Once Upon a Time in St. Petersburg - Bey Tobing | Book Review


Judul: Once Upon a Time in St. Petersburg
Penulis: Bey Tobing
Penerbit: GPU
Tebal Buku: 240 halaman
"Aku tidak mau melibatkan diri dengan cinta. Menurutku, cinta adalah jalan menuju kebahagiaan-kebahagiaan kecil, dan peluang menuju kerumitan-kerumitan besar."
St. Petersburg, sebuah kota di Rusia yang selalu diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang. Keindahannya mampu membius seorang Aruna untuk tinggal didalamnya. Perempuan 26 tahun itu memutuskan untuk berpindah-pindah tempat tinggal setelah ia berhasil mendapat gelar sarjananya. Bali, Malang, Makassar, Vietnam, Taiwan, pernah ia singgahi, dan St. Petersburg-lah yang paling banyak mempengaruhi hidupnya. Di Bali dahulu, ia mendapatkan ketenangan yang dicarinya akibat perpisahan orangtua Aruna yang membuat perempuan itu menjadi sosok yang berbeda. Aruna menemukan cara untuk menuangkan perasaannya; lewat tulisan.
Buku pertama pun akhirnya diterbitkan lewat bantuan tangan orang terdekatnya di Bali, yang telah ia anggap sebagai keluarga. Namun Aruna tetaplah Aruna. Ia tidak tahan untuk berdiam di suatu tempat, melainkan mengimpikan tempat-tempat lain untuk bermuara. 
"...tulisan yang menusuk tidak lahir dari keadaan yang tenang. Dia terlahir bersama pengalaman-pengalaman jiwa, gelombang perasaan yang berkecamuk dalam diri penulisnya."
Meskipun telah menjadi penulis yang cukup terkenal di Indonesia, kehidupan Aruna stagnan. Ia membatasi dirinya untuk tidak terlalu tenggelam dalam keakraban. Di kota itu pun, teman dekatnya hanya beberapa; Paul, pemilik bistro tempatnya bekerja, para koki dan pekerja di bistro itu, dan Vladimir, seorang lelaki Rusia yang tampan serta memiliki banyak kesamaan dengan Aruna dalam hal seni. Mereka telah menemani hari-hari Aruna, terutama Vladimir yang paling dekat dengannya. Hingga suatu hari, ia bertemu kembali dengan Bara, mantan pacarnya ketika SMA. Bara menyapanya kembali, membawa sekelumit kenangan akan masa lalu. Keduanya sama-sama tidak menyangka, terlebih Bara, yang sadar betul mengenai perubahan 180 derajat diri Aruna. 
"Kekuatan tertinggi adalah hati yang tak lagi peduli, karena hati yang tak peduli tak akan tersakiti."
Kehidupan Aruna mulai bergejolak, setelah Vladimir meminta lebih dari sekadar pertemanan. Pertemuan dan perbincangannya dengan Bara juga membuka kesadaran betapa sendirinya ia di dunia ini. Bagaimana pun, kedua lelaki itu berhasil menarik perhatiannya yang selama ini hanya tertuju pada tulisan-tulisan bernada sendu, bahkan seseorang diantaranya berhasil mengubah aura sedih yang terkandung dalam padanan kata Aruna. Di sisi lain, pertemanannya dengan Ludmilla, mau tidak mau mengingatkannya pada kepahitan perselingkuhan yang dilakukan ayah dan ibunya, yang membuat Aruna tidak pernah menginginkan kehadiran cinta dalam hidupnya. 
"...perempuan selalu mencari stabilitas dan kesetiaan, sementara laki-laki cenderung mencari petualangan dan sesuatu yang baru. Dua hal yang bertolak belakang, harus dipersatukan atas dasar cinta, yang pada akhirnya hanya akan menjadi sia-sia. Bukankah itu mengerikan?"
***

Saya baru pertama kali mendengar nama St. Petersberg. Biasanya, kota-kota di Rusia yang sering saya dengar adalah Moskow dan Vladivostok. Entah saya yang kurang main atau bagaimana. Tapi kota ini kelihatannya punya sesuatu yang istimewa, hingga Bey Tobing sebagai penulis sangat menyukai kota ini dan menjadikannya sebagai latar tempat karya fiksinya. Dikatakan bahwa St. Petersburg memiliki berbagai daya tarik, tetapi ini lah kesalahan pertama penulis. Saya tidak dapat begitu menjelajahi kota St. Petersburg apalagi menemukan daya tariknya, selain hanya sebagai kota-kota biasa yang selalu ditutupi oleh salju di Rusia. Hampir tidak ada kesempatan bagi pembaca untuk diajak mengenal kota ini, salah satunya dikarenakan setting utama hanyalah berpusat pada bistro dan apartemen Aruna. Penulis kurang mampu mengeluarkan aura ke-St. Petersburg-an, yang seharusnya dapat membius pembaca hingga berimajinasi berada di kota itu suatu saat nanti. 

Jika bukan Vladimir, Paul, Ludmilla, Stalyn, dsb, nama tokohnya, mungkin saya bisa membayangkan latar tempatnya adalah salah satu kota di Eropa, bahkan New York. Mungkin, kebiasaan saya membaca novel berlatar luar negeri yang hampir pasti selalu ada selipan bahasa-bahasa ibu dari negara tersebut, tetapi itu tidak saya temukan disini. Entah apa alasannya, apakah pengetikan huruf Cyrillic-nya sangat rumit, atau memang sengaja ditiadakan agar pembaca tidak pusing dengan pelafalan yang jauh berbeda dari apa yang ditulis. Kalau saja ada, seharusnya ini bisa menjadi keunikan, sebab saya dan mungkin beberapa pembaca lain sangar jarang menemukan novel berlatar Rusia. Meski begitu, penulis tetap mencoba membangun identitas negara Rusia lewat pakaian, makanan, universitas, sampai perayaan khas Rusia, meski hanya dijelaskan sekilas.

