Heartling - Indah Hanaco | Book Review


Judul: Heartling
Penulis: Indah Hanaco
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 256 halaman
"...peristiwa itu meninggalkan trauma mengerikan. Menyisakan parut luka yang tak mungkin bisa sembuh oleh obat paling hebat sekalipun. Bahkan oleh waktu."
Amara Kameli kini menjadi pribadi yang dingin dan sulit didekati. Amara yang dulu sudah terkubur jauh di dalam dirinya. Kini, gadis itu merasakan efek traumatis kejadian menyeramkan yang dialaminya. Kejadian yang membuatnya merasa tidak punya lagi masa depan, kejadian yang membuat dirinya menjadi orang yang berbeda, kejadian yang membuat keluarga Amara tak lagi terasa seperti 'rumah', kejadian yang membuat Amara menjauhkan diri dari orang-orang sekitarnya. Dan, kejadian yang membuat dirinya tak lagi percaya dengan makhluk bernama lelaki.
Termasuk Pak Reuben, dosennya yang tampan, dan ternyata menaruh hati kepada Amara setelah sekian lama mencoba mendekati Amara lewat alibi makan bersama dirinya. Reuben ditolak mentah-mentah oleh Amara, bahkan Amara menunjukkan gestur ketakutan dan tidak suka saat didekati oleh pria itu.
"Monster itu, bayangan gelap yang merenggut paksa keriangan masa muda, sungguh membuat gadis itu menjalani neraka. Amara takjub dia tidak gila karenanya. Hanya setengah gila."
Selama setahun, gadis itu cuti kuliah tanpa kabar yang jelas. Menyendiri di rumah peristirahatan di Danau Toba untuk merenungkan kejadian yang telah menimpanya. Kejadian yang merenggut keceriaannya. Genap setahun, Amara memutuskan untuk kembali berkuliah, bertemu dengan Brisha Serenade, sahabatnya, yang sayangnya tak bisa mendatangi kelas yang sama dengan Amara akibat ketertinggalan Amara. Tetapi Amara mendapat teman baru, setidaknya menurut Sophie Lolita sendiri. Amara tak pernah meminta Sophie mendekati dirinya dan menjadi temannya. Tapi Sophie adalah gadis yang kelewat ramah, gadis itu tak pernah berhenti mencoba mendekati Amara meski seringkali Amara bersikap dingin padanya. Usaha Sophie pun tidak sia-sia, lambat laun Amara mulai bisa menerima kehadiran Sophie di sekelilingnya. Bahkan, Sophie pun jadi mengenal Brisha dan menjadi orang terdekat Amara.
"Aku cuma mau kalian berdua bersikap hati-hati. Jangan mudah percaya paa seseorang. Meski orang itu mengaku teman baikmu. Jangan sampai mengalami seperti yang terjadi padaku."
Suatu hari di pesta keluarga Brisha, Amara dikejutkan oleh ajakan seorang lelaki yang ingin mengenalnya. Seo Ji Hwan, begitu lah nama lelaki keturunan Korea itu. Ji Hwan adalah teman Arlo, sepupu Brisha. Ji Hwan boleh dikatakan adalah Sophie versi laki-laki, dengan keramahan yang sama. Sayangnya, ketakutan Amara akan lelaki membuat Ji Hwan seringkali mendapat penolakkan yang menyakitkan. Sampai suatu saat, akibat bujukan Brisha dan Sophie juga, gadis itu akhirnya mau membuka diri untuk mengenal Ji Hwan yang baik hati. Meski kedua sahabatnya itu sudah mengetahui pengalaman buruk Amara yang pernah menjadi korban pemerkosaan oleh temannya sendiri, Brisha dan Sophie berpendapat, bahwa Ji Hwan tidak seperti lelaki itu. Amara yang awalnya harus mengulum lolipop demi menelan ketakutannya saat berhadapan dengan lelaki, lambat laun merasa rileks saat bersama Ji Hwan.
"Aku terpaksa bertahan, bukan karena aku kuat. Aku nggak mau hidupku benar-benar hancur. Cuma itu yang bisa aku lakukan... bertahan hidup."
Ji Hwan tentu menyukai Amara sejak pertama mereka berjumpa, namun Amara tak kunjung memberi kesempatan. Lelaki itu tidak menyerah, dia terus berusaha sampai Amara akhirnya memiliki perasaan yang sama dengannya, meski berkali-kali dikecewakan karena pembatalan janji kencan sepihak oleh Amara, meski lelaki itu masih kebingungan melihat reaksi Amara yang tak menyukai kontak fisik dengan lelaki. Semakin sering mereka bertemu, Amara semakin tak bisa menahan perasaannya. Apa lagi setelah Marcello, lelaki yang memperkosa Amara muncul dihadapan gadis itu. Amara tahu, rasa suka terhadap seseorang tak bisa dikendalikan. Tetapi, apakah dirinya pantas bersanding dengan Ji Hwan? Apakah Ji Hwan masih menyukainya setelah lelaki itu mengetahui rahasia tergelap Amara? Apakah semua masih akan terasa menyenangkan, setelah hadirnya Marcello diantara mereka berdua?
"Cinta bukanlah hal sederhana, semuda apapun usia mereka. Amara tidak ingin memiliki cinta yang menyimpan rahasia dan menghancurkan orang yang dikasihinya."
***

