Book Review: The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu) - Mitch Albom


Judul: The Time Keeper (Sang Penjaga Waktu)
Penulis: Mitch Albom
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 312
ISBN: 9786020307145
Harga: 58.000
Rate: 4 out of 5
"Tetapi sang Penjaga Waktu benar-benar ada. Dan, sesungguhnya, dia tak pernah bertambah tua. Dibalik jenggotnya yang awut-awutan dan rambutnya yang terurai—itu tanda-tanda kehidupan, bukan kematian—tubuhnya ramping, kulitnya tidak keriput, kebal terhadap unsur yang menjadi wilayah kekuasaannya."
Waktu.
Dor sangat suka menghitung. Menyusun ranting-ranting, kerikil-kerikil, apa saja yang bisa dihitungnya. Apa pun dia ukur untuk tahu. Dari dulu, itu lah keahliannya. Alli dan Nim, teman-teman sepermainannya pun tahu. Hingga ia dewasa, hingga Nim yang sangat mengagungkan kekuatan telah menjadi penguasa, Dor masih suka menghitung jarak siang dan malam.
Dor akhirnya menikah dengan Alli dan memiliki beberapa anak, hingga akhirnya dia diasingkan sebab menolak permintaan Nim yang berkuasa. Nim telah membangun menara yang menjulang tinggi ke langit, agar nanti ia dapat membunuh dewa-dewa dan memerintah disana.
"Tunjukkan belas kasihan pada mereka, seperti kita ingin orang lain berbelas kasihan pada kita."
Ketika akhirnya Alli terjangkit penyakit dan meninggal, Dor dengan kemarahan dan kekecewaan memanjat menara yang kemudian runtuh. Tapi ia tidak mati, justru itu adalah awal mula ia dapat hidup abadi.
Dor menetap di sebuah goa, dihukum oleh seorang pria tua berjenggot untuk mendengarkan permintaan manusia-manusia akan waktu. Selama 6000 tahun, Dor sendirian hingga akhirnya ia bisa turun ke bumi sebab ditugaskan untuk menemukan dua manusia yang meminta waktu.
Ialah Sarah Lemon dan Victor Delamonte. Remaja jenius yang sedang menyukai seorang cowok, dan seorang pengusaha—orang terkaya ke empat belas di dunia—yang sedang menghadapi mautnya.
"Hanya manusia yang mengukur waktu. Hanya manusia yang menghitung jam. Itu sebabnya hanyamanusia yang mengalami ketakutan hebat yang tidak dirasakan makhluk-makhluk lainnya. Takut kehabisan waktu."
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
Mitch Albom selalu mengisi karya-karyanya dengan makna kehidupan. Kali ini ia memilih tema waktu. Pernah terpikir, mengapa Tuhan membatasi bergulirnya suatu hari? Mengapa Tuhan memberi waktu sebagai penanda?
"Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat. Semuanya terjadi pada waktu yang telah ditetapkan."
Kisah ini disebutkan sebagai fabel orang pertama yang menemukan konsep jam (waktu). Yang nantinya, penemuan itu akan digunakan manusia-manusia selanjutnya untuk menciptakan berbagai jenis jam. Novel ini tentunya sarat akan filosofi waktu, tetapi tidak 'berat' alias mudah dipahami.
Awalnya, aku belum menyadari kisah ini tentang apa, bahkan hingga menuju 50 halaman terakhir pun, aku belum menangkap inti cerita ini. Aku dibawa berputar-putar dalam kisah masa kecil Dor, Alli, dan Nim, serta kehidupan mereka setelah dewasa.
Di sisi lain, aku disuguhi kisah hidup Sarah Lemon, remaja SMA yang pintar IPA, tetapi sangat insecure dengan fisiknya, dan merasa kesepian. Ayah dan Ibu-nya bercerai, dan dia harus ikut ibunya yang cerewet. Sampai, saat Ethan, seorang cowok populer, mendekatinya, ia begitu merasa diperhatikan. Segalanya ia lakukan demi Ethan.."
Kemudian, kisah Victor Delamonte yang mengidap penyakit kanker dan ginjal yang sudah kronis. Ia merasa belum dapat meninggalkan dunia. Maka, dengan uangnya ia memutuskan untuk meng-krionik tubuhnya hingga suatu saat nanti, ada ilmu pengetahuan yang dapat menghidupkannya kembali.
Barulah aku menyadari bahwa Sarah dan Victor-lah orang yang dicari-cari Dor Sang Penjaga Waktu. Mereka saling terhubung. Apa yang kudapat dari kisah mereka sungguh besar. Mengapa Dor ditugaskan untuk bertemu dengan mereka, membantu mereka di saat kesulitan. Dengan waktu. Dor membantu mereka dengan memutar balikkan jam pasir yang dapat mengontrol waktu. Dor memperlihatkan, apa dampak yang akan diperoleh atas keputusan-keputusan yang mereka buat.
Akhirnya aku menyadari, bahwa Mitch Albom ingin kita sebagai manusia, tidak usah memusingkan waktu. Tidak usah menghitungnya hanya untuk tahu. Tidak usah mengukur berapa lama. Tidak usah terbebani dengan waktu. Cukup jalani hari-hari yang ada, nikmati selagi masih ada waktu. Jangan menghitung, jika kamu tidak mau seperti Dor yang melewatkan masa-masa paling bahagia dalam hidupnya.
Mitch Albom membuka mata kita lewat kisah Dor, Sarah, dan Victor. Betapa kita manusia terkadang tidak berpikir panjang. Ingin bunuh diri, ingin mempercepat waktu. Ingin memperpanjang kehidupan, ingin memperlambat waktu. Tak tahu bahwa orang-orang yang ditinggalkan akan merana. Tak tahu apa yang menunggu di luar sana. Tak tahu bahwa hidup lama bisa saja menyiksa, seperti yang dimiliki Dor.
A meaningful story. Book that everyone should read at least once.
"Ketika manusia semakin terobsesi dengan jam-jamnya, kesedihan akibat waktu yang telah hilang menciptakan kekosongan permanen di hati manusia. Orang-orang menyesali kesempatan-kesempatan yang terlewat, hari-hari yang terbuang sia-sia; mereka terus-menerus mencemaskan berapa lama mereka akan hidup, sebab mau tak mau dengan menghitung momen-momen kehidupan, mereka jadi menghitung waktu yang tersisa."
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500

Share:

0 comments