When I Look Into Your Eyes - Netty Virgiantini | Book Review


Judul: When I Look Into Your Eyes
Penulis: Netty Virgiantini
Penerbit: GPU
Jumlah Halaman 200
ISBN: 9786020334684
Harga: 50.000

"...sekuat dan sebesar apa pun usaha manusia menutupi kebenaran, Tuhan akan selalu punya cara menunjukkannya."

Gadis polos kelas sebelas, siapa lagi kalau bukan Seruni? Meski dia adalah atlet bulu tangkis, tapi perilakunya jauh dari kata disiplin. Suka datang terlambat, bahkan hampir setiap hari. Eits, untungnya dia selalu beruntung. Ada kursi usang yang selalu membantunya dan murid-murid telatan lainnya untuk melompato tembok. Setiap hari Seruni bisa lolos, bahkan sangat profesional karena telah menyusun semua rencana termasuk datang ke kelas tanpa membawa tas agar tak ketauan bahwa dirinya baru datang. Namun di hari itu, Seruni lupa menyembunyikan tasnya di tempat biasa! Gadis itu begitu terburu-buru untuk masuk ke jam pelajaran pertama. Meski akhirnya, seorang pangeran sekolah datang menyelamatkan nasib Seruni. Dia-lah Arya, yang mengamankan tas Seruni dan mengantarkan buku-buku Seruni yang sialnya salah dia bawa ke kelas.

Arya adalah ketua OSIS sekaligus senior yang paling dikagumi di seantero sekolah. Sikapnya yang pendiam dan sedikit misterius, membuat para siswi semakin penasaran, disamping karena wajah gantengnya. Namun berbeda dengan Seruni, gadis itu tidak serta merta bertransformasi menjadi groupie Arya yang beruntung. Malah, dia cenderung biasa saja, dan memperlakukan Arya seperti teman-temannya yang lain. Salah satunya, karena dalam benaknya, hanya Irfan Bachdim-lah yang berhasil mencuri hatinya. Sikap yang ditunjukkan Seruni mau tidak mau membuat Arya penasaran, terlebih lagi, saat pertama kali melihat ke dalam mata bulat gadis itu, Arya terenyuh. Ada sesuatu yang menariknya.

Selain Arya, ada orang lain yang terpesona dengan mata Seruni. Dia-lah Arga, yang ternyata adalah adik dari Arya. Sifat mereka jauh berbeda. Arya anak teladan dan pintar, sementara Arga selalu dicap sebagai pembuat onar. Keduanya adalah anak dari seorang pengusaha kaya raya yang terkenal. Seruni bertemu Arga di hari yang sama ketika ia berkenalan dengan Arya. Pada pertemuan pertama, Arga begitu ketus dan kasar, namun Seruni menanggapinya dengan santai dan sabar, sehingga Arga merasa ada yang memperlakukan dirinya dengan berbeda. Ada orang yang memandangnya.
"Ini pertarungan seluruh hidupku. Aku harus keluar dari masalah yang sangat menyakitkan ini."
Kedua kakak beradik yang bertolak belakang tersebut semakin hari semakin sering memperebutkan perhatian Seruni yang polos. Seruni sudah tentu menjadi target empuk yang patut diirikan oleh teman-teman perempuannya. Namun, kedekatannya dengan Arya dan Arga, harus sedikit tersandung karena teringat larangan ibunya dan Mas Bim, pelatihnya di klub badminton Semangat Baru, yang hanya memperbolehkan Seruni untuk bergaul dengan anak cowok klub SB. Seruni tidak tahu mengapa, tidak berani juga bertanya kepada ibunya, sebab ibunya seakan terus menghindarinya, terlebih lagi ketika menatap ke dalam mata Seruni, selalu rasa takut yang timbul dari dalam diri ibunya...
"Mengapa aku harus mengalami semua ini? Aku ingin seperti anak-anak lain, yang lahir dari orangtua yang saling mencintai, dari keluarga biasa."
***

When I Look Into Your Eyes yang saya baca adalah versi kover baru dari novel yang sama yang terbit pada tahun 2012. Genre-nya teenlit, sudah pasti saya akan menemukan berbagai tindak tanduk karakter yang identik dengan apa yang umumnya dilakukan seorang anak sekolah. Pada halaman-halaman awal, saya berhasil dibuat sangat rindu kepada SMA saya, melihat tingkah Seruni si tukang telat begitu mirip dengan saya. Setiap hari terlambat, setiap hari cari-cari alasan supaya nggak dihukum. Bedanya, sekolah saya kecil. Pagarnya pun cuma dua, dan keduanya berhadapan langsung dengan tempat guru pada nangkring setiap pagi. Sedikit banyak pengalaman Seruni membuat saya nostalgia dan menggelitik perut saya manakala dia melakukan aksinya. Novel ini sangat berhasil mendeskripsikan suasana dan kehidupan belajar mengajar di sekolah. Jempol!

