Book Review: Love in City of Angels - Irene Dyah


Judul: Love in City of Angels
Penulis: Irene Dyah
Penerbit: Gramedia
Jumlah Halaman: 220
ISBN: 9786020334912
Harga: 58.000
Rate: 4 out of 5
"City of Angels, kota-kota yang berisi keindahan, kebaikan, dan jiwa-jiwa yang terlindungi..."
Aku jamin, kalian akan banyak menemukan sosok perempuan seperti Ajeng di belahan dunia ini. Cantik, tubuhnya molek, memiliki pesona yang mampu membius laki-laku manapun, hidupnya bebas, karirnya bagus, mungkin beberapa dari kalian bisa jadi iri kepada Ajeng. Tapi jangan salah, dia juga punya sisi kelam dalam kehidupannya.

Meski menganut prinsip 'hidup bebas', Ajeng selalu menjaga keperawanannya. Namun kali itu dia tercenung, mendapati Earth, seorang laki-laki yang ditemuinya saat pesta perkenalan Presdir perusahaan tempatnya bekerja, mengakui bahwa mereka pernah bermain-main dengan lingerie hitam dan celana dalam Calvin Klein. Ajeng menyadari, dia belum juga datang bulan.

Hingga, ketika dia mencoba menjauhkan diri dari Earth, dia malah berjumpa dengan Yazan Khan, salah satu petinggi perusahaan. Perempuan itu tak habis pikir, semenjak pertemuan pertamanya dengan Yazan, laki-laki itu tak bosan-bosannya berbuat baik kepadanya. Menawarinya sesuatu yang baru, yang jauh dari apa yang selama ini dia jalani dalam hidupnya.
"Ini.. Aku tidak tahu apa namanya. Kadar romantisme yang belum pernah kujamah sebelumnya. Pekat dan membuat lututmu lemas. Dunia yang sama sekali baru."
Tetapi Ajeng tetaplah Ajeng, perempuan yang mengaku realistis dan mencoba tidak naif. Yazan adalah sosok imam yang hampir sempurna, dia tidak akan mau menerima Ajeng, apalagi bersama masa lalunya. Ketika melihat ayahnya yang dengan tega meninggalkan ibunya, namun ibunya dengan polosnya mau memaafkan ayahnya, Ajeng semakin membenci cinta dan pernikahan.
"Pernikahan itu jebakan betmen. Seremonial yang mengubah manusia dari sepasang individu asing, berevolusi jadi satu tim (yang seharusnya) solid bernama keluarga. Semua orang melek ilmu tahu dong, evolusi itu tidak selamanya berjalan mulus. Ada cacat genetika, kegagalan, berkurangnya fungsi, dan hal-hal mengerikan lainnya. Jadi tidak heran dalam pernikahan pun muncul perceraian, perselingkuhan, ribut-ribut urusan anak dan harta, berantem sama mertua, kehilangan privasi."


Karya Irene Dyah kedua yang kubaca. Dan aku sangat puas dengan hasilnya, sama seperti Complicated Thing Called Love. 

Gaya menulisnya tetap sama, memukau. Mengalir. Entah apa sebutan yang tepat. Aku paling suka ketika Kak Irene menulis tentang random thoughts yang dikaitkan dengan apa yang dialami si tokoh. Semacam analogi. Misalnya, dari tokoh film apa, yang kisahnya sama dengan kisah Ajeng dalam novel ini. 

Bagiku, salah satu gaya menulis yang asyik, contohnya adalah tulisan Ika Natassa. Beliau memasukkan hal-hal apapun yang membuat penulis terlihat memiliki pengetahuan luas, kemudian dijadikan pembuka untuk mengaitkannya ke dalam adegan yang akan dituliskan berikutnya. Kak Irene, menurutku juga demikian di beberapa pembuka paragrafnya. 

Tokoh-tokohnya, dengan dunia glamour khas para pekerja-pekerja di kota besar. Akrab dengan pakaian minim, suara musik yang memekakan telinga dari klub-klub di malam hari, hook up sana sini dengan stranger, ketika status perawan atau tidak, tidak dipermasalahkan.
"Justru pria-pria itu yang sering kubuat kosong otaknya, tiap kali aku sengaja menundukkan tubuh saat berbicara, menyodorkan belahan dada... Pria! Sesederhana itu cara otaknya bekerja. Percaya tidak percaya, di depan wanita, otak kaum pria lebih sering pindah ke celana."
Bangkok. The Sin City. The City of Angels, yang analoginya dipakai untuk menggambarkan kehidupan Ajeng, dengan itu pertama kali novel ini dibuka. Dengan pengalaman Kak Irene yang pernah 4 tahun tinggal di Thailand, dengan sukses Kak Irene mendeskripsikan latar cerita dan suasana di kota itu. Kampung Jawa, kios-kios makanan di Thonglor, Taman Benjasiri, pertunjukan Siam Naramit, Ancient City, kunjungan masjid-masjid di Bangkok.digambarkan dengan sangat baik. 