Heartling adalah buku pertama sebelum Out of The Blue. Jika Out of The Blue bercerita tentang kisah Sophie, maka Heartling berkisah tentang Amara. Sempat penasaran saat saya membaca Out of The Blue, dan menemukan karakter Amara dengan Ji Hwan, pacanya yang orang Korea. Tentu sebagai K-Popers, pasti langsung excited. Akhirnya kesampaian juga menyelami kisah Amara dan Ji Hwan dalam buku ini. Sebenarnya apa hubungan antara Heartling dan kisah Amara-Ji Hwan? Ini salah satu yang saya sukai dari buku Indah Hanaco. Jika Out of The Blue berarti sesuatu yang terjadi unexpectedly, Heartling berarti seseorang yang walaupun sebelum mengobrol dengannya, kamu sudah merasakan adanya sesuatu yang connected antara kamu dan dia saat saling eye-contact. Dibalik judul yang unik, ada filosofi yang unik juga. Tetapi selain itu, ada lagi hubungan Heartling dan kisah novel ini. Apa? Yuk baca untuk menemukan jawabannya. ;)

Saya sedikit penasaran tentang tema pemerkosaan yang Kak Indah ambil karena buku sebelumnya yang saya baca juga mengangkat tema serupa. Sesuatu yang miris sekaligus menarik melihat apa yang sebenarnya dirasakan oleh korban pemerkosaan. Traumanya, kesedihannya, efek yang ditimbulkannya. Karakter Amara digambarkan sebagai gadis yang benar-benar rapuh, hobi menyiksa dirinya sendiri dengan berolahraga berlebihan untuk melupakan rasa sakit di hatinya. Efek negatif dari trauma benar-benar menghantui hidup Amara. Meski sudah separah itu, saya tidak kunjung merasakan simpati untuk Amara. Saya nggak merasa feel trauma dia sampai kesana. Bukan bagaimana, rasanya aneh jika dia merasakan trauma separah itu sedangkan saat dia mengalami kejadian buruk itu, dia nggak mengingat persis bagaimana detailnya, bahkan nggak ingat sama sekali. Dia nggak merasakan sakit hati saat itu, nggak merasakan putus asa saat mencoba melepaskan diri. Ada baiknya, Amara dibuat merasakan penderitaan saat mengalami kejadian itu, mengingat semua detailnya. Jadi saya bisa lebih memahami perasaan dia yang takut berhadapan dengan semua cowok.

