Book Review: Insecure - Seplia


Judul Buku: Insecure
Penulis: Seplia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 240
ISBN: 9786020327662
Harga: 60.000
Rate: 4 out of 5
"Beberapa orang nggak siap jadi orang tua, yang lainnya stres karena beban hidup. Orang baik bisa berubah jahat kapan pun itu kalau dia terjepit oleh keadaan yang nggak menguntungkan."
Apa jadinya jika kamu adalah satu-satunya orang paling pendiam di kelas? Mungkin yang kamu alami sama seperti Zee Rasyid. Anak perempuan itu tidak punya teman lain selain teman sebangkunya, Sam Alqori, yang merupakan berandalan kelas. Sam pun duduk sebangku dengan Zee hanya karena butuh sontekan dan ingin tidur dengan bebas di kelas. Sam sering terlambat, pemalas, sering beradu mulut dengan guru. Tingkahnya berbanding terbalik dengan Zee yang pendiam, penurut, dan pintar. Tidak ada yang yang menghubungkan keduanya kecuali sontekan dan memar-memar yang ada di tubuh Zee.
"Ternyata kita tidak bisa belajar untuk mencintai, sebab hati kita akan mencintai dengan sendirinya. Jauh dari dalam lubuk hati ini, kita tahu sebenarnya kepada siapa hati kita memilih jatuh."
Sudah beberapa kali Sam menunjukkan sikap ingin tahunya, tapi melihat reaksi Zee yang tak mau menjawab. Sam urung melanjutkan niatnya, apalagi, teman dekat slash saudaranya, Vini, juga melarangnya. Meski begitu, Sam jadi memberikan perhatian lebih kepada Zee, terlebih setelah dia menemukan gadis itu seorang diri di depan ruang BK. Setelah itu, Sam berkeinginan untuk mengantar Zee, lalu mengajak Zee main ke kedai mi ayam ibunya. Mereka juga semakin dekat sejak Sam meminta bantuan Zee untuk mengajarinya tes untuk masuk Polri.
"...Kamu harus menyelami dirimu sendiri dari sekarang. Tanya hatimu. Jangan dengar bisikan orang lain. Mereka cuma setan yang memberatkan kita. Percayalah."
Zee menyimpan rahasia. Di rumahnya, tak ada yang tahu ia suka ditampar dan didorong ibunya. Zee tidak tahu mengapa, tapi yang ia tahu, kemiripannya dengan sang ayah yang membuat emosi ibunya selalu bangkit. Meski Zee tidak salah, meski Zee tahu dirinya tidak melawan ibu, tubuh Zee tidak pernah lepas dari lebam-lebam. Zee juga tidak pernah tahu dimana ayahnya sekarang, yang diketahuinya hanyalah kenyataan bahwa sang ayah telah kembali ke mantan pacarnya dan menikah lagi. Rasa-rasanya Zee tak sanggup meninggalkan ibunya sendirian, apalagi ketika sang ibu kerap memohon agar Zee tetap tinggal, meski Zee harus berhadapan dengan mautnya sendiri...
"Begitulah kalau sudah cinta dan sayang sama seseorang. Logika jadi tumpul."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
First Impression
Wow. Kata itu tepat untuk menggambarkan apa yang aku temui dalam buku ini. Penyiksaan dan kekerasan yang diterima Zee saya pikir sangat parah. Aku bahkan sampai ikutan menahan napas saat membaca klimaks yang melibatkan ibu Zee dan Zee di rumahnya. Gila.
Dari gambaran diatas, tentu teman-teman sudah tahu novel ini berkisah tentang kekerasan. Ada kekerasan yang dialami anak yang dilakukan ibunya, ada juga kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh ibu Sam. Pembuka novel ini sangat tepat, ketika Seplia membawa serta KPAI dalam tulisannya, kemudian gelagat Zee yang aneh. Mulai dari situ aku semakin serius mengikuti kisahnya.
Baca juga: Replay - Seplia
Meet The Hero/ine
Zee sebagai karakter utama, punya sifat yang terbilang sangat pasrah. Di awal, aku merasa Zee begitu bodoh nggak bisa berbuat apa-apa bahkan nggak mau cerita ke siapa-siapa meski dia tahu kemana harus melapor. Alasannya simpel; dia menyayangi ibunya. Dia nggak bisa meninggalkan ibunya. Dia nggak mau merasa sebagai anak kurang ajar karena melaporkan ibunya sendiri.