Heroine kali ini adalah Ajeng. Seperti yang Kak Irene bilang, karakternya unik. Perempuan metropolitan, nggak mau terikat dengan komitmen. "Free" mungkin akan tercetak jelas di dahinya jika setiap orang harus menuliskan satu kata yang menggambarkan dirinya. Ajeng sadar dirinya cantik, maka dia hobi flirtingPOV 1 yang dipakai Kak Irene memudahkan aku sebagai pembaca untuk lebih memahami karakter Ajeng yang kompleks. 
"C'mon, don't be too stiff. This is Bangkok. The sin city. Orang-orang tidak peduli pada satu-dua pelukan atau ciuman. You can have a one night stand with anyone and nobody cares! Even you can hire gorgeous prostitute girls easily, and still nobody cares!
Meski nggak menggeneralisir, tapi perempuan serupa Ajeng kebanyakan lebih mementingkan duniawi. Dia nggak pernah sholat, nggak mementingkan mana makanan halal mana yang haram, padahal dia adalah muslim. Tetapi, dia masih menjaga prinsip perawan sampai mendapatkan yang pas, walau nggak harus dengan cara menikah, tapi dia nggak sembarangan memberikan keperawanannya kepada laki-laki.

Ajeng yang seperti itu, sangat kontras dengan Yazan. Laki-laki pendiam, pembersih kekacauan, pencari solusi, memiliki beribu jalan keluar. Si Master Yoda. Laki-laki berkebangsaan India yang rajin shalat, nggak pernah benar-benar menyalurkan nafsunya kepada perempuan. Dia menahannya. See? Percayakah kalian ada orang seperti itu? Pasti ada.
"Kadang merasa peduli dan merasa sayang saja tidak cukup. Kita harus menunjukkannya, dengan kata-kata, dengan perbuatan. Tidak semua orang bisa membaca apa yang kamu pikirkan di sini, kamu rasakan di sini..."
Somehow, takdir mereka bertabrakan. Aku awalnya bingung kenapa Yazan tiba-tiba muncul dengan sifat posesifnya mengatur-atur Ajeng. Tapi ternyata dia menceritakan juga mengapa dia selalu mengekori Ajeng, selalu mengiriminya berkotak-kotak coklat. 

Meski aku berharap dideskripsikan lebih banyak mengenai pandangan Yazan terhadap Ajeng pertama kali, aku sudah cukup mengerti mengapa Yazan bersikap seakan Ajeng adalah miliknya. Eits, meski begitu, dia nggak terlihat seperti laki-laki gila yang mengaku-ngaku sebagai pasangan Ajeng. Dia masih punya wibawa, respekku meluncur mulus mengetahui prinsip teguh yang dipegangnya. 

Sementara Earth, si laki-laki tengil, jujur aku benar-benar penasaran dengan laki-laki ini. Tapi dia hanya muncul di awal, sedikit di bagian pertengahan, lalu muncul cukup banyak di akhir dengan memberikan penjelasan. Sebenarnya apa yang terjadi antara Ajeng dan dirinya? Kalian nggak akan bisa menebaknya, meskipun Kak Irene dengan cerdasnya sudah menebarkan clues di beberapa halaman. Setidaknya, twist itu berhasil untukku. 

Side story, kisah ayah dan ibu Ajeng. Miris melihat ibu Ajeng yang mau kembali kepada suaminya yang diklaim telah meninggalkannya, membuat Ajeng benci setengah mati. Tapi seperti kata orang-orang, walk into their shoes and walk the life they're living, baru kalian tahu mengapa orang bisa begini-begitu. 

Terkadang, yang terlihat belum tentu menampilkan apa yang sebenarnya terjadi. Rahasia-rahasia akan selalu ada, seperti iceberg. Dan kisah orangtua Ajeng menyadarkanku akan pentingnya kebersamaan dalam keluarga.


Ketika sisi religius sepertinya merupakan kunci dalam novel ini, cara memunculkan sisi itu juga nggak maksa. Kak Irene berhasil membawa tokoh Yazan dan membuat karakternya sewajar mungkin menjadi seorang muslim yang taat, salah satunya dari asal usul Yazan. Kemudian, kehidupan ibu Ajeng yang tradisional di Solo juga menjadi salah satu cara yang dipakai Kak Irene. 

Sedikit berkomentar, aku merasa kemunculan tokoh-tokohnya agak sedikit tiba-tiba. Malah, di awal aku agak sedikit bingung tentang siapakah yang akan menjadi tokoh utama laki-laki, Yazan ataukah Earth? 

Yang paling kusuka, the best part of the story, adalah nilai moral yang kudapat dari Yazan dan Ajeng. Kalau kalian merasa diri kalian kurang baik, temukan orang yang lebih baik dari kalian, lebih bagus lagi yang kalian cintai. Karena apa? Lambat laun kalian akan mengikuti kebiasaannya, sadar atau tidak. Ajeng mungkin sudah membuktikannya. 

Dalam kasus Ajeng, meski Yazan sedikit banyak bikin sebal ketika menguliahi Ajeng nggak henti-henti, tapi dia bermaksud sangat baik. Yazan mencintai Ajeng, dengan ingin menjaganya, bukan merusaknya. Dan aku sangat menyukai hal itu. Sangat. 
"Bila Allah saja bisa menerima tobat dari dosa-dosa besar, apakah manusia ciptaan-Nya punya pilihan untuk angkuh? I know every story does matter. But we have to move forward. Jangan biarkan dirimu terpenjara masa lalu."

Share:

0 comments