cantik bernama Arielle. Tentu, bukan hanya Laguna satu-satunya penyanyi pria yang sedang digilai di Indonesia. Ada pula Jay Jevlin, rival terbesar Laguna. 

Jay Jevlin adalah seorang penyanyi muda yang suaranya tak kalah menawan, maka dari itu Laguna tak menyukainya, ditambah sikap Jay Jevlin yang diam-diam juga membenci sosok dirinya. Persaingan mereka semakin tercium jelas, ketika Prima memberi kabar bahwa Vivian, seorang penyanyi wanita yang cantik, sekaligus mantan kekasih Laguna, akan berduet dengan Jay Jevlin menyanyikan lagu hits ciptaan guru musik Laguna. Prima menyarankan Laguna untuk segera bertindak jika tidak ingin Jay Jevlin merebut kepopuleran lelaki itu, agar Laguna mau membujuk Vivian untuk mengganti partner duetnya. Laguna awalnya sangat menolak, namun demi karirnya, mau tak mau Laguna harus merendahkan sedikit harga dirinya. 
"...semakin dalam cinta seseorang pada kekasihnya, semakin besar kekuatan yang dimiliki sang kekasih untuk melukai hatinya..."
Sementara itu, Mairin Malya, seorang chef di restoran warisan ayahnya, Putri Duyung, sedang berpikir keras, bagaimana caranya mempertahankan restorannya agar tetap berdiri melawan Fishteria. Bara, sepupunya sekaligus manajer Putri Duyung selalu berada disamping Mairin untuk menemani dan membantu gadis itu, tetapi tidak untuk malam itu. Malam dimana Mairin kehilangan indra penciumannya berkat peristiwa perampokan di Putri Duyung. Tekad terlalu kuat untuk mempertahankan restoran impian ayahnya, hingga mengindahkan keselamatan dirinya sendiri. Alhasil, kini Mairin tak lagi bisa mencium bau maupun mencicipi banyak rasa. Ketika ia menyesap secangkir teh, hanya air hangat biasa yang dirasakannya. Mairin menyimpan rapat-rapat rahasianya dari semua orang, khususnya Bara. Perempuan itu tidak mau Bara mengkhawatirkan dirinya.
"Nikmati proses memasak Anda, bukan untuk menciptakan sesuatu yang sempurna, bukan untuk membuat pasangan Anda terkesan, tetapo persembahan kepada orang yang Anda cintai. Karena esensi masakan yang sesungguhnya adalah cinta."
Sampai pada suatu hari, tiba-tiba ada house call memasak kepada Mairin. Tentu saja ini adalah kesempatan emas, maka Mairin menerima tawaran pekerjaan itu. Ternyata, Laguna-lah yang mengundangnya, Pada pertemuan pertama, Mairin memiliki kesan yang buruk kepada Laguna. Tetapi di pertemuan berikutnya, di depan sebuah air mancur berpatung putri duyung, Mairin memetik kesan yang berbeda dari seorang Laguna Senna. Ternyata, lelaki itu tak seburuk yang ia duga. Bahkan, mereka berdua akhirnya melakukan kepercayaan yang berkembang di masyarakat; melempar koin ke dalam kolam lalu mengucapkan keinginan terdalam agar dikabulkan. Namun yang terjadi adalah, keduanya malah mendapatkan kesialan. Salah satu terbaik Mairin pindah ke restoran saingan mereka, sementara itu suara bariton Laguna Senna tiba-tiba menghilang. Laguna bahkan dihantui mimpi buruk berturut-turut, yang terus menghadirkan sosok Mairin sebagai penyihir, dan dirinya sebagai si duyung. Apa yang sebenarnya terjadi diantara Laguna dan Mairin? Apakah Mermaid Fountain tempat mereka bertemu kembali, memang merupakan penyebab kesialan bagi mereka berdua?
"Bagaimana rasanya kalau kamu kehilangan hal yang paling penting bagimu dan kalau kamu mengungkapkan itu pada dunia, maka duniamu juga akan ikut runtuh?"

