Book Review: Cress (The Lunar Chronicles #3) - Marissa Meyer


Judul: Cress (The Lunar Chronicles #3)
Penulis: Marissa Meyer
Penerbit: Penerbit Spring
Jumlah Halaman: 576
ISBN: 9786027150584
Harga: 115.000
Rate: 4.5 out of 5
"...jika ada yang diketahui Cress soal pahlawan, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak menyelamatkan seorang gadis yang sedang dalam kesulitan. Dan dirinya sedang dalam kesulitan."
Cress (The Lunar Chronicles #3), kali ini bercerita tentang kisah Crescent, seorang shell yang terperangkap dalam satelit canggih berisi berbagai teknologi internet. Cress adalah peretas andalan Sang Ratu Levana, setelah Sybil Mira, ahli sihir Bulan menyelamatkan Cress dari hukuman mati yang dijatuhkan pada seluruh shell.
Setiap harinya selama tujuh tahun, kehidupan Cress hanya berada dalam satelit itu. Dia tidak pernah keluar. Fasilitas internet yang dimilikinya pun dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi dari bumi dan melacak keberadaan Cinder Linh. Sampai suatu ketika, Cress berhasil mengirimkan titik koordinat satelitnya, dan meminta Cinder untuk menjemputnya, membawanya menuju kebebasan.
Sialnya, usaha itu digagalkan oleh Sybil yang menyandera Scarlet Benoit—salah satu kru Rampion—bersamanya. Dan membuat Cress serta Carswell Thorne, terkurung dalam satelit yang dijatuhkan ke bumi. Meski Scarlet dan Thorne akhirnya selamat, mereka harus bertahan hidup di sebuah gurun di Afrika. Berjuang untuk menghubungi Rampion agar Cinder tahu mereka baik-baik saja.
"...aku akan mati sendirian, tidak pernah dicium, tidak sekali pun."
Sementara itu, Cinder, Iko, dan Wolf yang terluka, mempercayai bahwa Thorne telah tewas. Mereka melanjutkan perjalanan ke Afrika untuk menyembuhkan Wolf, serta memikirkan kembali strategi agar gadis itu berhasil menghentikan pernikahan Kaisar Kaito dengan Ratu Levana yang dilakukan Kai demi aliansi dan vaksin Letumosis. Kai tidak tahu, bahwa bagi Ratu Levana, pernikahan itu punya maksud tersembunyi...
"Aku melakukan ini karena aku lah satu-satunya yang bisa. Aku akan menggulingkan Levana dari kekuasaannya. Aku akan memastikan dia tidak bisa melukai siapa pun lagi."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
Aku dulu membaca Cinder, dan kisahnya sangat mengesankan. Aura dystopia, fantasi, dan science-fiction yang begitu kental, serta orang Bulan, virus Letumosis, CyborgAndroidHover, yang dipadupadankan dengan dongeng-dongeng, sangatlah orisinal dan brilian. Begitu juga dengan Cress.
Cinder adalah re-telling story CinderellaScarlet adalah Red Riding Hood, dan Cress adalah Rapunzel, lengkap dengan rambutnya yang panjang dan pengandaian kurungan satelit sebagai menara yang tinggi. Serta Sybil sebagai penyihir jahat yang mengurungnya, dan Thorne sebagai pangeran tampan. Tetapi, Thorne sangat kontradiktif dengan pangeran Rapunzel. Thorne adalah buronan dalam novel ini.
Menurutku, porsi dalam cerita dibagi dengan rata. Jika di bab awal terpisah, hanya dari sudut pandang Cress kemudian kru Rampion. Setelah insiden dengan Sybil, mereka terpecah, cerita berlanjut dari sudut pandang Cinder, Cress, dan Scarlet. Berulang-ulang seperti itu, hingga akhirnya garis mereka bertubrukan lagi.
"Dia membenci Levana. Dia membenci dirinya sendiri karena menyerah kepada wanita itu."
