Book Review: Deessert - Elsa Puspita

Judul: Deessert
Penulis: Elsa Puspita
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah Halaman: 324
ISBN: 9786022911982
Rate: 4 out of 5
"Tidak ada rasa sakit atas kehilangan yang akan sembuh secepat kilat. Dia sudah merasakan sendiri bagaimana luka itu seperti tidak pernah mau mengering. Tidak bia disembuhkan, hanya bisa diabaikan. Kadang, dia meluapkan sakitnya sejenak. Namun, ketika disenggol, perihnya kembali."
Naya memutuskan untuk berhenti dari dunia presenting di layar kaca, setelah tahu bahwa rating acara yang dibawakannya anjlok. Perempuan itu kembali ke Palembang, kampung halamannya, untuk beristirahat. Naya kembali bertemu dengan Lulu, sahabatnya yang selalu menetap di Palembang.
Sejak lulus kuliah dulu, Lulu hanya membantu usaha katering ibunya. Tak ada yang berubah dari Lulu, selain kenyataan bahwa perempuan itu akan menikah dengan calonnya yang bernama Arfan, seorang head chef yang juga baru berhenti dari pekerjaannya.
Selain jenuh dengan pekerjaannya, Naya sebenarnya tergiur dengan tawaran Lulu yang ingin membuka usaha tempat makan sendiri, dengan Arfan sebagai head chef mereka. Naya tentu setuju karena ia cinta sekali dengan kuliner, meski sebenarnya mimpinya dulu adalah membangun toko pastry bersama Dewa, adik Lulu, yang juga mantan pacar Naya.
Dewa kini telah bekerja sebagai chef pastry profesional di Australia, bekerja di restoran berbintang, dengan kehidupan nyaman dan kekasih yang selalu menemani. Ava namanya. Namun setelah Dewa memergoki Ava selingkuh, semakin yakin keinginannya untuk meninggalkan karirnya di Australia, selain karena masa kontraknya sudah habis.
Naya kembali dipertemukan dengan Dewa lewat Dapoer Ketje, restoran yang dibangun oleh dirinya, Lulu, dan Arfan. Ketika melihat wajah Dewa, rasa benci Naya kembali memuncak, teringat bagaimana dulu cara Dewa 'menggantung' hubungan mereka. Naya dan Dewa kini layaknya anjing dan kucing.
"Mereka tidak sadar, semua kisah harus memiliki akhir, termasuk kisah mereka. Tidak peduli sebanyak apa pun ruang kosong yang disisakan."
Sikap ketus Naya selalu dibalas dengan sikap acuh Dewa, hal itu pun membuat Naya semakin memendam kekesalannya, terlebih lagi ketika Dewa diminta Arfan menjabat sebagai head chef pastry untuk sementara. Namun, kebencian itu mulai mereda seiring dengan intensitas pertemuan mereka. Naya sudah mau membuka diri untuk Dewa, hingga tiba-tiba Ava, mantan Dewa, menyusul Dewa untuk meminta penjelasan, tentang cincin lamaran yang tertinggal di apartemen mereka dulu...
"Semua yang dipendam dan diabaikan pada akhirnya akan layu dan mati."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
First Impression
Aku nggak pernah membaca karya Elsa Puspita sebelumnya, meski aku tahu namanya. Sampai ketika ada seri YummyLit ini. Percaya atau nggak, kovernya yang bikin aku tertarik. *tetep, ya.* Kovernya manis, semanis nama makanan-makanan yang tersebar dalam tiap serinya.
Aku pun nggak baca sinopsisnya. Aku memutuskan baca Deessert terlebih dahulu dibandingkan yang lain karena aku melihat rating-nya di Goodreads cukup bagus. Beberapa review singkat dari teman-teman reviewer juga membuat makin yakin.
Plot
Di awal halaman, Deessert dibuka dengan perkenalan singkat mengenai siapa Naya, Lulu, dan Dewa ketika mereka masih duduk di bangku sekolah. Kemudian dilanjutkan dengan melompat ke beberapa tahun kemudian dimana Naya telah berumur 27 tahun dan bekerja sebagai presenter acara Pekan Kuliner di televisi.
Cerita mengalir dengan baik, memperlihatkan sedikit kehidupan dari Naya di Jakarta, juga kehidupan Dewa di Australia. Kemudian mereka sama-sama pulang ke Palembang. Penulis mulai menyajikan clue bahwa hubungan Naya dan Dewa dulu nggak berhasil dan masih menyakiti hati Naya hingga kini.
"Satu hubungan harus beralan dua arah. Nggak bisa cuma kamu, atau cuma dia. Harus dua-duanya."