Re-telling dongeng memang kerap kali dilakukan oleh banyak penulis. Saya pernah membaca kisah re-telling Cinderella, juga Hansel dan Gretel. Kini, saya mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu pembaca pertama kisah re-telling The Little Mermaid karya Dyah Rinni, salah satu penulis favorit saya. 

Dalam menulis kisah re-telling dongeng, yang ditonjolkan adalah kesamaan ciri dari dongeng tersebut dan kisah yang akan kita tulis, bukan plot yang 100% sama. Menulis re-telling dongeng menurut saya sungguh sulit. Mengapa? Karena penulis harus benar-benar kreatif menggali sesuatu yang baru dari dongeng itu, tanpa menghilangkan esensi dari isi dongeng itu sendiri, agar saat pembaca menikmati karya mereka, tetap akan terbayang dongeng yang diangkat penulis. Apalagi, dongeng The Little Mermaid cukup sulit untuk dicari sesuatu yang baru. Dalam hal ini, Dyah Rinni menurut saya sangat berhasil. Uniknya, Dyah Rinni menyelipkan potongan kisah The Little Mermaid di tiap babnya, yang akan bersinggungan dengan kisah Mermaid Fountain.

Laguna Senna yang diibaratkan sebagai sang duyung, sementara Mairin adalah sang penyihir merupakan hal baru dari kisah ini. Laguna Senna, digambarkan Dyah Rinni sebagai sosok yang arogan, angkuh, dan menyebalkan. Tetapi dibalik sifat negatifnya itu, Laguna memiliki kasih sayang yang teramat sangat bagi sang Ibu yang telah tiada. Disinilah salah satu keberhasilan Dyah Rinni, menciptakan tokoh utama yang memiliki segudang kekurangan, namun di satu sisi, memiliki sifat yang tak akan dapat kita benci, disamping fisiknya yang sempurna. Sementara Mairin, seorang chef dengan warna rambut nyentrik yang memiliki semangat membara untuk mengejar mimpinya dan mimpi orang tersayang, cinta memasak, tipe pekerja keras yang tak ingin membebani orang lain. Mairin bukanlah perempuan supercantik layaknya Vivian, tetapi kegigihannya dalam bekerja itulah yang membuat pembaca akan mudah menyukainya.

Sesuatu yang mempertemukan Laguna dan Mairin hampir selalu berhubungan dengan laut; entah itu makanan seafood, kolam Putri Duyung, bahkan pantai. Kisah Mermaid Fountain ditulis dengan POV 3 dari sisi Mairin dan Laguna. Diawali dengan perkenalan siapakah Mairin dan Bara, kemudian bab selanjutnya penuh dengan deskripsi tentang Laguna serta dunia keartisannya. Disini, pembaca dapat lebih mengenal dua sosok tokoh utama dengan baik berkat pendeskripsian Dyah Rinni yang menunjukkan karakter mereka berdua lewat action dan dialog. Saya merasakan interaksi yang terbangun antara Laguna dan Mairin sangat menarik. Bagaimana akhirnya Laguna yang begitu angkuh, kemudian harus menyembunyikan identitas dirinya ketika harus berada di restoran Mairin. Bagaimana sosok Laguna direndahkan, dan lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menindaknya. Bagaimana akhirnya karaketer Laguna berkembang seiring kebersamaannya dengan Mairin. 

Ide yang baru dihadirkan Dyah Rinni lewat mimpi-mimpi Laguna, yang mulanya saya kira hanyalah bagian yang tidak begitu penting dari cerita. Nyatanya, hal tersebut akan menjadi titik balik di hidup Laguna, betapa mimpi absurd itu ternyata mempengaruhi dirinya begitu besar. Betapa seorang Laguna yang mungkin terlihat begitu apatis terhadap hal yang tidak menyangkut dirinya, akhirnya mulai memikirkan hal lain selain dirinya sendiri. Betapa Laguna, yang tidak saya kira mengetahui seluk beluk dongeng The Little Mermaid, malah menyatakan nasibnya mirip dengan si putri duyung.

