Book Review: Critical Eleven - Ika Natassa


Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 344
ISBN: 9786020318929
Harga: 79.000
Rate: 3,5 out of 5
"In marriage, when we win, we win big. But when we lost, we lost more than everything. We lost ourselves, and there's nothing sadder than that."
Tiga menit pertama, Tanya Laetitia Baskoro yakin bahwa dirinya terpikat dengan Aldebaran Risjad, lelaki duduk bersebelahan dengan seat-nya di pesawat. Mereka berbincang-bincang, diawali dengan kecanggungan, berakhir dengan senyum dan tawa. Delapan menit terakhir, Ale tahu, bahwa dirinya menyukai Anya. Dia tahu bahwa dia harus memiliki Anya.
Setelah mengenal Anya selama tujuh hari, Ale mantap menjadikan Anya sebagai kekasihnya. Begitu pun dengan satu tahun yang bergulir setelahnya, kalimat 'marry me?' berhasil meluncur mulus dari bibir Ale, disambut dengan kebahagiaan Anya.
"I've burned my bridges. There's no turning back. There's only going forward, with you. So, marry me?"
Tahun-tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta dan rasa sayang yang tak terhingga, hingga akhirnya Aidan Athahillah Risjad pun tercipta. Sayangnya, sebelum sempat Ale dan Anya menciumi buah hati mereka, Aidan tak bernapas lagi saat dilahirkan.
Kini, yang terjadi adalah sebaliknya. Tidak ada lagi kata cinta, hanya kekosongan dan kesedihan yang berusaha mereka tutupi di depan keluarga besar masing-masing. Itu semua berkat Ale, yang tanpa aba-aba, berhasil menggores luka di hati terdalam Anya, menyalahkan perempuan itu, karena telah membiarkan anak mereka pergi sebelum sempat mereka temui..
tumblr_mml4rv0rkb1rm6jd7o1_500
Critical Eleven. The most hyped book in 2016, am i right? 
Sungguh nggak terhitung sudah berapa kali aku bolak balik membaca kesan orang tentang buku ini, namun aku nggak kunjung membacanya. Aku pernah membaca Antologi Rasa, once. Aku terkesan dengan karakternya. Namun hanya itu aja.
So, aku baru memberanikan diri mencoba lagi kali ini dengan Critical Eleven. Masih dengan gaya menulis yang sama, Ika Natassa sangat deskriptif. Kalimat berbahasa inggris ada di sana sini, and i was happy with that. Nothing's wrong. I love Ika Natassa's english quotes. 
Then, Critical Eleven (sangat) banjir analogi. Analogi meracik kopi milik Pak Jenderal, misalnya, yang dihubungan dengan tanggung jawab seorang pria. Analogi bulan-bintang. Dan analogi-analogi lainnya yang kuakui sangat keren.
"Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami—yang membuat kopi—memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar."
Hampir di setiap pergantian POV atau bab, pembukanya selalu diwakili dengan narasi panjang lebar tentang hal-hal random. Opini karakter tentang kota Jakarta, atau kutipan orang terkenal—dan yang lainnya—, diolah menjadi narasi menarik, lalu dipadukan dengan nostalgia-nostalgia Ale dan Anya, hingga menghasilkan kata 'setuju' dan 'aah i feel you' yang muncul begitu saja di otakku, bahwa fenomena-fenomena tersebut cocok dengan keadaan Anya dan Ale.
Ketika ada beberapa orang yang terganggu dengan ini, aku justru menikmatinya. Sangat. Bisa kubilang Kak Ika ini jenius dalam memainkan kata-kata. Sebagai pembaca, aku sangat menikmati. Dan karena narasi-narasi dalam lamunan kedua tokohnya, terutama Anya, aku jatuh cinta banget dengan perempuan itu. Pandangan dan penilaiannya terhadap sesuatu itu, cerdas.
Novel ini dihiasi dengan kenangan Ale-Anya yang diceritakan kembali lewat narasi dari POV masing-masing. Beruntungnya menulis novel dengan POV 1 dan alur maju mundur. Nostalgia mereka membantu pembaca untuk lebih mudah memahami segala yang terjadi dalam kehidupan mereka, mendalami perasaan mereka. Anya dengan 'aku'-nya, Ale dengan 'gue'-nya.
"You just cannot exist without memory. Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan."
Apa yang mereka kisahkan hampir serupa, tentang bagaimana perasaan mereka tentang kenangan-kenangan manis di masa lalu, yang mau tak mau harus mereka relakan. Bedanya, Anya selalu sigap dengan denial statement-nya, mencoba untuk tidak terbawa kenangan. Sementara Ale, sangat-sangat hopeless. Lelaki itu begitu merindukan Anya, tapi nggak bisa memperbaiki semuanya. Simply karena Anya nggak 'mengijinkan'.