Di halaman-halaman selanjutnya, semakin jelas mengapa hubungan Naya dan Dewa yang awalnya manis, malah kandas di tengah jalan. Aku diajak mengintip sedikit bagaimana kehidupan cinta mereka dulu melalui flashback Naya. Itu cukup meyakinkanku dan membuatku merasa hubungan Naya dan Dewa sangat dalam. Yang aku sukai adalah background story-nya Dewa yang cukup unik.
Konflik-konflik kecil antara Naya dan Dewa membuat aku gemas. Kemudian disusul dengan perkembangan hubungan mereka yang meski nggak melaju drastis, setidaknya nggak stagnan. Mereka nggak forever remain silent. Kemudian, di tengah-tengah, muncullah dua ujian dalam bentuk mantan pacar masing-masing yang bisa jadi menguji kepercayaan mereka yang masih sangat kecil.
Meet The Hero/ine
Naya, aku anggap adalah perempuan yang cukup naif, dimulai ketika ia merasa bahwa keputusannya memacari Dewa yang fisiknya dulu sangat jauh dibawah standar Naya, akan membawa perubahan besar. Kemudian, Naya dideskripsikan sebagai perempuan yang cantik dengan kulit putih, mata bulat, dan hidung mancungnya. Satu sifat Naya yang paling saya ingat adalah, kekanak-kanakan, emosional, dan cenderung mengedepankan ego dibandingkan akal sehat.
"...sejak kapan logika dan hati berjalan dalam satu garis lurus?"
Terbukti ketika setelah sekian lama tidak melihat Dewa, sekali bertatap yang dilakukannya adalah meninju pipi laki-laki itu. See? Emosional banget, kan? Nggak mikir di depan mereka ada kakaknya Dewa.
Rasa sakit Naya seharusnya nggak bisa dijadikan pembenaran untuk perempuan itu agar bisa melampiaskan emosi semaunya. Apalagi di usianya yang dewasa itu. Tapi, memang usia nggak mencerminkan kedewasaan, sih.
Naya juga tipe orang yang denial. Ya wajar lah perempuan juga banyak yang kayak gitu, di hati mah masih suka, tapi tingkahnya malah menunjukkan sebaliknya. Lalu, Naya juga terlalu ramah menurutku, ketika ia mau diajak bertemu dan makan malam dengan Dipati Ary, mantannya. Terlepas dari apa maksud Naya.
Sementara Dewa. Dulunya dia cupu banget. Kacamataan, kurus cungkring, nerd, nggak ada lah cewek populer semacam Naya yang mau dekat-dekat dengan dia. Tapi, beberapa tahun kemudian dia bertransformasi jadi cowok hot. Badannya proporsional, rambutnya gondrong, sesekali dipakaikan headband agar nggak menganggu kerjaannya saat memasak. Tapi sifatnya tetap pendiam, dingin, cuek, nggak ekspresif.
Dia juga penganut prinsip "perjaka sampai nikah", dan menganggap tinggal bersama cewek yang bukan muhrimnya adalah hal tabu. Disitu aku bisa menaruh respek mendalam kepadanya.
Tetapi, ketika dia akhirnya memutuskan untuk berniat melamar Ava, di saat sebelumnya dia tahu bahwa mungkin Ava bukanlah the one, aku mulai kehilangan respekku. Menurut logikaku, ketika seorang cowok sampai berniat melamar cewek, dia sudah yakin cewek itu yang terbaik dan (seharusnya) keyakinannya nggak akan goyah sekali pun cinta lama datang lagi.
"Rasa rindu yang tidak bisa terlampiaskan selalu bisa membuat siapa pun tidak mau berpikir logis."
What I Like The Most
Dapoer Ketje dan Deessert! Aku suka setiap adegan yang berlatar di Dapoer Ketje, apalagi ketika persiapan membuka restoran itu. Aku ikut merasakan kesibukannya, keseruan mereka saat menentukan menu yang unik yang sesuai dengan konsep makanan tradisional yang berpadu dengan makanan modern Barat. Sumpah, bikin ngiler! Membaca ini sukses membuatku langsung memesan spageti, pudding, serta sate Jepang dan memakannya saat itu juga. :))
Beberapa makanan unik, berhasil diciptakan oleh Arfan dan Dewa. Yang paling kusukai adalah cemilan-cemilan yang berbentuk bahan dasar makanan, seperti jahe dan bawang, tapi aslinya itu adalah pastry-pastry manis. Ini ide yang cukup orisinil kalau memang diciptakan sendiri oleh Elsa Puspita, dan aku salut. Menu-menu yang aneh-aneh itu pun dan deskripsi dari apa menu-menu itu dibuat dan bagaimana disusunnya pun sangat menarik. Contohnya Tenderloin Steak Saus Rendang, dan masih banyak nama makanan lainnya yang serupa.