Tapi lama-lama aku agak bisa menerima juga. Namun, kalau aku memposisikan diri sebagai Zee, mungkin iya aku akan bertahan, tapi tetap aku akan bercerita. Makanya, saya pikir Zee orang yang sangat pasrah bisa bertahan setelah diperlakukan sedemikian rupa. Pikirannya nggak panjang. Manusia selemah apa pun, seharusnya bisa bertindak jika ditindas. Semut yang kecil diinjak saja gigit.
Kemudian Sam. Ini dia pahlawan kita dalam Insecure. Anak berandalan yang tingkahnya rada kurang ajar walau ke orang yang lebih tua. Dan benar adanya, kok. Banyak teman-teman aku di sekolah dulu yang seperti itu. Potret anak-anak seperti Sam ini kadang membuat miris. Dia tentu akan tidak disukai banyak orang, akan dinilai rendah. Tetapi biasanya, orang seperti ini rasa kepedulian, solidaritas dan rasa perhatiannya sangat tinggi.
unnamed
Dan terbukti juga pada Sam. Tingkah Sam ini natural, dia masih remaja, dan belum bisa berpikir panjang apa akibat dari tindakan yang dia ambil. Main asal jotos, main asal menyumpah, main asal jeplak kasar. Tapi itu-lah remaja. Aku suka Sam yang responsif terhadap apa yang dialami oleh keluarganya. Aku suka pada Sam yang bertransformasi jadi anak pemberani. Tingkahnya itu nggak lebih dari pembelaan diri atas apa yang dialaminya selama ini, meski lagi-lagi itu nggak patut dicontoh.
What I Like The Most
Aku juga suka keputusan Seplia karena nggak mendeskripsikan Sam sebagai cowok berandal dengan fisik menawan. Satu lagi, aku suka cita-cita Sam dan keinginannya, untuk bangkit dari keterpurukan.
Di novel ini, semua fenomena yang terjadi di masyarakat diungkap dengan jelas. Semuanya realistis, blak-blakan. Seperti misalnya tes masuk Polri yang ternyata begini, lalu Sam dan Vini yang sangat jujur-jujuran tentang kehidupan menengah kebawahnya.
Feelings
Aku agak sedikit related dengan novel ini karena aku punya teman dekat, yang berasal dari kalangan kurang mampu juga, mirip banget Sam keadaan keluarganya (minus bapaknya tukang gebuk), hobinya nyontek! Sampai-sampai pas UN pun masih nyontek. Maunya kerja aja, atau nggak ngambil jurusan olahraga karena jago gulat. Tapi pas disuruh daftar SNMPTN dia nggak mau, simply karena nggak ngerti caranya dan nggak mau tahu. :)) Terus dia maunya jadi polisi, eh nggak lulus di tes psikologi, dan akhirnya sekarang kerja. Jadi aku lumayan bisa memahami tingkahnya Sam ini karena mirip banget dengan teman dekatku. Solidnya juga sama.
Ending
Ketika memasuki bagian klimaks hingga penyelesaian konflik, aku pikir sudah baik terlepas dari sikap Zee yang masih kekeuh itu. Aku salut kepada Seplia yang memberikan ending seperti itu, yang berhasil berpengaruh pada kehidupan semua pihak. Nggak ada yang menderita sendirian, nggak ada yang bahagia sendirian.
Mungkin realistisnya begini, karena pun kata orang, kalau belum bahagia, berarti itu bukanlah akhir. Meski ending yang aku harapkan bukan seperti itu, pilihan penulis mampu membuka mataku tentang pentingnya berada di sisi orang lain yang membutuhkan.
Critics
Ada beberapa hal yang menurutku sedikit kurang pas. Seperti ketika Sam bertemu dengan polisi yang sedang mengintai buronan dan memakai seragam lengkap. Di pikiranku, kenapa kalau polisi sedang mendekati target begitu malah harusnya menyamar, ya? Biar targetnya nggak kabur.
Lalu juga, ada dokter yang kemana-mana pakai jas putihnya, sampai ke mall pun dan ke jalanan pun dipakai. Ya, agak gimana gitu. Kemudian, adegan si Vini sedang baca novel sementara di depannya ada adegan mengharukan. Apa nggak awkward? Apa masih bisa konsentrasi, ya?
Ya sudahlah itu cuma beberapa koreksi kecil dan aku tetap suka dengan novel ini. Baca ya, bisa meningkatkan awareness kita terhadap pentingnya keberadaan Komnas perlindungan dan kepada orang sekitar yang bisa saja mengalami kejadian serupa Zee. :))
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500
"Hidup bukanlah susunan kalimat teratur yang sesuai dengan kaidah. Akan ada hal-hal yang terjadi di luar prediksi. Tidak selalu terang, dan tidak selalu kelam. Kadang rapi, kadang berantakan."

Share:

0 comments