Book Review: Black - Ruth Priscilia Angelina



Judul: Black
Penulis: Ruth Priscilia Angelina
Jumlah Halaman: 304
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: 75.000
ISBN: 9786020346038
Rate: 4 out of 5
"Orang senang menyembunyikan kenyataan untuk keindahan sementara tanpa sadar itu hanya persoalan waktu. Pada akhirnya realita akan menghantam dan rasanya akan ribuan lebih sakit karena kau sudah mencicipi kebahagiaan sebelumnya."
Karya pertama Ruth Priscilia yang aku baca ini mengisahkan tentang Inka dan kehidupan muramnya. Gadis yang berusaha 'lari' dari kenyataan yang menghantuinya, gadis yang nekat pergi ke Oxford untuk bersekolah disana demi meninggalkan mimpi buruk yaitu pengkhianatan ibunya dan rasa sakit ayahnya. Gadis yang selalu mengenakan pakaian serba hitam.

Sialnya, dia malah menghadapi kenyataan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Bertemu kembali dengan Chesta Sentanu, seseorang yang sangat berusaha dihindarinya. Chesta, tetangganya yang botak di masa lalu, yang sewaktu kecil pernah Inka paksa untuk nikahi. Chesta yang kerap memandang Inka dengan tatapan kesal. Kini telah menjelma menjadi sosok tampan dengan tubuh menjulang.

Bergabung di klub yang sama: Harry Potter Society. Hari bergulir demi hari, membuat Inka selalu bersinggungan dengan Chesta, sang ketua. Chesta tetap sinis minta ampun, dan Inka tetap berusaha mengatur kesabarannya dalam menghadapi Chesta. Hingga Chesta melontarkan sebuah hal yang tak akan pernah mampu Inka percayai selama hidupnya, meminta Inka untuk menikah dengannya. 

Pernikahan kontrak yang akhirnya disetujui dengan berbagai syarat, diyakini mampu menarik gadis itu dari bayang kehidupan lama. Tetapi, gadis itu tidak paham betul bahaya yang mengancam, bahwa ternyata dia benar-benar telah kembali jatuh hati kepada Chesta untuk yang kedua kali. Chesta yang sepertinya tidak akan mampu menyelamatkannya dari trauma yang terpatri dalam kehidupan cinta ibu dan ayahnya.  
"Lo tahu luka-luka yang gue simpan karena luka-luka lo sama busuknya dengan punya gue. Kita nggak bisa saling mneyembuhka. Kita sama-sama jatuh ke jurang, kejebak di dasar yang sama, menunggu ada yang menyelamatkan."

Inggris, Harry Potter, warna hitam, semua hal komplit yang mampu menarik perhatianku di awal-awal membaca. Serius, aku sudah sangat mengimpikan untuk bisa menuntut ilmu di Inggris, di mana pun itu apalagi di Oxford atau London. Dan ketika menemukan karakter di novel yang berkuliah disana, terlebih jurusannya creative writing pula. Bayangkan betapa senang sekaligus irinya aku.

Dibuka dengan perseteruan antara Inka dan ibunya, aku dibuat penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedikit gambaran mengenai apa yang dirasakan Inka terhadap ayahnya. Hingga selanjutnya, berganti dengan Inka yang cukup gembira, yang telah terbang ke Inggris dan melanjutkan pendidikan di University College. Uniknya, disebutkan tentang Harry Potter Society, yang awalnya jujur saja aku kurang percaya apa memang ada klub seperti ini? Ternyata setelah googling, memang ada di universitas itu. Tambah iri nggak sih sama Inka?

Narasi masam mengenai Oxford yang menjadi setting sangat membuatku tertarik. Meski menurutku pribadi London memang identik dengan hujan dan aura dingin (dan aku menyukainya), cara Ruth Priscilia mendeskripsikannya (lewat sudut pandang Inka) sangat berhasil untuk mengembuskan napas sendu pada kota tersebut tepat seperti apa yang dirasakan Inka. Intinya, dari setiap halaman, Ruth Priscilia sukses membuat aura Black benar-benar terasa 'Black', padahal di awal aku cukup skeptis dan mengira dinamai Black hanya karena si tokoh utama menyukai warna hitam. Namun setelah mengetahui kisah hidupnya, aku mengapa akhirnya diberi judul 'Black'.