Kisah dalam Cress lebih kompleks, sebab ketambahan banyak karakter yang bahkan baru aku ketahui (aku belum membaca Scarlet). Meski begitu, aku masih bisa mengikuti ceritanya sebab rentang waktu yang terjadi antara novel Cinder dan Cress tidak terlalu jauh dan peristiwa di dua novel sebelumnya banyak disebutkan kembali dalam Cress.
Cress punya banyak kelebihan. Concern novel ini tetap pada cara bagaimana mengakhiri kekuasaan Levana dan menghentikan penyebaran Letumosis. Yang membuat seru adalah perjalanan mencapai tujuan tersebut, serta adanya plot twist di pertengahan novel yang berujung kesedihan.
Kru Rampion yang menjadi buronan, tentu harus bergerak secara sembunyi-sembunyi, meskipun telah berusaha tidak terlihat, ada saja hal-hal yang menjegal mereka. Dan itu ikut membuatku harap-harap cemas mengetahui bagaimana nasib mereka selanjutnya. Mereka dihadapkan dengan hal-hal yang membuat nyawa mereka terancam. Luka-luka dan rasa sakit sudah seperti makanan sehari-hari.
"Itu untuk kebaikan semua orang, bukan? Pengorbanan harus dibuat."
Cress sangat unik. Dirinya seperti orang yang baru keluar dari goa. Tentu saja, karena dia tidak pernah bersentuhan langsung dengan apa-apa yang ada di bumi. Polosnya, naifnya, rapuh dan hopeless romantic-nya diimbangi dengan kemampuannya menguasai sistem telekomunikasi yang canggih. Karena itu, karakternya jadi lovable.
Bayangkan, tokoh dengan sifat seperti Cress, dipersatukan dengan Thorne yang pemberontak yang punya skill berbohong cukup baik; Cinder yang bersikap layaknya pemimpin namun dia tahu dia tidak bisa melakukan semuanya seorang diri; Wolf, mantan pasukan spesial kerajaan Bulan yang begitu romantis hanya kepada Scarlet. Sementara, Scarlet adalah gadis bermulut tajam. Dia kuat.
Alur Cress berjalan sangat lambat, maka wajar tebal novel ini mencapai 500+ halaman. Adegan-adegan dideskripsikan dengan sangat detail oleh Marissa Meyer. Hingga adegan dalam satu tempat dan satu waktu pun bisa menghabiskan satu bab tersendiri.
"Tidakkah pernah Anda merasa dia bisa menjadi bagian dari keluarga Anda? Tidak pernahkah Anda menganggapnya sebagai salah satu putri Anda?"
Tentu, novel dystopia memerlukan penjelasan yang panjang agar pembaca dapat terbawa suasana dan dapat memproyeksikan tiap kata ke dalam gambaran yang ada di benak masing-masing. Hanya saja, di beberapa bagian, bahasa yang digunakan terlalu sulit meski itu adalah bahasa Indonesia.
Terjemahannya sangat bagus, tidak kaku, dan membuat aku nyaman membacanya. Typo pun hampir nol.
Untuk kalian yang menyukai genre dystopia, fantasy, science fiction, dan young adult, untuk kalian para perempuan yang cinta dengan tokoh-tokoh putri dongeng, untuk kalian yang mengagumi hasil imajinasi seseorang yang hebat, untuk kalian yang menyukai hal berbau futuristik. Cress dan Lunar Chronicles yang lainnya (Cinder, Scarlet, dan Winter). Kalian sangat, sangat, dan sangat wajib mengoleksi seri ini!
"Semuanya selalu kembali pada cinta.  Lebih dari kebebasan, lebih dari penerimaan—cinta. Cinta sejati, seperti yang mereka nyanyikan di era kedua. Cinta yang mengisi jiwa seseorang. Cinta yang membawa dirinya ke tindakan-tindakan dramatis dan pengorbanan. Cinta yang tidak bisa ditahan dan meliputi segalanya."
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500

Share:

0 comments