Meski banyak hal-hal misterius dan ajaib yang tidak bisa dijelaskan oleh akal, seperti hilangnya suara Laguna yang tiba-tiba, serta mimpi-mimpinya yang berkaitan dengan Mairin, tetapi inilah yang menjadi daya tarik utama Mermaid Fountain, ketika sisi dongeng begitu mempengaruhi berjalannya kisah ini. Ketika si kolam putri duyung yang dianggap remeh ini, akhirnya bekerja sesuai kehendak takdir dan semesta pun mendukungnya. Di awal, mungkin kamu nggak akan langsung menyadari keberadaan penting si Mermaid Fountain yang hanya muncul sekali, seperti saya yang akhirnya lebih fokus pada hubungan Laguna-Mairin-Vivian-Jay. Tetapi, kamu wajib mencari tahu kelanjutannya sampai akhir, jika kamu ingin mendapatkan plot twist yang dapat menghangatkan hatimu. 

Gaya penulisan Dyah Rinni masih sama ketika pertama kali saya membaca karyanya yang lain; Unfriend You. Tulisannya mengalir dengan pilihan diksi yang mudah dimengerti. Meski terdapat banyak typo yang sedikit menggangu, mengingat ini adalah buku yang diterbitkan lewat jalur indie, tetapi kualitas lainnya tak kalah dengan buku yang dilahirkan dari 'rahim' penerbit mayor. Bahkan pilihan font, adanya ilustrasi yang menghiasi kertas tiap halaman pun menyerupai ciri buku dari penerbit besar. Saya pun sangat mengapresiasi hal ini, ketika Dyah Rinni berusaha untuk membuat pembaca menyukai buku indie lewat ilustrasi dan tata letak yang cukup bagus. 

Konflik dalam Mermaid Fountain berfokus pada masalah pribais Laguna dan Mairin yang akhirnya bersinggungan, ketika akhirnya Mairin harus mengenal sifat asli Jay Jevlin yang begitu tidak menyukai Laguna. Sesuatu yang akhirnya menghubungkan Laguna dan Mairin juga tidak terkesan dipaksakan, meski itu berbentuk mimpi yang menyebabkan Laguna ngotot untuk bertemu Mairin. Lambat laun, pembaca akan mengerti meski diawal mungkin masih meraba-raba dimana letak hubungan antara cara Laguna untuk 'mengembalikan' suaranya dengan tinggal di restoran Mairin. Banyaknya deskripsi makanan dan dessert yang bertebaran pun berhasil dilancarkan Dyah Rinni hingga membuat saya merasa lapar saat membacanya. Jika tentang mekanan saja berhasil, bagaimana dengan deskripsi hal lainnya?

Ketika pertama kali mendengar bahwa Dyah Rinni akan menerbitkan novel ini, saya sangat excited. Saya sangat menunggu terbitnya novel ini, dan ketika tiba kisahnya di depan mata saya untuk dinikmati, saya tidak dibuat kecewa. Banyak alasan yang membuat kamu akan menyukai Mermaid Fountain. Kisah tentang seorang chef wanita dan penyanyi pria memang mungkin sudah menjamur, tetapi kisah mereka berdua yang dibumbui dongeng The Little Mermaid? Hanya Mermaid Fountain yang punya. ;)
"Cinta yang paling murni adalah cinta yang berusaha membahagiakan orang lain, meski untuk itu kita harus berkorban."

Kamu bisa mendapatkan #MermaidFountain disini. Selamat berburu, guys! ;D

 

Share:

1 comments

  1. Nice artikel (y)
    Ditunggu kunjungan baliknya di http://www.dzikirsm.web.id/2015/06/tanda2-datangnya-bulang-ramadhan-puasa.html
    .
    .
    #SalamBlogger #Blogwalking

    ReplyDelete