Untuk karakterisasi, sebenarnya aku nggak begitu teringat dengan Inka si tokoh utama, kecuali fakta dimana dia adalah seorang gadis yang mencoba menata hidup di Inggris untuk meninggalkan masa lalunya di Indonesia, dan apa yang dia rasa terhadap hubungan cinta. Gadis yang begitu mendambakan kehidupan normal seperti dulu ketika ayah dan ibunya masih tetap bersama. Yang paling kuingat adalah Chesta, yang merupakan karakter terfavoritku.
"Aku tidak menangis ketika Mama pertama kali memberitahu dia akan meikah lagi. Aku juga tidak menangis saat tahu Papa sudah pindah tanpa memberitahuku. Jadi mengapa pemuda asing ini, yang hanya kukenal di masa lalu tanpa kenangan indah, membuatku ingin menangis?" 
Sungguh, dia adalah tipe cowok unik. Nggak sok ganteng, sok dingin, tetapi memang itulah dia. Dia adalah cowok yang meski sinis, dingin, jarang tertawa, tetapi terkenal playboy, ketika dia telah mencintai seseorang, dia melakukannya dengan sepenuh hati meski sikapnya agak sedikit bossy, menuntut, dan cenderung suka memerintah. Seperti si gadis adalah pihak yang teropresi sementara Chesta sangat mendominasi alias pemegang kekuasaan. 


Cowok yang sangat menarik menurutku ketika di sisi lain, dia begitu rapuh dan sangat membutuhkan seseorang untuk menguatkannya. Cenderung mengambil sikap yang didasari pengalaman traumatisnya dalam memperlakukan orang. Protektif namun tidak membuat jengah. Mencintai tetapi tidak memaksa. Terlebih lagi, Chesta sangat mencintai sosok ibunya. Justru hal-hal itulah yang membuatku menaruh perhatian lebih padanya, bukan karena dia adalah calon CEO, populer, pintar, serta kaya raya.

Interaksi yang terjalin antara Inka dan Chesta sangat natural dengan kedekatan yang lambat laun tercipta yang dibumbui oleh alasan masuk akal. Cara Ruth Priscilia meramu masa lalu mereka berdua dan mengaitkan benang merahnya cukup unik. 

Plot dari awal hingga akhir ditata dengan cukup rapi dan membuatku betah membacanya. Side character juga dapat dimanfaatkan dengan cukup baik oleh Ruth Priscilia; Ella, Owen, Christianlovely Kiran, Om Ben, Patricia, mama Inka, dan Sigi, meski aku masih sedikit penasaran dengan apa yang terjadi antara Inka dan sahabat cowoknya, Sigi serta cukup kurang puas dengan keberadaan Ezra yang kupikir awalnya punya peran lebih dari itu. 

Adegan favoritku adalah ketika Chesta dan Inka pertama kali berkeliling Oxfordshire dengan kondisi keduanya yang masih seperti anjing dan kucing, lalu ketika momen Inka bersinggungan dengan sang ayah. Berkomentar sedikit, aku suka keunikan cerita ini yang terletak pada pilihan cara kedua tokoh untuk berlarut-larut dalam kesedihan, yah, meski itu negatif. 
"...Tapi aku bisa mengisap ratusan batang rokok dalam semalam bersamanya, meneguk berbotol-botol tequila, dan memberikannya Alka-Seltzer di pagi hari. Aku akan menemaninya hancur."
Overall, kalau kamu sedang berjuang untuk menyembuhkan kesedihan dan mencari teman untuk menikmati warna hitam bersama, mungkin Black dapat menjadi jawabannya. Sebab dari yang kutangkap, novel ini mungkin akan memberikan secercah harapan bagi kita bahwa suatu saat nanti ada yang akhirnya mampu menerima sekaligus menyelamatkan kita dari keterpurukan, terlebih lagi dalam menerima kenyataan yang tak sesuai harapan. 😉
"Mungkin justru karena itu. Karena tahu pada ujungnya akan merasa sakit, beberapa orang memilih mencicipi kebahagiaan lebih dulu."

Share:

7 comments

  1. suka sampulya simple tapi menarik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, unik banget monokrom gitu yaa. Dan cocok menggambarkan isi cerita ^^

      Delete
  2. Nuansanya rada-rada kelam nih. Dari judul sama covernya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, cocok dari judul, kover, dan vibe ketika ketika membaca isinya ^^

      Delete
  3. Tahan baca sampe akhir cm demi sigi. Serius penasaran sm ceritanya dia. Dan akhirnya ga paham sama endingnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih suka Sigi ya? Aku berharap dia punya porsi lebih lagi. Aku pikir dia muncul di karya sebelumnya Kak Ruth, makanya ujug2 dijelasin begitu. Tapi kayaknya nggak ya? :(

      Delete
    2. Iyaa.. abs dia sabar dan pengertian banget ke inka juga ke chestanya.. dia baru muncul kok di novel ini.. uda baca smua novelnya sblm2nya ga ada nama sigi..

      Delete