Kemudian, Aruna sebagai pusat dari cerita ini. Perempuan yang dulunya pendiam, penurut, tidak pernah keluar dari zona amannya, tiba-tiba menjadi tangguh, bahkan cenderung dingin. Hal ini sangat baik ditangkap oleh pembaca lewat pemicunya berupa perceraian orangtua Aruna akibat perselingkuhan. Ditambah lagi, Aruna dan kedua orangtuanya memang tidak terlalu dekat, maka tanpa pikir panjang Aruna langsung angkat kaki dari rumah dan menyandang 'identitas' baru. Sayangnya, tokoh Aruna yang begitu benci dengan kesalahan yang dilakukan kedua orangtuanya hingga ia mengutuk cinta dan tidak percaya dengan jalinan hubungan, tidak sejalan dengan tindakannya pada bab-bab selanjutnya. Tokoh sentral lainnya, yaitu Bara, hanya dikisahkan sebagai mantan pacar Aruna yang berkuliah di St. Petersburg. Meski saya dapat mengikuti keakraban yang dibangun Aruna dan Bara (sebab mereka teman lama), entah mengapa saya merasa masih ada yang kurang. Mungkin sebaiknya penulis dapat menambahkan sedikit kilas balik tentang hubungan Aruna dan Bara di masa lalu, bukan hanya sekadar dari sepotong narasi, agar pembaca dapat lebih terbawa ke dalam alur cerita. 

Tokoh lainnya, Vladimir, sayangnya juga saya rasa hanya sebagai angin lalu, yang seharusnya dapat dibuat lebih 'berguna' selain apa yang telah diceritakan dalam novel ini. Gambaran kedekatan Aruna dengan Vladimir sangat minim sebagai teman dekat, hingga saya tiba-tiba dibuat kaget saat adegan Vladimir tiba-tiba ingin mencium Aruna dan perempuan itu telah mengambil kesimpulan bahwa Vladimir menyukainya. Kemudian, saya menilai tidak ada perkembangan kedekatan Aruna dengan Bara. Seperti meluncur mulus di jalan tol, kemudian tiba-tiba dikagetkan dengan adanya polisi tidur di tengah-tengah. Ya seperti itulah.

Pace novel ini memang sangat cepat. Perpindahan dari pertemuan Aruna-Bara, penjelasan tentang masa lalu Aruna, perkenalan Vladimir, dsb, diceritakan dengan cepat dan cukup singkat, padahal saya berharap masih ada yang dapat digali lagi dari tokoh-tokoh tersebut, dibandingkan dengan menambah tokoh lain seperti Ludmilla atau Abi yang saya nggak mengerti perannya sebagai apa. Mungkin saya dapat menyarankan untuk menggali kisah hidup Aruna lebih dalam hingga menimbulkan simpati di hati pembaca, jadi ketika Aruna menangis berkali-kali, pembaca jadi nggak sebal. Dan, mungkin saya juga akan menceritakan pandangan Bara secara lebih mendalam terhadap karya-karya Aruna yang telah dibacanya, hingga mungkin memicu timbulnya rasa penasaran di hati Bara. Yah, beberapa bagian seperti itu sedikit banyak menimbulkan plothole.

Dari sekian banyak kekurangan, tentu ada beberapa kelebihan yang mengimbangi. Yang saya sukai adalah, kenyataan dimana Aruna adalah seorang petualang sejati, berpindah-pindah kota demi menemukan sesuatu yang baru entah apa. Saya menyukai potongan kisah yang dibawakan penulis ketika Aruna berada di Bali, cukup menenangkan auranya terasa sampai ke saya. Kemudian, kebersamaan Aruna dengan teman-teman bistronya di St. Petersburg menjadi yang paling favorit. Kedekatan mereka meskipun bukan pusat cerita, justru sangat menyita perhatian saya. Rasa kekeluargaan yang tercipta terlihat alami dan berkembang dengan sangat baik. Kehangatan juga sampai ke hati pembaca. Sayangnya, rasa simpati tidak berlaku kepada permasalahan Aruna dan orangtuanya. 

Once Upon a Time in St. Petersburg juga menjadi sangat menarik karena penggambaran cover-nya. Meskipun menurut saya pribadi, substansi cerita agak sedikit tidak cocok dengan karaker cover-nya yang imut. xD Selanjutnya, saya ingin mengapresiasi kesalahan pengetikan yang sangat minim bahkan mungkin tidak ada jika saya tidak terlewat. Diksi yang dipilih penulis sangatlah cantik. Padanan katanya membentuk kalimat yang mengalir, meski bentuknya kaku layaknya novel berlatar luar negeri lainnya, tapi inilah salah satu gaya penulisan yang paling baik menurut saya. Berkat tuturan kalimat per kalimatnya yang membuat nyaman saat membaca, kisah Aruna ini berhasil saya lahap dengan cepat. Jadi, bukan karena keindahan St. Petersburg, melainkan gaya penulisan Bey Tobing. 
"...kehilangan yang paling menyakitkan adalah ketika melumpuhkan kaki sebelum berlari."

Share:

0 comments