Kemudian, hal yang saya sukai lainnya adalah, narasi dan dialog ceplas ceplos yang dihadirkan Netty Virgiantini selaku penulis. Sumpah. Tiap saya baca dialognya Seruni, rasanya saya pengin masuk ke dalam buku, menghampiri cewek itu, lalu menoyor kepalanya. Lawak dan sembarangan banget kalau ngomong! :( Selain itu, kepolosannya pun menarik perhatian saya, sampai-sampai saya harus membolak balik halaman sampai dua kali untuk memastikan apa benar dia anak SMA? Sayangnya, kepolosan Seruni berbanding terbalik dengan sikap yang ditunjukkannya ketika ciuman Arya dan Arga 'menyerang' pipi dan keningnya. Gimana ya? Meski dia membela diri dengan mengatakan keduanya melakukan tanpa permisi, tapi kan setelah itu dia bisa marah, atau tersinggung, atau apa lah. Ditambah lagi, kalau saya nggak salah, Seruni belum menyadari kalau dia menyukai keduanya.

Kemudian, dua tokoh sentral lainnya: Arya dan Arga. Tokoh yang paling banyak kita jumpai dalam teenlit-teenlit. Yang satu tanpa cela dan pujaan sekolah. Yang satu bad boy parah tapi yang barunya, dia nggak dipuja-puja, malah ditakuti. Karakternya cukup melekat dalam ingatan saya. Sayangnya lagi, saya sangat terganggu dengan sikap sangat-mudah-tersinggung-dan-cemburunya-nggak-sehat-soalnya-berubah-jadi-jutek tiap kali melihat Seruni bersama salah satu diantara mereka. Bahkan, saya sempat mengira Arya agak beda, secara dia sempurna gitu ya saya pikir lebih sabar, taunya ngambekan juga. Sikap judes itu masih saya maklumi saat dilakukan oleh Arga karena melihat background-nya. Satu saran saya. Arga diceritakan sebagai anak bandel dan sebagainya, mungkin penulis bisa lebih mengeksplor 'kebandelan' Arga agar pembaca lebih meyakininya lebih dari sekadar narasi. Soalnya, yang banyak ditunjukkan disini adalah proses PDKT Arya dan Arga kepada Seruni yang polos yang berulang kali terjadi. 

Si Arga mergokin Arya lah, begitu pula sebaliknya. Terus besokannya kalau nggak marah, menyindir. Tingkah mereka itu membuat nggak respek alih-alih ikutan ngefans sama mereka kayak anak satu sekolahan SMA Satria. Hal ini juga yang membuat saya merasa alur novel di halaman awal sampai pertengahan sangat lambat, sebab cerita hanya berpusat pada kehidupan sekolah Seruni dan candaannya bersama teman-teman, dan usaha Arya dan Arga dalam mendekatinya. Untunglah, ada klub bulu tangkis SB yang seperti namanya, membawa Semangat Baru. Membawa angin segar ketika saya sudah mumet membaca acara berantemannya Arya dan Arga. 

Di beberapa halaman yang menuju pada halaman akhir, saya disuguhkan clue-clue yang berkaitan dengan para karakter. Sedikit banyak saya sudah menebak-nebak dan ternyata tebakan saya benar. Endingnya seperti itu, jadi nggak begitu kaget. Konflik baru dan penyelesaian masalah, baru muncul pada 1/4 halaman menuju akhir, dan entah kenapa saya merasa bagian tersebut diceritakan sangat cepat lajunya bila dibandingkan dengan setengah halaman awal yang bercerita tentang Seruni-Arya-Arga. Sampai ending-nya pun, saya merasa agak sedikit menggantung, meski di satu sisi saya juga sudah puas. Ah satu lagi, saya agak kecewa dengan beberapa adegan sinetron yang saya temui dalam novel ini. :(( Serius, beberapa kali saya kesal, apalagi ketika si Arga mencium kening Seruni di depan orang banyak sehabis cowok itu berseteru dengan salah satu tokoh. I was like.. Apaansih?! Dikira keren apa gimana gitu ya tingkahnya. Agak gimana gitu tiap liat adegan cium-ciuman sambil memegang tangan Seruni di sebelah kanan-kiri yang dilakukan Arga dan Arya. Yah, meski itu yang berhasil menjadikan Seruni galau memilih siapa yang pantas diantara keduanya. 

Ada adegan di halaman awal yang ingin saya kritisi. Meskipun Arya pintar banget, tapi apa kepikiran ya dia untuk mengobrak-abrik tas Seruni, mencocokan jadwal pelajaran dan buku yang ada. Lalu menyadari Seruni salah bawa buku. Kemudian membuka buku dan melihat ada soal yang belum dikerjakan. Lalu dikerjakan. Dan diantar ke kelas Seruni. Saya pikir kemungkinannya sangat kecil. Atau mungkin catatan Seruni sangat rapi, sehingga tiap dia mencatat soal PR, orang akan tahu itu PR dikumpul kapan, atau itu PR yang diberikan jaman kapan. Inisiatif Arya bagus banget sih, cuma saya agak meragukan hal itu terjadi di dunia nyata. Kesukaan Seruni terhadap Irfan Bachdim yang ditampilkan berkali-kali juga sedikit membuat bosan. Apa lagi ternyata kesukaan tersebut nggak berpengaruh terhadap jalan cerita. Overall, teenlit ini cukup menarik untuk dibaca, apalagi yang kangen masa sekolah. Saya jadi bisa mengerti tentang kedisiplinan dari klub SB, lalu mengetahui bahwa ada cinta yang sangat tulus. sebenarnya. :))
"...Rasa sayang yang takkan pernah bisa kuartikan lewat kata-kata. Rasa sayang yang mungkin dianugerahkan Tuhan untuk membuka semua tabir rahasia di antara kami bertiga."

Share:

0 comments