The Stardust Catcher - Suarcani | Book Review


Judul: The Stardust Catcher
Penulis: Suarcani
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 184 halaman
Buntelan dari @Gramedia 
"Apa kamu lihat pohon-pohon itu, Joe? Seandainya kamu memang hidup sendiri, beginilah orang-orang disekelilingmu kelak. Mereka memang terlihat, tetapi sesungguhnya mereka tidak hadir buat kamu. Mereka hanya akan diam, sama sekali tidak bereaksi ketika kamu menangis, ketika kamu marah, ketika kamu membutuhkan."
Orangtuanya akan bercerai. Itulah yang membuat Joe tidak peduli lagi dengan keluarganya. Ayahnya sudah akan menikah dengan Amanda, calon ibu tirinya. Sementara sang ibu kandung, sudah tinggal berdua dengan kekasihnya, Abraham, bersama dua putri kembar lelaki itu. Sementara Joe, hanyalah anak tunggal yang merasa tak akan mendapatkan kasih sayang lagi selepas pengadilan menyatakan ayah-ibunya resmi bercerai.
Ditambah lagi dengan pertanyaan ibu dan ayah Joe, mengenai dengan siapa Joe akan tinggal. Itu membuat Joe semakin merasa bahwa dirinya tidak lagi diinginkan.
"Sejahat-jahatnya orangtua, hanya mereka yang akan tetap menyerukan doa untukmu, bahkan ketika kamu sudah melepas doamu untuk mereka."
Bahkan, saat dia akan pergi ke Bali bersama seluruh teman fakultasnya saja, ibunya memintanya membawakan oleh-oleh untuk calon anak kembarnya--calon adik tiri Joe. Di bandara menuju Bali, Joe tiba-tiba melihat sesosok perempuan berambut pirang yang mengenakan gaun putih yang tersenyum ke arahnya. Cowok itu bertanya pada teman-temannya, namun mereka tidak melihat sosok perempuan itu. Joe tentu heran. Anehnya, ketika cowok itu turun dari bus sesampainya di Bali, untuk buang air kecil di pom bensin, cewek itu ada didepan kamar mandi; menunduk untuk muntah. Joe mengira sosok perempuan itu adalah hantu. Ketika dia akan kembali ke rombongannya, busnya sudah menghilang, meninggalkan dirinya berdua dengan hantu yang mengaku bernama Sally Cinnamon itu.
"...kalian tercipta dari cahaya yang sama. Pada tubuh manusia, cahaya itu berupa jiwa. Jika kalian bertemu, maka saya utuh. Dan pada saat itulah saya bebas."
Menurut Sally, dirinya bukanlah hantu. Tetapi seorang peri jodoh yang akan membawa Joe semakin dekat kepada jodohnya yang juga berada di Bali. Joe tentu saja tidak mudah percaya, cowok itu selalu mencoba mengusir Sally, tetapi layaknya permen karet, peri itu susah lepas darinya. Sally bilang, dia tidak bisa pergi dari Joe sebelum Joe bertemu dengan jodohnya. Joe akhirnya mencoba fokus pada usahanya untuk kembali ke teman-temannya, berjalan di daerah asing di pelosok Bali; menembus kegelapan dan merasakan hawa dingin menembus tulangnya. Hanya Sally yang tidak merasa lelah sama sekali, bahkan, Sally yang kekanakan itu, beberapa kali berusaha menghibur dan membantu Joe, meski malah membuat cowok itu didatangi kesialan.
"...cahaya ini tidak akan pernah mati, Joe. Sekalipun sinarnya meredup, tetapi hangatnya akan tetap terasa di dalam sini."
Sementara itu, Mela Ayu, yang merupakan seorang therapist yang bekerja di Bali, mendapatkan kesialan yang sama saat berkunjung kerumah teman Australia-nya yang bernama Oscar. Berkat kecerobohannya, vila Oscar kerampokan, dan Mela menjadi korban penculikan para perampok yang dungu. Saat menyadari dirinya ada di dalam karung dan diletakkan di bagasi, Mela pasrah; mengingat penyakitnya pun mulai kambuh kembali. Di benaknya mulai terbayang bagaimana kelanjutan hidup adiknya, Ratih, tanpa dirinya dan kedua orangtuanya lagi. Sama seperti Joe yang juga mulai putus asa ketika dirinya jatuh ke dalam jurang ditengah perjalanan, terbayang sosok kedua orangtuanya yang mungkin tidak akan berduka saat kehilangan dirinya. Mereka telah memikirkan kematian yang siap datang menghampiri. Namun, apakah keputusasaan mereka akan terwujud sebelum mereka bertemu jodoh? Dapatkan Sally menghadirkan keberuntungan bagi mereka berdua? Ataukah kembali Sally hanya memberikan kesialan?
"Kadang dua katak yang tinggal di danau yang sama tidak pernah saling bertemu. Namun saat air danau surut dan makanan menyusut, keduanya dipertemukan oleh persaingan untuk mendapatkan makanan terakhir. Kamu tahu, pertemuan karena insiden itu, bisa jadi awal dari pertemuan-pertemuan kita yang tak terduga selanjutnya. Percaya saja!"

The Stardust Catcher mengandung unsur fantasi, berupa adanya peri. Disini adalah Sally Cinnamon, seorang cupid alias peri jodoh yang uniknya berlatarbelakang mitologi Nordik lengkap dengan dewa-dewinya yang dijelaskan cukup banyak. Entah, ini adalah murni fiksi karya Suarcani, ataukah memang benar tentang keberadaan peri jodoh dalam kepercayaan bangsa Skandinavia itu. 