Ini juga yang membuatku bisa menarik suatu kesimpulan. Anya dengan segala kelebihannya sebagai seorang pekerja wanita yang tangguh, pesona fisiknya yang bahkan memukau Harris—adik Ale—, berbeda dengan apa yang ditampilkannya ketika masalah menerpa rumah tangganya.
Oke, aku berusaha menempatkan diriku sebagai Anya. Aku juga akan tersinggung, but i dont get it. Too much baper-nya. Too much. Seriously,  Nya? Enam bulan mendiamkan suami sendiri? Ego mengalahkan keinginannya untuk memeluk Ale, ego berhasil memaksa dirinya untuk nggak memberi Ale kesempatan menjelaskan, ego sukses membuat dirinya harus melukai diri sendiri. I know, that hurts you so much. I know, that Ale's just too stupid. He better keep his mouth shut. I know, but at least, give him a chance. Let him explain it all to you, Nya. Let him fix it for you. For both of you. 
"Aku pernah baca ekspektasi bisa membunuh semua kesenangan. It's even said that expectation is the root of all disappointments. Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspektasi apa-apa. Whatever happens is neither good or bad. It just happens."
Meanwhile, let's get along with Ale, lelaki yang hampir mendekati sempurna, kalau aja mulutnya nggak jahat. Dia keliatan sangat-sangat memuja Anya, and i love him for that. Please, dimana bisa aku menemukan cowok yang bahkan masih memuja pasangannya meski sudah bertahun-tahun bersama seakan mereka baru bertemu kemarin? Nggak terhitung berapa banyak kata 'cinta', 'perempuan cantik', dan 'istri gue' di dalam buku ini yang sangat mewakili bagaimana perasaan Ale terhadap Anya.
But, he's right. His move is totally right. He didnt force Anya to listen to him. But, perhaps it could be his biggest mistake as well. Yup, karena dia terlalu lembut dan mencintai, karena dia memberikan Anya kesempatan besar untuk membiarkan pernikahan mereka penuh dengan kesunyian selama berbulan-bulan. Don't get me wrong, but laki-laki harus tegas, bukan? Meski in other side, aku suka cara pilihan Ale untuk memperbaiki rumah tangga mereka. (thanks to petuah Pak Jenderal). Somehow, aku hanya merasa Ale itu agak mustahil, nggak punya emosi karena bisa sesabar itu. But, maybe its because he's already found his queen. I accepted that.
But still, im a little bit bored of all Anya's logic. Aku merasa kalau perasaan sakit Anya itu dideskripsikan berulang-ulang sampai aku jenuh juga. Fortunately, karena alurnya maju-mundur, selipan-selipan nostalgia Anya tentang Ale membantuku mengembalikan semangat membaca lagi. The truth is, the best part of the story is Anya & Ale's romantic memories.
"Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu terobati oleh waktu. Dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit. It never gets easier."
Then, here comes the one and only Harris Risjad! Kemunculannya adalah yang paling kutunggu-tunggu setelah aku naksir dia di Antologi Rasa. Okay, sebelum review ini berubah jadi surat cintaku kepada Harris, lebih baik diakhiri aja bahasan Harris ini dengan satu kalimat, "balikin hati gue bisa, Ris?Okay, okay, I'm sorry, that sounds cheesy. But what am i, sih? Just a girl standing in front of Harris, asking him to love her. Ewwh, stop it!
Dengan segala kutipan dan analogi keren yang diciptakan Kak Ika, karakter-karakter yang sangat kuat (ditambah sekarang udah ada official cast-nya, bikin aku makin mudah membayangkan mereka), kompleksitas, perang antara hati dan otak milik Anya dan Ale, kenangan manis dan 'nakal' mereka (i can and cant imagine Reza Rahadian and Adinia Wirasti doing those), adanya keluarga Risjad, yang mau aku sambangi rumahnya setiap hari kalau mereka tetanggaku, aku akui aku cukup menyukai Critical Eleven.
Mungkin tidak sebesar Ale dan Anya menyukai satu sama lain, tapi cukup untuk membuat mereka tahu bahwa aku juga menyukai mereka berdua dan segala kerumitan kisah hidupnya.
"Berani menjalani hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali  atas perasaan kita terhadap orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita. That you're only as happy as the least happy person in a relationship."
tumblr_mp6icgbvr81rm6jd7o1_500

Share:

1 comments