Bukan hanya kisah Amara yang diceritakan, sepenggal kisah Sophie dan Brisha dan keluarganya juga diceritakan. Sophie dengan kesedihan yang terjadi di keluarganya, dia tidak tahu siapa ayahnya; Brisha yang mengalami kekerasan, dipukuli pacarnya. Saya sendiri lebih menikmati membaca kisah Brisha, saya harap ada lanjutan dari kisah mereka yang berfokus pada Brisha. Tiga sahabat ini sama-sama memiliki kisah sendu, sama-sama pernah tersakiti. Sama seperti di Out of The Blue, jalinan persahabatan diantara ketiganya sangat terasa. Mereka saling mendukung, saling membantu untuk mewujudkan kebahagiaan masing-masing. Karakter mereka bertiga dibuat berbeda, Amara yang dingin, Brisha yang cukup ceria namun polos, Sophie yang superceria, supel, dan jago menyembunyikan kesedihan. Mungkin karena itu, saya lebih menyukai Sophie dibanding Amara.

Ji Hwan, hero dalam novel ini. Ji Hwan digambarkan sebagai sosok yang tampan dan baik hati. Superromantis, sama seperti tokoh cowok dalam novel Kak Indah yang lain. Ini yang membuat novel Kak Indah digemari kalangan cewek-cewek berbagai usia, karena tokoh cowoknya benar-benar bikin mengkhayal. Semacam too good too be true, tapi saya yakin beberapa persen dari manusia di bumi ada yang seperti mereka. Adanya tokoh Zeus, kakak cowok Amara, juga sedikit membuat iri. Amara punya kakak cowok yang benar-benar ingin melindunginya. Walau di beberapa cara agak salah, tapi no problem-lah, namanya keluarga. Tapi, saya agak kurang sreg dengan penyebab dibalik perceraian orangtua Amara. Kalau memang seperti yang dipikirkan Amara, hmm, sangat disayangkan sekali. Harusnya saling bahu membahu menguatkan diri, tapi malah berpisah.

Saya merasa tokoh dalam novel ini nggak semua dapat porsi pas dan mungkin nggak begitu dibutuhkan, misalnya Pak Reuben. Saya pikir nanti twist atau klimaks-nya akan berhubungan sama dia. Nyatanya? Nggak. Kehadiran dia kayak nggak begitu penting. Saya malah lebih tertarik dibahas lebih lanjut mengenai kedekatan Marcello dan Amara di jaman sekolah dulu. Untungnya juga, tokoh Marcello-lah yang jadi sumber masalah lagi. Twist dalam cerita itu memang biasanya harus heboh, tapi saya merasa twist disini agak, hmm, ya nggak sesuai harapan saya. Walau saya sudah mencoba memahami Amara, tetap saja saya kembali menganggap dia berlebihan. But, never mind. Saya suka gengsi Amara saat dia kangen sama Ji Hwan, realistis banget. Karena semua cewek pasti merasa begitu. Saya jadi mudah related ke dia saat itu.

Tetapi tetap saja, sesuai namanya, tulisan Kak Indah itu indah dan bikin jatuh cinta. Mungkin itu yang membuat saya tetap ingin membaca karya Kak Indah yang lain, tetap mencari karyanya, siapa tahu ada yang bisa teringat di pikiran selama berhari-hari. Meski untuk tokoh cowok dan gaya penulisan Kak Indah udah top, tetapi agak kurang di bagian konflik, bukan konfliknya nggak heboh, tetapi kurang digali lebih mendalam agar pembaca benar-benar merasakan hal yang dialami si tokoh utama. Keep writing ya, Kak Indah! Psst.. dalam kurun waktu beberapa bulan saja, Kak Indah sudah bisa menerbitkan 2-3 buku, loh! Produktif banget, kan? Kabarnya yang terbaru berjudul Saujana Cinta, dan kemungkinan tokoh cowoknya bikin jatuh cinta juga. Penasaran? Yuk, baca karya Kak Indah Hanaco. :)
"Dia tau dia tak punya pilihan selain berdamai dengan masa lalu. Jika dia berkeras memelihara kebencian dan rasa sakit, pada akhirnya dirinya tenggelam dalam penderitaan."

Share:

0 comments