So, kisah The Stardust Catcher lebih daripada sekadar pencarian jodoh Joe dan Mela, tetapi juga tentang arti keluarga dan pentingnya menghargai sesuatu yang kita miliki, mensyukuri anugrah yang telah diberikan Tuhan meski kadang kita masih merasa nggak adil. Pesan yang berhubungan dengan nilai dalam keluarga, akan kamu dapatkan pada kisah tentang Joe dan orangtuanya. Bayangkan, jika kamu tinggal di satu rumah bersama ayah-ibumu, namun di hati mereka berdua malah ada nama lain. Rumah mungkin terlihat ramai, namun kesepian akan sangat terasa. Suarcani berhasil menghadirkan aura kesedihan Joe menghadapi problema keluarganya, yang ditunjukkan dengan sikap defensif kepada kedua orangtuanya. Pembaca akan memahami, betapa wajarnya keinginan besar Joe untuk hidup sendiri, dan ketidakpercayaan dirinya akan kasih sayang orangtuanya. 

Sementara tentang menghargai sesuatu, akan kamu dapatkan dari kisah hidup Mela. Saya sangat bersimpati terhadap karakternya. Tipe perempuan mandiri dan kuat, yang bersedia mengorbankan hidupnya demi keluarga. Pekerjaannya sebagai therapist yang seringkali digoda oleh lelaki hidung belang tidak membuatnya terperosok ataupun geram. Mela menghadapi hambatan dalam hidupnya dengan gurauan dan canda tawa. Dia menjalani hidup dengan senyum, meski beban yang ditanggungnya sangatlah berat, tidak hanya kewajibannya mengurus adik, masalah finansial, juga penyakitnya yang cukup parah. Sementara Joe, remaja yang belum mengerti benar apa arti kehidupan dan bagaimana rasa ikhlas dan memahami akan punya pengaruh besar bagi hidupnya. Joe seperti remaja cowok kebanyakan, belum berpikir panjang tentang suatu hal. Satu yang paling saya sukai adalah, prinsipnya yang nggak mencari kebahagiaan lewat pasangan. Dengan kata lain nggak mau pacaran dulu.

Setengah buku bercerita tentang perjalanan Joe untuk mengejar rombongannya bersama Sally. Saya sempat berpikir, kapan akan ada titik pertemuan antara Joe-Mela? Dan apa yang akhir yang akan tertulis hanya dengan kurang dari 100 halaman? Saya bahkan merasa lebih klop dengan interaksi antara Joe-Sally yang lebih banyak tercipta, apalagi ketika Sally yang begitu perhatian dengan Joe meski Joe selalu menolaknya. Keseruan buku ini juga terletak pada perjalanan Joe di pelosok Bali tersebut. Hal-hal baru yang ditemui Joe selama perjalanan, mungkin bisa 'menginspirasi' pembaca tentang what-you-have-to-do, kalau kalian ketinggalan rombongan di tempat yang nggak kalian kenal. Saya cukup menikmati bagian ini, meski belum bisa menebak bagaimana kelanjutan kisah Joe dan Mela.

Young-adult ini hanya memiliki halaman yang terbatas, namun meski begitu tetap sarat pesan dan menjadi suatu kisah yang merupakan paket komplit, nggak terkesan diburu-buru atau dipaksakan. Poin plusnya adalah pengetahuan tentang mitologi Nordik itu, aura fantasi yang begitu kental; mempengaruhi seluruh alur cerita, juga seluk beluk Bali yang sangat dikenal baik oleh Suarcani yang memang tinggal di Bali. Bukan Kuta dan tempat-tempat mainstream lainnya yang disebut, tapi daerah-daerah yang bahkan baru pertama kali saya dengar namanya. Gaya penulisan Suarcani juga sangat menarik. Pilihan kalimatnya itu seperti hanya pembaca yang superpandai yang dapat mengerti maksudnya dalam sekali baca, soalnya terkadang saya harus membaca dua kali untuk mengerti maksud satu kalimat. Dialog dan narasinya cukup unik, apalagi kalimat yang menunjukkan sifat 'nyeleneh' dan 'ngasal' si Mela yang suka bercanda. 

Ending yang ditampilkan juga sedikit meleset dari perkiraan awal saya ketika baru mulau membaca buku ini. Sesuatu yang dimaksud dalam novel ini, disajikan dengan bentuk lain dari yang selama ini diinterpretasikan orang-orang. Ending-nya juga menghadirkan twist yang membuat grafik keseruan pembaca saat membaca kisah ini, menjadi menanjak. Meski begitu, tetap ada kekurangan kecil yang memang nggak begitu menggangu isi buku keseluruhan; seperti saat Mela dimasukan ke dalam karung dan ditaruh di bagasi, entah saya yang terlewat atau bagaimana, saya heran mengapa nggak ada usaha sedikitpun dia memberontak? Atau mencoba membebaskan diri meski belum tentu berhasil? Karena yang namanya manusia saya pikir akan berusaha untuk tetap hidup ditengah-tengah keadaan seperti itu. Juga, masih ada beberapa detail kecil yang tidak bisa saya sebutkan disini. 

Setelah membaca The Stardust Catcher, nama Suarcani mungkin akan menjadi salah satu penulis yang karyanya akan saya nikmati jika punya kesempatan. Untuk The Stardust Catcher, idenya sangat bagus dan cukup baru, namun menurut saya eksekusinya masih dapat lebih bagus lagi, meskipun ending dan pesan yang saya dapat sudah lebih dari cukup. :) 
"Kamu tahu bagaimana komposisi keluarga yang seimbang dan baik itu? Antara orangtua dan anak tidak ada yang memaksakan kehendak. Tidak orangtua, tidak pula anak. Mereka punya hak yang sama untuk memiliki kebahagiaan masing-masing, asalkan masing-masing pihak tetap kompromi akan satu hal. Komitmen."
(rating: 3,5)

Share:

0 comments