Aku juga suka karakter Damar sebagai kakak Naya yang overprotektif. Aku suka pertimbangannya tentang pernikahan dan pola pikirnya tentang tanggung jawab, hingga akhirnya ia mengambil satu keputusan penting. Itu manis. Kepeduliannya pada keluarga sangat besar.
Nama-nama karakter yang dikarang Elsa Puspita pun punya keunikan sendiri. Di saat penulis lain berlomba-lomba membuat nama yang kebarat-baratan, atau nama yang modern. Nama tokoh yang ditawarkan penulis berbau lokal namun susunannya pas dan indah. Contohnya, Kinara Gayatri Adiharja, Sadewa Banyu Sastrawirya, Dipati Ardajsyah Putra, dan Damara Saka Adiharja.
Karena beberapa faktor-faktor itu, Deessert yang memiliki tebal 324 halaman, dapat aku habiskan dengan sekali baca dan aku nggak berasa sudah membalik halamannya berkali-kali hingga halaman terakhir. Kalau boleh jujur, jarang aku bisa membaca tanpa ada rasa jenuh begitu. Biasanya, alur lambat itu yang membuat aku capek membacanya, tapi Deessert seakan membuat kejutan-kejutan kecil yang memaksa aku tetap 'melek' hingga halaman terakhir. Adanya makanan-makanan itu-lah yang paling menarik minatku.
What I Don't Like
Selain sifat Dewa tadi, hal lain yang nggak kusukai adalah keberadaan Dipati, yang menurutku nggak lebih dari sekadar angin yang lewat. Aku rasa, kehadiran Ava harusnya lebih dari cukup. Biar nggak semakin banyak kebetulan yang ada dalam novel ini. Kebetulan Naya dan Dewa sama-sama berhenti dari pekerjaan, kebetulan mantan-mantan mereka datang menganggu mereka lagi.
Critics
Kepopuleran Dipati agak menggangguku. Walaupun followers-nya 900 ribu-an, kayaknya artis di Indonesia seterkenal apa pun nggak perlu pakai kacamata hitam atau memakai apapun untuk menyamarkan identitas, deh. Sebab, di Indonesia jarang banget ada wartawan yang mau mengikuti kegiatan artis yang cuma makan atau nonton walaupun sama pacarnya. Paling, kalau ada acara premier film, baru banyak wartawan.
Di Palembang juga, Dipati ini agak berlebihan pakai kacamata hitam, toh di Indonesia kan wartawannya nggak semengganggu itu. Nggak kayak paparazzi di Amerika sana, atau Dispatch di Korea Selatan yang mengintili artisnya kemana pun. Bahkan di Barat, sampai rumahnya pun diintai. Dan di Korea Selatan, yang mengabadikan momen artis-artis yang dating diam-diam.
Kemudian, kalau aku nggak salah. Di bab Opening, tertulis 'Palembang, 2004' sebagai tempat dan tahun. Dan disitu dikisahkan Naya dan Lulu masih SMA. Sementara di bab berikunya, tempat dan tahunnya tertulis 'Jakarta, 2004', sementara Naya telah bekerja dan berumur 27 tahun. Mungkin itu kesalahan kecil yang terlewat oleh penulis.
Sekadar saran, kalau bisa penulis menjelaskan mengapa Kinara dipanggil Naya. Sebab ketika nama lengkap Naya muncul, kemudian langsung berganti dengan Naya tanpa penjelasan, aku agak bingung. Malah, awalnya aku pikir Kinara itu karakter baru hingga aku membacanya lagi. Bukan sesuatu yang penting sih, tapi memang Kinara dan Naya itu dua nama yang cukup berbeda.
Ada juga kesalahan pengetikan pada halaman 302. Di halaman itu tertulis 'Naya memanggut bibirnya', seharusnya penulisannya adalah memagut menurut KBBI. Lalu pada halaman 280, ada kalimat 'Everyone can be replace', seharusnya adalah 'everyone can be replaced'.
Ending
Ending-nya sesuai ekspektasi, meski aku rasa Dewa seharusnya bisa lebih dewasa lagi dalam menjelaskan sesuatu untuk menyelesaikan masalahnya. Ending-nya memang mudah ditebak, tapi proses menuju ending-nya itu yang membuat kisah ini seru. Aku rekomendasikan Deessert bagi orang-orang yang merasa antara passion dan pekerjaan nggak sesuai, mungkin disini ada jawabannya. Lalu, bagi para pencari kisah manis dan makanan lezat serta kue-kue manis tentunya, yang dibalut dengan kehangatan keluarga, Deessert punya semua yang kamu cari!
tumblr_mp6icgbVr81rm6jd7o1_500.png
"If you make a girl laugh, she likes you, but if you make her cry, she loves you. But, the real gentleman never wants to make his girl cry, doesn't he?"

Share:

0 comments